Mendaftar Nama Domain Gratis .TK di Freenom

Bismillahirrahmanirrahim.

Jika pada masa lalu saya bisa membuat nama domain .tk dengan sangat mudah dan cepat, saat ini saya butuh waktu lebih lama untuk melakukannya. Dot TK berafiliasi dengan perusahaan Freenom saat ini. Dulu registrasi serasa enteng, saat ini terasa lebih mbulet dengan bermacam birokrasi (baca: sistem registrasi dan login) yang membuat saya harus mendaftar dengan dua browser. Yang paling mbulet adalah saya ternyata harus mengarang alamat name server (saya pakai milik 000webhost) pada saat pendaftaran. Jika tidak begini, saya tidak bisa mendaftar. Tenang, saya tidak akan memakai name server itu. Ya sudah, yang penting, dengan begini saya memperoleh dua nama domain. Salah satunya ingin saya sandingkan dengan VPS saya. Berikut skrinsotnya.

Pesan Moral

Trial and error itu tetap berlaku di ilmu komputer sampai kapan pun.

ngite-keduapuluhsatu23

resized_ngite-keduapuluhsatu22

Mendaftar VPS Gratis di Haphost

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya pernah mendapatkan akun VPS gratis ketika Haphost masih Host1free. Namun akun saya suspended dan alamat domainnya pun sudah terpakai, sedangkan akun itu tidak bisa di-renew (CMIIW). Ya sudah, berbekal semangat baru dari akang Amin yang berhasil memperoleh VPS gratis pada 2014, saya mencoba mendaftar. Setelah melalui banyak kegagalan, akhirnya saya bisa register dengan IP 114.79.57.43 (berdasarkan http://whatismyip.com) dan akun kelompokarduino@gmail.com. Berikut ini skrinsot-skrinsotnya. 

ngite-keduapuluhsatu20

resized_ngite-keduapuluhsatu16 resized_ngite-keduapuluhsatu17 resized_ngite-keduapuluhsatu18 resized_ngite-keduapuluhsatu19

Anda Tidak Akan Bisa Menggunakan Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Perlu ada tulisan ringkas yang menyadarkan para pemula. Saya tidak menyebutkan alasannya di sini. Yang penting, saya akan menyebutkan apa saja penyebab orang tidak bisa menggunakan Linux (bahkan mungkin untuk selamanya). Sudah ada banyak sekali tulisan pengantar menjadi pemula semisal How To Become A Newbie dan lain-lain. Namun sepertinya, masyarakat belum dapat menyerapnya karena terlalu panjang. Sekarang saatnya dibuat rangkuman dari sekian banyak tulisan itu.

Inti

Camkan. Anda tidak akan bisa menggunakan Linux jika memiliki sifat-sifat berikut.

  1. Bermental malas tetapi tidak mau gagal. Tipikal banyak newbie di Indonesia. Dijamin gagal 100% menggunakan Linux bahkan kesempatan untuk wipe Linux sangat besar. Suka tidak suka, kurva belajar itu pasti harus dilalui1.
  2. Mau memilih tetapi tidak mau menanggung konsekuensinya. Anda memakai Linux, Anda menerima konsekuensinya. Anda memilih Linux, Anda harus belajar. Sebagai OS desktop, Linux punya berbagai keterbatasan yang Anda harus terima sebagai kenyataan dan atasi itu bersama-sama komunitas. Sendiri atau bersama-sama, Anda tetap harus terima. Sama saja ketika Anda menggunakan Windows, Mac OS X, iOS, OpenBSD, ataupun Android.
  3. Tidak mau membiasakan diri menggunakan software legal. Ini adalah kebalikan sifat dari para senior yang sukses menggunakan Linux bertahun-tahun. Anda tidak akan memahami mengapa Ubuntu tidak menyertakan MP3 decoder pada ISO-nya, kecuali setelah membiasakan diri dengan legalitas. Wajar saja Anda kesulitan menggunakan Linux kalau di Windows sendiri Anda tidak mendorong diri menggunakan software legal (freeware atau open source).
  4. Tidak percaya diri bahkan untuk sekadar bicara dalam hati. Contoh nyatanya terlalu takut melakukan klik ini itu, perintah ini itu, percobaan ini itu, tidak berani mengikuti tutorial, tidak punya keberanian mencoba-coba tombol yang tersedia, di dalam sistemnya sendiri. Tentu saja Anda tidak akan pernah bisa, karena ilmu komputer itu selalu menuntut Anda untuk berani mencoba.
  5. Suka mengabaikan hal-hal penting. Contoh nyatanya lupa membuat backup, senang mengabaikan peraturan forum, tidak mau googling, tidak mau membaca tutorial sebelum bereksperimen, tidak mau mencatat pengalaman yang sudah diperoleh, suka mengabaikan dokumentasi atau help, tidak peduli dengan manpages, tidak peduli dengan deskripsi, atau suka membuat pertanyaan tanpa perincian mendetail. Risiko besar yang terjadi misalnya kehilangan 500 GB data, hilangnya Windows (padahal original), tercurinya data, dikeluarkan dari forum, dan lain-lain. Kalau itu terjadi, tanggung sendiri. Usahakan jangan merepotkan orang karena salah Anda sendiri. Kalau tidak siap, jangan menggunakan Linux dulu.
  6. Suka mengeluh. Ini akibat sifat nomor 2 di atas. Ini sifat yang membuktikan watak asli seseorang. Yakinlah Anda pasti akan gagal.
  7. Menganggap segala kejayaan bisa diraih tanpa usaha. Googling, bereksperimen, berhati-hati dalam berbuat, membaca dokumentasi, mendokumentasikan pengalaman, adalah usaha-usaha dalam menggunakan Linux. Kalau Anda tidak berusaha, maka jangan mengharap bisa menggunakan Linux. Kalau Anda kesulitan, cari bantuan dengan baik. Kalau ditemukan keterbatasan, atasi.
  8. Meremehkan orang lain. Contoh nyatanya adalah marah ketika senior tidak menjawab pertanyaan / menegur kesalahannya, atau senang bertanya dan bicara tanpa etika / aturan, menyalah-nyalahkan orang atas kesalahan yang dilakukan sendiri, atau secara tegas merendahkan orang lain di depan umum. Sekadar menulis pertanyaan tanpa mengindahkan peraturan itu sudah termasuk meremehkan orang lain, karena tidak memberikan penghormatan yang selayaknya bagi orang yang membaca. Mestinya Anda yang bertanya, Anda yang butuh. Anda menulis, Anda bertanggung jawab. Tulis pertanyaan dengan terperinci, mendetail, lengkap, dan berisi cukup informasi bagi pihak penjawab. Gunakan Ejaan yang Disempurnakan, belajarlah kalau belum bisa. Kalau Anda tidak mau mengindahkan hal-hal itu, Anda sebaiknya tidak usah menggunakan Linux saja.
  9. Tidak mau menghargai jerih payah orang lain. Contoh paling nyata misalnya mengejek terjemahan untuk antarmuka Linux seperti kata-kata Bahasa Indonesia yang asing tetapi dipakai sebagai terjemahan dari file, download / upload, offline / online, device, widget, account, dan lain-lain tanpa pernah mau berkontribusi. Menulis kata-kata tanpa singkatan saja tidak mau. Contoh lainnya adalah terlalu mudah membuat kesimpulan global mengenai suatu sistem, misalnya mengatakan “Linux tidak support semua modem” atau “Linux tidak punya pengolah gambar” atau semacamnya. Hal yang lebih parah adalah tidak mau tahu bahwa OS dan tools gratis yang digunakan saat ini adalah hasil jerih payah orang lain pula. Developer (dan para pemerhati bahasa) telah meluangkan waktu dan biaya yang demikian besar untuk Anda. Maka manfaatkan dengan baik. Jika tidak, maka tidak menggunakan Linux akan menghemat energi Anda.
  10. Selalu merasa sendiri. Contoh paling jelasnya adalah tidak mau googling. Merasa bahwa suatu masalah terjadi dan hanya Anda yang mengalaminya. Sebenarnya apa pun yang Anda persulitkan di Linux, pada umumnya sudah pernah dialami orang lain di seluruh dunia. Anda tinggal mencarinya di Google. Namun perasaan “selalu merasa sendiri” ini menghalanginya. Anda sebenarnya tidak sendiri. Komunitas Linux itu raksasa. Anda punya komunitas yang sangat besar di seluruh dunia. Bekerja samalah dengan mereka. Namun jika Anda tetap memelihara perasaan ini, Anda dengan sendirinya akan berhenti menggunakan Linux. Segera.

Perlu dicamkan oleh pembaca.

  • Penulis hanya menargetkan tulisan ini untuk mereka yang sudah sadar dengan legalitas software. Mereka yang masih belum mengakui pentingnya software legal tidak masuk hitungan sama sekali.
  • Penulis hanya menargetkan tulisan ini untuk mereka yang niat. Mereka yang pakai Linux hanya untuk pamer, cari pujian, sekadar coba tanpa keseriusan, tidak masuk hitungan sama sekali pula.
  • Tulisan ini bergaya sedikit sarkastik. Penulis cinta keramahtamahan jawaban, tetapi kadang memang perlu menyusun tulisan semacam ini.

Penutup

Tulisan ini tidak ditutup kemungkinannya untuk direvisi. Penulis mohon maaf untuk segala kekurangan. Semoga tulisan ini sampai tepat kepada yang memerlukannya.


 

1 Kalimat ini diambil dari f0xy, salah satu warga senior #ubuntu-indonesia.

Psikologi Pengguna Komputer Pemula

Bismillahirrahmanirrahim.

Kemarin saya berbincang dengan seorang guru saya. Beliau bercerita tentang kemampuan tangkap para guru sekolah menengah saat diberi penyuluhan soal komputer (Windows, tentunya). Ketika guru saya mengajari mereka, dengan memberikan buku panduan yang sudah disusun poin per poin secara runtut dan sistematis plus gambar-gambarnya, ternyata para guru itu pun masih banyak tanya per langkah yang diberikan. Mereka tanya seperti ini: “lho, yang bener, Pak? Kalau ini diklik, hasilnya itu? Yang bener?” sambil mereka sendiri belum mencobanya. Guru saya berkata: “Makanya, kalau saya menulis tutorial untuk mereka dan saya sendiri, saya harus sesuaikan dengan pola pikir mereka yaitu satu per satu. Lihat, ini saya buat tutorial poin per poin terperinci dengan gambar, walau ini bodoh bagimu, tetapi hanya dengan begini kami akan mengerti.” persis seperti yang saya yakini sebagai madzhab saya dalam menulis tutorial untuk pemula. Diambil kesimpulan dari situ, para guru itu walaupun statusnya guru, sebetulnya juga perlu bimbingan yang sangat remeh-temeh soal komputer (Windows tentunya). Mereka perlu dibimbing satu per satu, walaupun mereka guru. Kenapa? Karena kecenderungan ragu-ragu dan tidak berani mencoba tanpa ada bimbingan langsung dalam penggunaan komputer.

  • Kalau para guru sekolah — yang notabene berpendidikan — saja masih butuh bimbingan lisan dan tulisan satu per satu seperti itu, maka bagaimana lagi masyarakat lain yang bukan guru? Padahal itu sudah menggunakan Windows — yang notabene OS desktop paling mudah digunakan –.
  • Kalau yang pakai Windows saja sekian kemampuan penangkapannya, maka bagaimana lagi dengan mereka yang kita (Anda dan saya) ajak untuk menggunakan Linux?

Maka tulislah tutorial-tutorial Linux yang terperinci satu poin per satu poin lengkap dengan gambarnya, sesuai dengan psikologi pengguna komputer pemula.

Libreoffice – Mengatur Fonta Default

Bismillahirrahmanirrahim.

Pernahkah Anda sebal karena setiap kali memakai heading, fonta yang dipakai harus selalu Anda ganti secara manual? Jika fonta favorit Anda selalu Anda pakai, maka sebaiknya ubah saja pengaturan fonta default Libreoffice.

Pengaturan

Options - LibreOffice Writer - Basic Fonts (Western)_038

Langkah-Langkah

Lihat gambar di atas lalu ikuti:

  1. Buka menu Tools > Options.
  2. Buka entri keempat –Libreoffice Writer–, lalu buka entri Basic Fonts (Western).
  3. Pada kolom sebelah kanan, silakan ganti fonta sekaligus ukurannya.
  4. Entri Default itu untuk fonta ketikan biasa, Heading untuk header, List untuk Bullets and Numberings, Caption untuk keterangan gambar, dan Index itu untuk daftar isi.

Tentang Tulisan Ini

Tulisan ini selesai diketik pada 20 Agustus 2014. Tulisan ini diketik dan dipraktikkan pada Libreoffice 4.3. Tulisan ini dilengkapi dengan skrinsot yang diambil dan disunting dengan Shutter. Tulisan ini diketik di Ubuntu 12.04. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Libreoffice – Mengatur Autosave Menyelamatkan Pekerjaan

Bismillahirrahmanirrahim.

Bagaimana rasanya kehilangan ketikan yang dikerjakan selama berjam-jam? Apalagi kalau sebab hilangnya hanya sebatas lupa Ctrl+S atau tidak sengaja Alt+F4. Daripada menyesal, sebaiknya Anda mencegah hal semacam itu dengan menyalakan Autosave. Berikut ini langkah-langkahnya.

Pengaturan

Options - Load-Save - General_037

Langkah-Langkah

  1. Buka menu Tools > Options.
  2. Buka entri kedua –Load/Save–, lalu buka entri General.
  3. Pada bagian Save di kolom kanan, centang Save AutoRecovery, Automatically save, dan Always create backup copy seperti gambar di atas. Beri batas waktu yang paling rendah supaya Libreoffice sering melakukan penyimpanan. OK.

Tentang Tulisan Ini

Tulisan ini diketik dan dipraktikkan pada Libreoffice 4.3. Tulisan ini dilengkapi dengan skrinsot yang diambil dan disunting dengan Shutter. Tulisan ini diketik di Ubuntu 12.04. Semoga tulisan ini bermanfaat.