zsh yang Memudahkan Pengguna Kibor Rusak

Bismillahirrahmanirrahim.

utilities-terminalKibor saya rusak pada tombol panah kiri, kanan, 2 (termasuk @), 4 ($), 0 (‘)’), DEL, HOME, F5 (FN+REDUPKAN LAYAR), F11 (FN+VOLUME TURUN), PAUSE, dan INSERT. Saya telah me-remap itu semua kepada tombol-tombol lain dengan xev dan xmodmap. sudah lama menginginkan bash saya mampu melakukan autocomplete lebih canggih setelah menekan TAB, yakni setelah autocomplete saya harus bisa memilih direktori/berkas dengan tombol panah dari sugesti yang ditampilkan. Namun bash belum bisa melakukan itu sedangkan sudah lama pula saya ingin menggunakan zsh yang superkeren. Ya, saya kenal zsh dari pengguna Archlinux Indonesia yang punya shell prompt sangar. Kalau Anda sangsi betapa kerennya zsh, cobalah melirik laman ini. Siang ini saya menggunakan zsh yang sudah lama saya pasang di Precise dan melakukan sedikit konfigurasi. Akhirnya fitur autocomplete dengan pilihan itu saya dapatkan dan saya tidak repot lagi walau kibor saya rusak. Berikut ini catatan saya.

Langkah Pertama


zsh-keren-4

Langkah Kedua


zsh-keren-3

Langkah Ketiga


zsh-keren-1

Pembuktian


zsh-keren-5

Kesimpulan

zsh dengan pengaturannya yang tepat, akan sangat membantu pengguna yang kibornya rusak seperti milik saya.

Notabene

Ya, saya belum mengubah prompt shell milik zsh saya. Itu bisa dilakukan nanti.

Iklan

Kumpulan Esai Kritik Saya

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebelumnya saya sudah kumpulkan di The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear tetapi kurang ringkas. Ini versi ringkasnya.

  1. http://malsasa.wordpress.com/2012/11/02/kalau-linux-mau-maju/
  2. http://malsasa.wordpress.com/2012/11/13/permohonan-saya-untuk-komunitas-linux-indonesia/
  3. http://malsasa.wordpress.com/2012/11/27/apa-yang-sebenarnya-pengguna-butuhkan/
  4. http://malsasa.wordpress.com/2013/04/13/mengapa-otodidak-dibuat-12/
  5. http://malsasa.wordpress.com/2013/06/01/menyoal-kebebasan/
  6. http://malsasa.wordpress.com/2013/06/02/memusuhi-distraksi/
  7. http://malsasa.wordpress.com/2013/06/21/pemasaran-sistem-operasi-linux/
  8. http://malsasa.wordpress.com/2013/06/27/pemasaran-sistem-operasi-linux-2/
  9. http://malsasa.wordpress.com/2014/02/22/indonesia-masih-dalam-masa-transisi/
  10. http://linuxdreambox.wordpress.com/2013/08/27/new-package-management-system-for-you-appcenter-developers/
  11. http://linuxdreambox.wordpress.com/2012/10/21/what-kind-of-application-packaging/
  12. http://malsasa.wordpress.com/2014/02/03/sosialisasi-linux-untuk-indonesia/

Nomor 10 dan 11 adalah yang saya concern di dalamnya. Semoga ini bermanfaat.

Membudayakan Menulis di Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim.

openofficeorg24-writerKebanyakan orang tidak suka menulis. Ini sebetulnya wajar, mengingat urutan kegiatan indra kita sejak lahir adalah pertama mendengar, kedua berbicara, ketiga membaca, dan keempat baru menulis. Menulis adalah kemampuan yang diasah paling akhir dan bisa jadi paling sedikit. Namun ini menjadi tidak wajar ketika semua orang mengeluh masalah dokumentasi teknis yang jarang ditemukan via Google, dalam Bahasa Indonesia. Anda tidak pernah menulis, tetapi Anda mengeluh dokumentasi yang ada hanya dalam Bahasa Inggris. Solusinya hanya satu yaitu membudayakan menulis di Indonesia. Mulai dari diri sendiri sekarang juga. Dari hal-hal kecil, misalnya kegiatan Anda belajar Libreoffice di Ubuntu. Ya, saya berbicara tentang Linux. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Mencatat Dokumentasi di Libreoffice Impress


Mencatat dokumentasi dalam bentuk presentasi itu unik dan lebih gampang. Mungkin cocok bagi Anda yang baru memulai.

ngite-keduapuluhsatu32

Mencatat Dokumentasi di Libreoffice Writer


Catatlah konfigurasi, tweak, pembenahan, atau setidaknya penemuan Anda dengan Linux. Anda bisa lakukan itu di Libreoffice. Kenapa dilakukan? Karena masalah yang sama bisa muncul berulang kali dan solusi sebelumnya terlupakan.

libreoffice-impress50

Mencatat Dokumentasi di Blog


Mencatat dokumentasi di blog itu manfaatnya banyak. Selain untuk diri sendiri, juga bisa bermanfaat untuk orang lain.

john-the-ripper39

Mencatat di Pastebin


Pastebin di tangan yang tepat, sangatlah berguna. Misalnya saja Anda ingin mencatat satu per satu blog milik pengguna Linux di Indonesia atau catatan lain semacamnya. Mudah dan sangat menarik. Ini bukti bahwa dokumentasi tidak selalu harus berformat paragraf.

john-the-ripper40

YUM, Manajer Paket Fedora yang Mengesankan

Bismillahirrahmanirrahim.
fedora-logoSetelah saya menggunakan Linux hari demi hari, saya pun menyadari sesuatu. Bahwa hal paling penting di seluruh distro adalah sistem manajemen paket. Itu pula yang membedakan satu distro dengan distro lain. Di Fedora, kita menggunakan sistem manajemen paket RPM (turunan Red Hat Linux). Manajer paket yang berperan di sini bernama yum (Yellowdog Updater, Modified). Sebagai pembanding, di Ubuntu kita memakai apt dan di openSUSE kita memakai zypper. Kalau Anda bertanya soal manajer paket, maka jawabannya dialah yang digunakan untuk menginstal, me-remove, meng-update, dan meng-upgrade sistem. Dia bertanggung jawab terhadap input-proses-output dari software di dalam suatu distro. Sudah lama sekali rasanya saya ingin menulis tentang Fedora, sejak pertemuan saya dengan warga kanal #fedora-indonesia / #fedora-id (terutama Prima Yogi Loviniltra) yang begitu mengesankan. Semoga tulisan ini bermanfaat.  Baca lebih lanjut

Instalasi OpenCV 2.3.1a dan ffmpeg 0.8.15 di Ubuntu 12.04 dengan Kompilasi Manual

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya telah menginstal OpenCV dengan baik dan sudah menulis dokumentasinya. Namun ternyata, instalasi OpenCV tersebut belum termasuk ffmpeg, sehingga apa pun kode sumber yang saya kompilasikan, saya tidak dapat memutar video di dalam aplikasi saya. Padahal saya perlu itu untuk kepentingan belajar. Salah satu sumber yang saya temukan, menyatakan bahwa sebab masalah tersebut adalah OpenCV belum dikompilasikan bersama ffmpeg ketika diinstal. Maka secara logis, OpenCV perlu dikompilasikan ulang dengan menyertakan ffmpeg. Tulisan ini, pengajaran kompilasi kode sumber, adalah mimpi lama saya ketika pertama kali menggunakan Linux dan senantiasa gagal, yakni saya ingin mengajari orang lain menginstal juga kalau saya sudah berhasil melakukannya. Berikut ini catatan saya dan semoga bermanfaat.

Pesan Pertama Saya

Akhirnya saya bisa menyampaikan ini. Yang wajib diperhatikan dalam melakukan kompilasi dan instalasi program dari kode sumber adalah 2 hal:

  1. Program-program alatnya (semisal kompiler, pustaka dasar, dan build tool-nya).
  2. Dependensinya.

Ujung-ujungnya, semua kembali ke 1 hal: dependensi. Intinya, lengkapi dulu seluruh dependensi yang diperlukan sebelum Anda melakukan kompilasi kode sumber. Instalasi program di Linux, pada seluruh jenis sistem manajemen paket, intinya cuma 1 ini: menyelesaikan dependensi. Pegang ini kuat-kuat, Anda akan mampu melakukan instalasi program dari kode sumber di Ubuntu. Pesan ini adalah pesan yang saya cari dan paling ingin saya sampaikan semenjak pertama kenal Linux. Baca lebih lanjut

Rahasia Keabadian bash History

Bismillahirrahmanirrahim.

utilities-terminalSaya adalah pengguna Linux yang (saat ini) mengerti betapa cepatnya Terminal. Cepat, ya, cepat. Cepat sekali menyelesaikan suatu tugas dibandingkan GUI. Pada waktu yang lampau, saya lebih sering menggunakan Synaptic. Saat ini, saya lebih sering menggunakan Terminal. Kenapa? Karena cepat. Ajaibnya, Terminal (lebih tepatnya bash) menyimpan seluruh perintah yang pernah saya ketik. Ini sangat berguna untuk troubleshooting dan menulis artikel. Jelas, saya akan sangat terganggu kalau history dari bash saya terhapus. Ya, kenyatannya, bash memang akan melakukan truncating terhadap berkas .bash_history (berkas yang berisi riwayat seluruh perintah Anda) kalau ada instansi bash baru dipanggil pada waktu yang bersamaan atau jumlah total history Anda sudah melampaui tetapan variabel HISTSIZE dalam .bashrc. Lalu, bagaimana membuat supaya riwayat perintah bash tidak akan pernah dihapus berapa pun instansi bash dibuka bersamaan atau berapa pun total barisnya? Berikut catatan saya.

Tunggu, Saya Gagal!

Saya gagal dan saya merasa terganggu. Berulang kali saya googling dan menerapkan macam-macam tutorial. Intinya, tutorial yang saya temukan menyarankan untuk mengubah-ubah isi variabel dalam .bashrc atau menuliskan sejumlah perintah bash yang berkaitan dengan history (misalnya opsi -a dan -r) ke dalam .bashrc. Saya merasa kehilangan, karena bagi saya bash history itu sangat penting. Bisa dihitung, sudah beberapa bulan saya menerapkan macam-macam tutorial dan semuanya selalu menghasilkan history yang kembali lagi ke 500 baris (ukuran default untuk truncating). Ini terjadi karena saya sangat sering membuka banyak Konsole bersamaan, plus Dophin saya juga terintegrasi dengan Konsole. Jadi terang saja banyak bash berbeda yang saya buka dalam waktu yang sama. Itu berlangsung setiap hari. Sudah banyak-banyak mengetik perintah, lalu hilang dengan begitu mudah. Saya terus menerus gagal. Saya tidak suka itu.

Emang, bash History Penting?

Penting! Saya pengguna Linux sekaligus penulis. Sejarah itu sangat-sangat penting, bahkan dalam suatu shell. Kalau tidak ada history, atau kalau history terbuang, maka saya tidak bisa lagi mengetahui perintah yang saya lakukan paling awal. Berikut ini saya daftarkan kejelekannya.

  1. Tidak bisa melacak perintah mana sebelumnya yang mengakibatkan suatu error.
  2. Tidak bisa mengetahui perintah apa saja yang pernah saya lakukan.
  3. Tidak tahu berapa jumlah pasti perintah yang saya lakukan selama menggunakan Ubuntu.
  4. Tidak bisa melacak apa saja aplikasi yang telah saya instal.
  5. Juga aplikasi yang saya hapus.
  6. Juga bentuk-bentuk perintah tertentu yang pernah saya lakukan tetapi saya lupakan.
  7. Tidak bisa melakukan history | grep <string_tertentu>.
  8. Tidak bisa menulis tutorial karena bahannya sudah hilang (bash history juga bahan tulisan).

Rahasia Itu

Cukup ubah saja nama dari berkas yang menampung history. Kalau nama default-nya .bash_history, maka ganti saja menjadi .bash_history_saya atau apa saja. Tentu nama dalam variabel .bashrc yang diubah, bukan nama berkas fisiknya.

mari-menggunakan-kde-5-17

  1. Perhatikan baris nomor 9 pada gambar di atas. Saya mengubah nama berkas untuk penyimpan history. Ternyata, bash itu punya kebiasaan melakukan truncate kepada nama berkas .bash_history secara eksak. Jadi secara logis, kalau kita ubah nama berkasnya, maka dia tidak akan bisa melakukan truncate lagi. History saya pun aman.
  2. Perhatikan juga baris 13 dan 14. Jangan tanggung-tanggung kalau memberi batasan jumlah perintah. Namun ingat, angka yang bisa ditulis di sini adalah integer. Jadi batas totalnya juga batas integer.

Hasil

Lihat skrinsot ini. Saya menunggu selama 2 pekan lebih (sejak 26 Agustus 2014) untuk mencapai 2000 baris bash history. Setelah terbukti bisa mencapainya, saya baru menulis tulisan ini. Ini 2000 baris dalam waktu 2 pekan lebih menandakan bahwa bash history saya sudah tidak dihapus lagi oleh bash hanya karena saya setiap hari buka banyak instansinya bersamaan. Saya berhasil.

mari-menggunakan-kde-5-16

Referensi

  1. http://unix.stackexchange.com/questions/1288/preserve-bash-history-in-multiple-terminal-windows (ini laman yang saya ikuti dan saya percaya, tetapi akhirnya gagal juga)
  2. http://superuser.com/questions/555310/bash-save-history-without-exit
  3. http://askubuntu.com/questions/499376/bash-history-not-saved-after-closing-terminal
  4. http://signal0.com/2012/07/19/keeping_bash_history_forever.html
  5. http://www.numerati.com/2011/08/03/bash-goodies-turbocharging-your-history/
  6. http://pastebin.com/aMpbdGQm (log tanya jawab dari kanal IRC #bash @ freenode yang diawali oleh saya dan dijawab para pakar bash, yang menjadi sumber petunjuk keberhasilan saya)