Sebuah Perkenalan kepada Slackware

Bismillahirrahmanirrahim.

slackwarekita1

Saya menerjemahkan sebuah presentasi karya Lev Lafayette yang berjudul An Introduction to Slackware: Presentation to Linux Users of Victoria, Inc. Terjemahan ini telah disetujui oleh Lev Lafayette sendiri dan mendapat bimbingan dari dua orang senior saya di Indonesia dalam menggunakan Slackware. Saya beri judul terjemahan ini Sebuah Perkenalan kepada Slackware: Presentasi untuk Pengguna Linux Victoria, Inc. dan saya tujukan presentasi ini untuk semua pengguna Linux pemula di Indonesia. Saya mengajak baik sesama pengguna Slackware pemula, Ubuntu, maupun distro Linux lain untuk membacanya. Presentasi tersedia dalam ODP maupun PDF. Terjemahan saya ini adalah sebuah usaha kecil semata. Terima kasih untuk seluruh pihak yang mendukung diselesaikannya terjemahan ini. Segala macam kritik dan saran sangat diharapkan (melalui email saya teknoloid@gmail.com) demi sempurnanya terjemahan ini nanti. Saya memohon maaf atas segala macam kesalahan di dalamnya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan

Tips Membuat Portal Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Judul asli posting ini adalah Kesalahan-Kesalahan Teknoplasma. Namun saya akhirnya lebih memilih judul di atas. Saya ingin memberitahukan kesalahan apa saja yang saya lakukan dengan Teknoplasma sehingga akhirnya membisu dan mati. Saya tidak mau sebuah web Linux di Indonesia bubar setelah diupayakan dengan susah payah. Rugi uang, waktu, tenaga, capek, dan keluarga tapi tujuan aslinya[1] tidak tercapai. Tips ini tips pribadi. Bukan sesuatu yang wajib diikuti orang lain. Semoga tulisan ini bermanfaat.

  1. Tidak punya konsep. Tidak punya modal. Jika Anda memiliki lebih dari 1 topik, itu artinya Anda tidak punya konsep. Anda tidak menguasai satu hal pun di Linux, artinya Anda tidak punya modal. Tidak punya konsep dan tidak punya modal, portal Anda nanti tidak beraturan. Contoh blog yang punya konsep misalnya omgubuntu yang berfokus di Ubuntu desktop saja dan mengabaikan selainnya. Contoh lain misalnya modemlinux yang fokus di pembahasan hardware modem USB. Teknoplasma (walau benci saya berkata, tapi apa boleh buat) berusaha berdiri di atas semua golongan. Ya Fedora, ya openSUSE, ya Ubuntu, ya yang lain-lain. Ya GIMP, ya Inkscape, ya Scribus, ya yang lain-lain. Benar Teknoplasma 100% FOSS. Tapi kalau modelnya kayak di atas, itu tidak punya konsep namanya. Bukan FOSS yang penting. Konsep.
  2. Terlalu luas. Misalnya, Teknoplasma menginginkan menulis semuanya. Hal itu terlihat dari banyaknya kategori yang dimilikinya. Termasuk banyaknya halaman. Misalnya halaman khusus A, B, C, D, dan E. Padahal A sendiri pokok bahasan yang butuh 1 orang penulis untuk mengisinya. Berarti, Teknoplasma butuh 5 penulis. Padahal saya cuma sendirian. Sedangkan penulis Linux itu wajib kompeten. Sedangkan penulis Linux di Indonesia terlalu jarang jumlahnya. Bahkan, untuk bisa menemukan 2 penulis bagus dari 1 kota itu mustahil sudah rasanya. Tipnya adalah kecilkan cakupan bahasan hingga 1 bahasan tunggal saja. Jangan terlalu luas.
  3. Tidak realistis. Teknoplasma merasa serbamampu. Teknoplasma merasa pengguna Linux (dan penulis) di Indonesia itu banyak. Teknoplasma merasa satu orang pengelola bisa meladeni segalanya mulai SEO, hosting, domain, riset, menulis artikel, koneksi internet, transportasi, dan lain-lain. Misalnya, menulis satu topik saja (misalnya Libreoffice Writer) itu butuh kompetensi brilian dan dedikasi bertahun-tahun. Serius, di dalamnya ada pembahasan macro, formatting, mail merge, dsb. Si penulisnya sendiri sendirian dan sangat awam Linux. Eh, kok Teknoplasma seakan-akan merasa nanti bakalan ada yang ngisi bagian itu. Ya, bagian Libreoffice yang lain (Calc, Impress, Math, Base). Tidak realistis. Terlalu tidak realistis. Padahal masih belum mikir biaya internet, ininya, itunya, dan lain-lain. Emangnya berapa orang di Indonesia yang pakai Libreoffice Base? Mungkin bisa dihitung jari. Bahasa stateginya, tidak menyadari kekuatan musuh. Lebih baik ketika itu Teknoplasma skeptikal kagak bakalan ada orang yang mau nulis. Sehingga dia bisa memilih salah satu saja dari puluhan ribu topik.
  4. Tidak ada feedback. Teknoplasma adalah pemberian orang. Saya yang memilih domain dan hostingnya. Bertahan hanya setahun lalu bubar. Tidak ada dana yang masuk sedikit pun. Akhirnya tidak bisa berlanjut. Akhirnya saya memutuskan menggunakan WordPress.com. Saya sangat tidak suka itu terjadi pada situs Linux yang lain. Sebaiknya portal Linux itu memiliki modal sejak awal supaya bisa hidup. Atau minimal ada sokongan dana yang kontinu ketika ia berjalan. Atau minimal ada suatu usaha profit yang simbiosis mutualis sengaja diadakan di dalam sistemnya. Tidak ada feedback, tidak ada portal Linux. Gimana caranya, ya Anda harus berusaha.
  5. Tidak punya prioritas. Akibat tidak berkonsep dan bermodal, akhirnya tidak punya prioritas. Tidak punya standardisasi. Sebenarnya apakah yang paling dibutuhkan para newbie di Indonesia sebagai pijakan awal belajar? Teknoplasma yang dulu tidak bakal mampu menjawab pertanyaan itu. Pasti mencla-mencle. Kayak gini modelnya: satu bilang TLDP, satunya Wiki Archlinux, satunya Youtube, satunya lagi gunakan Linux setiap hari. Nggak jelas. Nggak ada prioritas. Nggak ada standar. Mau jawab pertanyaan sepele saja kesusahan: memulai dari distro mana. Jawabannya pasti nggak jelas: ada yang Ubuntu, satunya Mint, satunya Fedora, malah ada yang Gentoo, dll. Nggak ada prioritas, nggak terstandardisasi. Gagal itu namanya. Itu bukan pengajaran namanya. Sedangkan posisi Teknoplasma itu mengajar (mengajarkan Linux kepada masyarakat). Salah itu. Harus ada riset yang tajam sebelumnya sampai ditemukan apa yang harus diajarkan pertama kali dan diperjuangkan dengan web tersebut kepada masyarakat. Secara konsisten, fokus, dan terus menerus. Kamu mengajar, kamu berani membuat standar. Konsentrasi penuh dengan standar yang sudah kamu pilih. Ubuntu ya Ubuntu terus. Fedora ya Fedora terus. Writer ya Writer terus. Inkscape ya Inkscape terus. Sampai kamu menjadi portal Linux yang dirujuk secara serius oleh masyarakat. Tipnya adalah miliki prioritas dalam mengajar dan perjuangkan itu. Misalnya mengajar Ubuntu, maka tulis artikel mengenai sistem manajemen paket dan “paksa” pembaca mengambil itu duluan.

Jika Anda kecewa membaca tulisan ini, Anda mungkin mengira Teknoplasma situs Linux yang penuh harapan seperti yang Anda inginkan. Anda salah. Teknoplasma milik saya. Seseorang yang skeptikal sejak awal.


[1] Menyebarluaskan Linux ke seluruh masyarakat.

Ketika Anak Berumur 15 Tahun Belajar Pemrograman C di Linux

Bismillahirrahmanirrahim. Kemarin malam (19 Mei 2015), saya mengajarkan pemrograman C dasar kepada adik saya. Umur adik saya 15 tahun. Dia masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya ajarkan bab pertama dari buku rahasia saya. Tentu saja saya mengajarkannya di Linux dengan gcc walaupun masih dengan bantuan Geany. Demikian apa yang dia pelajari.

Yang Pertama Saya Ajarkan


Yang pertama saya ajarkan adalah motivasi bahwa dengan menguasai pemrograman kamu akan menguasai komputer. Kedua, saya ajarkan pemahaman bahwa yang dilakukan dalam pemrograman adalah tindakan 1) berpikir 2) membuat langkah-langkah kerja (algoritma) 3) menuliskan kode 4) compiling 5) linking. Ketiga, saya ajarkan bahwa pemrograman membutuhkan perangkat lunak kompiler untuk melakukan compile dan saya perkenalkan dia dengan gcc. Keempat, saya ajarkan bahwa saya mengajarkan bahasa C dan saya katakan bahwa dengan menguasai C kamu akan bisa menguasai bahasa-bahasa pemrograman lain seperti C++, Java, Python, dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Kesempatan Berkembang

Bismillahirrahmanirrahim.

Ada satu hal yang tidak disadari pemula ketika pertama masuk ke komunitas Linux. Satu hal itu adalah kesempatan berkembang. Satu hal yang membuat Anda bisa seperti sekarang. Satu hal yang Anda mungkin lupakan, yang mungkin Anda lupa untuk mensyukurinya. Satu hal yang selalu diberikan oleh para pakar sejak 1990 awal hingga 2015 ini yang seringkali mungkin kita lupakan jasanya. Sebuah hal yang begitu penting namun terlupakan.

Bagaimana?


Bagaimana contoh kesempatan berkembang? Apakah Anda menyadarinya?

  1. Para pakar pada waktu tertentu diam ketika ada pertanyaan. Sehingga Anda mendapat kesempatan menjawab pertanyaan orang lain. Ini kesempatan berkembang dari pakar untuk pemula supaya mampu menyelesaikan masalah orang lain.
  2. Para pakar menyediakan repositori-repositori Linux (setiap universitas punya server sendiri, masing-masing punya lebih dari 1 varian Linux). Sehingga Anda mendapat kesempatan menginstal aplikasi Linux dari internet Indonesia. Ini kesempatan berkembang dari para pakar untuk kepentingan add/remove program pengguna di seluruh Indonesia.
  3. Para pakar mengembangkan distro Linux lokal dan melepaskannya gratis. Sehingga Anda mendapat kesempatan ikut mengembangkan sistem operasinya maupun ikut menggunakannya. Ini kesempatan berkembang dari para pakar untuk Anda supaya SDM Anda naik di bidang teknologi informasi atau punya kesempatan menggunakan sistem operasi Indonesia.
  4. Para pakar menyediakan wiki Linux (misalnya ini, ini, ini, ini) yang sangat banyak di Indonesia untuk berbagai macam disiplin ilmunya. Sehingga Anda bisa mengambil pengetahuan sebaik mungkin darinya atau Anda mempunyai kesempatan menulis di dalam wiki. Ini kesempatan berkembang yang besar sekali karena yang mana pun yang Anda pilih tetap keuntungan yang Anda peroleh.
  5. Para pakar menyediakan tulisan-tulisan mengenai Linux (misalnya ini, ini, ini, ini, ini, dan ini) yang sangat banyak di Indonesia. Sehingga Anda bisa mengambil pengetahuan dalam bidang apa pun di Linux dalam bahasa Indonesia dan gratis. Ini kesempatan berkembang yang sangat besar bagi keseluruhan masyarakat Indonesia di bidang teknologi informasi.
  6. Para pakar menyediakan fasilitas CD/DVD/FD Linux (misalnya ini, ini, dan ini). Sehingga Anda bisa memiliki penginstal Linux walau tidak bisa mengunduhnya. Ini kesempatan berkembang bagi para pakar yang menyediakan, karena dengan adanya pemasukan dana, penyediaan tersebut bisa terus ada hingga sekarang dan kesempatan berkembang untuk Anda tetap terjaga.
  7. Para pakar mendirikan KPLI di Indonesia (misalnya ini, ini, ini, ini, dan ini). Sehingga Anda bisa berguru secara langsung kepada pakar di dunia nyata. Ini harus diakui sebagai salah satu kesempatan berkembang yang paling besar yang dapat Anda nikmati di dunia Linux Indonesia. Pemberian dari para pakar supaya Anda bisa lebih cepat berkembang. Karena belajar Linux bagi orang Indonesia itu sangat sulit kecuali ada gurunya.
  8. Para pakar mengelola milis-milis Linux di Indonesia (misalnya milis id-ubuntu, id-slackware, tanya-jawab, dll.). Para pakar mengelola segala bentuk media Linux di Indonesia entah IRC (macam #ubuntu-indonesia) forum (macam ubuntu-indonesia.com), facebook, twitter, maupun media lain. Bahkan banyak pakar di Indonesia yang mengelola lebih dari satu komunitas. Sehingga Anda bisa bertanya secara langsung kepada para pakar melalui internet. Ini kesempatan berkembang yang tidak terukur dari para pakar untuk Anda. Lihatlah negara lain di Asia Tenggara yang tidak seberuntung Anda mendapatkan fasilitas selengkap itu.

Bayangkan!

  1. Bagaimana jika semua pakar terjun menjawab setiap pertanyaan? Anda tidak akan berkembang. Anda tidak akan memiliki pengalaman menyelesaikan masalah orang lain. Maka diamnya mereka atau sesekali marahnya mereka kepada Anda justru kesempatan buat Anda memperbaiki diri.
  2. Bagaimana jika semua pakar tidak mau mendirikan repositori-repositori di Indonesia? Anda tidak akan berkembang. Anda harus memakai repositori luar negeri yang jelas kecepatannya tidak sebagus repositori dalam negeri. Bahkan akan ada orang-orang yang tidak bisa sama sekali memakai repositori karena masalah ini.
  3. Bagaimana jika para pakar tidak pernah mengembangkan distro Linux lokal? Anda tidak akan berkembang. Anda tidak akan tahu bagaimana orang mengembangkan sebuah sistem operasi di Indonesia. Anda tidak akan memakai sistem operasi yang didesain khusus untuk orang Indonesia. Anda tidak akan pernah menikmati terjemahan Indonesia untuk aplikasi-aplikasi yang ada di Linux. Anda tidak akan merasakan nikmatnya memakai sistem operasi yang demikian hebat dengan gratis.
  4. Bagaimana jika para pakar tidak pernah membuat wiki Linux di Indonesia? Anda tidak akan berkembang. Anda tidak akan berpikir untuk berkontribusi ke wiki Linux Indonesia. Anda tidak akan mendapat referensi detail dan terpercaya mengenai sejarah dibentuknya internet di Indonesia (yang notabene dilakukan oleh para pakar Linux seperti Pak Ibam).
  5. Bagaimana jika para pakar tidak menyediakan tulisan-tulisan mengenai Linux? Anda tidak akan berkembang. Anda tidak akan pernah belajar dengan mudah karena semua artikel harus Anda baca dalam bahasa asing. Anda tidak akan mendapat pemahaman yang terbaik untuk posisi Anda sekarang (di Indonesia) dari pakar yang juga orang Indonesia. Anda tidak akan pernah kenal Linux jika itu terjadi. Anda tidak akan pernah memperoleh majalah Linux di Indonesia.
  6. Bagaimana jika para pakar tidak mendistribusikan (tentunya berbayar) CD/DVD Linux? Anda tidak akan berkembang. Dana untuk mempertahankan keberlangsungan fasilitas itu juga tidak akan berkembang. Fasilitas itu sendiri tidak akan lama hidupnya. Jika Anda tidak memiliki internet dan tidak ada satu pun sumber, dari mana Anda bisa menggunakan Linux?
  7. Bagaimana jika KPLI tidak pernah didirikan? Anda tidak akan berkembang. Anda tidak akan pernah melihat seminar-seminar Linux di Indonesia. Anda tidak akan pernah merasakan bantuan technical support yang begitu besar dari KPLI kepada seluruh instansi baik pemerintah maupun nonpemerintah di Indonesia. Anda tidak akan pernah melihat satu pun acara ngoprek Linux di Indonesia.
  8. Bagaimana jika milis, forum, IRC, facebook, twitter, dan media-media Linux lain tidak pernah ada? Anda tidak akan berkembang. Terutama sekali, Anda yang hanya tahu Linux dari media macam facebook. Bagaimana Anda meminta tolong jika ada masalah? Bagaimana Anda bisa ikut membantu orang lain jika medianya sendiri tidak pernah ada? Bagaimana dengan Anda yang seumur hidup tidak pernah menggunakan sesuatu yang digunakan seluruh pakar Linux dunia (yakni milis dan IRC)? Anda tidak akan berpikir untuk menggunakannya. Apalagi jika seandainya fasilitas-fasilitas itu tidak pernah ada.

Lalu?


Sudahkah Anda berterima kasih? Minimal, kirim email kepada pakar yang Anda baca tulisan-tulisannya. Jika Anda mampu, berkontribusilah kepada komunitas Linux sebisa Anda. Sudahkah Anda menyadari kesempatan itu? Maka berikanlah kepada setiap orang kesempatan berkembang.