Tips Membuat Portal Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Judul asli posting ini adalah Kesalahan-Kesalahan Teknoplasma. Namun saya akhirnya lebih memilih judul di atas. Saya ingin memberitahukan kesalahan apa saja yang saya lakukan dengan Teknoplasma sehingga akhirnya membisu dan mati. Saya tidak mau sebuah web Linux di Indonesia bubar setelah diupayakan dengan susah payah. Rugi uang, waktu, tenaga, capek, dan keluarga tapi tujuan aslinya[1] tidak tercapai. Tips ini tips pribadi. Bukan sesuatu yang wajib diikuti orang lain. Semoga tulisan ini bermanfaat.

  1. Tidak punya konsep. Tidak punya modal. Jika Anda memiliki lebih dari 1 topik, itu artinya Anda tidak punya konsep. Anda tidak menguasai satu hal pun di Linux, artinya Anda tidak punya modal. Tidak punya konsep dan tidak punya modal, portal Anda nanti tidak beraturan. Contoh blog yang punya konsep misalnya omgubuntu yang berfokus di Ubuntu desktop saja dan mengabaikan selainnya. Contoh lain misalnya modemlinux yang fokus di pembahasan hardware modem USB. Teknoplasma (walau benci saya berkata, tapi apa boleh buat) berusaha berdiri di atas semua golongan. Ya Fedora, ya openSUSE, ya Ubuntu, ya yang lain-lain. Ya GIMP, ya Inkscape, ya Scribus, ya yang lain-lain. Benar Teknoplasma 100% FOSS. Tapi kalau modelnya kayak di atas, itu tidak punya konsep namanya. Bukan FOSS yang penting. Konsep.
  2. Terlalu luas. Misalnya, Teknoplasma menginginkan menulis semuanya. Hal itu terlihat dari banyaknya kategori yang dimilikinya. Termasuk banyaknya halaman. Misalnya halaman khusus A, B, C, D, dan E. Padahal A sendiri pokok bahasan yang butuh 1 orang penulis untuk mengisinya. Berarti, Teknoplasma butuh 5 penulis. Padahal saya cuma sendirian. Sedangkan penulis Linux itu wajib kompeten. Sedangkan penulis Linux di Indonesia terlalu jarang jumlahnya. Bahkan, untuk bisa menemukan 2 penulis bagus dari 1 kota itu mustahil sudah rasanya. Tipnya adalah kecilkan cakupan bahasan hingga 1 bahasan tunggal saja. Jangan terlalu luas.
  3. Tidak realistis. Teknoplasma merasa serbamampu. Teknoplasma merasa pengguna Linux (dan penulis) di Indonesia itu banyak. Teknoplasma merasa satu orang pengelola bisa meladeni segalanya mulai SEO, hosting, domain, riset, menulis artikel, koneksi internet, transportasi, dan lain-lain. Misalnya, menulis satu topik saja (misalnya Libreoffice Writer) itu butuh kompetensi brilian dan dedikasi bertahun-tahun. Serius, di dalamnya ada pembahasan macro, formatting, mail merge, dsb. Si penulisnya sendiri sendirian dan sangat awam Linux. Eh, kok Teknoplasma seakan-akan merasa nanti bakalan ada yang ngisi bagian itu. Ya, bagian Libreoffice yang lain (Calc, Impress, Math, Base). Tidak realistis. Terlalu tidak realistis. Padahal masih belum mikir biaya internet, ininya, itunya, dan lain-lain. Emangnya berapa orang di Indonesia yang pakai Libreoffice Base? Mungkin bisa dihitung jari. Bahasa stateginya, tidak menyadari kekuatan musuh. Lebih baik ketika itu Teknoplasma skeptikal kagak bakalan ada orang yang mau nulis. Sehingga dia bisa memilih salah satu saja dari puluhan ribu topik.
  4. Tidak ada feedback. Teknoplasma adalah pemberian orang. Saya yang memilih domain dan hostingnya. Bertahan hanya setahun lalu bubar. Tidak ada dana yang masuk sedikit pun. Akhirnya tidak bisa berlanjut. Akhirnya saya memutuskan menggunakan WordPress.com. Saya sangat tidak suka itu terjadi pada situs Linux yang lain. Sebaiknya portal Linux itu memiliki modal sejak awal supaya bisa hidup. Atau minimal ada sokongan dana yang kontinu ketika ia berjalan. Atau minimal ada suatu usaha profit yang simbiosis mutualis sengaja diadakan di dalam sistemnya. Tidak ada feedback, tidak ada portal Linux. Gimana caranya, ya Anda harus berusaha.
  5. Tidak punya prioritas. Akibat tidak berkonsep dan bermodal, akhirnya tidak punya prioritas. Tidak punya standardisasi. Sebenarnya apakah yang paling dibutuhkan para newbie di Indonesia sebagai pijakan awal belajar? Teknoplasma yang dulu tidak bakal mampu menjawab pertanyaan itu. Pasti mencla-mencle. Kayak gini modelnya: satu bilang TLDP, satunya Wiki Archlinux, satunya Youtube, satunya lagi gunakan Linux setiap hari. Nggak jelas. Nggak ada prioritas. Nggak ada standar. Mau jawab pertanyaan sepele saja kesusahan: memulai dari distro mana. Jawabannya pasti nggak jelas: ada yang Ubuntu, satunya Mint, satunya Fedora, malah ada yang Gentoo, dll. Nggak ada prioritas, nggak terstandardisasi. Gagal itu namanya. Itu bukan pengajaran namanya. Sedangkan posisi Teknoplasma itu mengajar (mengajarkan Linux kepada masyarakat). Salah itu. Harus ada riset yang tajam sebelumnya sampai ditemukan apa yang harus diajarkan pertama kali dan diperjuangkan dengan web tersebut kepada masyarakat. Secara konsisten, fokus, dan terus menerus. Kamu mengajar, kamu berani membuat standar. Konsentrasi penuh dengan standar yang sudah kamu pilih. Ubuntu ya Ubuntu terus. Fedora ya Fedora terus. Writer ya Writer terus. Inkscape ya Inkscape terus. Sampai kamu menjadi portal Linux yang dirujuk secara serius oleh masyarakat. Tipnya adalah miliki prioritas dalam mengajar dan perjuangkan itu. Misalnya mengajar Ubuntu, maka tulis artikel mengenai sistem manajemen paket dan “paksa” pembaca mengambil itu duluan.

Jika Anda kecewa membaca tulisan ini, Anda mungkin mengira Teknoplasma situs Linux yang penuh harapan seperti yang Anda inginkan. Anda salah. Teknoplasma milik saya. Seseorang yang skeptikal sejak awal.


[1] Menyebarluaskan Linux ke seluruh masyarakat.

Iklan

One thought on “Tips Membuat Portal Linux

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s