Solusi Pemasaran Linux di Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini bertugas merangkum solusi-solusi yang sudah dikerjakan rekan-rekan komunitas semuanya.

Masalah Utama


Linux asing. Itulah masalah kita yang sebenarnya. Bacalah artikel Linux, Ya dan Tidak sebelumnya dan kesampingkan semua poin selain poin 1. Maka sementara kita terima bahwa permasalahan pertama kita adalah masyarakat tidak mengenal Linux.

Apa Sebabnya


Apa sebabnya Linux tidak dikenal? Banyak sekali. Namun saya berusaha mengecilkan jumlahnya biar mudah dipahami. Saya kecilkan dengan membandingkan kondisi Linux dan Windows.

  1. Bagaimana masyarakat mengenal Windows? Dari pengajaran formal dan nonformal. Bagaimana masyarakat mengenal Linux? Dari pengajaran nonformal.
  2. Bagaimana Windows dikenal secara formal? Dari pengajaran komputer sejak SD hingga perguruan tinggi, dari kantor. Bagaimana Linux dikenal secara formal? Dari pengajaran di SMK TKJ tidak sebelumnya dan tidak sesudahnya (tak bisa dibandingkan). Jika Linux dikenal dari kantor, biasanya karena kantornya sudah migrasi.
  3. Bagaimana Windows dikenal secara nonformal? Dari jual beli komputer (bundling), dari pengajaran di rumah (orang tua), dari pengajaran di luar rumah (teman bermain, teman kerja, teman sekolah), dari warnet, dari game center, dari buku, dari majalah, dari TV. Bagaimana Linux dikenal secara nonformal? Dari belajar sendiri (dari buku, dari majalah, dari internet), dari seminar, dari teman, dari warnet.
  4. Mana yang lebih dulu dikenal, Windows atau aplikasinya? Aplikasinya (Microsoft Office, Winamp, Minesweeper, Freecell, Paint, Photoshop, CorelDRAW, Diablo, CAC Red Alert, Ragnarok, World of Warcraft). Mana yang lebih dulu dikenal, Linux atau aplikasinya? Linux (tidak langsung Linux, tetapi Ubuntu atau yang lain dahulu). Aplikasi Linux baru dikenal setelah orang tahu Linux-nya.

Hulu dan Hilir


Ada perbedaan jenis sukarelawan. Ada sukarelawan yang bekerja di hulu, di front paling dekat dengan sumber, yakni secara langsung mengajak orang untuk menggunakan Linux. Orang jenis ini melakukan seminar atau apa pun yang sifatnya langsung berhadapan dengan masyarakat. Pelajarannya antara lain masalah lisensi, masalah moral, masalah yang biasanya diseminarkan, dan instalasi OS Linux. Ada juga sukarelawan yang bekerja di hilir, di front yang tidak dekat dengan sumber, yakni mengajarkan segala hal yang bukan hulu. Pelajarannya adalah segala hal selain instalasi OS Linux. Hulu mengurus yang belum memakai sedangkan hilir mengurus yang sudah memakai. Hulu menarik (to pull), hilir menjaga (to keep).

Masyarakat kita semacam developer IGOS atau Blankon, saya menyebutnya hulu. Mereka mengurusi orang secara langsung dengan seminar dan segala kegiatan mereka. Mereka mau membuat OS, menginstalkan, melatih, bahkan memigrasikan. Sedangkan orang seperti saya adalah hilir (karena tidak mau lagi mengajaki orang dan hanya mengurusi mereka yang sudah). Maka orang seperti saya hanya berkutat pada pembelajaran setelah instalasi OS (misalnya sistem manajemen paket). Orang seperti saya tidak menginstalkan, tapi fokus hanya mau mengajar mereka yang sudah menginstal.

Solusi dari Hulu


Rekan-rekan kita di AOSI, AirPutih, LOI, YPLI, Nurul Fikri, IGOS, Blankon, Grombyang, Linuxindo, Ubuntu-ID, FUI, OTS, dan lain-lain memberikan banyak sekali solusi atas permasalahan nomor satu ini. Linux asing, karena itu mereka mengusahakan banyak hal. Jasa mereka sudah tidak terhitung dalam hal ini. Berikut sedikit di antaranya.

  1. Seminar. Solusi paling jitu untuk masyarakat. Tidak terhitung orang akhirnya memakai Linux karena seminar.
  2. Training. Solusi untuk kelompok dalam jumlah besar, misal perusahaan.
  3. Pendidikan formal. Solusi jangka panjang, diberikan oleh Nurul Fikri.
  4. Migrasi. Solusi yang seperti training, dan pengaruhnya sangat fundamental.
  5. OS. Ya, mereka membuat OS sendiri. Di antaranya IGN dan Blankon.
  6. Sertifikasi. Langkah jangka panjang mereka untuk menggandakan manfaat. Misalnya sertifikasi Blankon.
  7. Penghargaan. Motivasi itu penting, terbukti dengan contoh Piala AOSI.
  8. Iklan. Ya, bahkan FUI sampai mengiklankan forumnya di sejumlah tempat di internet. Facebook dan Google Adsense memang pasar iklan terbesar.
  9. Panduan. Isi FUI 100% adalah panduan. Begitu pun wiki OTS, wiki IGOS, wiki Blankon, wiki LOI (dulu), situs LOI itu sendiri, milis-milis di bawah LOI, dan lain-lain. Belum lagi ada versi PDF untuk wiki Blankon dan lain-lain.
  10. Forum. Tugas hulu adalah menciptakan forum. Mereka yang mendirikan KPLI, yang mengadakan komunitas pertama kali.
  11. Bugtrack. Tugas hulu yang membuat OS adalah mengadakan bugtrack. Tugas bugtrack adalah menerima ide dari hilir.

Solusi dari Hilir


Blogger seperti saya masuk kategori hilir. Tidak peduli kepada yang belum menginstal Linux. Hanya berfokus memproduksi tutorial penggunaan dengan tujuan orang tetap menggunakan Linux (menghindarkannya dari bajakan). Buktinya, semua tulisan saya bersifat sebatas menjaga (to keep) tidak menarik (to pull). Bengkelubuntu itu bukti hilir saya. Tidak terbatas orang macam saya, tetapi segala macam orang yang sifatnya terima bola dari hulu. Ada orang yang sudah memakai, oke sini saya ajari sampai bisa. Orang-orang hilir lebih banyak jumlahnya karena menjadi hilir lebih mudah. Di antara usaha mereka adalah sebagai berikut.

  1. Konvergensi. Misalnya, saya selalu merekomendasikan Ubuntu, mengambil arus dari hulu Ubuntu (tidak selainnya), dan tidak menyukai adanya distro baru. Konvergensi adalah standardisasi bagi saya. Hanya dengan konvergensi pembelajaran bisa mudah diserap masyarakat. Seperti halnya sekolah.
  2. Panduan. Sama seperti hulu. Tetapi perbedaan akan tampak jika kita lihat muatan panduan tersebut. Panduan hilir khas dengan sikap fokusnya pada mereka yang sudah siap.
  3. Layanan. Layanan macam apt-web (Fajran), apt-web (Badwi), alldeb (Choirul), alldebku (Alwan), dan bengkelubuntu adalah bukti terima bola oleh hilir.
  4. CD. Jual CD Linux. Misalnya oleh Gudanglinux atau Juragan. Saya turut menyediakan pula.
  5. Forum. Tugas hilir adalah menjaga forum. Menjawab pertanyaan-pertanyaan teknis di forum atau facebook untuk orang yang sudah menggunakan Linux. Termasuk jalan-jalan masa depan yang lowong semisal bimbingan tugas akhir dan pemrograman.
  6. Ide. Hilir pada dasarnya masyarakat itu sendiri. Maka siapa yang paling tahu kondisinya, ya mereka sendiri. Hilir selalu memiliki ide dan dikirimkan kepada hulu. Sesekali ada ide yang brilian dari hilir yang tidak terpikirkan oleh hulu.

Tidak Sempurna


Semua yang dilakukan sudah diusahakan sesempurna mungkin. Namun bukan berarti mereka semua sempurna. Terus dibutuhkan penyempurnaan waktu demi waktu.

Penutup


Tulisan ini tidak ditutup kemungkinan revisinya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan

9 thoughts on “Solusi Pemasaran Linux di Indonesia

  1. Kalau dorongan bagi pemegang kebijakan untuk lebih berpihak pada opensource, itu masuk dalam kategori hulu atau hilir kang … Btw sejauh mana pemerhati atau lembaga yang konsen dibidang linux melakukan ini?

  2. Ga bisa mengharapkan pemegang kebijakan berpihak pada OS komunitas, karena dari pengadaan mereka aja, saat dikasih tau kalo pesen komputer non-OS aja & OSnya gratisan pake Lubuntu (biar mirip Windoze xp), mereka tetep bakalan milih Windoze, bukan karena kebiasaan, tapi karena “kalo bisa beli mahal, knapa musti lebih murah”. Emang pemikiran yang aneh, tapi bila mereka beli komputer dengan harga total dibawah yang dianggarkan, bukan dihitung berhemat, tapi kinerja buruk karena kurang serapan (ntah bahasanya ga nyaman didenger)

  3. Dan mungkin karena sudah mendarah daging bahwa pc = windows, dan kalo bisa bajakan bagus kenapa harus pusing pakai berbayar mahal atau ribet gratis. 😀

  4. pertama kali saya mengenal komputer yaitu menggunakan aplikasi perkantoran terlebih dahulu, oleh karena itu untuk mempopulerkan Linux saya memulai dengan cara memperkenalkan aplikasi perkantoran dimana semua orang yang memiliki komputer PC/Laptop dipastikan menggunakannya. LibreOffice sudah saya rasakan dapat menggantikan peran Ms. Office dalam pekerjaan saya sehari-hari.

  5. saya sudah mulai kendor kalau masalah mengajak seperti masuk instansi formal (sekolah). sudah saya fasilitasi, saya gratiskan, maintenance linux juga sudah saya handle. tapi sekolah masih memandang rendah dan akhirnya ga jalan. ya sudah, ganti haluan. ngajaknya perseorangan saja. dan terbukti lebih efektif.

Mohon jangan gunakan emotikon:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s