Bedakan Proses dengan Hasil

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebagian orang gagal memahami sebuah proses sebagai proses. Mereka sering memahami proses sebagai hasil. Cenderung mudah cemoohan itu keluar karena mereka menyangka proses (sesuatu yang belum selesai) sebagai hasil (sesuatu yang telah selesai dikerjakan). Sehingga rusaklah banyak kesempatan bagus bagi orang-orang yang sedang menjalani sebuah proses. Misalnya belajar Linux. Tulisan ini diringkas dari kejadian yang saya amati sendiri di komunitas. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Masa Transisi

Saya pernah menulis esai mengenai ini. Sebagai ringkasannya, saya simpulkan:

  1. Dualboot (Windows-Linux) akan senantiasa terjadi. Menandakan suatu proses, sesuatu yang “belum”, sesuatu yang “masih terus diadaptasikan”. Orang tidak bisa langsung singleboot total (Linux) sebelum dia menguasai semua FOSS yang dia butuhkan. Mengharap semua orang singleboot total menandakan ketidakmampuan menangkap tanda ini.
  2. Totalitas (FOSS, tanpa bajakan) akan jarang ditemukan. Menandakan suatu proses, proses masyarakat untuk sadar bahwa pembajakan itu tidak boleh (tidak ada alasan “untuk pendidikan boleh”). Ditambah lagi, proses yang terkemudian. Yakni proses menguasai program-program FOSS untuk menggantikan program bajakan. Ini masih ditambah proses menguasai OS Linux itu sendiri. Sudah tampak proses berat yang dobel-dobel. Mengharapkan orang FOSS total tanpa bajakan adalah menandakan ketidakmampuan memahami proses ini.
  3. Totalitas (FOSS, tanpa proprietari) akan lebih jarang lagi. Realistis sajalah, jangan mengada-ada. Orang yang mampu melepaskan diri dari bajakan saja sudah sangat syukur kita melihatnya saking langkanya, apalagi yang mampu lepas dari proprietari secara utuh. Ingat, BIOS Anda kebanyakannya proprietari dan semua ATM pakai Windows.
  4. Kesempurnaan (kepenulisan) akan pincang-pincang. Ini jelas proses, karena setiap orang yang baru saja menggunakan Linux harus menulis. Pertama, menulis butuh kemampuan. Kedua, menulis tentang Linux butuh kemampuan lain tersendiri. Mengharapkan seluruh penulis muda menulis 100% benar tanpa salah foreseeing, adalah ketidakmampuan tersendiri memahami proses ini.
  5. Pengguna Linux langka ditemukan. Ini proses, karena pertama Linux itu asing buat masyarakat. Kedua, orang yang memperkenalkan Linux sedikit jumlahnya. Ketiga, banyak orang tidak paham kalau membajak software itu dilarang. Keempat, ada saja orang kembali ke Windows setelah bad experiences di Linux. Mengharapkan akan menemukan pengguna Linux dalam jumlah besar, adalah ketidakmampuan melihat proses ini. Satu bukti pengharapan, adalah, merasa tidak senang ketika tidak pernah menemukan satu pun pengguna Linux di kotanya.
  6. Kesempurnaan pertanyaan akan lebih pincang. Ini juga proses, karena pertama cara bertanya itu tidak diajarkan di sekolah. Sedangkan masyarakat Indonesia itu amat sangat bergantung pada sekolah. Kedua, karena pengguna Linux sedikit, maka yang tanya juga sedikit dan cenderung kembali kepada masyarakat umum. Yakni yang tidak pernah mendapat pelajaran bertanya sebelumnya. Memang harus ada yang berkorban, mengajari satu demi satu cara tanya ke masyarakat luas (tugas berat). Maka ini jelas proses. Namun ada saja yang tidak mampu melihat proses ini.
  7. Kesempurnaan software rumahan adalah langka. Satu-satunya FOSS multimedia terbaik menurut saya adalah Blender. Silakan cari sendiri alasannya. FOSS rumahan terbaik menurut saya adalah Mozilla Firefox. Cari sendiri. Selain itu, segalanya berproses. Windows diciptakan untuk orang rumahan, program untuk Windows diciptakan mengikuti rumahannya Windows. Wajar Photoshop hebat. Linux diciptakan untuk server (UNIX sendiri untuk server), dan program rumahan untuk Linux umumnya dikembangkan untuk menyaingi rumahan yang ada di Windows. Ambil contoh GIMP dan Inkscape. Wajarlah mereka tidak sekuat Photoshop dan CorelDRAW –yang sudah menjadi de facto orang rumahan–. Orang mengeluhkan kekurangan Libreoffice, GIMP, Inkscape, dll. di Linux karena tidak paham software tersebut juga sedang mengalami proses. Proses pendewasaan di segala bidang, termasuk kompatibilitas format yang hampir mustahil diwujudkan. Pembuatan software itu mahal, Bung. Tidak perlu menuntut jika tidak mampu membantu.

Hasil?

  1. Orang yang terpaksa dualboot, apakah itu hasil? Tidak. Itu proses. Mayoritasnya dari bajakan ke FOSS semata.
  2. Orang yang belum 100% FOSS, apakah itu hasil? Tidak. Itu proses. Dia baru mengenal sebagian, tidak kenal sebagian sisanya. Lagipula, umumnya orang Indonesia tidak pernah mencari alternatif ketika memakai Windows. Polanya bisa ditebak: Windows, Photoshop, CorelDRAW, Microsoft Office, terus IDM. Maka ini proses, entah dari bajakan ke freeware atau ke FOSS atau ke FOSS dulu lalu balik ke freeware.
  3. Orang yang belum 100% FOSS, apakah itu hasil? Tidak. Itu proses. Kenal FOSS aja boro-boro, apalagi menolak total proprietari sampai menolak BIOS proprietari. Jangankan FOSS, Mereka itu kenal freeware pengganti bajakan saja tidak. Maka sudah tugas kita membantu mereka berproses, bukan mengeluh.
  4. Kepenulisan yang setengah-setengah itu hasil? Tidak. Itu proses.
  5. Pengguna Linux sedikit itu hasil? Tidak. Itu proses. Saya ulangi, masyarakat kita tahu software yang digunakannya bajakan saja boro-boro. Kok mau mereka cari alternatif. Kok lagi, mau mereka cari freeware. Paling dahsyat, kita mau mereka pakai FOSS dan Linux. Weleh-weleh, mustahil. Kecuali kita kerja keras supaya mereka kenal.
  6. Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu hasil? Tidak. Itu proses. Karena begitu masyarakat Indonesia bertanya di forum Linux, sekolah mereka pindah dari dunia nyata ke forum tersebut. Baru di dalam forum Linux itu pembelajaran mereka yang sesungguhnya dimulai. Mereka tidak bakal dapatkan yang dipelajari di forum Linux, dari sekolah atau kuliah. Tidak akan. Maka memang harus ada yang berkorban menyosialisasikan etika dasar dan lain-lain di forum Linux. Saya tidak keberatan. Anda?
  7. Libreoffice kesulitan .DOCX itu hasil? Inkscape tidak kompatibel .CDR? GIMP tidak bisa .PSD? Tidak. Itu semuanya proses. Saya pribadi tidak pernah menuntut apa pun karena saya tidak pernah membayar developer. Saya hanya mengisi proses ini dengan mengeksploitasi software tersebut sampai batas yang saya mampu. Buktinya ada di semua blog saya. Anda?

Bukti-Bukti

Saya membawa bukti bahwa ada orang yang tidak mampu melihat 7 masalah di atas sebagai proses.

  1. Menyuruh hapus Windows di forum. Ini tidak bijak, terlalu frontal, karena lawan bicaranya newbie yang minta cara dualboot. Tidak bijaknya karena tidak paham dia, masyarakat butuh proses memahami Linux. Dia tidak mikir, seandainya gagal si newbie akan batal menggunakan FOSS/Linux.
  2. Menyuruh secara serta merta ganti total ke FOSS && migrasi. Mengejek jika seseorang belum 100% menggunakan FOSS/Linux. Mengejek jika seseorang menanyakan Wine. Ini bukti tidak mampu melihat masalah nomor 2 sebagai proses.
  3. Frontal mengejek orang yang masih menggunakan Windows atau program proprietari (legal). Bukti juga.
  4. Menjatuhkan seseorang yang level kepenulisannya rendah && level Linux-nya juga rendah. Mestinya cukup dikritik bagian yang salah, tidak perlu dijatuhkan segala.
  5. Mengeluh jika pengguna Linux sedikit, atau mengeluh sulit menghubungi pengguna Linux lain (karena sedikitnya).
  6. Menyamaratakan segala penanya yang belum baik, sebagai “musuh”. Padahal ada penanya yang niat hanya saja masih perlu sedikit diajari. Wajar, karena cara bertanya tidak diajarkan di sekolah dia. Aturan “baca aturan forum sebelum tanya”, juga tidak diajarkan di sekolah. Googling (masalah Linux), itu juga tidak diajarkan di sekolah (karena Googling pun butuh kemampuan). Ini proses, orang yang bertanya juga sedang berproses, tetapi sebagian orang gagal menangkapnya. Adapun penanya yang asli mbalelo itu memang perlu diberi pelajaran keras.
  7. Mengeluh mengenai kekurangan FOSS tanpa menerima proses itu dengan lapang dada. Sudah cukup satu kalimat umum ini sebagai bukti.

Seandainya…

Seandainya saya melihat ketujuh poin yang saya sebut di atas sebagai proses, sebagaimana saya yang sekarang, maka saya tidak akan mengeluh. Saya akan selalu memaklumi hal-hal tersebut di masyarakat karena saya tahu itu semuanya adalah proses. Ya, semuanya menandakan transisi. Karena itulah beberapa waktu lalu saya menulis esai transisi tersebut.

Sebaliknya, seandainya saya melihat ketujuh poin sebagai hasil, sebagaimana saya yang dulu, saya akan terhentikan. Sebagian orang marah-marah menghadapi salah satu poin, lainnya sedih, ada yang prihatin, ada yang putus asa. Karena mereka pandang itu semua sebagai hasil, bukan sebagai proses. Mereka terhenti oleh sudut pandangnya sendiri. Lalu saya ikut-ikutan terhenti karena telanjur mengambil sudut pandang tersebut.

Iklan

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s