Kualitas Tidak Dicapai dengan Menuntut

Bismillahirrahmanirrahim.

Ada satu kesan yang tampak di komunitas bahwa segala kualitas harus prima. Ada satu kesan lagi yang mengikutinya bahwa orang menuntut kualitas tapi tidak turut membantu tercapainya. Hal ini terjadi misalnya sikap kritis sebagian orang terhadap suatu karya terkait Free Software yang baru muncul. Skeptisisme muncul duluan, tapi sayang, orangnya nuntut kualitas. Orangnya tidak membantu, tidak donasi, tidak juga berkolaborasi. Pokoknya apa pun yang tidak menguntungkan secara langsung baginya, dikritik tanpa dibantu. Si pengkritik tidak mau membantu, tidak mau berkolaborasi. Sayang sekali orang macam ini ada di komunitas Free Software. Apa yang diharapkan dari yang semacam itu?

Sikap Minimum

Paling tidak jika seseorang tidak bisa membantu, jangan menuntut. Jangan mempersyaratkan ini itu untuk proyek yang dikerjakan dari dana pribadi. Jika bisa membantu, bantulah dengan kolaborasi Anda. Mengirim email kepada pekerja proyek Free Software termasuk kolaborasi yang bagus. Tidak etis menuntut kesempurnaan kepada proyek dengan dana pribadi.

Berikan Feedback

Kernel Linux bisa seperti sekarang karena kolaborasi. Proyek GNU itu juga proyek kolaborasi. BSD, semua BSD juga proyek kolaborasi. Segala kolaborasi dibangun dari satu fondasi yakni feedback (umpan balik). Komunitas yang mandiri seperti mereka terbiasa memberi feedback berkualitas tanpa diminta. Misalnya minimal ucapan terima kasih, lalu kritik dan saran, lalu patch. Karena feedback-lah pembuat Linux bisa melanjutkan pembuatan kernel Linux itu. Sedangkan di sini, orang membuat proyek Free Software segede gajah pun pemilik proyek masih harus “minta-minta” untuk sekadar feedback biasa. Padahal memberi feedback mudah sekali, tapi orang tidak mengerti. Ketiadaan feedback menghasilkan terhentinya proyek Free Software (contoh: apt-web.dahsy.at). Sayang, sebagian orang di komunitas kita di Indonesia belum mahir melakukan ini.

Rasa Simpati Sosial

Meninjau komunitas seperti developer kernel Linux dan BSD, jangan hanya tinjau dari segi teknisnya. Tinjau dari segi sosialnya. Sebuah komunitas Free Software macam mereka, jelas memiliki simpati sosial yang tinggi. Ada perasaan saling membantu, saling menambal kekurangan. Contoh mudahnya itu tadi. Mereka bisa memberikan feedback berkualitas tanpa diminta. Ini sudah pertanda adanya rasa simpati sosial. Orang yang membuat Free Software, orang yang mempromosikan Free Software, layak kita bantu minimal dengan feedback semampu kita. Tidak semata-mata kita nikmati saja karyanya. Golden rule berlaku juga di sini, kamu dibantu, pada gilirannya kamu juga balas membantu. Komunitas yang tidak punya simpati, komunitas yang bahkan tidak mau menuju ke arah sana, adalah komunitas sosial yang mati. Sayang, ada beberapa jenis orang yang seperti itu di komunitas kita.

Kebutuhan Dana

Proyek Free Software, terkait dengan software ataupun tidak, selalu membutuhkan biaya. Orang yang tidak bisa membantu secara teknis, tidak bisa terjun ke lapangan, tapi punya uang, bisa membantu dengan uangnya. Misalnya memberi donasi ke satu proyek Free Software. Atau, membantu masyarakat yang ingin menyumbang uang tetapi tidak punya media pembayarannya (hal ini pernah dilakukan oleh Rizki Djati Munggaran). Bisa juga membantu dalam bentuk donasi hardware untuk pengembang yang memerlukannya. Ada juga cara lain semisal membeli merchandise yang uangnya didonasikan untuk pengembangan Free Software (LinuxGeekers menempuh cara ini).

Komunikasi

Satu hal yang menjegal kolaborasi antara kita adalah komunikasi. Tampak pertanda komunikasi antara kita terjalin dengan bolong-bolong. Satu penyebabnya adalah tidak ada kebutuhan akan komunikasi itu sendiri. Karena orang pikir “yang penting saya dapat software A selesai”. No. Tidak sampai di situ. Komunitas Free Software lebih butuh komunikasi Anda sekalian dibanding komunitas software lain. Hubungilah orang-orang yang aktif di komunitas Linux Indonesia, orang yang aktif membantu Anda sekalian di forum, orang yang terus menghubungkan komunitas Free Software di Indonesia dengan upstreams, orang yang mengusahakan Free Software di Indonesia lebih dari siapa pun walau Anda tidak pernah tahu, dan orang-orang yang seperti itu. Jalin komunikasi yang terus menerus. Hidupkan komunikasi, kolaborasi akan terjadi. Jalan komunikasi digital di Free Software utamanya memakai email dan IRC. Ada juga forum dan kini facebook. Belajarlah berkomunikasi dengan baik dan efektif sekarang juga. Jangan pernah mempermasalahkan jarak walau Anda ada di ujung Indonesia sana. Saya masih percaya bahwa komunikasi terbaik adalah memberi. Maka teruslah berkomunikasi, saling berkomunikasi, dan jangan berhenti memberi.

Mewujudkan Kolaborasi di Indonesia

Satu subjudul yang berat tapi harus ada yang nulis. Bisakah kolaborasi sehebat LKML diwujudkan di Indonesia? Saya orang skeptis, jawaban saya juga skeptis. Harapan ada di nilai minimum. Karena sebagaimana masyarakat Asia Tenggara lain, Indonesia termasuk taraf masih belajar. Yang bisa dilakukan hanyalah menyadarkan dari dasarnya pentingnya kolaborasi. Mereka yang membaca artikel ini, diharapkan berkolaborasi dengan proyek Free Software yang ada entah berhubungan langsung dengan software ataupun tidak. Saling bantu membantu, saling berkomunikasi antara pengguna dan developer, saling gotong royong ini sangat penting untuk diwujudkan. Jangan menuntut kesempurnaan Free Software, entah itu IGOS Nusantara atau Blankon, entah itu KPLI atau LUG kampus, entah itu YPLI atau Okusi, kalau Anda tidak berkolaborasi. Malu kalau gotong royong yang katanya khas orang Indonesia itu ternyata tidak terwujud di Indonesia sendiri dalam komunitas Free Software yang sangat butuh gotong royong.

Iklan

One thought on “Kualitas Tidak Dicapai dengan Menuntut

  1. 1. Pakai freeware dan/opensourced only
    2. Bagi pengalaman ke forum/komunitas
    3. Kontribusi terhadap pengembangannya jika mampu (dana, kode program, dokumentasi, hosting, dll)
    4. Mengembangkan freeware dan/atau opensourced
    Begitu kira-kira…

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s