Perbandingan yang Tidak Adil

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya menyorot perbandingan yang dilakukan sebagian orang. Perbandingan yang mereka lakukan antara LibreOffice dan Microsoft Office. Yang di dalam perbandingannya LibreOffice diperlihatkan sebagai software murahan, rendahan, jelek, tidak berguna, dan hal hina lainnya. Yang di luar perbandingan itu si pembanding menggunakan dan/atau menganjurkan penggunaan Microsoft Office bajakan serta software bajakan lainnya. Yang secara kebiasaan umum sudah dikenal kalau orang macam itu adalah mayoritas. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Eksternal

  1. LibreOffice itu murahan. Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office (mahal) yang bajakan (murah). Bajakan itu murahan.
  2. LibreOffice itu rendahan. Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office (terhormat) yang bajakan (rendahan).
  3. LibreOffice itu jelek (fiturnya kalah, tampilannya kalah).  Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office 2007/2010/2013 (fitur bagus, tampilan bagus) bajakan (jelek).
  4. LibreOffice itu tidak berguna (dituduh sulit digunakan). Komentar: tidak adil, si pembanding menghabiskan waktu dan/atau biaya (kursus) yang besar baru kemudian menyatakan Microsoft Office mudah & berguna sedangkan si pembanding tidak menghabiskan waktu dan/atau biaya (kursus) untuk LibreOffice tetapi menuduh LibreOffice sulit dan tidak berguna.

Internal

  1. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau menghargai kerja keras pembuatan filter dokumen oleh Tim Pengembang LibreOffice sedangkan ketika memakai DOCX di Microsoft Office 2007/2010/2013 dia tidak membayar lisensi Microsoft Office.
  2. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau membandingkan harga lisensi software antara LibreOffice dan Microsoft Office.
  3. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau berusaha menggunakan Open Document Format dan/atau tidak menyosialisasikannya sementara dia sendiri terus menerus mengampanyekan OOXML (DOC/XLS/PPT) sadar atau tidak sadar.
  4. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak punya kesadaran untuk meninggalkan software bajakan kemudian memiliki usaha untuk menggunakan software dan format dokumen alternatif. Kalau dia niat betul meninggalkan bajakan, tidak ada alasan untuk tidak bisa. Dia hidup sudah di zaman teknologi informasi.
  5. LibreOffice itu jelek (dari segi tampilan). Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mengetahui pertimbangan developer mengenai UI/UX semisal yang terjadi di salah satu blog developer. UI LibreOffice dipertahankan seperti sekarang karena developer memberikan yang terbaik sesuai kemampuan mereka untuk pengguna. Kalau diubah, pengguna yang sudah ada akan kebingungan (sedangkan pengguna yang baru tidak pasti datangnya) serta seluruh tutorial yang ada akan hangus karena perubahan.
  6. LibreOffice miskin (dari segi tutorial). Komentar: tidak adil. Si pembanding tidak pernah melihat dokumentasi resmi http://www.libreoffice.org/get-help/documentation dan/atau tidak pernah melihat wiki https://wiki.documentfoundation.org/Main_Page dan/atau tidak pernah menekan tombol F1.

Saran dari saya, jika seseorang di Indonesia hendak mengkritik LibreOffice, hendaknya berikan keadilan. Berikan kedudukan yang layak untuk software legal di atas software bajakan. Format dokumen ODF hendaknya disosialisasikan secara sukarela lebih dari OOXML. Karena ODF itu wasilah supaya orang beralih dari yang ilegal ke yang legal. Terserah seseorang sudah mampu konsisten atau masih menggunakan bajakan. Hendaknya bandingkan dengan adil.

Iklan