Mencari Orang yang Serius dengan Free Software

Bismillahirrahmanirrahim.

Dapatkah kita menemukan orang yang serius dengan Free Software di Indonesia? Sulit sekali. Padahal Free Software (orang Indonesia suka menyebutnya Open Source) itu kita butuhkan. Kita bisa memandang kepada AOSI dan AirPutih, dua yayasan besar yang menyokong Free Software di Indonesia. Kita bisa memandang orang-orang yang sejalan dengan dua yayasan ini. Mereka orang yang serius dengan Free Software. Namun mereka sulit ditemukan. Bagaimana dengan orang-orang di luar? Kita akan mencarinya dari ciri-ciri berikut.

1. Dia Tidak Mengutamakan Dirinya Sendiri

Secara manusia, dia rela berkorban untuk orang lain. Dia memikirkan orang lain lebih dari dirinya sendiri. Selama seseorang masih berada di ruang lingkup kepentingan pribadi, hanya mau memberi jika sudah digaji, peduli hanya komputernya sendiri, dia belum tergolong kategori pertama ini. Mindset cepek dulu dong tidak diterima. Apalagi mindset melecehkan donasi, melecehkan kontribusi, atau melecehkan kolaborasi komunitas Free Software. Free Software (di Indonesia) berbicara tentang memberi. Tentang amal. Betapa banyak pakar yang meluangkan waktu hampir 24×7 untuk Free Software tanpa meminta bayaran sama sekali. Termasuk orang yang mau menempuh jarak ribuan kilometer tanpa pamrih untuk Free Software pula.

2. Dia Punya Kemampuan

Secara teknologi, dia harus mampu mengoperasikan Free Software. Dia telah menemukan benang merah semua Free Software. Jika dia pakar, dia lebih mampu lagi, sampai ke taraf menciptakan atau merombak ulang suatu Free Software. Atau, taraf menciptakan platform baru yang masyarakat bisa beraktivitas Free Software di atasnya. Orang yang tidak mengenal Free Software, tidak mengenal sistem komunikasi Free Software (email & IRC), tidak mengenal sistem operasinya, tidak mengenal software-software-nya, suka pamer namun tidak mampu mengganti wallpaper-nya sendiri, tidak memiliki etika forum, tidak lancar menggunakan GNU/Linux, tidak tergolong kategori ini.

3. Dia Berorientasi Free Software

Secara proses, dia harus berorientasi Free Software. Dia harus menganggap Free Software penting. Tidak mungkin mencari orang yang serius dari mereka yang ogah (sengaja atau tidak) menggunakan Free Software. Tidak mungkin orang yang dicari itu menganggap Free Software hanya selingan sepoi-sepoi belaka, atau tidak mau tahu, atau malah meremehkan sejatuh-jatuhnya. Juga tidak mungkin mencarinya dari orang yang dengan tegas menyuarakan pembajakan software. Orang yang menggunakan Windows tetapi masih mau menggunakan Free Software sehari-hari, masih lebih mending (lebih bisa diharapkan) dibandingkan yang seperti itu. Yang pasti, orang itu mesti pengguna Free Software betul-betul. Contoh yang mendekati ideal adalah menggunakan GNU/Linux, menggunakan LibreOffice, menggunakan dokumen ODF, menggunakan GIMP dan Inkscape, menggunakan KDE (atau GNOME), menciptakan program dengan lisensi GNU GPL (atau lisensi Free Software lainnya), dan berusaha mendokumentasikan karyanya dalam media yang bersih dari software bajakan. Dia harus konsisten dengan ODF, mengusahakan dirinya dan orang lain untuk tidak memakai OOXML. Jika dia memiliki banyak media internet atau media cetak yang seluruhnya berbicara mengenai GNU/Linux, hal itu termasuk cukup baik.

4. Dia Memberi Contoh

Secara proses pula, dia memberi contoh nyata. Entah dia mendeklarasikan dirinya bebas dari pembajakan atau merahasiakannya, yang penting dia tidak mengajarkan dan mengajarkan untuk tidak membajak software. Ketika orang bertemu dengan dia, semua software dia adalah asli (minimal) atau Free Software (ideal). Entah dia mendeklarasikannya atau tidak, yang penting adalah kenyataan yang bisa dicontoh langsung darinya. Dia juga membuktikan konsep-konsep, misalnya membuat karya-karya yang dengannya masyarakat tidak lagi memandang remeh ODF atau SVG atau XCF. Tidak mungkin mengharapkan keseriusan dari orang yang mempresentasikan GNU/Linux dengan menggunakan Windows. Mestinya presentasi GNU/Linux dengan GNU/Linux pula. Tidak mungkin pula mengharapkan orang yang justru sebaliknya, terang-terangan hanya menyuarakan OOXML atau CDR atau PSD. Tidak mungkin mengharapkan keseriusan kepada orang yang tidak bisa dicontoh dan tidak menyengaja memberi contoh. Tidak mungkin juga mengharapkan dari orang yang bermudah-mudahan mengejek orang lain yang sedang berproses. Orang macam itu tidak bisa dicontoh. Kategori ini termasuk paling sulit, karena hati seseorang tidak ada yang tahu, sementara ada orang yang membajak padahal hatinya tidak rela. Kategori ini lebih banyak ditemukan para orang-orang yang beruntung, sulit ditemukan pada orang-orang yang sengaja melawan dirinya sendiri (mis. yang rela berkorban profesi).

5. Dia Mengatasi Keterbatasan

Secara proses pula, dia harus mampu mengatasi keterbatasan. Berusaha ke arah sana dan benar-benar berniat. Dia mengatasi keterbatasan dirinya sendiri dan dia mampu mengatasi keterbatasan orang lain. Konsekuensi poin ini di antaranya dia tegas dengan prinsipnya, mampu menolak/mengantisipasi (secara terang-terangan atau tersembunyi) hal yang merusak prinsipnya, serta kreatif membuat jalan-jalan baru yang berguna bagi penjagaan prinsipnya dan/atau orang lain (mis. membuat lapangan kerja Free Software sendiri). Ciri nomor 2 tidak ada gunanya kalau berhenti di suatu saat, hanya karena tidak mengatasi keterbatasan. Ciri nomor 3 juga tidak bermanfaat kalau tidak mengatasi keterbatasan. Seseorang sepakat menggunakan Free Software artinya seseorang tanda tangan surat perjanjian dengan keterbatasan. Motivasi dan kreativitas mutlak dibutuhkan di kategori ini. Kalau cuma karena masalah format dokumen sudah menyerah misalnya, tidak bisa diharapkan orang seperti ini. Semata menghindari terus menerus tanpa berusaha memecahkan masalah, atau menyerah di tengah jalan, atau terhentikan karena suatu permasalahan intelektual, tidak kreatif, tidak punya motivasi kuat, semua itu tidak dianggap. Jika seseorang memang komitmen, dia pasti mengatasinya.

Iklan