Perluasan Anggapan Dasar Saya di Free Software

Bismillahirrahmanirrahim.

Artikel anggapan dasar sebelumnya adalah konten, artikel ini adalah perluasan konten. Di sini saya jelaskan pengaruh dari anggapan dasar terhadap kecenderungan dan perilaku saya di Free Software. 

1. Jumlah

Pengaruhnya adalah saya selalu bekerja sendirian. Saya tidak pernah mengasosiasikan diri saya dengan KPLI mana pun. Saya juga tidak mendirikan komunitas baru. Saya lebih bisa mengerjakan pekerjaan Free Software jika saya sendiri. Dari pengalaman, orang lain hanya akan menghambat saya. Akhirnya saya bisa membuat media-media terkait Free Software (tutorial, majalah, desain, video, paket, dsb.) pada slot masing-masing. Kecenderungan saya adalah selalu meragukan jumlah anggota yang besar dan tidak mencari jumlah. Percuma jumlah besar tetapi tidak membawa dampak signifikan (mis. lapangan kerja Free Software massal). Komunitas kecil komunikasinya besar, sedangkan komunitas besar komunikasinya kecil. Karena itu saya lebih menyukai jumlah kecil. Saya skeptis dengan jumlah. Saya menjunjung kualitas.

Di lain pihak, saya meyakini orang Free Software itu sedikit. Maka saya secara sendirian berusaha memperbanyak orang Free Software dengan cara saya sendiri. Di antaranya memperkenalkan IRC ke masyarakat, mengelola kuliah online, membuat sejumlah tutorial untuk menjadi orang Free Software, mempromosikan produk yang kental aroma Free Software-nya (yaitu KDE), mendirikan jasa DVD GNU/Linux, dan beberapa lainnya.

2. Keseriusan

Pengaruhnya adalah saya selalu mencari orang-orang yang serius dengan Free Software. Saya selalu mengabaikan dengan mudah orang yang setengah-setengah apalagi orang yang main-main di Free Software. Kecenderungan saya adalah memberi penghargaan dengan cara saya sendiri kepada orang yang serius di Free Software. Hal ini membuat saya mudah bergaul dengan orang-orang yang punya kontribusi. Hal ini juga membuat saya selalu berada di dua sistem komunikasi Free Software yaitu mailing list dan IRC. Karena di zaman ini saya mengukur keseriusan dengan dua hal ini pula.

3. Mesin

Pengaruhnya adalah saya fokus pada desktop. Orang server sudah terlalu banyak, sementara secara kenyataannya masyarakat butuh orang desktop. Maka saya menulis segala hal yang saya mampu soal desktop. Saya mengutamakan sistem manajemen paket karena anggapan ketiga ini. Saya mendirikan blog Inkscape, modem, hardware Linux, migrasi, bengkel, semua itu karena anggapan ketiga ini. Rajawali lawan rajawali, singa lawan singa.

4. Ketekunan

Pengaruhnya adalah saya bisa menghargai ketekunan. Ketekunan sendiri, keseriusan sendiri. Ketekunan itu kerajinan, kerapian frekuensi kerja. Contohnya saya sangat menghargai ebook-ebook yang berkualitas yang dibuat orang Indonesia terkait Free Software. Saya bisa menyebut beberapa nama misalnya Endy Muhardin dengan ebook Java-nya, FUI dengan Ebook FUI V01, Mafatahna dengan ebook CentOS-nya, Andi Micro dengan ebook ClearOS-nya, dan lain-lain. Saya juga menghargai ketekunan para developer, semisal Ali Kusnadi yang membuat KelasKita dengan Free Software. Saya menghargai ketekunan lebih dari sekadar merekomendasi, tetapi membalas ketekukan itu dengan ketekunan pula. Majalah Rootmagz salah satu bukti pembalasan saya untuk ketekunan orang-orang Free Software yang terdahulu. Kecenderungan saya adalah mencari cara-cara baru supaya bisa lebih tekun di Free Software, mencari orang-orang yang tekun, dan menggandakan ketekunan yang sudah ditemukan.

5. Konsistensi

Pengaruhnya adalah saya menjadi orang yang skeptis. Kecenderungan saya adalah kecenderungan skeptis. Saya tidak percaya orang lain jika masalahnya konsistensi di Open Source (minimal) dan Free Software (maksimal). Orang Free Software/Open Source itu sudah sedikit sekali, sedangkan yang konsisten lebih sedikit lagi. Karena saya skeptis, maka saya sendiri berusaha untuk konsisten dengan Open Source dahulu dan terus mendukung Free Software semampu saya. Dengan skeptisisme ini, saya tidak mencaci maki orang lain hanya karena dia punya kesalahan-kesalahan. Saya tidak memaksa orang untuk menggunakan Free Software/Open Source. Saya tidak mengharapkan orang lain satu pun untuk menggunakan Free Software. Karena saya sudah sejak awal menganggap, orang tidak bakal konsisten dengan Free Software. Alhasil, saya menjunjung kualitas. Saya menomorsatukan pemahaman di atas kesenangan sesaat di Free Software. Saya mendahulukan pengajaran lisensi di atas semuanya. Saya tidak meletakkan pengajaran teknis sebelum jelas pengajaran lisensinya. Karena saya tahu, orang Indonesia tidak akan menggunakan Free Software kecuali sudah tahu tidak bolehnya pembajakan. Dan saya memilih menjadi orang hilir alih-alih orang hulu karena saya ingin menjaga orang yang sudah masuk supaya bisa konsisten.

6. Gotong Royong

Pengaruhnya adalah saya berusaha untuk bergotong royong. Saya menganggap Free Software penting maka saya harus membantu kalau ada teman Free Software yang butuh bantuan. Orang tidak akan bergerak kalau tidak merasa butuh. Saya tidak. Karena orang-orang cenderung tidak mau gotong royong, maka saya seorang diri maju dengan anggapan dasar pertama. Paling tidak harus ada orang yang bergotong royong walaupun sedikit walaupun itu saya. Kecenderungan saya adalah selalu meragukan orang-orang baru yang bersemangat ingin berkontribusi kepada saya. Saya pernah tidak memberikan kepercayaan saya mutlak. Karena saya tahu, berdasarkan pengalaman, ujung-ujungnya saya juga yang menangani keseluruhannya. Kecenderungan lain adalah saya selalu mencari orang-orang yang murni melakukan gotong royong dan telah melakukannya. Alhasil saya bisa berkontribusi ke sejumlah hulu komunitas Indonesia (walaupun saya hilir). Saya bisa membantu tanpa ikatan. Saya bisa memberikan dukungan teknis di hampir semua forum di Indonesia. Satu hal yang sangat saya syukuri sejak awal dan saya berjanji mau menolong orang dengan itu.

Di lain pihak, saya menyesal karena hanya mampu memberikan bantuan selain uang. Padahal saya tahu betul, semua jenis kegiatan Free Software mutlak membutuhkan uang. Saya hanya bisa meminta maaf kepada semua orang karena sampai hari ini saya belum mampu menyumbang uang.

7. Persatuan

Pengaruhnya adalah saya skeptis. Sama seperti sebelumnya. Free Software baik internal maupun eksternal punya konsekuensi divergensi. Divergensi pasti mengarah pada sulit dibentuknya persatuan. Tidak ada yang perlu membohongi saya. Semua kenyataan sejak dulu sampai sekarang sudah di depan mata. Komunitas besar komunikasinya kecil, sedangkan komunitas kecil komunikasinya besar. Makin besar anggota makin jarang komunikasi antara satu dengan satu. Makin besar anggota komunitas makin sulit dikendalikan. Jika sulit dikendalikan maka sulit dipersatukan. Alamiah. Kecenderungan saya adalah bergabung pada komunitas yang persatuannya lebih baik dari yang lain. Komunikasi antara anggota satu dengan satu lebih baik. Keramahannya lebih baik. Kecenderungan besar saya adalah saya memilih satu komunitas di atas yang lain yaitu komunitas Ubuntu. Saya memilih satu platform yaitu Ubuntu. Alhasil saya menggunakan Ubuntu hingga hari ini demi konvergensi yang saya maksudkan (konvergensi Canonical ada di sisi lain). Jika saya menggunakan Ubuntu, menulis tentang Ubuntu, memproduksi video Ubuntu, membuat paket alldeb Ubuntu, mendukung Ubuntu, fokus pada Ubuntu, serta kenyataan mayoritas orang juga menulis tentang Ubuntu, maka masyarakat lebih mudah menggunakan GNU/Linux dengan menggunakan Ubuntu. Persatuan itu penting, konvergensi itu bagian dari persatuan. Satu diktat untuk satu kelas. Jika ada dua diktat, kelas bingung bagaimana belajarnya.

Di sisi lain, saya selalu mengajak pengguna distribusi lain untuk fokus pada distribusinya. Agar tidak ada semacam iri hati suatu hari nanti antara satu komunitas yang basis penggunanya sedikit, dengan komunitas Ubuntu yang besar. Jika ada yang iri, saya ingin mengatakan mengapa Anda tidak menulis, membuat video, membuat “alldeb”, mendukung dan fokus, pada distribusi Anda? Dan mengapa Anda tidak menerima ajakan saya untuk menulis?

8. Kemudahan

Pengaruhnya adalah saya selalu mencari cara-cara untuk memudahkan orang lain. Saya menulis mengenai GNU/Linux. Sejumlah blog GNU/Linux saya juga buat. Saya memaketkan alldeb. Tidak mungkin saya melakukan ini tanpa meyakini Free Software itu sulit. Kalau saya meyakini Free Software itu mudah, saya akan bermalas-malasan. Terutama di bidang desktop. Kecenderungan saya adalah kepada pengguna offline. Saya sangat memperhatikan sistem manajemen paket offline. Bagaimana caranya supaya pengguna bisa menginstal aplikasi Ubuntu tanpa internet. Ini tidak mungkin tanpa anggapan kedelapan ini. Alhasil saya bisa terus menulis karena saya menganggap Free Software itu sulit.

Di lain pihak, saya beranggapan begini. Desain grafis dengan Free Software seharusnya lebih hebat dari Proprietary. Karena Free Software lebih sulit dari Proprietary. Maka hasil desainnya harus diakui lebih hebat. Hal itu akan terjadi kalau desainer-desainernya sendiri memang hebat. Harus konsisten dengan Free Software, berorientasi Free Software, dan membuat karya yang signifikan perngaruhnya kepada masyarakat. Jangan cuma mengaku.

9. Kesederhanaan

Pengaruhnya adalah saya selalu mencari cara-cara untuk menyederhanakan kerumitan. Saya yakin Free Software itu rumit. Ada sejumlah lapisan yang harus ditembus seseorang untuk masuk ke dunia Free Software, di antaranya adalah lapisan kemampuan abstraksi berpikir, lisensi, dan mengingat istilah-istilah. Kecenderungan saya adalah kecenderungan mencari kunci-kunci, menemukan pintasan-pintasan, dan kemudian mendokumentasikannya. Alhasil saya bisa terus menulis karena keyakinan ini. Saya memihak newbie karena hal ini. Saya bisa menemukan sistem manajemen paket dan konfigurasi juga karena ini. Saya mengubah haluan restava juga karenanya.

10. Umur

Pengaruhnya adalah saya berusaha mencari platform yang lebih tua di antara yang lainnya. Lebih tua tidak hanya umur, tetapi juga kematangan. Dalam hal desktop, saya memilih KDE. Dalam hal framework, saya memilih Qt. Dalam hal bahasa, saya memilih C++. Dalam hal sistem komunikasi, saya memilih IRC dan email. Walaupun saya menggunakan Ubuntu, tetapi secara teknis saya menyukai Slackware dan menghargai pengguna Slackware. Saya memilih LibreOffice. Saya memilih Inkscape. Saya memilih GIMP. Karena sesuatu yang telah tua memiliki fasilitas yang lebih daripada yang muda. Entah dukungan, dokumentasi pihak pertama dan ketiga, implementasi pihak pertama dan ketiga, kestabilan, kekuatan, dan yang paling tampak adalah sejarah dibandingkan yang masih muda. Software yang telah cukup sejarahnya akan mendapatkan dukungan pihak ketiga yang lebih besar. Saya mengukur kesuksesan suatu software dengannya. Oleh karena itu saya menganggap Free Software paling sukses adalah Blender. Kecenderungan saya adalah mencari para senior, pengguna lama yang sudah berjasa dan mencetak sejarah di Free Software di Indonesia. Mencari dokumentasi-dokumentasi era lama, baik dari luar macam TLDP atau dari dalam macam Tim PANDU. Berusaha menyambung komunikasi dengan mereka.

Di lain pihak, saya tidak mencari plaform yang baru lahir. Oleh karena itu saya tidak memilih elementary OS, tidak memilih DE-DE yang lahir setelah empat besar, tidak mengikuti tren, dan tidak menyukai upgrading. Saya meragukan apa saja yang sifatnya baru lahir. Termasuk sistem komunikasi selain yang dua.

 

Iklan