Apakah Anda Ingin Migrasi ke GNU/Linux?

Bismilahirrahmanirrahim.

Apakah Anda ingin migrasi platform dari Microsoft Windows® ke GNU/Linux? Dari UNIX® ke GNU/Linux? Dari Apple OS X® ke GNU/Linux? Dari segala macam platform proprietary software ke free software? Saya ingin memberikan petunjuk untuk memudahkan Anda migrasi. Petunjuk ini saya titik beratkan kepada permasalahan standard. Petunjuk ini saya peroleh ketika mempelajari free software (yang dengan segala kekurangan saya, tidak saya peroleh ketika mempelajari open source). Semoga tulisan ini bermanfaat.

A. Sudut Pandang

Terdapat 2 jenis sudut pandang orang terhadap ilmu komputer secara keseluruhan.

  1. Sudut pandang orang awam: ilmu komputer itu terbagi 2 yakni antara hardware dan software.
  2. Sudut pandang orang ahli: ilmu komputer itu terbagi 3, yakni antara hardware, software, dan di tengah-tengahnya ada standard.

B. Intisari Migrasi

Ketika Anda mempertimbangkan migrasi dari platform nonfree ke free software, maka sesungguhnya Anda tidak memigrasikan semata software saja. Anda keliru ketika menganggap migrasi tersebut hanyalah semata migrasi software. Namun sesungguhnya yang dimigrasikan ada 3 aspek:

  • Hardware-nya
  • Software-nya
  • Standard-nya

C. Standard

Hambatan sangat besar yang paling sering terjadi dan sekaligus ironisnya paling jarang disadari, adalah persoalan standard. Pembahasan yang terjadi di forum-forum internet kebanyakannya tentang hardware atau software; sedangkan standard tidak pernah atau sangat jarang ditanyakan, apalagi didiskusikan. Begitu juga di forum-forum nyata. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan standard?

Dimulai dari contoh-contoh standard yang paling bermasalah di berbagai bidang:

  • Contoh standard di bidang format dokumen: .docx (pengolah kata), .xlsx (pengolah angka), .pptx (presentasi).
  • Contoh standard di bidang format audio: .mp3, .aac, .wma
  • Contoh standard di bidang format video: .mp4, .flv, .mkv, .wmv
  • Contoh standard di bidang kompresi data: .rar, .zip
  • Contoh standard di bidang format gambar: .gif, .psd, .cdr, .ai
  • Contoh standard di bidang 3D: .3ds, .dwg
  • Contoh standard di bidang game development: DirectX
  • Contoh standard di bidang pemrograman: Microsoft Visual Basic®

Catatan: semua format tersebut di sini adalah bersifat proprietary standard, atau jika tidak, terlingkupi paten. Kedua pilihan tersebut bermasalah besar. Semua format tersebut terkenalnya di kalangan pengguna proprietary software (Windows dan OS X).

Dilanjutkan dengan bagaimana standard sampai kepada pengguna:

  • Sebuah pihak meneliti suatu bidang ilmu tertentu.
  • Pihak tersebut menciptakan suatu dokumen yang merumuskan detail spesifik dari bidang tersebut.
  • Dokumen itu lalu disebut dengan istilah standard.
  • Pihak lain menciptakan suatu software dengan berdasarkan standard tersebut. Penciptaan ini disebut dengan istilah implementasi.
  • Pengguna akhir menciptakan suatu jenis data memakai software yang mengimplementasikan standard tersebut.
  • Pengguna akhir yang lain membaca suatu jenis data memakai software lain yang juga mengimplementasikan standard tersebut.
  • Contoh: standar format MP3 diciptakan dan diterbitkan oleh Fraunhofer, standar ini telah dipatenkan (mis. bayar lisensi untuk mengimplementasikan dan menggunakannya), pihak lain bernama Fluendo menciptakan free software GStreamer yang mengimplementasikan standar MP3 tersebut, pengguna akhir menggunakan GStreamer untuk memproduksi/membaca data berjenis .mp3.
  • Kesimpulan: yang dikenal dan paling dekat pengguna akhir kebanyakannya justru produk akhir dari suatu standard, yang tidak mereka sadari mengandung masalah yang besar.

C. Masalah Standard

Kesulitan migrasi pengguna desktop kebanyakan bukan semata pada software, tetapi pada standard. Paling terutama adalah standard di bidang dokumen digital, yakni pertarungan antara standar Microsoft OOXML (docx, xlsx, pptx) melawan standar OASIS ODF (odt, ods, odp); yang lebih dikenal diwakili oleh software yang mengimplementasikannya yaitu Microsoft Office melawan LibreOffice. Di luar ini, masih terdapat masalah tak terhitung jumlahnya dari standar-standar lain. Lalu apa saja masalah itu? Berikut contohnya.

  • Orang awam (sepintar apa pun) biasanya menganggap ilmu komputer hanya antara software dan hardware.
  • Orang biasanya menyebut “Word” untuk berkas .doc atau .docx, “Excel” untuk .xls atau .xlsx, untuk .mp3, “Photoshop” untuk berkas .psd, “CorelDRAW”  untuk berkas .cdr.
  • Intinya, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dikendalikan oleh standard dan terkunci secara sosial agar hanya berkomunikasi/”berbagi” dengan sesama proprietary software dari satu vendor yang sama. Adapun anggota masyarakat yang menghargai kebebasan software (baca: pengguna GNU/Linux) didiskriminasi secara otomatis.
  • Contoh? Guru mewajibkan murid mengumpulkan tugas dalam format yang hanya bisa dibuka di Microsoft Office. Bagaimana jika muridnya tidak punya Microsoft Office? Ini satu contoh masalah*.
  • Contoh lain? Customers mengirim data dalam format yang hanya bisa dibuka di Microsoft Office. Bagaimana jika pekerja tidak punya Microsoft Office? Ini masalah lain*.
  • Contoh lain lagi? Customers mewajibkan data dirikim dalam format yang hanya bisa dibuka di Adobe Photoshop. Bagaimana jika desainer tidak punya Adobe Photoshop? Ini juga masalah*.
  • Contoh yang lebih besar? Perusahaan mewajibkan segala software harus proprietary software; kemudian segala format harus berstandar proprietary & terlingkup paten pula. Lalu bagaimana jika Anda menggunakan free software dan GNU/Linux, yang dari awalnya dibuat untuk melawan kedua hal tersebut?
  • Intinya adalah masyarakat secara sosial-massal dikuasai oleh standard yang tidak bebas, standar yang ditutup dari publik (sehingga tidak dapat diimplementasikan), standar yang tidak cross-platform (sehingga sifatnya “mau menang sendiri”). Di balik hal ini, standar-standar tersebut dibuat dan dikendalikan oleh vendor-vendor tertentu.
  • Masalahnya: ketika Anda menggunakan Windows atau OS X, standard adalah masalah sosial karena masyarakat saling menghalangi dan saling tidak kompatibel* satu sama lain oleh sebab dikuasai oleh standard. Ketika Anda menggunakan GNU/Linux, Anda secara alamiah migrasi dari berbagai standard bermasalah itu ke standard yang sifatnya bebas terbuka (contoh: ODF) dan software yang sifatnya bebas terbuka pula (contoh: LibreOffice).

*) Sampai-sampai mayoritas orang itu melanggar lisensi (sering disebut “membajak”) hanya untuk bisa mengakses suatu data dengan standar tertentu. Misalnya meng-crack Adobe Photoshop agar bisa mengakses dokumen .psd, meng-crack Mirosoft Office agar bisa mengakses dokumen .docx, dan seterusnya. Perbuatan cracking di situ termasuk pelanggaran hukum.

D. Kasus Nyata

  • Apabila suatu standard ditutup spesifikasinya dari publik, artinya tidak ada pihak luar yang bisa menciptakan software implementasi dari standard tersebut. Maka pengguna GNU/Linux tidak bisa mengakses berkas data dari standar tersebut. Contohnya adalah format lawas Microsoft Office (doc xls ppt); tidak sempurna dibaca-tulis oleh LibreOffice.
  • Apabila suatu standard dilingkupi oleh paten, artinya pihak luar *mungkin* bisa menciptakan software implementasinya, tetapi berisiko dituntut secara hukum baik developernya maupun penggunanya. Maka pengguna GNU/Linux secara alamiah menolak standar tersebut, dan menolak** pula free software yang berhasil mengimplementasikannya. Contohnya adalah standar format Microsoft OOXML (docx xlsx pptx) dan standar format MP3 (.mp3).

Di luar masalah standar, masih ada masalah-masalah hardware. Apabila Anda telah memahami poin-poin dari masalah standard, maka dengan mudah Anda akan pahami masalah hardware ini:

  • Apabila suatu hardware ditutup spesifikasinya dari publik, artinya tidak ada pihak luar yang bisa menciptakan device driver untuk hardware tersebut. Maka pengguna GNU/Linux tidak bisa menjalankan hardware tersebut. Jeleknya, banyak hardware beredar di dunia ini bersifat demikian.
  • Apabila suatu hardware dirilis dengan spesifikasi dibuka kepada publik, tetapi pabriknya tidak merilis free software driver untuk GNU/Linux; maka komunitas GNU/Linux harus menciptakan sendiri device driver untuk hardware tersebut yang hal ini makan waktu banyak, biaya banyak, tenaga banyak, dan SDM yang sangat banyak.

**) Bukti: kebanyakan distribusi GNU/Linux populer tidak menyertakan GStreamer (multimedia codec yang membuat GNU/Linux bisa memutar standar format berpaten dan proprietary semacam mp4, mp3, flv, dsb.), sebagai perlindungan terhadap para penggunanya di negara masing-masing. Dan baru saja Linux Mint yang dipuji karena selalu menyertakan GStreamer secara bawaan, di versi 18 menghapus GStreamer dari bawaannya, mengikuti kebanyakan distribusi lainnya. Hal ini terjadi karena walau GStreamer itu free software sebagai software-nya, tetapi standard yang diimplementasikannya adalah proprietary dan dipatenkan. Baca penjelasan bahayanya paten perangkat lunak terhadap GNU/Linux.

E. Kesimpulan

  • Migrasi ke GNU/Linux itu berarti secara alamiah migrasi software, hardware, dan standard.
  • Masalah besar yang justru sering tidak disadari adalah masalah standard.
  • Masalah standard paling besar untuk desktop GNU/Linux adalah format dokumen.
  • Masalah hardware juga menjadi penghalang yang sangat besar, karena GNU/Linux pasti dijalankan di atas hardware.

F. Saran

Apabila Anda serius ingin migrasi ke platform GNU/Linux dan free software, saya memberikan sejumlah saran untuk Anda.

  • Pelajarilah free software. Ketahui apa itu software freedom agar Anda bisa memaklumi sifat asli platform GNU/Linux. Tanpa hal ini migrasi Anda akan sangat sulit secara psikologis.
  • Jadikan education sebagai bahan migrasi Anda, karena free software movement adalah tentang education. Berpikir bahwa Anda sedang mengedukasi diri sendiri dan orang lain, lebih memperingan beban migrasi.
  • Setel paradigma bahwa migrasi itu proses, bukan produk.
  • Edukasikan diri sendiri bahwa migrasi GNU/Linux adalah bagian dari kehidupan sosial masyarakat, bukan kehidupan individual/golongan tertentu semata.
  • Edukasikan diri sendiri mengenai perbandingan platform Windows lawan GNU/Linux, dimulai dari bandingan software antara keduanya.
  • Edukasikan diri sendiri menguasai salah satu free software di GNU/Linux dan ajarkan kepada orang lain.
  • Edukasikan orang lain agar mengerti pentingnya standard yang bebas terbuka seperti ODF, agar Anda punya masyarakat yang sama yang saling kompatibel.
  • Dukung pihak lain yang sedang mengedukasikan standard yang bebas terbuka, Anda bisa beri dukungan dalam bentul moral atau finansial.
  • Migrasikan hal yang paling bisa dimigrasikan dulu, baru migrasikan yang lain; apabila Anda mustahil memigrasikan segalanya sekaligus. Buat skala prioritas.
Iklan

11 thoughts on “Apakah Anda Ingin Migrasi ke GNU/Linux?

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s