Bukti-Bukti Bahwa Setiap Pengguna Komputer Menginginkan Free Software

Bismillahirrahmanirrahim.

Berikut ini saya sampaikan bukti-bukti dimulai dari yang paling tampak dan terjadi di Indonesia, sampai yang samar-samar, bahwa setiap pengguna komputer menginginkan dan membutuhkan free software. Tulisan ini saya buat khusus untuk setiap orang yang mau migrasi ke GNU/Linux, atau mau menyosialisasikan free software, atau mau membuat karya tulis tentang free software, atau apa pun hal lain yang terkait dengan free software dan manusianya. (Ade Malsasa Akbar, teknoloid@gmail.com)

1. Virus Komputer

Maraknya pengguna mencari jalan membebaskan diri dari virus komputer (malware), adalah bukti nyata bahwa pengguna menginginkan software freedom (kemerdekaan software). Kemerdekaan yang dimaksud di sini sama persis dengan gambaran FSF, bahwa “proprietary software membuat vendor mengendalikan pengguna dan komputernya“. Virus adalah proprietary software, karena virus membuat vendor (si pembuat virus) mengendalikan komputer pengguna. Berapa juta jumlah virus komputer yang menyerang sistem operasi proprietary? Berapa juta pengguna terkena virus komputer, dan selalu ingin bebas darinya? Semakin banyak jumlah kasus virus di sistem operasi proprietary, semakin besar kebutuhan terhadap produk antivirus, maka semakin besar bukti bahwa setiap pengguna ingin kemerdekaan software, dan kemerdekaan itu hanya diperoleh dari free software.

Catatan: buat Anda yang menganggap freeware masih bagus, ingat bahwa virus itu juga freeware. Definisi freeware adalah proprietary software yang berharga gratis; lebih cocok disebut gratisware (dan freeware bukan free software). Virus (malware) itu proprietary, dan setiap pengguna komputer tidak pernah membayar untuk memperoleh atau menyebarkannya.

Gambaran dari FSF sama persis: Anda tidak akan memperoleh kebebasan dari proprietary software, tetapi dari free software.

2. “Pembajakan” Software

Maraknya kasus yang disebut “copyright infringement” atau lebih populernya “pembajakan*” terhadap software di Indonesia, adalah bukti nyata bahwa setiap pengguna komputer di Indonesia menginginkan free software, menginginkan kemerdekaan software. Ambil contoh program yang paling sering dilanggar perjanjiannya/lisensinya yaitu Internet Download Manager (IDM):

  • Freedom 0: kenapa orang meng-crack IDM dari trial ke full version? Karena orang menginginkan kebebasan 0, kebebasan untuk MENJALANKAN software sesuai keinginan pengguna. Full version = bagian dari kebebasan MENJALANKAN.
  • Freedom 1: kenapa orang meng-crack IDM dari trial ke full version? Karena orang menginginkan kebebasan 1, kebebasan untuk MEMODIFIKASI software sesuai keinginan pengguna. Crack = MODIFIKASI terhadap software yang berada dalam bentuk binary.
  • Freedom 2: kenapa orang Indonesia yang diminta (padahal sudah bayar lisensi), ketika ada orang lain meminta salinan IDM full version, justru memberikannya tidak menolaknya? Karena orang menginginkan kebebasan 2, yaitu kebebasan untuk MENYALIN software dalam bentuk apa adanya.
  • Freedom 3: kenapa orang Indonesia yang diminta (hasil cracking), ketika ada orang lain meminta salinan IDM hasil cracking, justru memberikannya tidak menolaknya? Karena orang menginginkan kebebasan 3, yaitu kebebasan untuk MENYALIN software dalam bentuk telah termodifikasi.

Satu cara lain yang membuktikan tak terbantahkan adalah gambaran FSF lagi: bahwa “proprietary software selalu mengakibatkan penggunanya jatuh kepada 1 dari 2 kejahatan: kejahatan menolak membantu atau kejahatan melanggar lisensi“. Tampak pada poin freedom 2 dan 3, orang menghindari kejahatan 1 (kejahatan menolak membantu), tapi jatuh ke kejahatan 2 (kejahatan melanggar lisensi). Adanya perasaan tidak enak atau merasa jahat ketika tidak memenuhi permintaan menyalin software, itu bukti bahwa orangnya menganggap tidak membantu = kejahatan. Apabila tidak jatuh kepada kejahatan 1, orang jatuh kepada kejahatan 2. Semakin besar angka “pembajakan” di Indonesia, maka semakin besar bukti bahwa pengguna komputer menginginkan free software. Maka setiap pengguna komputer di Indonesia menginginkan dan membutuhkan free software.

Gambaran dari FSF sama persis: Anda tidak akan memperoleh kebebasan dari proprietary software, tetapi dari free software.


*) “Pembajakan” (ditulis dalam kutip) adalah istilah propaganda dari kalangan proprietary software untuk membuat software freedom tampak jelek di mata masyarakat padahal setiap pengguna membutuhkan & menginginkan software freedom. Contohnya tindakan menyalin software mereka sebut “pembajakan” dan orangnya disebut “pembajak”, padahal menyalin software adalah hak pengguna (yang tidak bisa diperoleh kecuali dari free software).

3. Format Dokumen

Format dokumen itu adalah bagian dari standard. Sedangkan standard itu bukan hardware dan bukan software, tetapi dia adalah dokumen aturan yang berada di antara keduanya. Standard yang proprietary dan/atau yang terlingkupi paten, adalah standard yang tidak bebas, melahirkan format dokumen yang juga tidak bebas, yang akhirnya memaksa setiap pengguna untuk menggunakan software yang tidak bebas pula. Proprietary standard menarik pengguna menggunakan proprietary software. Patented standard juga menarik pengguna menggunakan proprietary software, dan lebih jeleknya saling menghancurkan satu sama lain. Baik proprietary maupun patented standard (dan seringkali keduanya satu tubuh) berasal dari vendor, yang dibuat untuk mengendalikan setiap pengguna baik secara keuangannya, sosialnya, masyarakatnya, kenegaraannya, fasilitasnya, dan privasinya.

Apabila pengguna menginginkan format dokumen yang saling kompatibel antarkomputer, seperti halnya PNG bisa diakses di segala macam komputer, maka di situ pengguna menginginkan standard yang bebas dari vendor bebas pula dimanfaatkan, sebagaimana PNG juga bebas merdeka seperti itu. Semakin besar jumlah pengguna yang ingin mengakses berkas dari standar format vendor proprietary dan/atau patented semacam mp3, mp4, flv, docx, xlsx, pptx, rar, dwg, cdr, psd, dan seterusnya, maka itu bukti bahwa penggunanya pasti terkunci di proprietary software. Kombinasi dari keduanya, saling merugikan pihak-pihak developer dan pengguna satu sama lain.

Proprietary mengakibatkan pengguna dikendalikan vendor, sedangkan patent mengakibatkan developer dilarang mengembangkan dan pengguna dilarang menggunakannya. Dan dari situ, bukti nyata perlunya standards yang bebas-terbuka, bebas dari vendor, bebas dari paten software. Dan di situlah bukti bahwa pengguna menginginkan free software.

Gambaran dari FSF sama persis: Anda tidak akan memperoleh kebebasan individual dan sosial dari proprietary standard & patented standard & proprietary software, tetapi dari free standard dan free software.

Iklan

One thought on “Bukti-Bukti Bahwa Setiap Pengguna Komputer Menginginkan Free Software

Komentar ditutup.