Mengapa Mereka Berperilaku Kasar Ketika Berkomunikasi?

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Pernahkah Anda menerima email dari seseorang yang berbahasa kasar atau arogan terhadap Anda? Ini bisa juga terjadi pada selain email, yakni media komunikasi lain seperti pesan singkat atau media sosial. Apakah Anda pernah mempertanyakan kenapa mereka berperilaku kasar ketika berkomunikasi? Jawabannya karena mereka ingin menyembunyikan kelemahan dirinya sendiri.

Orang yang sadar dirinya punya kelemahan, cenderung memilih satu dari dua jalan. Jalan pertama adalah kejujuran, mungkin dia nyatakan tegas dirinya lemah (atau, tidak tahu); mungkin juga dia akan diam karena sadar dirinya lemah (atau, tidak tahu). Jalan kedua adalah arogansi, berbahasa dan berperilaku kasar untuk menyembunyikan kelemahannya sendiri. Di antara bentuk arogansi ini adalah menuduh orang tanpa bukti, mengucapkan kata-kata kasar, memakai kosakata sok ngeboss terhadap orang lain, tidak minta maaf ketika bersalah, menyerang kepada orang yang mengingatkannya secara benar, mudah merendahkan orang lain tanpa dasar, dan yang seperti itu.

Cenderung orang yang menempuh jalan kedua ini mengira dengan berperilaku kasar mereka akan tampak lebih pintar, lebih bijaksana, lebih “keren”, lebih “familiar”, di tengah orang lain. Sayang, perkiraan ini tidak benar dan jalan kedua ini benar-benar jalan yang jelek yang tidak bisa diterima siapa pun. Coba perhatikan email-email yang Anda terima dari orang seperti ini, Anda akan melihat dirinya sangat patut dikasihani. Dengan arogansinya dia bukannya menutup kekurangannya, tetapi justru membuka itu ke khalayak dan melukai pihak-pihak lain yang membaca ucapannya.

Kabar yang mengejutkan bisa kita saksikan bersama ketika email-email mereka kita telusuri. Kita akan melihat bahwa sebagian dari mereka ternyata berusia sangat muda. Ini makin jelas menampakkan bahwa orang yang berbahasa arogan ketika berkomunikasi melakukannya cenderung karena ingin menyembunyikan kekurangannya. Karena dia takut diketahui dirinya masih muda, dia berusaha bertingkah “meniru” orang tua yang bijaksana, tetapi sering kali dia keliru dalam peniruannya dan jatuh dalam arogansi (ya, karena dia masih sangat muda). Sungguh banyak rekan-rekan kita dan bahkan senior kita yang jadi korban orang semacam ini.

Yang kita bisa lakukan adalah bersabar atas mereka dalam batas yang wajar. Bagi kita yang memiliki jabatan administrator suatu komunitas, kita punya tugas mengarahkan mereka agar bisa berkomunikasi dengan baik, dan apabila sampai taraf tertentu kerusuhan yang ditimbulkannya tidak dapat lagi ditoleransi kita terpaksa mengeluarkan mereka dari forum. Bagi kita yang anggota komunitas non-administrator, kita hanya bisa melakukan banning (pemblokiran) apabila kemungkinan terburuknya itu terjadi pada kita.

Bagi Anda yang merasa terkena kritik dalam tulisan ini, mari kita kembali ke awal, kita belajar sama-sama bagaimana metode komunikasi yang baik. Saya mengerti tidak semua dari orang yang arogan itu meniatkan arogansinya sendiri, sebagian mereka hanya antara tidak bisa berkomunikasi atau ikut-ikutan belaka. Apabila Anda mau berubah, tetapi Anda sungkan mengatakannya, datanglah empat mata kapan saja.

Iklan

4 thoughts on “Mengapa Mereka Berperilaku Kasar Ketika Berkomunikasi?

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s