Free Software Bukan “Alternatif”, Juga Bukan “Pilihan Utama”, Tetapi Solusi Tunggal

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Sebagian orang menyatakan dan mengulang-ulang pernyataan yang sama bahwa “free software adalah alternatif” atau “free software adalah pilihan utama” dengan sering kalinya mereka ganti nama free software dengan nama “open source”. Mereka tidak pernah satu kali pun membandingkan secara jelas antara free software dan nonfree software, bahwa nonfree adalah masalah dan free solusinya satu-satunya, dan di situ poin kritik saya atas pernyataan-pernyataan mereka. Saya akan jelaskan di sini dengan analogi beras dan analogi sepeda motor.

Analogi Beras

Ketika Anda membeli beras satu karung dari sebuah warung, siapa yang berhak atas 4 hal ini?

  • memakannya
  • membuka karungnya, melihat isinya
  • memasaknya, membersihkannya, mengubah bentuknya
  • menjualnya, meminjamkannya, menghibahkannya ke orang lain

Apakah itu Anda, atau warungnya? Jika jawabannya “Anda”, maka Anda benar dan beras itu namanya beras yang free (bebas dari warungnya). Jika jawabannya “warungnya”, maka berarti Anda sebagai pembeli beras dilarang dalam 4 hal tersebut dan itulah beras yang nonfree (tidak bebas, masih dikendalikan oleh warungnya, alias proprietary).

Apakah Anda mau membeli sekarung beras yang nonfree? Jawabannya jelas TIDAK, baik teori maupun praktik lapangannya.

Analogi Sepeda Motor

Ketika Anda membeli sepeda motor satu unit dari sebuah pabrik, siapa yang berhak atas 4 hal ini?

  • mengemudikannya ke mana pun Anda mau
  • membuka mesinnya, melihat isinya
  • memodifikasinya, memperbaiki mesinnya
  • menjualnya, meminjamkannya, menghibahkannya ke orang lain

Apakah itu Anda, atau pabriknya? Jika jawabannya “Anda”, maka Anda benar dan itulah yang namanya sepeda motor free (bebas dari pabriknya). Jika jawabannya “pabriknya”, maka berarti Anda sebagai pembeli sepeda motor dilarang dalam 4 hal tersebut dan itulah sepeda motor yang nonfree (tidak bebas, masih dikendalikan oleh pabriknya, alias proprietary).

Apakah Anda mau membeli sepeda motor yang nonfree? Jawabannya jelas TIDAK, baik teori maupun praktik lapangannya.

Perbedaan Antara Free dan Nonfree

Free software berarti kedua tangan pengguna tidak diborgol oleh developernya. Nonfree software sebaliknya. Setiap orang yang tahu kedua tangannya diborgol pasti menolak untuk diborgol, dan jika ini sudah telanjur, maka orang yang diborgol akan selalu mencari jalan untuk melepaskan borgol itu. Perbandingan bebas dan diborgol ini jelas dua kondisi yang tidak bisa dibandingkan. Jelas bahwa borgol adalah masalah dan bebas adalah solusinya. Maka nonfree software adalah masalah dan free software solusinya. Maka jelas setiap pengguna seharusnya menolak nonfree software dan berpindah ke free software. Karena di dunia ini hanya ada dua macam software, free dan nonfree, tidak ada jenis ketiga.

Bukan Memberantas “Pembajakan”

Bagian ini baru ditambahkan pada 5 Maret 2017.

Nonfree software mengkriminalkan pengguna. Pemikiran mereka ialah memandang semua pengguna sebagai kriminil kecuali yang tunduk taat lisensi mereka. Nonfree software menuduh pengguna dengan sebutan kotor “pembajak” (Inggris: pirate) apabila pengguna menolong diri sendiri dan orang lain. Tidak ada ceritanya pengguna software masuk penjara kecuali itu pasti karena nonfree software. Tuduhan “pembajak” adalah propaganda pengedar nonfree software agar semua orang menyangka “tidak ada solusi kecuali nonfree”. Nonfree software tidak menghormati pengguna. Oleh karena itu nonfree software sangat tidak layak dipakai.

Namun free software sebaliknya, justru memberi pengguna kebebasannya, dan tidak pernah menuduh pengguna “pembajak”. Free software mengizinkan pengguna menolong diri sendiri dan orang lain, dan inilah yang disebut software freedom, yaitu hak yang empat: use-study-modify-share. Free software tidak mengkriminalkan pengguna.

Oleh karena itu, Free Software Movement bukan tentang memberantas “pembajakan” sama sekali. Pengembangan GNU/Linux bukanlah “pemberantasan pembajakan”. Mendukung “pemberantasan pembajakan” itu sama saja membantu tersebarnya Windows, Microsoft Office, dan nonfree software lainnya (termasuk virus); padahal merekalah masalah yang mau dihapuskan. Yang benar, Free Software Movement itu memberantas nonfree software. Karena nonfree software adalah masalah yang harus diselesaikan.

Bahayanya Nonfree Software

Bayangkan jika beras nonfree beredar luas di masyarakat dan didukung sebagai mayoritas. Apa yang terjadi pada masyarakat Anda karenanya? Di antara bahaya yang muncul (dan sayangnya sudah terjadi di nonfree software) adalah warung beras mengendalikan pembelinya dan memberi kesempatan warung lain untuk menganiaya pembeli (diborgolnya pembeli berarti pihak lain punya kesempatan untuk ikut mencelakakannya), tidak ada lagi kegiatan sosial berbagi nasi (karena menghibahkannya dilarang), tidak ada lagi juru masak (karena memasak dilarang), dan masyarakat akan saling tuduh “kamu maling pencuri pembajak” satu sama lain.

Bayangkan jika sepeda motor nonfree beredar luas di masyarakat seperti beras nonfree. Apa yang terjadi pada masyarakat? Di antara bahaya yang mungkin terjadi adalah pabrik sepeda menguasai pembelinya dan memberi kesempatan pihak lain mencelakakannya (diborgolnya pengendara berarti pihak lain punya kesempatan membegalnya), pengendara sepeda motor tidak bisa menjual sepedanya sendiri (karena menjualnya dilarang), pengendara tidak bisa menghindar dari bahaya di jalanan (karena mengemudikannya sesuai kehendak pengguna dilarang), pengendara tidak bisa menghindari perampok jalanan, pengendara mengalami kecelakaan (karena memperbaiki mesinnya dilarang), tidak ada bengkel (karena memodifikasinya dilarang), pengendara tidak bisa meminjamkan sepedanya kepada orang lain (karena meminjamkannya dilarang), dan masyarakat saling tuduh “kamu maling pencuri pembajak” satu sama lain.

Nonfree software menindas Anda. Bahaya-bahaya di atas sudah cukup menjelaskan konsep pemborgolan dari nonfree software dan cukup bagi pengguna untuk menolaknya. Solusi atas dua penggambaran di atas adalah pengguna beralih dari beras nonfree ke beras free, dan dari sepeda nonfree ke sepeda free. Sama dengan software, beralihlah dari nonfree ke free software.

Ciri Nonfree Software

Nonfree software mengendalikan pengguna, dan developernya mengendalikan software tersebut, maka developer mengendalikan pengguna melalui software-nya. Inilah ciri dari semua jenis nonfree software. Contohnya bisa dilihat pada analogi beras nonfree dan analogi sepeda motor nonfree.

Adapun ciri free software adalah kebalikan langsung dari ciri di atas: pengguna mengendalikan software, dan bukan sebaliknya, dan developer software tersebut tidak bisa mengendalikan pengguna melalui software-nya. Contohnya bisa dilihat pada analogi beras free dan analogi sepeda motor free.

Ketidakcocokan Istilah “Alternatif”

Free software bukan alternatif, free software adalah solusi, karena nonfree software adalah masalahnya. Nonfree software bukan solusi karena dia mencabut hak-hak yang empat dari semua penggunanya. Istilah “alternatif” hanya bisa dipakai secara terbatas untuk menjelaskan perbandingan fitur, bukan untuk menciptakan pandangan baru yang menghukumi free software sebagai nomor 2 setelah nonfree software.

Jika Anda tahu ada dua warung masing-masing menjual beras yang free dan beras yang nonfree, maka Anda langsung membeli dari warung beras yang free. Anda tidak perlu berpikir sedikit pun untuk menolak beras yang tidak boleh dimakan pembelinya sendiri. Apalagi jika warung beras nonfree tegas memberi tombol “Decline” (Tolak) pada setiap karung berasnya.

Jika Anda tahu ada dua pabrik masing-masing menjual sepeda motor yang free dan yang nonfree, maka Anda langsung membeli dari pabrik sepeda motor yang free. Anda tidak perlu berpikir dua kali untuk menolak sepeda motor yang penggunanya tidak boleh memperbaiki mesinnya sendiri. Apalagi jika pabriknya tegas memberi tombol “Decline” (Tolak) pada setiap produknya.

Ketidakcocokan Istilah “Pilihan Utama”

Free software adalah solusi, dan satu-satunya, tidak ada pilihan kedua. Karena di dunia ini jenis software itu jika bukan nonfree software, maka pasti dia free software, tidak ada jenis ketiga. Menghukumi free software sebagai pilihan utama berarti menempatkan jenis software lain sebagai pilihan kedua setelah free software, dan ini menciptakan masalah baru, karena nonfree software itu sendiri masalah. Menghukumi nonfree sebagai pilihan kedua berarti menerima nonfree sebagai solusi, bukan menolak nonfree karena nonfree adalah masalah.

Perlu diketahui juga bahwa semua jenis virus dan malware (trojan, worm, spyware, adware, jail, backdoor, ransomware, drm, dll.) adalah software dan mereka semua nonfree. Orang yang menganggap “nonfree software sebagai pilihan kedua” harus menyatakan bahwa menginstal virus dan malware sebagai “pilihan”, bukan sebagai “masalah”. Namun orang seperti itu tidak bisa berkata apa pun karena dia tahu bahwa virus dan malware adalah masalah sosial dan bahkan kriminal yang harus dihapus dari muka bumi ini. Virus dan malware sama sekali bukan pilihan, mereka semua adalah nonfree, dan karena itu mereka semua adalah masalah. Free software adalah solusi atas masalah ini satu-satunya, tidak ada pilihan lain, dan mereka mesti menerimanya.

Pengguna dikendalikan oleh software, dan developer mengendalikan software tersebut, maka developer mengendalikan pengguna melalui software, inilah ciri satu-satunya dari semua jenis nonfree software, dan inilah hakikat yang terjadi persis sama pada semua kasus virus dan malware. Inilah alasannya virus dan malware tergolong nonfree software.

Kesimpulan

Free software bukan “alternatif”, free software bukan “pilihan utama”, tetapi free software adalah solusi tunggal atas masalah sosial bernama nonfree software. Tidak ada solusi lain selain free software karena software di dunia ini hanya ada 2 macam, jika bukan nonfree maka dia pasti free. Istilah “alternatif” seyogianya lebih ketat lagi digunakan agar tidak menciptakan pendidikan bahwa nonfree = solusi, dan istilah “pilihan utama” seyogianya dihapus, tidak lagi dimunculkan, dan masyarakat diberi tahu di mana letak ketidakcocokannya.

Saran

Setiap masyarakat hendaknya dididik untuk mengenal software freedom, yang pada hakikatnya sama saja dengan membeli beras atau membeli sepeda motor di kehidupan nyata pada normalnya, yang freedom milik pengguna itu dicabut dan dihapus oleh nonfree software. Setiap masyarakat hendaknya diberi pengajaran yang betul mengenai free software, dan diajarkan yang betul di mana salahnya nonfree software, bukan malah ditipu atau dibiarkan ditipu sampai salah mengira bahwa “nonfree = solusi”. Seyogianya free software diajarkan sebagai free software, sebagaimana nama Indonesia adalah Indonesia, bukan free software sebagai “open source”, karena nama berbeda mengantarkan makna yang berbeda pula. Saya dengan tegas menyarankan setiap orang yang sepakat dengan fakta free software dan menolak nonfree software untuk membaca referensi Free Software Foundation pertama-tama dimulai dari sini Free Software Is Even More Important Now dan Why “Free Software” is Better Than “Open Source” dan saya ajak setiap orang untuk membaca esai-esai http://www.gnu.org yang lainnya.

Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 Unported https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.

Iklan

12 thoughts on “Free Software Bukan “Alternatif”, Juga Bukan “Pilihan Utama”, Tetapi Solusi Tunggal

  1. Bila memang non-free software adalah sesuatu yang jelek, apakah sudah ada dari para ulama ahlussunnah yang mengingkarinya?

    بارك الله فيكم

    • Betul, alhamdulillah saya juga pernah membaca terjemahan fatwa semisal baik dari Lajnah maupun dari Syaikh Al Fauzan (ada di forumsalafy.net dan di blog Abu Hirr) dan saya menerimanya. Masalahnya pertanyaan dalam fatwa ini membahas masalah antara *pengguna terhadap pengembang*, bukan membahas masalah antara pengembang terhadap pengguna. Masalahnya lain.

      Problema yang diangkat oleh komunitas free software ialah bahwa nonfree software merugikan pengguna secara sengaja dan memblokir hak pengguna mengubah kondisi itu (mis. source code sengaja tidak diberikan). Nah, ini yang (sepengetahuan saya) belum ada yang tanya.

      Ahsan Kang Rizki belajar dulu sejarah free software, sejarah kemunculan proprietary software, lalu pelajari itu bagaimana aktivitas FSF, dan bagaimana sikap negatif para pengembang nonfree software (jangan salah, ini termasuk juga pengembang virus) sejak zaman 1970-an hingga saat ini. Kumpulkan data-datanya.

      Betul, masalah ini sudah berjalan sangat lama sejak 1970-an.

      • Jazakallahu khairan atas penjelasannya, Kang Ade; berarti Antum telah memahami fatwa tersebut dan juga yang semisalnya dengan baik.

        Afwan, kalau boleh minta tolong: Antum berikan ana kesimpulannya saja dari sejarah tersebut agar mudah dipahami oleh newbie seperti ana.

        Yang masih mengganjal ana: nampak disitu bahwa penanya telah menyebutkan bahwa pembuat software melarang penggandaannya, akan tetapi tidak nampak pengingkaran dari para muftinya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sah-sah saja bila kita membuat software kemudian melarang penggandaannya.

  2. Alhamdulillah, Kang Rizki satu di antara sedikit orang di zaman ini yang mau kembali kepada fatwa para ulama. Ini sebuah keberuntungan yang besar.

    Kesimpulannya tidak bisa disebutkan ringkas karena durasinya sudah lebih dari 40 tahun. Anda memang harus belajar.

    Adapun soalan fatwa di atas, betul sekali tidak tampak pengingkaran dalam soalan pengembang melarang, tetapi saya tidak bisa menyimpulkan seperti kesimpulan Anda.

    Yang perlu diketahui, Free Software Community itu menjelaskan 2 hal: (1) masalah perilaku pengguna terhadap pengembang, dan berikutnya (2) masalah perilaku pengembang terhadap pengguna. Free Software Community tegas menyatakan tidak etis pengguna melanggar janjinya (melanggar lisensi) terhadap pengembang, artinya apabila pengembang nonfree melarang penggandaan, komunitas tidak menganjurkan manusia melanggar larangan itu. Fatwa di atas berbicaranya di masalah 1 ini.

    Namun yang sebaliknya tidak ditinggalkan, Free Software Community juga tegas menyatakan pengembang tidak etis secara sengaja mencabut hak pengguna menolong diri sendiri & hak menolong orang lain. Hak mendistribusikan software (hak menggandakan termasuk di dalamnya) termasuk hak pengguna menolong orang lain. Jika kedua hak ini dicabut, rugi pengguna, dan itu tidak adil. Ketika nonfree software merajalela, komunitas membuat free software supaya pengguna beralih, mengajak para pengembang nonfree untuk mengubah produknya jadi free software, kemudian menerangkan setiap orang berhak menolak nonfree software. Fatwa di atas tidak berbicara di masalah 2 ini.

    Adapun fatwa masyayikh sangat jelas “apabila perjanjian (lisensi) software yang sudah kita sepakati melarang penggandaan” ya sebagai muslim kita tidak boleh melanggar janji. Ini benar. Namun ini bukan jawaban untuk masalah (2) perbuatan pengembang terhadap pengguna. Masalah itu butuh pembahasan tersendiri yang sangat terperinci dan butuh banyak sekali data.

    Masalah nonfree software ini membutuhkan pengalaman di bidang software freedom yang mumpuni, bukan bagian orang awam memasukinya. Jika Anda ingin memasukinya, pelajari sejarah free software dimulai sejak 1950-an dan terutama sejarah GNU sebagai kuncinya. Ini jalan pintasnya dari saya.

    Saya percaya jawaban ini mencukupi, in syaa Allah. Semoga Allah memberkahi Kang Rizki selalu. Wallahu a’lam bish shawab.

    • Baik, jazakallahu khairan atas penjelasannya, Kang Ade.

      Sebagai muslim, agar kita dapat meyakini secara mantap bahwa nonfree software adalah memang tidak etis dan pantas diperjuangkan pengingkarannya oleh masyarakat, tentunya diperlukan fatwa ulama, atau paling tidak pandangan dari penuntut ilmu senior.

      Bagaimana nash pertanyaannya agar kita dapat memperoleh fatwa yang benar?

      Apakah kira2 seperti ini:
      Bagaimana hukumnya bila seseorang memproduksi perangkat lunak (software) komputer, kemudian menjualnya tanpa menyertakan naskah programnya (source code), sehingga mengakibatkan para pembelinya hanya dapat menjadi konsumen atas perangkat lunak tersebut, tanpa bisa memodifikasi atau mengembangkan perangkat lunak tersebut lebih lanjut?

      • Alhamdulillah. Untuk masalah minta fatwa, sangat pasti tidak mungkin itu dibicarakan lewat komentar blog yang serbasingkat macam ini.

        Posisi saya sekarang sebatas membawakan referensi-referensi, sejarah, dan bukti-bukti dalam Bahasa Indonesia, karena di Indonesia tidak ada orang yang melakukan ini (orang hanya berhenti pada “open source”). Saya lakukan yang saya mampu, itu saja.

        Jazakallahu khayran, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong kita semua melalui usaha Anda, Kang. Semoga kita digolongkan dalam golongan para ulama dan masyayikh walaupun kita tidak beramal seperti amalan mereka.

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s