Kegagalan Sosialisasi Free Software dan GNU/Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Banyak sosialisasi free software dilakukan berakhir tanpa hasil. Bentuk kasusnya ialah masyarakat gagal migrasi ke free software bertentangan dengan niat komunitas free software. Kenapa itu bisa terjadi? Tulisan ini meringkas sebab-sebabnya dan menawarkan solusinya.

Arti Kegagalan

Kegagalan yang dimaksud di sini ialah tidak tercapainya maksud komunitas memigrasikan suatu pihak dari Windows ke GNU/Linux; dan memigrasikannya dari nonfree software ke free software; secara permanen tanpa imigran kembali lagi ke nonfree software. Contohnya komunitas ingin pemerintahan dan instansi pendidikan berhenti memakai Windows, berhenti mewajibkan Windows kepada masyarakatnya dan diganti dengan GNU/Linux; namun kenyataannya terbalik dari harapan. Inilah kontradiksi antara niat asli pembicara dan kenyataannya.

Sebab Umum

Yang disebut migrasi adalah perpindahan dari satu posisi ke posisi lain. Migrasi yang dimaksud di sini ialah migrasi dari nonfree software ke free software. Contohnya ialah migrasi dari Windows ke GNU/Linux. Namun apa sebab umumnya masyarakat yang memperoleh sosialisasi gagal migrasi? Sebab umumnya ialah karena mereka tidak punya alasan untuk menolak nonfree software dan menerima free software. Dan sebab ini saya jabarkan dalam beberapa poin berikut.

1 Tidak Ada Tujuan

Tujuan migrasi ke free software adalah software freedom, yakni keluar dari penindasan nonfree software dan menggantinya dengan free software. Kebanyakan sosialisasi tidak punya tujuan sama sekali kecuali sebatas “melihat manfaat teknis”, tanpa prinsip yang membuat orang menolak nonfree software. Banyak pembicara tidak berani menyebut nonfree software sebagai penindas, zalim, masalah sosial, masalah yang harus dihapuskan, karena mereka tidak belajar software freedom dan tidak punya tujuan. Dan bahkan mereka lupa kalau virus komputer (penindas yang zalim itu) termasuk nonfree software. Ini sebab kegagalan paling utama. Masyarakat baru migrasi dengan betul jika mereka punya tujuan yang pasti.

2 Tertipu Harga

Harga bukan patokan menilai kelayakan suatu software. Harga mahal atau gratis, jika software menindas pengguna, maka itu masalah dan itu bukan solusi, maka itu harus dihapus dan diganti dengan free software. Berbayar atau gratis, jika software memberi kebebasan pengguna, memberi pengguna hak-haknya, itulah solusi dan itu yang layak bagi pengguna individual maupun massal. Masyarakat mungkin migrasi karena harga free software bisa gratis, namun dengan alasan yang sama mereka akan kembali menerima nonfree software, karena mereka tak punya alasan menolaknya. Kenapa pengguna menolak virus padahal virus itu gratis, alasannya karena virus mencabut kebebasan penggunanya. Ini argumentasi yang semestinya diterapkan di setiap migrasi terhadap Windows, Microsoft Office, dan lain-lain. Masyarakat baru migrasi jika mereka tidak melihat harganya, tetapi melihat kebebasannya.

3 Tertipu Fitur

Fitur bukan patokan menilai kelayakan suatu software. Sosialisasi sering gagal karena pembicaranya membiarkan pendengar menilai software hanya dari fiturnya (tampilan, kemudahan, fasilitas, popularitas) bukan dari software freedom. Fitur lengkap atau kurang, stabil atau tidak, tampilan indah atau jelek, mudah atau susah, jika software menindas pengguna, maka sama saja itulah masalah dan itu bukan solusi. Bicara fitur memang perlu, tetapi masalah kebebasan menentukan hak pengguna atasnya; percuma fitur bagus tetapi pengguna diblokir darinya. Masyarakat baru migrasi jika mereka paham fitur nonfree software menipu dan menjebak pengguna ke dalam lisensinya yang merugikan.

4 Meremehkan Source Code

Source code adalah asal muasal kontrol pengguna atas software. Hilang source code hilang kontrol. Padahal yang namanya “menggunakan software” itu mengontrol software secara total, dan dicabutnya hak pengguna atas source code berarti dicabutnya kontrol pengguna atas software secara mutlak, secara individual maupun secara sosial. Sebagian orang sengaja terus menghindar menjelaskan pentingnya source code (dengan dalih “sulit bagi orang awam”), tetapi ini sebuah celah sangat fatal karena yang dipermasalahkan ialah “hak pengguna” bukan “paham/tidaknya”. Mereka yang menghindar dari menjelaskan “hak atas source code” kehilangan satu kunci terbesar sosialisasi free software. Padahal masyarakat baru migrasi jika mereka paham mereka dizalimi haknya dengan dicabutnya source code oleh pengembang nonfree software.

5 Meremehkan Lisensi

Lisensi adalah perkara inti sosialisasi free software yang dengannyalah free software menjadi ada, dan nonfree software ditolak. Lisensi adalah fondasi dasar Free Software Movement, dan ini asal muasal hak pengguna atas software. Banyak orang sengaja tidak menjelaskan lisensi dan tidak membandingkan free vs nonfree, entah karena tidak bisa atau tidak mau, dan inilah celah terbesar sosialisasi. Padahal pengguna Windows akan menolak Windows tanpa paksaan apabila mereka tahu isi lisensinya. Sama juga pengguna nonfree software lain. Dengan lisensi terbongkarlah bagaimana jahatnya pengembang terhadap penggunanya. Para pembicara yang enggan menjelaskan lisensi justru kehilangan senjata terbesar mereka sendiri. Masyarakat baru migrasi jika mereka sadar lisensi nonfree software merugikan mereka secara total, individual dan sosial.

6 Tertipu Legalitas

Propaganda para pengedar nonfree software itu satu “nonfree software itu OK asalkan legal” dan ini tipuan bagi software freedom. Nonfree software itu CELAKA sama saja legal atau tidak legal. Menggunakan nonfree software meletakkan power pengembangnya atas pengguna, menjadikan pengguna tidak berdaya secara total, dan ketidakberdayaan ini sama saja apakah dia legal atau ilegal. Banyak orang menyosialisasikan free software hanya sebatas “alternatif legal untuk nonfree software ilegal”. Akibatnya, orang pikir “nonfree software itu OK asalkan legal”, dan mereka tidak akan mau migrasi, toh kalau migrasi mereka bakal balik lagi. Masyarakat baru migrasi jika mereka paham nonfree software selalu menjerumuskan pengguna melanggar lisensi (legal itu mustahil) karena nonfree mencabut software freedom.

Pembicara yang tidak pernah belajar software freedom, biasanya tertipu legalitas nonfree software, mereka tidak tahu bahwa legal dengan nonfree software itu mustahil. Ini karena mereka tidak tahu, bahwa nonfree software selalu memaksa pengguna kepada 2 kejahatan, apakah itu 1) kejahatan menolak orang lain atau 2) kejahatan melanggar lisensi, tidak ada pilihan ketiga. Umumnya pengguna jatuh ke kejahatan 2 karena mereka mustahil menolak permintaan orang lain. Namun yang tidak disadari mereka ialah mereka tidak mungkin lepas dari kejahatan 2, karena memang lisensi nonfree software mustahil ditaati. Kegagalan ini karena mereka tidak belajar software freedom dan tidak mau mempelajari lisensi. Coba mereka mau ambil pelajaran dari lisensi Windows, yang melarang 1 Windows digunakan oleh 2 user bersamaan, mereka pasti sadar mustahilnya lisensi Windows ditaati.

7 Tertipu Penghormatan

Masalah psikologis sebagian pembicara free software ialah mereka terlalu hormat kepada Microsoft atau semisalnya. Ini mengakibatkan basa-basi. Mereka gagal melepaskan diri dari penghormatan berlebihan terhadapnya, terbukti dari sulitnya mereka menyebut kejahatan Microsoft yang memang terbukti jahat, seperti menyebut terang-terangan jeleknya lisensi Windows (yang nyatanya memang jelek), ditanamnya malware dalam Windows secara bawaan, dan lain-lain. Ini karena para pembicaranya terdidik di lingkungan nonfree software yang dijebak oleh “kekaguman buta”. Padahal pembicara bisa mengutuk pengedar virus & malware, tetapi mereka gagal mencela pengedar Windows dan lain-lain; sementara baik virus maupun Windows, semuanya sama-sama nonfree software. Maka untuk bisa menjelaskan free software, pembicara harus melepaskan penghormatannya terhadap Microsoft, Apple, Adobe, dan pengedar nonfree mayor lainnya. Masyarakat baru migrasi jika mereka paham kejahatan para pengedar nonfree software terhadap pengguna dengan fakta dan bukti.

8 Tidak Belajar

Masyarakat merasakan sosialisasi itu kosong dan percuma, karena masyarakat gagal menemukan perbedaan inti antara free & nonfree, disebabkan pembicaranya tidak belajar software freedom. Banyak pembicara mengira free software bisa disosialisasikan hanya dengan belajar “manfaat teknisnya”, tanpa belajar “prinsipnya”. Namun itulah sebab kegagalan mereka seperti disebut di awal tulisan. Apa bedanya Windows dan GNU/Linux sehingga masyarakat memutuskan menolak dan pindah? Ini yang mesti dijawab pembicara dengan software freedom. Kebanyakan mereka sama sekali tidak pernah membaca www.gnu.org selaku tempat prinsip Free Software Movement ditulis, bahkan mereka yang mengaku “saya open source” sering kali tidak pernah membaca opensource.org. Sosialisasi apakah yang diperoleh pendengar? Tidak lain selain kosong. Ini jelas sekali kesalahan fatal karena pendengar tidak paham apa inti sosialisasi itu sendiri. Masyarakat baru migrasi jika pembicaranya paham software freedom dan mengajarkannya dengan layak.

9 Tertipu Propaganda

Istilah “pembajakan” adalah fitnah dan propaganda para pengedar nonfree software. Free Software Movement tidak pernah menggunakan istilah ini, dan tidak pernah menuduh para pengguna sebagai “pembajak”. Pengguna yang melanggar lisensi disebut bersalah tetapi tidak difitnah sebagai “pembajak”, mereka hanya disadarkan dan diberi solusi. Pembicara yang memakai istilah ini jatuh ke dalam propaganda nonfree software, terjebak oleh tipuan target mereka sendiri, mereka justru menolong nonfree software menyebarkan pemikirannya. Masyarakat baru migrasi ketika mereka tahu dan bebas dari propaganda jahat ini.

10 Tertipu Permusuhan

Masyarakat punya kecenderungan menganggap sosialisasi migrasi ke GNU/Linux sebagai permusuhan atas mereka. Ini salah paham. Salah paham ini asalnya dari inersia sosial dari permusuhan nonfree software. Yang memusuhi pengguna adalah nonfree software, bukan komunitas free software. Penyebab salah paham ini lebih dari satu. Satu yang terbesar ialah karena pembicara mengikuti propaganda fitnah “pembajakan” dari nonfree software, yang akibatnya pendengar merasa dituding sebagai kriminal, dipojokkan secara psikologis. Padahal Free Software Movement sama sekali tidak pernah menyebut pengguna sebagai “pembajak”. Propaganda fitnah tersebut menampakkan wajah asli kalangan nonfree software yaitu mereka menganggap semua pengguna adalah kriminal (“pembajak”) kecuali yang tunduk taat lisensi mereka. Artinya sejak dulu memang nonfree software memusuhi pengguna, mereka tidak mencintai Anda, mereka mengkriminalkan bahkan memenjarakan pengguna[link1][link2][link3][link4][link5][link6][link7][link8][link9][link10][link11][link12][link13][link14][link15][link16][link17][link18][link19]. Mengikuti propaganda mereka berarti ikut memojokkan pengguna dan mengkriminalkan mereka. Masyarakat barulah migrasi jika mereka sadar jahatnya nonfree software dan sadar free software tidak memandang mereka sebagai kriminal.

Ini Prinsipnya

Bagi Anda yang selama ini hanya mendengar “Open Source” Movement, belum pernah kenal Free Software Movement, silakan lihat prinsip mereka berikut:

  • nonfree software adalah masalah sosial dan free software solusinya
  • nonfree software menimpakan power pengembang atas pengguna
  • nonfree software tidak adil terhadap pengguna
  • nonfree software tidak menghormati kebebasan pengguna
  • nonfree software itu tidak etis, pengembangnya mencabut kebebasan pengguna
  • free software adalah software yang menghormati kebebasan penggunanya
  • posisi pengguna nonfree software adalah tertindas, posisi komunitas mengedukasi dan memberi solusi
  • bagi komunitas free software, semua orang adalah pengguna, karena pengembang free software juga dihitung pengguna
  • komunitas free software tidak pernah menuduh pengguna komputer sebagai “pembajak”
  • nonfree software harus dihapuskan dari masyarakat secara total
  • komunitas memberi 2 pilihan migrasi (1) pengembang yang ganti lisensi software atau (2) masyarakat yang ganti software

Ini Solusinya

Solusinya masih sama yaitu bahwa nonfree software adalah masalah sosial dan free software solusinya. Nonfree software bukan solusi, ori atau non-ori sama saja, nonfree software adalah masalah yang harus diselesaikan. Pemikiran nonfree software harus diposisikan sebagai lawan dan dihapuskan. Nonfree software itu menindas, merugikan, dan sering kalinya mencelakakan pengguna. Kesadaran atas prinsip ini harus diketahui dan diterima oleh masyarakat. Tanpa prinsip ini sosialisasi hanyalah sebatas “perkenalan manfaat”. Sekali masyarakat menyadari prinsip ini, mereka memahami inti yang Anda sosialisasikan, dan mereka pada saatnya akan memutuskan migrasi tanpa dipaksa.

Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/.

Iklan

7 thoughts on “Kegagalan Sosialisasi Free Software dan GNU/Linux

  1. Terima kasih atas penjelasannya. Saya juga telah membaca Kulgram anda tentang menyoal pembajakan. Disana disebutkan pengantar dengan Contoh beras, motor, air.

    Pertanyaan saya juga pada produk lain. Bagaimana dengan buku? jika buku tidak dilindungi hak ciptanya oleh undang-undang, maka orang-orang yang tidak bertanggung jawab bisa menggandakan seenaknya, misalnya dengan mesin foto copy dan menjual dengan harga murah. Tentu ini merugikan penerbit. Dimana orang-orang menengah ke bawah lebih memilih buku isi sama, harga murah.

    Adakah referensi contoh nyata free book yg dikomersialkan? bagaimana mereka bertahan

    • Pertanyaan yang bagus.

      Pertama, sumber permasalahan yang terbesar adalah “copyright law” itu sendiri. Copyright membuat setiap software secara otomatis menjadi nonfree (apabila pengembangnya tidak memberi lisensi tertulis yang menjadikannya free). Inilah kenapa Proyek GNU membuat lisensi GNU GPL, lisensi yang berbasis copyright (bukan menghilangkan copyright) tetapi justru menjamin kebebasan pengguna bukan menghilangkannya. Menjadikan software Anda bebas bukanlah berarti memusnahkan hak Anda menjualnya, bukan juga memusnahkan jual beli, hanya saja Anda memberi pengguna kebebasan yang sudah jadi hak mereka.

      Kedua, pemikiran di balik proprietary software adalah sama persis dengan pemikiran di balik masalah “perbukuan” copyright, yakni intinya “pengembang harus memblokir keputusan dan perbuatan pengguna dengan cara melarang penggandaan”. Motif di balik pemikiran ini mirip-mirip, yaitu pengembang takut tidak bisa kaya apabila tidak mencabut kebebasan pengguna secara massal. Dan ini tercetak jelas dalam kekhawatiran Kang Sudirman di atas. Ini bukan kebetulan, karena ini adalah doktrin internasional yang masyarakat awam tidak menyadarinya.

      Ketiga, masalah per-software-an tidak sama dan tidak bisa dipersamakan dengan masalah per-buku-an. Kami komunitas free software utamanya berbicara mengenai software, contohnya FSF mengadakan lisensi-lisensi yang menjamin kebebasan pengguna secara perpetual, saya sendiri bicaranya masalah software, dan bukan utamanya bicara mengenai buku.

      Keempat, adapun mengenai per-buku-an, akang Sudirman perlu tahu dulu bahwa tugas komunitas free software adalah mengeliminasi nonfree software dari muka bumi karena mereka merugikan dan mencelakakan pengguna. Bukan karena merek, bukan karena harga. Komunitas TIDAK MENGHAPUSKAN bisnis jual beli, yang dihapuskan hanyalah pemikiran dan penindasan nonfree software. Saya tidak ingin Kang Sudirman salah paham menyangka komunitas ingin menghapuskan “bisnisnya”.

      Kelima, saya tidak ingin Kang Sudirman salah paham juga menyangka komunitas free software hendak memusnahkan jual beli buku, dan memusnahkan perlindungan atas penulis buku. Yang dibicarakan oleh komunitas adalah hak-hak pengguna. Contoh lisensi buku yang bebas yang sesuai jalan komunitas adalah Creative Commons CC BY-SA dan GNU FDL. Dua-duanya berbasis copyright dan TIDAK MENGHAPUSKAN hak pengarang. Mendistribusikan buku yang sudah dibelinya adalah hak pembeli, termasuk hak menggandakan, dan inilah (salah satu kebebasan) yang dijamin oleh lisensi tersebut. Usaha komunitas hanyalah menawarkan lisensi yang bebas seperti tersebut yang adil bagi semua pihak (pengarang, penerbit, pencetak, dan penggunanya). Komunitas tidak hendak memusnahkan jual beli buku.

      Keenam, akang ingin referensi ebook yang free yang diusahakan komunitas silakan melihat punya FSF https://www.gnu.org/doc/other-free-books.html dan punya FSF lagi https://shop.fsf.org/collection/books-docs dan lihat daftar OA yang panjang ini http://oad.simmons.edu/oadwiki/Publishers_of_OA_books contoh lain dari sini https://www.textbookequity.org/category/by-license-type/cc-by-sa/. Masih banyak yang lain.

      Kesimpulannya masih sama persis: yaitu bahwa komunitas free software mengedukasikan bahwa doktrin “tidak bisa jual beli jika pengguna tidak dimonopoli” adalah tidak benar. Komunitas telah membuktikan (dengan segala tantangannya) bahwa jual beli software yang bebas dan bahkan buku berlisensi bebas tetap bisa dilakukan.

      Demikian. Saya percaya jawaban saya cukup untuk akang.

      • jika berbicara tentang model bisnis free software, saya jadi teringat pada kitab-kitab agama klasik yang oleh orang kita lebih sering dikenal sebagai kitab kuning. kitab atau buku yang dapat diterbitkan dan disebarluaskan baik secara komersial maupun tidak tanpa perlu meminta izin maupun bayar royalti. kitab yang dapat kita temukan dalam berbagai bentuk mulai dari yang bersampul biasa maupun yang terlihat mewah, yang dijilid dan yang tidak, yang menggunakan kertas berharga murah sampai yang mahal, dari yang diterbitkan oleh penerbit dalam negeri sampai luar negeri

      • kita juga diperbolehkan jika ingin memfotokopi. dan juga banyak juga yang mebuatkan syarah termasuk juga bantahan atas isi dari kitab-kitab tersebut. dan yang tak kalah penting adalah keuntungan yang berlipat ganda yang didapat oleh para penulisnya

      • Alhamdulillah, ini informasi yang saya tunggu-tunggu, Kang. Ini memberikan petunjuk bahwa sejak dulu konsep lisensi free sudah ada, bahkan tanpa teks lisensi. Belum saya temukan adanya pembatasan jumlah copying kecuali hanya di buku-buku zaman sekarang (yang tidak pakai lisensi free).

        Ada satu kesamaan teknis yang saya temukan dari kitab-kitab tersebut dengan buku-buku berlisensi free yang sekarang, yaitu, nama pengarang asli tidak boleh dihapus/dikaburkan sedikit pun.

        Dari situ ternyata kelihatan lagi sifat turunannya, yaitu apabila pihak lain mengedit, harus jelas disebutkan bagian mana yang diedit dan dari siapa (agar tidak salah nisbah ke pengarang asli).

Mohon jangan gunakan emotikon:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s