Ilusi Proprietary

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Proprietary software adalah masalah sosial. Saya meyakini itu tanpa keraguan dengan bukti nyatanya ransomware. Namun sebelum ransomware pun, saya telah yakin sebab saya mengalaminya, proprietary selalu menciptakan masalah sosial. Dan ilusi proprietary software yang saya ajukan di sini ialah ketidaksadaran pengguna menyalahkan orang yang tidak bersalah. Semoga tulisan ini mencerahkan orang banyak.

Tulisan ini satu serial dengan Nonfree Software Merugikan, Bukan Salah GNU/Linux, Free Software & Keputusan, Takhayul Proprietary, dan Berantas Ransomware 2017.

Ketika Microsoft Office tidak bisa diinstal di GNU/Linux…

Sering terjadi di forum, pengguna awam menyalahkan GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikat perbuatan ini?

Ketika Adobe Photoshop tidak bisa diinstal di GNU/Linux…

Sering juga dengan itu pengguna menilai negatif GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikatnya?

Ketika driver & firmware NDIVIA & ATI jelek fungsinya di GNU/Linux…

Sering pengguna awam menyalahkan GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikatnya?

Ketika video game seperti GTA tidak bisa diinstal di GNU/Linux…

Sering pengguna mengeluhkan berdasar itu bahwa GNU/Linux < Windows. Apa hakikatnya?

Ketika berbagai software for Windows tidak bisa jalan di GNU/Linux…

Sering pengguna komplain yang arahnya menyalahkan GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikatnya?

Hakikatnya…

Teman-teman kita yang melakukan contoh-contoh tudingan di atas menyalahkan pihak yang tidak bersalah yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kasus yang dihadapi.

Permisalannya…

Anda beli mobil dari pabrik A kemudian setelah Anda pakai mobil itu cacat. Lalu Anda datangi tetangga Anda yang beli mobil dari pabrik B dan Anda menyalahkan tetangga itu dan pabrik B, kenapa pabrik B tidak memberikan Anda hak-hak Anda. Artinya Anda sedang salah alamat!

Sebuah permisalan yang sangat gamblang bahwa sama sekali bukan tetangga Anda dan bukan pabrik B yang bersalah.

Lalu siapa yang bertanggung jawab?

Produsen proprietary software yang Anda beli produknya yang bertanggung jawab. Bukan GNU/Linux dan bukan komunitas yang bersalah. Produsen proprietary sengaja tidak menyerahkan source code produknya kepada pembeli. Padahal, dari source code itulah Microsoft Office bisa difungsikan di GNU/Linux atau VGA NVIDIA bisa berfungsi sempurna di GNU/Linux. Source code itu pun harus free (=merdeka, bukan gratis) supaya Anda bisa berbagi dengan orang lain & orang lain bisa berbagi kepada Anda.

Sifat software itu…

Semua software komputer tidak peduli itu Microsoft Office ataukah permainan GTA SA memiliki wujud original yang disebut source code. Apabila pengguna memegang wujud original ini, maka Microsoft Office bisa difungsikan di GNU/Linux dan OS lainnya. Begitu pula Photoshop, CorelDRAW, AutoCAD, dan proprietary lain. Namun produsennya telah menghapus hak Anda atas wujud original ini sebelum Anda membelinya. Tujuannya membuat Anda tidak berdaya.

Ilusinya…

Ilusi proprietary yang saya maksud di sini adalah pengguna awam sering menyalahkan pihak yang tidak bersalah sebab mereka telah dibuat tak berdaya oleh proprietary software. Mereka sangka harusnya software yang mereka beli, bisa dijalankan di OS GNU/Linux (atau OS lain) (dan ini hak pengguna), namun kenyataannya tidak bisa, sebab hak ini telah dihapus oleh produsen proprietary. Mayoritas pengguna awam tidak mengetahui dihilangkannya hak mereka ini. Harapan pengguna berlawanan dengan kenyataannya.

Pesan saya…

Jika proprietary software yang Anda beli cacat (tidak sesuai kehendak Anda), salahkan pengembangnya dan jangan salahkan pengembang GNU/Linux apalagi komunitasnya.


Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.

Iklan

7 thoughts on “Ilusi Proprietary

  1. Daripada beli apalagi mbajak perangkat lunak proprietary mending menata diri, mulai mempelajari perangkat lunak bebas merdeka (usul).

    Saya melihat SDM bangsa Indonesia sangat potensial untuk ikut andil bagian dalam gerakan Foss. Modalnya cukup komputer, kreatifitas, dan iklim gotong royong & kerja-sama.

    Bagaimana menurut Akang ?

    • Sebuah kesalahpahaman menyangka penggandaan software = kriminal = harus dinamakan “pembajakan”, sebab istilah yang betul ialah “pelanggaran lisensi”. Istilah “pembajakan” ialah adu domba dan fitnah. Proprietary software merugikan pengguna maka berhak ditolak.

      Proprietary software itu antisosial maka tidak akan cocok di negara Indonesia dan di negara mana pun. Yang sudah sewajarnya memang free software, sebab menunaikan hak gotong royong. Tinggal ini yang diedukasikan ke masyarakat, dan bukanlah tuduhan “pembajak”.

  2. Siap Kang, mulai sekarang akan saya gunakan istilah penyalahgunaan lisensi untuk kasus cracking & penyalahgunaan perangkat lunak proprietary.

    Terus terang saya penasaran dengan filosofi yang Akang ikuti, kalau saya baca2 artikel terdahulu pny Njenengan sempat membahas tentang tulisan Eric S. Raymond. Kemudian sekarang lebih dominan ke gagasan pemikiran R. M. Stallman, pun semakin sering Akang menyebut istilah Free Software daripada Open Source dan gabungan diantara keduanya.

    Adakah alasan tertentu?

    Matur Nuwun. =)

    • Ada tulisan yang menjelaskan bedanya free software dari open source dan itu menjelaskan ketidaktahuan saya selama ini https://www.gnu.org/philosophy/free-software-for-freedom.html. Terjawab jelas semua misteri.

      Istilah “penyalahgunaan” sebenarnya tidaklah tepat pula. Sebab yang dirugikan (disalahgunakan) ialah pengguna, proprietary software ialah instrumen pengembang untuk mengontrol pengguna. Istilah yang tepat ialah “pelanggaran lisensi”.

      • Lain waktu disambung lagi Kang,

        Terus terang beberapa hari ini saya membaca tulisan kedua kubu baik dari Om Stallman dengan project GNU dan FSF nya dan Om Raymond dengan gerakan OSI nya. Keduanya punya kontribusi yang besar untuk komunitas Free Unix. Sayangnya ndak bisa akur karena perbedaan pandangan dalam mencapai tujuan yang sebenarnya senada.

        http://www.catb.org/esr/writings/shut-up-and-show-them.html (peran open source atas lahirnya project Firefox)

        Berkaca pada diri saya sendiri, saya sadar sumbangsih saya masih sangat minim. Oleh karenanya saya pribadi milih jalan tengah yaitu FOSS & FLOSS (ini pun juga ditentang oleh Om Stallman).

        https://www.gnu.org/philosophy/words-to-avoid.html#FLOSS

        Baik, pada akhirnya saya hanya bisa berdoa, semoga perdebatan ideologis ini tidak sampai menjalar di Indonesia, sehingga menjauhkan semangat kolaborasi dan gotong royong untuk bersama-sama mempelajari & berkontribusi untuk komunitas GNU/Linux.

      • Virus dan ransomware itu juga proprietary. Ketika orang awam menolak dan memperingatkan bahayanya, mereka sendiri melakukan free software movement di situ, sama saja. Proprietary memang defective by design sejak semula. Ini bukan perdebatan, siapa saja yang jujur akan mencapai kesimpulan yang sama (dan saya mencarinya sendiri, tidak bergantung pada OSI/FSF).

        Beri peringatan bahaya nonfree software & bahaya pemikirannya ke masyarakat. Itu yang saya sedang lakukan.

Mohon jangan gunakan emotikon:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s