Mencoba Org Mode di Emacs

Bismillahirrahmanirrahim.

Belum genap satu bulan saya berkenalan dengan Emacs. Saat ini, setelah melihat video perkenalan org-mode, saya pun mencoba org-mode di Emacs. Ternyata, org-mode (organizer mode) ialah fitur yang mampu memproduksi secara otomatis macam-macam dokumen nonplain-text dari ketikan plain-text pengguna, misalnya membuat dokumen LaTeX, PDF, HTML (sekaligus preview), iCalendar (standar format kalender digital, dipakai oleh KOrganizer dan Google Calendar), dan di luar itu, plain-text juga. Dari dokumentasi resmi org-mode http://orgmode.org saya bisa memahami bahwa org-mode secara lengkapnya ialah fasilitas untuk penulisan catatan, diary, presentasi, jadwal, todo list, manajemen, kalender, dan tentu termasuk fitur yang telah saya sebut di atas. Saya termasuk pengguna yang butuh fasilitas organizer serta fitur produksi dokumen LaTeX. Namun saya tidak pernah mikir bahwa dokumen LaTeX bisa dihasilkan tanpa mengetik sintaks source code LaTeX sama sekali seperti org-mode ini (makanya saya sebut, otomatis). Alhasil org-mode ini fasilitas yang luar biasa di GNU Emacs yang patut dikenali oleh saya dan tentunya setiap pengguna GNU/Linux lainnya.

screenshot_20161123_103320

Pada skrinsot Emacs di atas, panel kiri (paling luas) adalah plain-text di dalam org-mode, panel tengah adalah source code LaTeX yang dihasilkan otomatis oleh org-mode, dan panel kiri adalah pratayang PDF dari dokumen LaTeX tersebut. Ya, saya menggunakan ekstensi LaTeX Preview Pane untuk mempratayangkan dokumen LaTeX.

Bila Anda belum pernah mengenal Emacs, terutama yang selama ini hanya mengenal penyunting teks (proprietary) semacam Sublime Text atau Wordpad semata, kini saatnya Anda mengenal Emacs. Coba carilah video-video perkenalan Emacs di internet dan perhatikan dengan saksama. Semoga Anda memperoleh ganti yang lebih baik dengan Emacs.

Iklan

Belajar GNU Emacs Bersama Teman Lama

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebuah hal yang sangat langka terjadi apabila saya bisa belajar GNU/Linux bersama orang secara nyata akibat sedikit orang yang mau mempelajarinya. Lebih mengejutkan lagi hari ini Rabu 26 Oktober 2016 saya mengalami hal yang jauh lebih langka lagi yaitu saya belajar GNU Emacs bersama kawan lama saya. Bagi Anda yang belum tahu, GNU Emacs adalah sebuah program text editor yang sangat cepat dan powerful, bisa digunakan untuk segala jenis teks terutama untuk kepentingan pemrograman, dengan basis pengguna yang sangat kuat di seluruh dunia. GNU Emacs adalah bagian dari GNU Operating System, oleh karena itu ia adalah free software (bahkan usianya lebih tua daripada GNU itu sendiri). Baca situs resminya https://www.gnu.org/software/emacs.

screenshot-from-2016-10-26-18-43-08
Tampilan GNU Emacs di laptop Ubuntu saya yang dilihat pertama kali oleh teman lama saya

Teman lama saya ini adalah seorang pemula murni dalam bidang GNU/Linux, tetapi beliau ingin belajar pemrograman C. Kebetulan malam ini saya memperlihatkan Emacs kepadanya yang sedang saya split jadi 3 window saat saya menulis suatu kode sumber C. Saya anjurkan beliau menginstal Emacs di Xubuntu 16.04 beliau dan beliau melakukannya! Sesaat kemudian saya mengajarkan kunci-kunci Emacs kepadanya dan beliau dalam sesaat itu bisa menavigasi split-split window dan melakukan compiling satu kode sumber C! Anda tahu rasanya bisa belajar GNU Emacs seperti ini? Sangat mengagumkan! Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mengalaminya.

dsc_1733
Kiri: laptop teman saya (Xubuntu), kanan: laptop saya (Ubuntu), dua-duanya menayangkan GNU Emacs di atas GNU/Linux

Kunci-kunci yang saya ajarkan sengaja saya batasi. Yang paling pertama saya ajarkan kepadanya adalah C-x C-f untuk membuat sebuah berkas baru. Pada sentuhan pertama ini saya memberikan penekanan kepadanya, bahwa sistem kerja Emacs itu antara tombol Ctrl dan tombol huruf. Saya berikan sedikit latihan kecil sampai beliau terbiasa. Beliau bisa memahaminya. Kemudian kunci lain yang saya ajarkan adalah menu Emacs yaitu tombol F10, dan saya jelaskan bahwa beliau bisa mengetahui shortcut keys milik Emacs dari menu-menu yang ada. Kemudian, yang paling pokok saya ajarkan adalah C-x 2 (split window atas bawah) kemudian C-x 3 (split window kiri kanan) kemudian pastinya C-x o (pindah kursor ke window berikutnya). Ketiga kunci paling pokok ini beliau ulang-ulangi dan beliau bisa menerimanya. Ini sangat menarik, dan menyenangkan hati saya. Total waktu untuk kejadian di atas seluruhnya adalah kurang dari 30 menit.

Program dalam kode sumber C yang saya tulis dengan Emacs itu bisa Anda baca di sini http://paste.ubuntu.com/23383737/. Saya menyatakan program ini adalah free software dan bersifat copyleft. Program inilah yang teman lama saya coba kompilasikan di dalam Emacs.

Pengalaman hari ini alhamdulillah tergolong pengalaman yang ingin sekali saya alami sejak pertama saya kenal GNU/Linux. Kendati ini langka, saya tetap bersyukur, dan saya berharap besok saya masih tetap bisa mengalaminya. Saya ingin berbagi, saya ingin mengajarkan GNU/Linux. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Notabene: kejadian malam ini terjadi ketika saya sedang dalam proses mengerjakan pengunggahan paket .alldeb sesi terakhir.