Bagaimana Saya Menjelaskan Perangkat Lunak Bebas kepada Orang Awam

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya berkesempatan menerangkan perangkat lunak bebas (free software) langsung di hadapan orang awam pada dua tahun belakangan ini di tempat saya biasa internetan. Sebagaimana saya berupaya menerangkannya di Restava (2016, 2017, 2018, 2019) dan di Beranda (2016) dan juga di Teknoplasma (2017, 2018, 2019), saya jelaskan secara tatap muka apa itu free software dan bahwa pengguna punya hak-hak atas software. Di antara yang saya sampaikan pertama-tama adalah bahwa free software bukanlah perangkat lunak gratis melainkan bebas (kadang, saya sebut merdeka). Orang yang mendengar penjelasan saya dapat menerimanya bahwa maksud saya bukan harga melainkan hak-hak si penggunanya.

Tambah lagi, saya pun berupaya menjelaskan bahwa semua free software boleh dijual dan anggapan tidak boleh dijualnya itu salah. Saya memberikan pengertian bahwa hanyalah perangkat lunak tidak bebas (nonfree, proprietary software) yang tidak boleh dijual oleh penggunanya. Tentu saya memberikan contohnya yaitu Windows dan saya jelaskan pula kalau lisensi Windows menghapuskan hak-hak penggunanya. Saya pun berupaya menegaskan bahwa nonfree itu software yang dikendalikan oleh pengembangnya bukan oleh penggunanya agar orang tersebut tahu ada ketidakadilan di sana. Beda dengan free software, yakni dikendalikan sepenuhnya oleh penggunanya bukan oleh pengembangnya di dalam komputasi penggunanya.

Satu hal yang saya sukai ketika menerangkan ini adalah saat saya mengajak mereka berpikir, bahwa, jual-beli barang seperti sepeda motor itu sifatnya bebas (merdeka) sebab sekali Anda beli maka Anda berhak menjualnya kembali dan tidak ada ceritanya penjualnya memusuhi Anda karena itu. Itu waras. Sebaliknya, menurut Windows dan semisalnya, maka kalau Anda sudah beli Windows maka Anda dilarang memperjualbelikan salinan-salinannya. Kalau Anda menggandakan dan memperjualbelikannya, maka pengembangnya memusuhi Anda. Itu tidak waras. Saya senang ketika mereka bisa memahami itu. Catatan penting: saya tidak mempersamakan antara sepeda motor (benda tangible) dengan software (benda non-tangible).

Satu hal yang juga sangat saya sukai adalah ketika saya berusaha membuka pikiran mereka tentang virus komputer kemudian mereka mengerti. Yakni, bahwa virus itu termasuk nonfree software bukan free software. Mereka bisa menemukan persamaan antara virus, yang pengembangnya mengendalikan penggunanya, dengan Windows, yang melarang pengguna berbagi dan mengubahnya. Oleh karena itu, apa pun yang diputuskan oleh pengembang Windows terhadap kehidupan pengguna mutlak tidak bisa ditolak maupun diubah oleh pengguna. Saya juga tanya, “bukankah virus tidak memberi penggunanya kode sumbernya?” dan biasanya orang jawab “oh iya juga, ya!”. Saya tinggal mengarahkan “karena itulah virus bisa mengendalikan penggunanya dan pengguna tidak berdaya sama sekali”.

Demikian hal-hal yang saya sampaikan. Mereka yang mendengar penjelasan saya tidak ada yang marah. Bahkan saya tanya, “saya jelaskan seperti ini Anda sakit hati atau tidak?”, mereka jawab “tidak sakit hati” sambil senyum. Saya harap catatan ini bermanfaat untuk semua orang terutama yang sedang menyampaikan perangkat lunak merdeka ke masyarakat Indonesia.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Iklan

Beberapa Proyek Free Software yang Sangat Penting

Bismillahirrahmanirrahim.

Untuk Anda yang sudah mengerti pentingnya free software bagi pengguna komputer dan masyarakatnya, pada tahap lanjut Anda akan ingin tahu apa saja proyek-proyek free software yang sangat penting. Dengan kata lain, Anda selangkah lebih dekat kepada mengenali komunitas Anda sendiri secara utuhnya dan kemudian  berkontribusi ke proyek-proyek yang ada. Maka tulisan ini saya buat dengan memuat proyek-proyek penting dari komunitas free software agar Anda kenal. Di antara mereka jelaslah GNU dan Linux, ada juga GNOME dan LibreOffice, ada Debian dan Libreboot, dan beberapa lainnya. Ditambah lagi beberapa lainnya. Bacalah dan marilah berkontribusi.

Baca lebih lanjut

GNU/Linux Bukan untuk “Memberantas Pembajakan”

Bismillahirrahmanirrahim.

Perangkat lunak bebas dan sistem operasi GNU/Linux itu sebenarnya bukan alternatif untuk “software bajakan”. Gerakan perangkat lunak bebas dimulai dengan tujuan yang jelas yaitu untuk memenangkan hak pengguna atas software atau bisa Anda bilang menghilangkan perangkat lunak tidak bebas. Bila ini hal baru bagi Anda, lanjutkan membaca. Seperti sering saya singgung juga, tidak ada yang namanya “pembajakan software” itu. Ucapan “kamu membajak software” itu pun bohong. Menuduh negara Indonesia sebagai “pelaku pembajakan software” dengan demikian juga tidak benar. Sekali lagi, sebenarnya beralih dari nonfree ke free software dan dari Windows ke GNU/Linux itu bukanlah “memberantas pembajakan” melainkan “memberantas nonfree software”. Saya sering menyampaikan itu pada kuliah online yang saya asuh misalnya di pertemuan ke-41 dan ke-57. Kendati demikian, tulisan-tulisan semacam ini memang perlu untuk terus dipublikasikan.

Di mana tidak benarnya ucapan “pembajakan software”? Tidak benarnya dimulai dari tujuannya dan kemudian pada kata-kata itu sendiri. Tujuan ucapan ini adalah propaganda perombakan moral masyarakat luas supaya memandang bahwa setiap gotong royong itu kriminal. Arti ucapan itu sendiri adalah “perampokan kapal, pembunuhan penumpang, dan perampasan harta”. Maksud ucapan ini adalah mau menukar moral membantu orang lain (aktivitas berbagi software) dengan moral menyerang kapal (aktivitas kriminal). Ucapan-ucapan lain yang termasuk ucapan ini misalnya “software original”, “counterfeit software”, “software asli”, “software palsu”, dan sekitarnya yang sumber pengucapnya pihak-pihak yang sama. Di mana pun ucapan ini diucapkan di situ mesti ada orang-orang yang merasa dihina atau dikriminalkan. Ucapan ini sesungguhnya adalah permusuhan maka hendaknya Anda tidak berpartisipasi mengucapkannya.

Penyebar ucapan propaganda ini bukanlah komunitas perangkat lunak bebas, bukan komunitas GNU/Linux, bukan juga komunitas “open source”, tetapi hanyalah pihak-pihak nonfree software. Letak kebohongannya jelas yaitu menuduh bahwa menggandakan software itu sama dengan membunuh orang lain. Faktanya, orang yang menggandakan CD software tidaklah melakukan pembunuhan. Bahkan CD yang dibuat gandaannya tidaklah hilang, melainkan bertambah 1 CD lagi yang kembar. Itu bukan “pembajakan” namanya, tetapi penggandaan. Itu bukan kriminal, tetapi itu membantu diri sendiri dan orang lain.

Software yang melarang Anda untuk membantu orang lain itu antisosial dan itulah nonfree software (perangkat lunak tidak bebas). Software macam itu melarang Anda bersolidaritas sosial (menggandakan, mengubah, meminjamkan, memperjualbelikan, dan/atau memakainya secara bersama-sama) tidak peduli Anda membayar ataupun tidak. Yang semestinya diberantas itu nonfree software sehingga orang stop memakainya. Yang harus dihentikan itu nonfree sofware sehingga orang tidak jatuh dalam pelanggaran janji. Itu yang harus Anda stop, bukan aktivitas gotong royongnya. Dengan menghilangkan nonfree software maka Anda menyelesaikan semua masalah yang saya sebutkan di atas. Maka sebarkanlah free software dan ajak orang memakai free software saja. Edukasilah orang untuk tidak menerima perangkat lunak tidak bebas. Jangan mundurkan edukasi dengan menyebut gotong royong “pembajakan”.

Ucapan “pembajakan software” itu memberantas GNU/Linux dan Free Software. Pernahkah Anda mendengar ini? Saudara sekalian, seperti berulang kali saya sebutkan di kuliah online, ucapan propaganda ini tujuannya dan hasilnya itu memberantas GNU/Linux yang sedang Anda promosikan itu. Itu kontradiksi bagi Anda yang mempromosikan GNU/Linux. Mempromosikan propaganda ini sama dengan mengajari orang agar menolak solidaritas sosial (saling berbagi software) dan merendahkan solusi free software (hanya menaruhnya sebagai “alternatif” nomor dua belaka). Masalah Anda bukannya selesai, tetapi makin banyak. Maka tinggalkan propaganda ini dan sebutkan terang-terangan bahwa tidak seperti nonfree software, free software menunaikan hak pengguna dan hak masyarakatnya.

Kata-kata singkat yang bisa Anda pergunakan untuk menyebarkan perangkat lunak bebas itu seperti berikut:

  • yang menjadi masalah bukan aktivitas berbagi software, tetapi software yang mencegah manusia berbagi software
  • tidak seperti Windows dan nonfree software, GNU/Linux dan free software menunaikan hak pengguna dan hak masyarakatnya
  • nonfree software itu dikendalikan sepenuhnya oleh pengembangnya dan bukan oleh pengguna; sebaliknya, free software (di komputernya pengguna) dikendalikan sepenuhnya oleh pengguna dan bukan oleh pengembangnya; nonfree software tidak adil, free software adil
  • dulu kami katakan “tinggalkan software bajakan”, sekarang kami katakan “tinggalkan software yang tidak bebas”
  • dulu kami katakan “gunakan free software kalau kamu miskin, nonfree software kalau kamu kaya”, sekarang kami katakan “gunakan free software, tinggalkan nonfree software, ini bukan masalah harga tetapi hak pengguna”

Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Melihat Masalah Hardware Lebih Jelas dari Kasus NVIDIA

Bismillahirrahmanirrahim.

Para pembeli NVIDIA GeForce itu adalah korban. Ketika mereka memakai sistem operasi GNU/Linux, barulah mereka merasakan sakitnya, hanya saja mereka belum paham. Masalah apakah ini? Inilah masalah hardware yang tidak menunaikan hak penggunanya, yaitu tidak menyerahkan kode sumber dari firmware dan drivernya, sehingga pengguna rugi. Kebanyakan pengguna NVIDIA salah paham sehingga menyerang para pengembang GNU/Linux (termasuk pengembang X11, Nouveau, sampai Sway sekalipun) karena mereka kira yang menzalimi itu para pengembang GNU/Linux tersebut. Mereka menilai dengan cara menilai mereka yang belum berdasarkan bukti bahwa pengembang GNU/Linux tidak menunaikan hak mereka untuk menjalankan hardware (NVIDIA itu tadi). Saudara sekalian, ini salah paham, yang tidak menunaikan hak pengguna itu bukan para pengembang GNU/Linux, tetapi pihak NVIDIA. Bila Anda menuntut, Anda harus menuntut NVIDIA, sebab NVIDIA yang tidak menunaikan hak Anda dan bukan pengembang GNU/Linux. Anda membeli hardware itu dari NVIDIA, bukan dari pengembang GNU/Linux, maka tanggung jawabnya ada di NVIDIA bukan di GNU/Linux. Teruskanlah membaca sampai akhir tulisan ini.

Dituduh Secara Batil Itu Tidak Enak

Saya bisa memberi Anda contoh dari seorang pengembang Sway (program komputer) yang merasa dizalimi oleh para pengguna NVIDIA yang dengan keras menuntut dirinya menunaikan hak yang bukan tanggung jawab dia. Tuntutan ini salah alamat. Dia mengungkapkan keberatan yang sangat keras atas tuntutan itu bahkan dia mengutuk NVIDIA di dalam tulisannya. URL tulisannya pun sudah mengungkapkan kutukan tersebut.

Kenapa? Kenapa seperti itu?

Karena dituduh secara batil itu tidak enak. Anda semua dan saya juga tidak mau dituduh secara batil. Tuduhannya seperti tadi, si pengembang Sway ini dituduh secara salah yaitu tidak menunaikan hak-hak pengguna NVIDIA. Para pembeli NVIDIA tersebut memaksa si pengembang Sway bekerja keras untuk mereka, tanpa memberinya uang sepeser pun (padahal dia berhak menerimanya), tapi penuntut itu memberi NVIDIA uang yang banyak sekali dengan membeli produknya (yang melanggar hak mereka). Jelas saja dia marah sekali dituduh seperti itu dalam keadaan dia salah satu orang yang paling getol berupaya membantu para pengguna NVIDIA di seluruh dunia dan Sway yang dia buat adalah bukti nyatanya. Tentu Anda dan saya juga tidak mau dituduh bersalah apalagi dituntut untuk barang yang kita tidak menjualnya bahkan kita tidak pernah kenal para pembeli tersebut.

Bagaimana orang bisa salah tuduh?

Jawabannya ada di dalam kutukan si pengembang Sway itu. Dialah orang yang paling tahu bahwa pelaku kejahatannya itu pihak NVIDIA. Seharusnya, NVIDIA menunaikan hak-hak pembeli kartu vga-nya dengan memberi mereka kode sumber lengkap dari firmware dan drivernya. Sepatutnya, dan mereka benar-benar mampu, NVIDIA bekerja sama dengan pihak pengembang kernel Linux, X11, Mesa, dan juga Sway, sebagaimana Intel* dan AMD* juga bekerja sama. Karena NVIDIA tidak melakukannya bahkan bersikeras menentang itu semua sejak dulu sampai sekarang, akhirnya para pembeli vga yang tidak tahu apa-apa tidak bisa menemukan siapa yang salah ketika VGA mereka tidak berfungsi. Yang paling dekat yang bisa mereka salahkan ialah pengembang GNU/Linux. Kebanyakan orang memang dengan entengnya menyalahkan pihak GNU/Linux dalam masalah ini padahal seharusnya NVIDIA yang disalahkan. Demikian terjadinya salah tuduh.

Dari satu korban ke korban yang lain

Anda sudah lihat tulisan si pengembang Sway di atas? Apa itu? Itulah kutukan seseorang yang menjadi korban. Korban yang satu ini adalah akibat dari adanya korban pertama, yaitu para pembeli NVIDIA. Asal muasalnya adalah dari kesalahan pihak NVIDIA yang mem-proprietary-kan (me-nonfree-kan) firmware dan driver-nya. Kalau memang vga itu sudah dibeli oleh pembeli ya sudah seharusnya Anda tunaikan seluruh softwarenya, wahai NVIDIA. Perbuatan Anda telah menjatuhkan para pembeli Anda sebagai korban, yang mereka putus asa, kemudian mereka menjatuhkan pihak lain yang tidak bersalah (seperti pengembang GNU/Linux dan Sway) sebagai korban berikutnya. Saya harap semua orang waspada terhadap NVIDIA mulai hari ini juga.

Tahukah Anda tentang hardware?

Saya hendak membantu para pengguna NVIDIA untuk mencermati masalah ini dengan benar dan tenang sehingga tercapai solusi. Saya juga ingin membantu semua orang yang jujur ingin menggunakan Free Software dan GNU/Linux untuk menemukan hardware terbaik yang menunaikan hak penggunanya. Untuk itu, kita semuanya harus tahu hal-hal mendasar tentang hardware.

  • Ada yang namanya hardware, ada yang namanya sistem operasi (OS), ada firmware, dan ada driver.
  • Ada pabrik hardware (yang menjual), ada pembeli hardware (Anda, pembeli), ada pengembang sistem operasi (misalnya pengembang GNU/Linux).
  • Contoh hardware itu di antaranya video graphic adapter (VGA), wireless lan (WLAN), printer, dan scanner.
  • Hardware diperoleh dengan cara dibeli dari pabriknya.
  • Hardware berfungsi pada komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi.
  • Tiap-tiap hardware tidak bisa beroperasi tanpa firmware dan driver.
  • Tiap-tiap pabrik hardware seharusnya menyerahkan hardware disertai firmware dan driver pada setiap pembeli.
  • Hardware yang kurang salah satu firmwarenya atau drivernya tidak bisa dikendalikan oleh sistem operasi alias tidak berfungsi.
  • Kenyataannya: mayoritas hardware di muka bumi hanya dijual hardware-nya, tetapi firmware dan/atau drivernya tidak diserahkan kepada pembeli.

Tahukah Anda tentang firmware dan driver?

Driver doang tidak cukup. Untuk bisa berfungsi, VGA juga perlu firmware. Demikian juga semua hardware lainnya. Jangan tertipu dengan promosi “driver kami sudah free software” karena Anda harus pastikan firmware-nya juga free software. Keduanya adalah hak pengguna. Secara garis besar dapat Anda pahami driver itu software yang beroperasi di dalam OS, sedangkan firmware beroperasi di dalam hardware.

Faktanya, memang, banyak vendor hardware memberi penggunanya firmware maupun driver tetapi dalam bentuk blob dan binary code. Bentuk source code tidak pernah diberikan ke pengguna. Anda bisa temukan blobs dan binaries itu di repositori ‘nonfree’ milik Debian, di repositori ‘restricted’ milik Ubuntu, di ‘AUR’ milik Arch, di ‘non-oss’ milik openSUSE, dan di lain-lain. Apakah ini menunaikan hak pengguna? Apakah dengan ini masalah selesai? Pertama, terhadap proyek-proyek distro tersebut kita berprasangka baik karena mereka sudah berupaya menolong kita semua. Hanya saja, faktanya juga, ini tidak menyelesaikan masalah (tidak menunaikan hak Anda) dan membikin masalah baru (karena software macam itu tetap tidak bisa diubah dan dilarang dipelajari). Kebanyakan hardware tetap tidak berfungsi dan cacat dengan blobs dan binaries tersebut.

Apa yang seharusnya terjadi? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Yang seharusnya terjadi: Anda beli NVIDIA GeForce maka pihak NVIDIA memberi Anda kode sumber firmware dan driver yang bebas bagi Anda. Maka vga itu berfungsi di GNU/Linux secara sempurna.

Yang sesungguhnya terjadi: Anda beli NVIDIA GeFore tetapi pihak NVIDIA tidak memberi Anda kode sumber firmware dan tidak pula kode sumber driver untuk Anda. Maka vga itu gagal fungsi di GNU/Linux.

Lihat bedanya. Seharusnya jelas sekarang yang tidak bertanggung jawab di sini adalah pihak NVIDIA. Maka pihak GNU/Linux tidak ada hubungannya sama sekali jadi tidak bisa kita salahkan, Saudara-saudara.

Bagaimana contoh cacatnya?

Langsung saja Anda lihat sendiri:

  • Daya baterai laptop cepat habis
  • Penampilan layar monitor buruk atau tidak sesuai yang seharusnya
  • Screen tearing, glitch, atau apalah istilahnya yang seharusnya tidak terjadi
  • X11, Wayland, Sway, atau program apalah itu menjadi tidak berfungsi padahal seharusnya berfungsi
  • Pengguna tidak bisa mengendalikan fitur dari VGA yang sudah dibelinya sendiri, seperti, nyala kipas dan kecepatan prosesnya padahal seharusnya bisa

Sebabnya hanya satu yaitu karena si NVIDIA belum menunaikan hak si pembeli vga tersebut. Tidak ada hubungannya dengan GNU/Linux sebab segala hardware bisa beroperasi di GNU/Linux dengan syarat ada firmware dan ada drivernya.

Kerja Sama

Yang dimaksud kerja sama adalah kerja sama antara pihak pembuat hardware (seperti NVIDIA) dengan pihak pengembang software (seperti proyek GNU/Linux, proyek X11, dan proyek Mesa, dan juga Sway). Pada dunia software, yang namanya kerja sama itu unik sekali. Lebih mudah daripada di dunia nyata. Yaitu bisa dilakukan dengan cara-cara berikut:

  • NVIDIA membuka seluruh spesifikasi hardware yang dibutuhkan oleh tiap-tiap pengembang software
  • NVIDIA ikut mengembangkan software yang disebutkan di atas (Intel dan AMD sudah melakukan itu*)
  • NVIDIA memberi izin dan tidak mencegah pihak lain untuk membuat software yang berkaitan dengan produk hardwarenya (Intel dan AMD melakukan itu*)

Yang jadi masalah NVIDIA tidak melakukannya sama sekali. Maka walaupun Anda beli semua vga NVIDIA sekalipun, semuanya adalah cacat, karena Anda tidak diberi hak Anda dan juga Anda dilarang bahkan dicegah untuk membuatnya sendiri. Lihatlah artikel si pengembang Sway di atas. Itulah sebabnya saya sebut di kalimat pertama “Pengguna NVIDIA adalah korban”.

Pelajaran yang dipetik

Pelajarannya sama seperti peribahasa komunitas free software: bahwa tiap-tiap software yang dipublikasikan seharusnya bebas. Bila tidak bebas, maka software itu menzalimi penggunanya. Lihatlah kasus di atas. Persis itu dengan peribahasa ini.

Pelajaran berikutnya adalah Anda harus waspada mayoritas hardware di bumi ini tidak menunaikan hak penggunanya. Mayoritas hardware tidak memberi Anda firmware dan driver yang seharusnya Anda terima. Itu kecurangan besar yang merugikan Anda penggunanya. Bayangkan saja Anda beli sepeda motor, tetapi tidak menerima kuncinya dan tidak boleh membuatnya sendiri, ya itu sepeda motor tidak berfungsi, tentu Anda marah. Sama juga hardware, Anda terima barangnya saja, tapi “kuncinya” yaitu kode sumber dari firmware dan driver tidak, ya hardware Anda tidak bekerja. Pahami ini baik-baik dan selalu waspada.

Jangan menganggap hardware yang menunaikan hak pengguna itu sama dengan hardware yang tidak. Tidak sama hardware yang menzalimi pengguna dengan yang adil.

Mencari hardware yang bebas

Kabar gembiranya, ada hardware yang menunaikan hak penggunanya. Hardware yang bebas di sini maksudnya bebas dari nonfree software dan 100% kompatibel dengan sistem operasi free software. Hardware yang bebas tidak seperti NVIDIA, dia bisa beroperasi sempurna pada GNU/Linux bahkan tanpa instal program tambahan. Jangan merasa kaget. Anda sendiri punya hardware semacam itu yang namanya USB Flash Disk. Itu contoh hardware yang bebas karena firmware dan hardware sudah ditunaikan untuk Anda. Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan VGA, WLAN, printer, scanner, dan lainnya? Kabar gembira untuk Anda, sekarang kita bisa mencari informasi hardware yang bebas di https://h-node.org. Sebelum beli hardware, cari dulu di h-node agar Anda tidak ditipu.

Contoh hardware yang dijamin menunaikan hak pengguna

Sudah ada sertifikasi yang menjamin laptop dan hardware tertentu sepenuhnya menunaikan hak pengguna. Sertifikasi itu namanya Respects Your Freedom (RYF) yang diasuh oleh Free Software Foundation (FSF). FSF adalah organisasi yang mengasuh h-node.org di atas. Di antara laptop yang telah disertifikasi sebagai RYF adalah Lenovo ThinkPad X200 yang dijual oleh toko Technoethical, Minifree, Vikings, dan Libiquity. Di antara WLAN yang disertifikasi RYF adalah TPE-N150USB dari ThinkPenguin. Semua ini terjamin 100% beroperasi di GNU/Linux dengan free software dan tidak akan menyeret Anda kepada nonfree software. Inilah hardware paling baik di dunia saat ini yang bisa saya rekomendasikan untuk semua orang.

Solusi untuk kita semua

  • Pertama, bersabarlah dengan hardware yang telah Anda punyai sekarang dengan GNU/Linux dan free software yang ada.
  • Kedua, selalu waspada dan pastikan informasi yang benar setiap hendak membeli laptop baru atau hardware baru. Jangan terpaku pada spesifikasi teknis saja, lebih perlu diperhatikan hak Anda itu ditunaikan apa tidak.
  • Ketiga, berpikirlah dengan tenang dan jangan mudah menuntut pihak lain di bidang komputer apalagi yang tidak bersalah.

Catatan

Kendati saya menyebutkan Intel* dan AMD* di atas, perlu diketahui, saya menyebutkan demikian berdasarkan artikel pengembang Sway tersebut. Di luar itu, sebenarnya Intel dan AMD tidak kalah bermasalahnya dengan NVIDIA dalam perkara hardware. Lihatlah kecaman dan peringatan di situs Libreboot Project. Tidak kalah bermasalah lagi Broadcom yang juga dikutuk dalam tulisan dia dan pernah saya singgung berulang kali di Restava ini. Saudara sekalian, saya harap Anda bisa lebih menghargai pentingnya sertifikasi RYF dan proyek-proyek semisalnya. Saya harap Anda lebih menghargai pentingnya https://h-node.org dan hardware yang bebas bagi para pembelinya.

Ayo bantu saya sadarkan teman Anda

Bantulah saya memahamkan perkara ini kepada teman-teman Anda. Kita perlu memberikan pengertian agar informasi yang mereka terima itu benar dan keputusan yang diambil tidak salah alamat. Jangan sampai ada salah tuduh lagi. Jangan sampai ada korban lagi. Bila Anda pengguna NVIDIA, di antara hal yang bisa Anda lakukan sebagai pembeli tentu menulis surat ke NVIDIA untuk meminta hak Anda. Itu hak Anda dan hanya NVIDIA yang punya tanggung jawab menunaikannya. Kami komunitas GNU/Linux tidak bertanggung jawab atasnya. Tolong bantu saya sebarkan kesadaran ini ke orang lain. Terima kasih.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Mematuhi Lisensi Nonfree Software Itu Antisosial

Bismillahirrahmanirrahim.

Banyak orang tidak tahu bahwa menepati perjanjian proprietary software itu juga salah, sama salahnya dengan melanggar perjanjian tersebut. Perhatikan baik-baik, melanggar perjanjiannya berarti mengkhianati satu orang, dan itu salah; akan tetapi mematuhi perjanjiannya berarti mengkhianati lebih banyak orang dan itu juga salah. Jangan dikira kebalikan dari melanggar lisensi proprietary software berarti benar, karena, inti lisensi proprietary software itu antisosial. Saya selalu menjelaskan perkara ini dalam banyak kesempatan di sekolah online Teknoplasma dan selalu saya ulangi kembali di beberapa tulisan saya agar semua orang tahu. Semoga dengan tulisan ini saudara-saudara yang masih belum mengerti menjadi mengerti bahwa mematuhi lisensi nonfree software itu sesuatu yang tidak bisa diterima.

Memilih antara Melanggar Janji atau Menolak Semua Orang

Orang-orang yang sudah mengetahui bahwa melanggar perjanjian itu salah telah mengetahui dengan benar. Ya, melanggar janji itu salah. Akan tetapi, berhenti di situ saja kurang, sebab harus Anda bedakan nonfree software dan free software, jangan dipersamakan karena keduanya berbeda. Nonfree itu antisosial, sedangkan free software menunaikan hak pengguna dan masyarakatnya. Maka Anda perlu menganalisis apa inti perjanjiannya dan apa akibat dari mematuhi perjanjian itu, jangan cuma pelanggaran janjinya. Bila Anda sudah bisa mengatakan pelanggaran perjanjian itu salah, maka Anda akan bisa mengatakan penepatan perjanjiannya juga salah, dengan syarat Anda tahu hakikat lisensinya. Baca terus.

Contoh Kasus

Ada banyak orang beralasan memakai Microsoft Office yang dilanggar perjanjiannya (dengan cara menyalin dari orang lain, atau minta diubahkan batasannya) itu salah karena itu melanggar perjanjian yang telah disepakati pengguna itu sendiri. Alasan ini benar. Ya, melanggar perjanjian itu salah. Sekolah dan semua bentuk pendidikan tidak boleh mengajarkan perbuatan ini.

Namun masalah muncul ketika orang yang sama beralasan untuk kasus sebaliknya. Mereka beralasan memakai Microsoft Office, WPS, Photoshop, CorelDRAW, itu tidak salah asalkan pengguna mematuhi perjanjiannya. Alasan ini tidak benar, alasan ini tidak bisa diterima sebab mematuhi perjanjiannya itu juga salah karena nonfree software itu antisosial. Anda hanya bisa mengatakan tidak salah seperti itu jika software itu free. Sekolah dan semua bentuk pendidikan seharusnya tidak boleh juga mengajarkan perbuatan ini.

Tampak pada dua kasus di atas orang yang beralasan seperti itu tidak tahu bedanya nonfree dan free software. Orang tersebut mempersamakan software yang melarang berbagi dengan yang mengizinkan berbagi. Seperti melihat gunung sebagai lembah dan melihat lembah sebagai gunung.

Lisensi

Tahukah Anda lisensi nonfree software? Lisensi, surat kontrak atau surat perjanjian, adalah surat izin yang dikeluarkan oleh pengembang software kepada pengguna software. Tiap-tiap pengguna nonfree software normalnya sudah menandatangani surat itu secara otomatis ketika memasangnya atau menerima komputer berisinya. Nonfree software berarti tidak bebas, atau proprietary, bukan berarti tidak gratis (“berbayar”). Jangan artikan nonfree software itu tidak gratis, tetapi artikan yang benar tidak bebas. Disebut tidak bebas karena sungguh penggunanya tidak bebas, keputusan pengguna dikekang oleh pengembang. Lisensi seperti lisensinya Microsoft Windows mempersyaratkan pengguna untuk tidak berbagi dan tidak mengubah programnya, dua hak mendasar yang menjadi basis aktivitas sosial bermasyarakat bagi setiap orang.

Hakikat Lisensi Nonfree Software

Sebelum melihat perbandingan dua kemungkinan, Anda harus lihat apa inti lisensi nonfree software. Inti dari tiap-tiap lisensi nonfree software itu ucapan janji pengguna yang antisosial: “saya berjanji tidak akan menolong orang lain semuanya demi memperoleh software untuk diri saya sendiri“. Konsekuensi perjanjian ini Anda harus mengatakan “tidak, saya sudah berjanji tidak membantu kamu” ke semua orang yang minta salinan program atau minta versi perubahan program dari Anda (dan kebalikannya, Anda juga tidak boleh minta dari orang lain) padahal Anda sanggup menolongnya. Dengan perjanjian nonfree software, Anda berjanji untuk tidak menolong tetangga, keluarga, saudara, teman, suami atau istri, pelanggan, atasan dan bawahan, guru dan murid, masyarakat dan pemerintah, negara dan bangsa, semua orang kecuali pengembangnya saja. Ini antisosial. Software yang menghentikan Anda dari berbagi adalah antisosial, anti-masyarakat. Ini yang banyak orang tidak tahu dan sering kalinya disebabkan karena tidak mengetahui apa sebenarnya inti lisensi-lisensi tersebut. Kebanyakan mereka hanya berasumsi yang tidak benar yaitu menganggap nonfree itu free software.

Membandingkan Dua Kemungkinan

Sekarang karena Anda sudah tahu apa inti lisensi nonfree software, maka Anda bandingkan dua kemungkinan perilaku pengguna yaitu melanggarnya dan mematuhinya. Akan tampak kebenarannya sebagai berikut:

  • Melanggar perjanjiannya = Anda berbagi software = Anda mengkhianati satu orang yaitu pengembangnya saja = mengkhianati satu orang itu salah
  • Mematuhi perjanjiannya = Anda menolak berbagi = Anda mengkhianati lebih banyak orang yaitu semua orang selain pengembangnya = mengkhianati lebih dari satu orang juga salah

Lihat. Jelas sudah bahwa melanggar perjanjiannya salah, mematuhinya juga salah. Bahkan, Anda bisa melihat lebih jelas bahwa mematuhinya justru lebih besar salahnya karena lebih banyak orang yang disakiti dengannya.

Mengapa Masyarakat Memilih Melanggar?

Sering muncul pertanyaan yang berbunyi “mengapa mayoritas orang memilih untuk melanggar lisensi software?”. Tanpa Anda mengetahui penjelasan seperti di atas, Anda akan sulit menjawabnya. Namun karena Anda sudah tahu sekarang, maka Anda akan mudah sekali menjawabnya: itu karena hati nurani orang-orang sebetulnya paham kalau dua kemungkinannya sama-sama salah, tetapi berbuat salah kepada semua orang lebih jahat daripada berbuat salah kepada satu orang pengembangnya saja, maka mereka memutuskan berbagi saja (terjebak jatuh pada pelanggaran janji). Intinya, Anda paham lebih jelas lagi kalau mematuhi lisensi nonfree software itu lebih salah daripada kesalahan melanggarnya saja. Tidak bisa lagi Anda mengatakan mematuhi lisensi nonfree software itu OK.

Kesalahpahaman Menjadi Jelas

Di antara sebab kekeliruan dalam masalah perjanjian software ini adalah karena kebanyakan orang salah menganggap nonfree software itu free software. Yang benar adalah tidak sama, nonfree software itu nonfree, tidak sama dengan free software. Mengapa orang bisa salah paham? Ya, karena mereka berperilaku terhadap nonfree software (seperti Windows dan Photoshop) dengan membagikan salinan-salinannya baik dengan atau tanpa perubahan baik dengan atau tanpa biaya. Perilaku demikian adalah bukti bahwa orang menganggap nonfree software tersebut free, yaitu bebas untuk dibagikan dan bebas diubah. Ini salah karena nonfree software tersebut tidak bebas, mereka melarang pengguna berbagi dan mengubahnya. Software yang melarang Anda membagikan dan mengubahnya adalah tidak bebas. Kesalahan ini terjadi pada semua sektor perkomputeran di masyarakat kita akibat tidak adanya penjelasan bedanya nonfree dari free software. Maka jelaslah adanya kesalahpahaman umum yaitu gagalnya orang membedakan nonfree dan free software.

Nonfree Software Itu Masalah

Maka jelas bahwa nonfree software itu tidak bisa diterima oleh semua orang karena merupakan masalah sosial serius. Nonfree software itu memecah belah masyarakat (“keep them divided”) dan membuat masyarakat tidak berdaya (“make them helpless”). Pecah belah karena orang tidak boleh berbagi, tidak berdaya karena orang tidak boleh mengubah. Tiap-tiap pengguna nonfree software selalu dalam posisi tidak berdaya. Maka nonfree software itu bukan solusi, tetapi sumber masalah, karena dia antisosial anti-masyarakat. Menepati perjanjiannya membuat Anda antisosial, sedangkan melanggar perjanjiannya membuat Anda bersalah. Tidak ada yang benar. Maka sekarang Anda tahu kalau nonfree software itu bukan kawan Anda.

Solusinya Juga Jelas

Solusinya adalah tidak menerima nonfree software. Jelas sekali.

Anda perlu menolak tiap-tiap nonfree software yang ditawarkan dan tidak menerima perjanjiannya sebelum Anda berjanji. Anda perlu menghapus tiap-tiap nonfree software (seperti Microsoft Office dan Google Chrome) yang Anda gunakan. Di lain pihak, tiap-tiap pengembang nonfree software termasuk pembuat hardware semacam Nvidia harus merilis ulang setiap produk mereka sebagai free software. Jika tidak, mereka mendistribusikan software antisosial yang merugikan masyarakat.

Solusinya tidak berhenti di situ. Kebanyakan orang tidak tahu kalau selain nonfree software, ada free software, satu golongan software yang tidaklah proprietary yang memberi pengguna hak penuh untuk berbagi dan mengubahnya. Tidak seperti nonfree software, tiap-tiap free software bebas digunakan tanpa batas waktu dan tanpa batas bidang apa pun. Maka dengan free software inilah baru Anda bisa berperilaku seperti hidup Anda biasanya yaitu saling berbagi software dengan orang lain. Maka solusinya juga jelas, Anda perlu menggantikan nonfree software yang Anda tolak dengan free software yang ada. Dengan demikian perkomputeran Anda bersih dari software yang antisosial anti-masyarakat.

Maka gunakan sistem operasi GNU/Linux yang free, seperti Trisquel, sebagai ganti sistem operasi Windows yang nonfree. Maka gunakan program LibreOffice dan Inkscape yang free, sebagai ganti program Microsoft Office dan CorelDRAW yang nonfree. Maka ajarkan mahasiswa Anda Scilab yang free, jangan ajarkan MATLAB yang nonfree. Seterusnya Anda bisa lihat rekomendasi free software dari situs The Directory untuk pengguna Windows juga untuk pengguna macOS.

Di dalam meraih jalan keluar ini Anda akan mengalami kesulitan dan hambatan. Anda tidak akan bisa bermigrasi secara sempurna pada awalnya, melainkan pasti ada kekurangan-kekurangan. Misalnya, masih pakai Windows tetapi sudah berupaya memakai LibreOffice tanpa Microsoft Office, itu sudah bagus dan kemajuan besar (dengan tetap berniat beralih ke GNU/Linux mengingat Windows itu spyware permanen). Maka Anda perlu berniat yang kuat untuk beralih dan terus menjaga dan menyempurnakan kebaikan yang sudah Anda dapatkan. Jangan rendahkan teman yang belum sanggup beralih total sebab posisi mereka sedang dizalimi nonfree software, mereka itu korban bukan pelaku kejahatan, maka bantulah dan dukunglah mereka. Teruskanlah berbagi free software dan free OS ke semua orang.

Beruntungnya Pengguna GNU/Linux

Alhamdulillah, dengan pemaparan di atas, seharusnya kini Anda bisa lebih mensyukuri adanya GNU/Linux semacam Trisquel OS, yang memberi penggunanya puluhan ribu free software yang memenuhi semua kebutuhan perkomputeran yang ada di dunia saat ini. Semua software tidak bebas yang Anda temui di Windows sudah ada penggantinya di GNU/Linux. Dengan kata lain, pengguna GNU/Linux secara umum bersih dari perangkat lunak yang antisosial anti-masyarakat, hak-haknya ditunaikan secara sempurna dan mereka tidak dizalimi oleh pengembang mana pun. Ditambah lagi, betapa tenang hidup pengguna GNU/Linux, yang tidak pernah terkena virus atau malware lainnya, dan tidak butuh antivirus. Betapa beruntung. Semoga tulisan pendek ini mencerahkan dan memberi Anda semua jalan keluar.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Format Dokumen Antisosial

Bismillahirrahmanirrahim.

Nonfree software itu antisosial. Artinya, surat perjanjiannya (lisensinya) mempersyaratkan Anda untuk tidak menolong semua orang. Apabila nonfree software tersebut memiliki format dokumen, maka format dokumen itu juga antisosial, sebab dia perantara menuju software yang antisosial. Format dokumen antisosial itulah yang mengunci orang sehingga gagal beralih ke GNU/Linux dan Free Software. Itu rahasianya. Format dokumen Microsoft Office adalah antisosial. Format Photoshop dan CorelDRAW juga antisosial. Format dokumen antisosial “memborgol” penggunanya agar kecanduan software tersebut dan tidak bisa beralih ke software yang lain. Ini jelek. Format dokumen antisosial disebut antisosial karena dia memperbanyak dan menyebarluaskan kejelekan itu: memaksa orang lain untuk berbuat antisosial yang sama. Ini anti-masyarakat. Anda sepatutnya tidak berpartisipasi dalam penyebaran format dokumen antisosial sedikit pun.

Seandainya format dokumen itu free (yakni, tidak antisosial, tidak “memborgol”), mestinya dia akan mendukung kompatibilitas dengan masyarakat dan software lain. Format yang free (bebas dari antisosial) mengizinkan semua orang untuk saling bertukar dokumen tanpa mengorbankan haknya sebagai pengguna (tidak dipaksa memakai proprietary software). Contoh format yang free bukanlah formatnya Microsoft Office, atau Photoshop, atau CorelDRAW; melainkan formatnya LibreOffice (ODT, ODS, ODP) dan formatnya GIMP (XCF) dan formatnya Inkscape (SVG). Memasyarakatkan format-format ini akan juga memasyarakatkan software-nya yang merupakan free software dan itu kebaikan. Contoh lain yang sangat bagus adalah PDF yang sebenarnya berasal dari pengembang Photoshop. Contoh lain lagi adalah EPS, format gambar vektor terpopuler, itu juga dari Adobe dan format ini free. Anehnya PDF dan EPS itu format yang free, tapi PSD tidak. Saya merekomendasikan format-format free ini kepada Anda semua.

Jadi saya harap Anda semuanya bersemangat memakai format-format dokumen yang free dan mengakhiri keberadaan format dokumen antisosial. Akhirilah kebiasaan menyimpan dokumen sebagai DOCX, XLSX, PPTX, PSD, dan CDR. Mulailah kebiasaan baik dan menolong orang lain yaitu simpan dokumen sebagai ODT, ODS, ODP, XCF, dan SVG. Bila Anda ingin mencetak, gunakan PDF. Bila Anda butuh EPS, gunakan EPS. Begitu. Semoga bermanfaat.

Baca lebih banyak mengenai free software dalam bahasa Indonesia di Wiki Pengguna GNU.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Mengenal Snappy, Flatpak, dan AppImage untuk Orang Awam

Bismillahirrahmanirrahim.

Pengguna GNU/Linux yang rajin belajar pada akhirnya akan sering menemukan tiga nama ini akhir-akhir ini: Snappy, Flatpak, dan AppImage. Sebagai contoh, pengguna Ubuntu akan menemukannya dibahas di Berita; pengguna Fedora menemukannya dibahas di Magazine, dan pengguna openSUSE akan menemukannya di publikasi konferensi 2017. Bagi orang awam, ketiga nama ini asing, maka perlu diperkenalkan dengan cara yang mudah. Petunjuk dari saya, ketiga nama ini adalah nama teknologi untuk memudahkan manusia memasang program di sistem operasi GNU/Linux secara universal.

Snappy

Snap, Snaps, Snappy, Snapcraft.io, atau ringkasnya mari disebut Snappy saja ialah metode instalasi program terbaru yang dibuat oleh Canonical (perusahaan pengembang Ubuntu). Dengan Snappy, semua distro GNU/Linux yang berbeda-beda bisa memasang program apa saja dari satu sumber yang sama dengan perintah atau antarmuka yang sama juga (mari kita sebut “universal”). Syaratnya, pada distro yang Anda pakai, harus ada program snapd terpasang dan Anda bisa menyambung ke https://snapcraft.io selaku repositorinya.

Distro yang sudah otomatis mendukung Snappy ialah Ubuntu. Distro lain butuh pemasangan dahulu.

Cara pengguna memperoleh software: pastikan snapd ada di sistem operasi, gunakan perintah snap, unduh programnya dari snapcraft.io dan pasang ke sistem.

Flatpak

Flatpak, Flatpaks, xdg-apps, atau ringkasnya mari disebut Flatpak saja ialah metode instalasi program terbaru yang dibuat oleh GNOME Project bersama Fedora Project. Dengan Flatpak, semua distro GNU/Linux yang berbeda-beda bisa memasang program apa saja dari satu sumber yang sama dengan perintah atau antarmuka yang sama juga (lagi-lagi perlu disebut “universal”). Syaratnya, pada distro yang Anda pakai, harus ada program flatpak terpasang disertai “runtime” (kumpulan dependensi dasar yang dibutuhkan) dan Anda bisa menyambung ke https://flathub.org selaku repositorinya.

Distro yang sudah otomatis mendukung Flatpak ialah Fedora, Mint, EndlessOS, CentOS 7 GNOME, deepin. Distro lain butuh pemasangan dulu.

Cara pengguna memperoleh software: pastikan flatpak ada di sistem operasi, gunakan perintah flatpak, unduh programnya beserta “runtime” dari flathub.org dan pasang ke sistem.

AppImage

AppImage, AppImages, dulu disebut PortableLinuxApps, atau kita sebut AppImage saja ialah metode instalasi program yang dibuat oleh individu bernama probono (nama aslinya Simon Peter) dari Jerman. AppImage inilah yang diniatkan untuk disandingkan di samping unduhan Windows (.exe) dan Mac OS X (.dmg) yaitu GNU/Linux (.appimage). Dengan AppImage, tiap-tiap pengguna GNU/Linux distro apa saja (sekali lagi, “universal”) mengambil program secara tradisional yaitu dari website resmi tiap-tiap program itu dalam format .appimage kemudian menjalankannya dengan klik-ganda di sistem operasinya. AppImage itu sendiri portabel maka tidak dibutuhkan root maupun instalasi ke dalam sistem. Tidak ada syarat, tidak ada perintah, tidak ada program yang mesti diinstal sebelumnya.

Distro yang sudah otomatis bisa menjalankan AppImage ialah semua distro.

Cara pengguna memperoleh software: tradisional, pengguna mengunduh program dari website tiap-tiap program lalu memberinya hak eksekusi dan menjalankannya.

Bagaimana Untuk Pengembang Hulu?

Apakah Anda pengembang perangkat lunak bebas yang publik yang semacam LibreOffice atau Geany? Dengan kata lain, apakah Anda pengembang hulu (upstream)? Bila iya, apa pun karya Anda, demikian singkatnya perbedaannya:

  • Snappy: [bisa online (CI), bisa offline] pengembang membangun kode sumber program buatannya dengan program snapcraft kemudian mengunggah hasilnya ke snapcraft.io
  • Flatpak: [bisa online (CI), bisa offline] pengembang membangun kode sumber program buatannya dengan program flatpak-builder kemudian mengunggah hasilnya ke flathub.org
  • AppImage: [bisa online (CI), bisa offline] pengembang membangun kode sumber program buatannya dengan program appimagekit kemudian menyediakan unduhan .appimage di situs resminya masing-masing

Catatan

Yang mana dari ketiganya yang aman bagi Free Software Movement? Yaitu, lebih memungkinkan bersih dari perangkat lunak tidak bebas (“proprietary software”) dan dipergunakan oleh proyek Free Software sungguhan? Asumsikan tidak ada masalah perlisensian antara ketiganya. Jawaban saya AppImage. Alasan saya karena sifat terdistribusi (tidak tersentralisasi) dan ketiadaan syarat di sisi pengguna memberi pengembang kendali penuh agar tidak mencampuradukkan karyanya bersama perangkat lunak tidak bebas. Buktinya proyek LibreOffice, Krita, dan Kdenlive, tiga contoh proyek Free Software besar, telah menyediakan versi resmi mereka dalam AppImage. Kontras dengan itu, Anda bisa lihat betapa Snapcraft.io dan Flathub campur aduk dengan perangkat lunak tidak bebas; pemula akan sangat sulit membedakannya.

Pranala Lanjutan


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.