Mematuhi Lisensi Nonfree Software Itu Antisosial

Bismillahirrahmanirrahim.

Banyak orang tidak tahu bahwa menepati perjanjian proprietary software itu juga salah, sama salahnya dengan melanggar perjanjian tersebut. Perhatikan baik-baik, melanggar perjanjiannya berarti mengkhianati satu orang, dan itu salah; akan tetapi mematuhi perjanjiannya berarti mengkhianati lebih banyak orang dan itu juga salah. Jangan dikira kebalikan dari melanggar lisensi proprietary software berarti benar, karena, inti lisensi proprietary software itu antisosial. Saya selalu menjelaskan perkara ini dalam banyak kesempatan di sekolah online Teknoplasma dan selalu saya ulangi kembali di beberapa tulisan saya agar semua orang tahu. Semoga dengan tulisan ini saudara-saudara yang masih belum mengerti menjadi mengerti bahwa mematuhi lisensi nonfree software itu sesuatu yang tidak bisa diterima.

Memilih antara Melanggar Janji atau Menolak Semua Orang

Orang-orang yang sudah mengetahui bahwa melanggar perjanjian itu salah telah mengetahui dengan benar. Ya, melanggar janji itu salah. Akan tetapi, berhenti di situ saja kurang, sebab harus Anda bedakan nonfree software dan free software, jangan dipersamakan karena keduanya berbeda. Nonfree itu antisosial, sedangkan free software menunaikan hak pengguna dan masyarakatnya. Maka Anda perlu menganalisis apa inti perjanjiannya dan apa akibat dari mematuhi perjanjian itu, jangan cuma pelanggaran janjinya. Bila Anda sudah bisa mengatakan pelanggaran perjanjian itu salah, maka Anda akan bisa mengatakan penepatan perjanjiannya juga salah, dengan syarat Anda tahu hakikat lisensinya. Baca terus.

Contoh Kasus

Ada banyak orang beralasan memakai Microsoft Office yang dilanggar perjanjiannya (dengan cara menyalin dari orang lain, atau minta diubahkan batasannya) itu salah karena itu melanggar perjanjian yang telah disepakati pengguna itu sendiri. Alasan ini benar. Ya, melanggar perjanjian itu salah. Sekolah dan semua bentuk pendidikan tidak boleh mengajarkan perbuatan ini.

Namun masalah muncul ketika orang yang sama beralasan untuk kasus sebaliknya. Mereka beralasan memakai Microsoft Office, WPS, Photoshop, CorelDRAW, itu tidak salah asalkan pengguna mematuhi perjanjiannya. Alasan ini tidak benar, alasan ini tidak bisa diterima sebab mematuhi perjanjiannya itu juga salah karena nonfree software itu antisosial. Anda hanya bisa mengatakan tidak salah seperti itu jika software itu free. Sekolah dan semua bentuk pendidikan seharusnya tidak boleh juga mengajarkan perbuatan ini.

Tampak pada dua kasus di atas orang yang beralasan seperti itu tidak tahu bedanya nonfree dan free software. Orang tersebut mempersamakan software yang melarang berbagi dengan yang mengizinkan berbagi. Seperti melihat gunung sebagai lembah dan melihat lembah sebagai gunung.

Lisensi

Tahukah Anda lisensi nonfree software? Lisensi, surat kontrak atau surat perjanjian, adalah surat izin yang dikeluarkan oleh pengembang software kepada pengguna software. Tiap-tiap pengguna nonfree software normalnya sudah menandatangani surat itu secara otomatis ketika memasangnya atau menerima komputer berisinya. Nonfree software berarti tidak bebas, atau proprietary, bukan berarti tidak gratis (“berbayar”). Jangan artikan nonfree software itu tidak gratis, tetapi artikan yang benar tidak bebas. Disebut tidak bebas karena sungguh penggunanya tidak bebas, keputusan pengguna dikekang oleh pengembang. Lisensi seperti lisensinya Microsoft Windows mempersyaratkan pengguna untuk tidak berbagi dan tidak mengubah programnya, dua hak mendasar yang menjadi basis aktivitas sosial bermasyarakat bagi setiap orang.

Hakikat Lisensi Nonfree Software

Sebelum melihat perbandingan dua kemungkinan, Anda harus lihat apa inti lisensi nonfree software. Inti dari tiap-tiap lisensi nonfree software itu ucapan janji pengguna yang antisosial: “saya berjanji tidak akan menolong orang lain semuanya demi memperoleh software untuk diri saya sendiri“. Konsekuensi perjanjian ini Anda harus mengatakan “tidak, saya sudah berjanji tidak membantu kamu” ke semua orang yang minta salinan program atau minta versi perubahan program dari Anda (dan kebalikannya, Anda juga tidak boleh minta dari orang lain) padahal Anda sanggup menolongnya. Dengan perjanjian nonfree software, Anda berjanji untuk tidak menolong tetangga, keluarga, saudara, teman, suami atau istri, pelanggan, atasan dan bawahan, guru dan murid, masyarakat dan pemerintah, negara dan bangsa, semua orang kecuali pengembangnya saja. Ini antisosial. Software yang menghentikan Anda dari berbagi adalah antisosial, anti-masyarakat. Ini yang banyak orang tidak tahu dan sering kalinya disebabkan karena tidak mengetahui apa sebenarnya inti lisensi-lisensi tersebut. Kebanyakan mereka hanya berasumsi yang tidak benar yaitu menganggap nonfree itu free software.

Membandingkan Dua Kemungkinan

Sekarang karena Anda sudah tahu apa inti lisensi nonfree software, maka Anda bandingkan dua kemungkinan perilaku pengguna yaitu melanggarnya dan mematuhinya. Akan tampak kebenarannya sebagai berikut:

  • Melanggar perjanjiannya = Anda berbagi software = Anda mengkhianati satu orang yaitu pengembangnya saja = mengkhianati satu orang itu salah
  • Mematuhi perjanjiannya = Anda menolak berbagi = Anda mengkhianati lebih banyak orang yaitu semua orang selain pengembangnya = mengkhianati lebih dari satu orang juga salah

Lihat. Jelas sudah bahwa melanggar perjanjiannya salah, mematuhinya juga salah. Bahkan, Anda bisa melihat lebih jelas bahwa mematuhinya justru lebih besar salahnya karena lebih banyak orang yang disakiti dengannya.

Mengapa Masyarakat Memilih Melanggar?

Sering muncul pertanyaan yang berbunyi “mengapa mayoritas orang memilih untuk melanggar lisensi software?”. Tanpa Anda mengetahui penjelasan seperti di atas, Anda akan sulit menjawabnya. Namun karena Anda sudah tahu sekarang, maka Anda akan mudah sekali menjawabnya: itu karena hati nurani orang-orang sebetulnya paham kalau dua kemungkinannya sama-sama salah, tetapi berbuat salah kepada semua orang lebih jahat daripada berbuat salah kepada satu orang pengembangnya saja, maka mereka memutuskan berbagi saja (terjebak jatuh pada pelanggaran janji). Intinya, Anda paham lebih jelas lagi kalau mematuhi lisensi nonfree software itu lebih salah daripada kesalahan melanggarnya saja. Tidak bisa lagi Anda mengatakan mematuhi lisensi nonfree software itu OK.

Kesalahpahaman Menjadi Jelas

Di antara sebab kekeliruan dalam masalah perjanjian software ini adalah karena kebanyakan orang salah menganggap nonfree software itu free software. Yang benar adalah tidak sama, nonfree software itu nonfree, tidak sama dengan free software. Mengapa orang bisa salah paham? Ya, karena mereka berperilaku terhadap nonfree software (seperti Windows dan Photoshop) dengan membagikan salinan-salinannya baik dengan atau tanpa perubahan baik dengan atau tanpa biaya. Perilaku demikian adalah bukti bahwa orang menganggap nonfree software tersebut free, yaitu bebas untuk dibagikan dan bebas diubah. Ini salah karena nonfree software tersebut tidak bebas, mereka melarang pengguna berbagi dan mengubahnya. Software yang melarang Anda membagikan dan mengubahnya adalah tidak bebas. Kesalahan ini terjadi pada semua sektor perkomputeran di masyarakat kita akibat tidak adanya penjelasan bedanya nonfree dari free software. Maka jelaslah adanya kesalahpahaman umum yaitu gagalnya orang membedakan nonfree dan free software.

Nonfree Software Itu Masalah

Maka jelas bahwa nonfree software itu tidak bisa diterima oleh semua orang karena merupakan masalah sosial serius. Nonfree software itu memecah belah masyarakat (“keep them divided”) dan membuat masyarakat tidak berdaya (“make them helpless”). Pecah belah karena orang tidak boleh berbagi, tidak berdaya karena orang tidak boleh mengubah. Tiap-tiap pengguna nonfree software selalu dalam posisi tidak berdaya. Maka nonfree software itu bukan solusi, tetapi sumber masalah, karena dia antisosial anti-masyarakat. Menepati perjanjiannya membuat Anda antisosial, sedangkan melanggar perjanjiannya membuat Anda bersalah. Tidak ada yang benar. Maka sekarang Anda tahu kalau nonfree software itu bukan kawan Anda.

Solusinya Juga Jelas

Solusinya adalah tidak menerima nonfree software. Jelas sekali.

Anda perlu menolak tiap-tiap nonfree software yang ditawarkan dan tidak menerima perjanjiannya sebelum Anda berjanji. Anda perlu menghapus tiap-tiap nonfree software (seperti Microsoft Office dan Google Chrome) yang Anda gunakan. Di lain pihak, tiap-tiap pengembang nonfree software termasuk pembuat hardware semacam Nvidia harus merilis ulang setiap produk mereka sebagai free software. Jika tidak, mereka mendistribusikan software antisosial yang merugikan masyarakat.

Solusinya tidak berhenti di situ. Kebanyakan orang tidak tahu kalau selain nonfree software, ada free software, satu golongan software yang tidaklah proprietary yang memberi pengguna hak penuh untuk berbagi dan mengubahnya. Tidak seperti nonfree software, tiap-tiap free software bebas digunakan tanpa batas waktu dan tanpa batas bidang apa pun. Maka dengan free software inilah baru Anda bisa berperilaku seperti hidup Anda biasanya yaitu saling berbagi software dengan orang lain. Maka solusinya juga jelas, Anda perlu menggantikan nonfree software yang Anda tolak dengan free software yang ada. Dengan demikian perkomputeran Anda bersih dari software yang antisosial anti-masyarakat.

Maka gunakan sistem operasi GNU/Linux yang free, seperti Trisquel, sebagai ganti sistem operasi Windows yang nonfree. Maka gunakan program LibreOffice dan Inkscape yang free, sebagai ganti program Microsoft Office dan CorelDRAW yang nonfree. Maka ajarkan mahasiswa Anda Scilab yang free, jangan ajarkan MATLAB yang nonfree. Seterusnya Anda bisa lihat rekomendasi free software dari situs The Directory untuk pengguna Windows juga untuk pengguna macOS.

Di dalam meraih jalan keluar ini Anda akan mengalami kesulitan dan hambatan. Anda tidak akan bisa bermigrasi secara sempurna pada awalnya, melainkan pasti ada kekurangan-kekurangan. Misalnya, masih pakai Windows tetapi sudah berupaya memakai LibreOffice tanpa Microsoft Office, itu sudah bagus dan kemajuan besar (dengan tetap berniat beralih ke GNU/Linux mengingat Windows itu spyware permanen). Maka Anda perlu berniat yang kuat untuk beralih dan terus menjaga dan menyempurnakan kebaikan yang sudah Anda dapatkan. Jangan rendahkan teman yang belum sanggup beralih total sebab posisi mereka sedang dizalimi nonfree software, mereka itu korban bukan pelaku kejahatan, maka bantulah dan dukunglah mereka. Teruskanlah berbagi free software dan free OS ke semua orang.

Beruntungnya Pengguna GNU/Linux

Alhamdulillah, dengan pemaparan di atas, seharusnya kini Anda bisa lebih mensyukuri adanya GNU/Linux semacam Trisquel OS, yang memberi penggunanya puluhan ribu free software yang memenuhi semua kebutuhan perkomputeran yang ada di dunia saat ini. Semua software tidak bebas yang Anda temui di Windows sudah ada penggantinya di GNU/Linux. Dengan kata lain, pengguna GNU/Linux secara umum bersih dari perangkat lunak yang antisosial anti-masyarakat, hak-haknya ditunaikan secara sempurna dan mereka tidak dizalimi oleh pengembang mana pun. Ditambah lagi, betapa tenang hidup pengguna GNU/Linux, yang tidak pernah terkena virus atau malware lainnya, dan tidak butuh antivirus. Betapa beruntung. Semoga tulisan pendek ini mencerahkan dan memberi Anda semua jalan keluar.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Iklan

Format Dokumen Antisosial

Bismillahirrahmanirrahim.

Nonfree software itu antisosial. Artinya, surat perjanjiannya (lisensinya) mempersyaratkan Anda untuk tidak menolong semua orang. Apabila nonfree software tersebut memiliki format dokumen, maka format dokumen itu juga antisosial, sebab dia perantara menuju software yang antisosial. Format dokumen antisosial itulah yang mengunci orang sehingga gagal beralih ke GNU/Linux dan Free Software. Itu rahasianya. Format dokumen Microsoft Office adalah antisosial. Format Photoshop dan CorelDRAW juga antisosial. Format dokumen antisosial “memborgol” penggunanya agar kecanduan software tersebut dan tidak bisa beralih ke software yang lain. Ini jelek. Format dokumen antisosial disebut antisosial karena dia memperbanyak dan menyebarluaskan kejelekan itu: memaksa orang lain untuk berbuat antisosial yang sama. Ini anti-masyarakat. Anda sepatutnya tidak berpartisipasi dalam penyebaran format dokumen antisosial sedikit pun.

Seandainya format dokumen itu free (yakni, tidak antisosial, tidak “memborgol”), mestinya dia akan mendukung kompatibilitas dengan masyarakat dan software lain. Format yang free (bebas dari antisosial) mengizinkan semua orang untuk saling bertukar dokumen tanpa mengorbankan haknya sebagai pengguna (tidak dipaksa memakai proprietary software). Contoh format yang free bukanlah formatnya Microsoft Office, atau Photoshop, atau CorelDRAW; melainkan formatnya LibreOffice (ODT, ODS, ODP) dan formatnya GIMP (XCF) dan formatnya Inkscape (SVG). Memasyarakatkan format-format ini akan juga memasyarakatkan software-nya yang merupakan free software dan itu kebaikan. Contoh lain yang sangat bagus adalah PDF yang sebenarnya berasal dari pengembang Photoshop. Contoh lain lagi adalah EPS, format gambar vektor terpopuler, itu juga dari Adobe dan format ini free. Anehnya PDF dan EPS itu format yang free, tapi PSD tidak. Saya merekomendasikan format-format free ini kepada Anda semua.

Jadi saya harap Anda semuanya bersemangat memakai format-format dokumen yang free dan mengakhiri keberadaan format dokumen antisosial. Akhirilah kebiasaan menyimpan dokumen sebagai DOCX, XLSX, PPTX, PSD, dan CDR. Mulailah kebiasaan baik dan menolong orang lain yaitu simpan dokumen sebagai ODT, ODS, ODP, XCF, dan SVG. Bila Anda ingin mencetak, gunakan PDF. Bila Anda butuh EPS, gunakan EPS. Begitu. Semoga bermanfaat.

Baca lebih banyak mengenai free software dalam bahasa Indonesia di Wiki Pengguna GNU.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Mengenal Snappy, Flatpak, dan AppImage untuk Orang Awam

Bismillahirrahmanirrahim.

Pengguna GNU/Linux yang rajin belajar pada akhirnya akan sering menemukan tiga nama ini akhir-akhir ini: Snappy, Flatpak, dan AppImage. Sebagai contoh, pengguna Ubuntu akan menemukannya dibahas di Berita; pengguna Fedora menemukannya dibahas di Magazine, dan pengguna openSUSE akan menemukannya di publikasi konferensi 2017. Bagi orang awam, ketiga nama ini asing, maka perlu diperkenalkan dengan cara yang mudah. Petunjuk dari saya, ketiga nama ini adalah nama teknologi untuk memudahkan manusia memasang program di sistem operasi GNU/Linux secara universal.

Snappy

Snap, Snaps, Snappy, Snapcraft.io, atau ringkasnya mari disebut Snappy saja ialah metode instalasi program terbaru yang dibuat oleh Canonical (perusahaan pengembang Ubuntu). Dengan Snappy, semua distro GNU/Linux yang berbeda-beda bisa memasang program apa saja dari satu sumber yang sama dengan perintah atau antarmuka yang sama juga (mari kita sebut “universal”). Syaratnya, pada distro yang Anda pakai, harus ada program snapd terpasang dan Anda bisa menyambung ke https://snapcraft.io selaku repositorinya.

Distro yang sudah otomatis mendukung Snappy ialah Ubuntu. Distro lain butuh pemasangan dahulu.

Cara pengguna memperoleh software: pastikan snapd ada di sistem operasi, gunakan perintah snap, unduh programnya dari snapcraft.io dan pasang ke sistem.

Flatpak

Flatpak, Flatpaks, xdg-apps, atau ringkasnya mari disebut Flatpak saja ialah metode instalasi program terbaru yang dibuat oleh GNOME Project bersama Fedora Project. Dengan Flatpak, semua distro GNU/Linux yang berbeda-beda bisa memasang program apa saja dari satu sumber yang sama dengan perintah atau antarmuka yang sama juga (lagi-lagi perlu disebut “universal”). Syaratnya, pada distro yang Anda pakai, harus ada program flatpak terpasang disertai “runtime” (kumpulan dependensi dasar yang dibutuhkan) dan Anda bisa menyambung ke https://flathub.org selaku repositorinya.

Distro yang sudah otomatis mendukung Flatpak ialah Fedora, Mint, EndlessOS, CentOS 7 GNOME, deepin. Distro lain butuh pemasangan dulu.

Cara pengguna memperoleh software: pastikan flatpak ada di sistem operasi, gunakan perintah flatpak, unduh programnya beserta “runtime” dari flathub.org dan pasang ke sistem.

AppImage

AppImage, AppImages, dulu disebut PortableLinuxApps, atau kita sebut AppImage saja ialah metode instalasi program yang dibuat oleh individu bernama probono (nama aslinya Simon Peter) dari Jerman. AppImage inilah yang diniatkan untuk disandingkan di samping unduhan Windows (.exe) dan Mac OS X (.dmg) yaitu GNU/Linux (.appimage). Dengan AppImage, tiap-tiap pengguna GNU/Linux distro apa saja (sekali lagi, “universal”) mengambil program secara tradisional yaitu dari website resmi tiap-tiap program itu dalam format .appimage kemudian menjalankannya dengan klik-ganda di sistem operasinya. AppImage itu sendiri portabel maka tidak dibutuhkan root maupun instalasi ke dalam sistem. Tidak ada syarat, tidak ada perintah, tidak ada program yang mesti diinstal sebelumnya.

Distro yang sudah otomatis bisa menjalankan AppImage ialah semua distro.

Cara pengguna memperoleh software: tradisional, pengguna mengunduh program dari website tiap-tiap program lalu memberinya hak eksekusi dan menjalankannya.

Bagaimana Untuk Pengembang Hulu?

Apakah Anda pengembang perangkat lunak bebas yang publik yang semacam LibreOffice atau Geany? Dengan kata lain, apakah Anda pengembang hulu (upstream)? Bila iya, apa pun karya Anda, demikian singkatnya perbedaannya:

  • Snappy: [bisa online (CI), bisa offline] pengembang membangun kode sumber program buatannya dengan program snapcraft kemudian mengunggah hasilnya ke snapcraft.io
  • Flatpak: [bisa online (CI), bisa offline] pengembang membangun kode sumber program buatannya dengan program flatpak-builder kemudian mengunggah hasilnya ke flathub.org
  • AppImage: [bisa online (CI), bisa offline] pengembang membangun kode sumber program buatannya dengan program appimagekit kemudian menyediakan unduhan .appimage di situs resminya masing-masing

Catatan

Yang mana dari ketiganya yang aman bagi Free Software Movement? Yaitu, lebih memungkinkan bersih dari perangkat lunak tidak bebas (“proprietary software”) dan dipergunakan oleh proyek Free Software sungguhan? Asumsikan tidak ada masalah perlisensian antara ketiganya. Jawaban saya AppImage. Alasan saya karena sifat terdistribusi (tidak tersentralisasi) dan ketiadaan syarat di sisi pengguna memberi pengembang kendali penuh agar tidak mencampuradukkan karyanya bersama perangkat lunak tidak bebas. Buktinya proyek LibreOffice, Krita, dan Kdenlive, tiga contoh proyek Free Software besar, telah menyediakan versi resmi mereka dalam AppImage. Kontras dengan itu, Anda bisa lihat betapa Snapcraft.io dan Flathub campur aduk dengan perangkat lunak tidak bebas; pemula akan sangat sulit membedakannya.

Pranala Lanjutan


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Membedakan Free Software dari Nonfree Software

Bismillahirrahmanirrahim.

Akhir-akhir ini di dalam kuliah online yang saya adakan, saya makin sering mengucapkan kaidah umum yang saya ambil dari paragraf pertama teks lisensi GNU GPL v3:

Mayoritas software di dunia ini adalah tidak bebas (nonfree)

Mayoritas orang mengira semua software itu bebas (free)

Makin lama makin saya bisa menilai kalau kaidah ini tepat dan penting sekali. Orang awam bisa lebih gampang mencerna pengajaran perangkat lunak bebas dengan memegang kaidah ini. Tiap-tiap orang itu lebih mudah memahami bahwa perangkat lunak tidak bebas itu dikendalikan oleh pengembangnya, bukan oleh pengguna; jadi bertentangan dengan yang mereka yakini selama ini. Mereka juga lebih mudah menerima bahwa perangkat lunak tidak bebas itu tidak adil dan meniadakan hak-hak pengguna apabila mereka paham kaidah ini.

Perkara-perkara lain yang selanjutnya akan senantiasa kembali ke sini. Maka membedakan free dan nonfree software itu mendasar pentingnya bagi tiap-tiap orang karena perkomputeran Anda hanya dikendalikan oleh Anda apabila software itu free.

Pengetahuan Umum

Berdasarkan kaidah umum di atas, mudah sekali saya terangkan bahwa kebanyakan program komputer yang dikenal masyarakat itu tidak bebas:

  • Microsoft Windows itu tidak bebas, dikendalikan oleh pengembangnya bukan oleh penggunanya
  • MS Office, Photoshop, CorelDRAW, Flash Player, Google Chrome itu tidak bebas juga, bertentangan dengan sangkaan penggunanya yang mengira mereka semua bebas
  • WhatsApp, Skype, AutoCAD, 3D Studio Max, Sony Vegas, CCleaner, itu juga tidak bebas, bukanlah merupakan sarana atau fasilitas, bertentangan dengan sangkaan penggunanya
  • Lihat masalahnya: kebanyakan orang menyangka program-program tersebut ialah perangkat lunak bebas: pengguna mengontrol program dan tidak sebaliknya. Sangkaan ini keliru karena ternyata mereka semua tidak bebas.

Dengan demikian orang awam punya pengetahuan umum yang pertama yaitu kebanyakan program di komputer mereka sendiri adalah tidak bebas. Yang paling jelasnya harus mereka tahu kalau Windows mereka itu tidak bebas, bukan seperti yang mereka yakini selama ini.

Bukan Harga, Tetapi Hak

Free dan nonfree software itu bukan berarti gratis dan tidak-gratis tetapi bebas dan tidak-bebas. Pembahasan ini tidak ada hubungannya dengan harga, melainkan dengan hak pengguna. Software yang gratis belaka tidak dapat menunaikan hak pengguna. Kebanyakannya, software yang gratis belaka justru merampas hak pengguna tanpa sepengetahuannya apabila dia tidak bebas. Sebaliknya, software yang bebas menunaikan hak pengguna, tidak peduli berapa pun harganya. Maka sungguh pembahasan ini adalah tentang hak pengguna (kebebasan atas program) bukan harga.

Membedakan Lisensi

Mayoritas surat perjanjian atau surat izin (“lisensi”) yang dicantumkan dalam tiap-tiap software di dunia ini dirancang untuk meniadakan hak Anda untuk berbagi salinan dan mengubah software. Inilah yang disebut tidak bebas atau nonfree atau proprietary: program dikendalikan oleh pengembangnya, bukan oleh penggunanya. Mestinya kalau program itu dikontrol oleh pengguna, maka pengguna bebas membagikan salinan dan mengubah software (seperti yang Anda jalani selama ini); tetapi nyatanya pengguna tidak punya hak itu. Lisensi yang semacam itu disebut lisensi tidak bebas, karena penggunanya tidak bebas. Lisensi semacam itu berkonsekuensi jelek terhadap diri-diri Anda: Anda diharuskan berjanji untuk tidak menolong orang lain demi memperoleh program untuk diri Anda sendiri. Apa contohnya? Contohnya seperti pengetahuan umum di atas, yaitu Anda perlu melihat lisensi-lisensi programnya:

  • Lisensi Windows 10: lihat Section 2. c. Restrictions: Anda dilarang menggandakan, membagikan salinan, dan mengubah program untuk diri sendiri dan orang lain. Ini nonfree.
  • Lisensi MS Office 2016: lihat Section 2. c. Restrictions: Anda dilarang menggandakan, membagikan salinan, dan mengubah program untuk diri sendiri dan orang lain. Ini nonfree.
  • Lisensi MATLAB: lihat bagian 3. LICENSE RESTRICTIONS: Anda dilarang menggandakan, membagikan salinan, dan mengubah program untuk diri sendiri dan orang lain. Ini nonfree.

Program-program lain sesama perangkat lunak tidak bebas tidak berbeda dengan contoh di atas. Itulah nonfree software yang orang sangka free.

Bagaimana kita tahu suatu lisensi itu tidak bebas? Kita tahu apabila kontrol atas program dikurangi atau ditiadakan bagi penggunanya. Lebih terperincinya, apabila terdapat satu saja pelanggaran terhadap empat hak pengguna pada bagian berikut.

Mengenali Perangkat Lunak Bebas

Bagaimana kontrol atas program dipegang sepenuhnya oleh pengguna? Kita tahu yaitu sama dengan kondisi ketika program itu masih dalam kuasa pengembangnya sendiri, yaitu, program memberi penggunanya 4 kebebasan secara sempurna:

  • bebas menjalankan program untuk tujuan apa pun tanpa batas
  • bebas mempelajari cara kerja program, dan mengubahnya (kode sumber program harus ada bagi pengguna untuk ini)
  • bebas mendistribusikan salinan program
  • bebas mendistribusikan versi perubahan program (kode sumber program harus ada bagi pengguna untuk ini)

[baca definisi resmi yang asli di situs FSF]

Dengan dua kebebasan pertama, pengguna secara individu memegang kontrol atas program. Dengan dua kebebasan kedua, pengguna secara kolektif memegang kontrol atas program. Dengan keempat kebebasan itu secara sempurna, pengguna memegang kendali penuh atas program dan pengembang tidak bisa berbuat tidak adil kepada pengguna dan perkomputerannya.

Tiap-tiap program yang dibuat oleh programer memberi programernya 4 kebebasan itu maka itulah perangkat lunak bebas bagi si programer. Selama suatu program yang Anda terima itu memberi Anda 4 hal itu juga, maka itu bebas bagi Anda penggunanya, kebebasan Anda sama dengan kebebasan pengembangnya sebelum program didistribusikan. Apabila salah satu saja hilang, maka itu tidak bebas, Anda kehilangan kontrol atas program dan Anda dikontrol oleh pengembangnya.

Lalu apa contohnya perangkat lunak bebas? Contohnya seperti yang Anda kenali sebagai perangkat lunak bebas yaitu GNU operating system, Linux, KDE, GNOME, GIMP, LibreOffice, Iceweasel, dan lain-lain. Lalu bagaimana mengenali lisensinya? Lisensi perangkat lunak bebas ialah lisensi bebas, sebab membebaskan penggunanya sebagaimana pengembangnya, dan budaya yang berlaku ialah satu surat izin (“lisensi”) yang sama dipakai oleh berbagai software berbeda. Itu budayanya. Jadi untuk mengenali perangkat lunak bebas, Anda hanya perlu melihat nama surat izinnya seperti berikut:

  • GNU OS secara keseluruhan: berlisensi GNU GPLv3, GPLv2, LGPL, AGPL ini semua lisensi bebas, berarti perangkat lunak bebas
  • Linux: berlisensi GNU GPL v2, ini lisensi bebas, berarti perangkat lunak bebas
  • LibreOffice dan Iceweasel dan Icedove: berlisensi Mozilla MPL, ini lisensi bebas, berarti perangkat lunak bebas
  • SQLite: kode sumbernya ada di Public Domain, berarti perangkat lunak bebas

Anda bisa melihat contoh lebih banyak lagi pada sensus perangkat lunak bebas sedunia di FSF Directory Wiki. Tiap-tiap software yang dicantumkan di sana ialah perangkat lunak bebas. Yang tidak bebas tidak akan dicantumkan di sana (atau pasti dihapus apabila ditemukan).

Di Mana Tempatnya

Di mana Anda menemukan perangkat lunak tidak bebas? Ya di komputer Anda, di sekolah-sekolah Anda, di kampus-kampus Anda, di kantor-kantor, di instansi pemerintahan, di tempat publik, dan di mana saja Anda temukan komputer. Mayoritas software di komputer masyarakat kita sekarang itu tidak bebas:

  • Di komputer Anda: Anda temukan Windows, Chrome, IDM, MS Office, dan semua ini tidak bebas, tetapi Anda kira bebas
  • Di sekolah & kampus: Anda temukan Windows, MS Office, Photoshop, CorelDRAW, MATLAB, Multisim, EAGLE dan AutoCAD, 3D Studio Max dan Ulead Studio, Cisco Packet Tracer dan semua ini tidak bebas, tetapi Anda kira bebas
  • Di kantor Anda: Anda temukan Windows atau macOS, Internet Explorer atau Safari, Outlook, MS Office dan WhatsApp, InDesign atau QuarkXPress, ArcGIS dan AutoCAD, yang semua ini tidak bebas tetapi Anda kira bebas

Yang benar, yang sesuai tujuan pendidikan dan keyakinan Anda, seharusnya begini secara berurutan:

  • Di komputer Anda: sistem operasinya GNU/Linux, perambannya Iceweasel (“Firefox”), manajer unduhnya Persepolis, penyunting dokumennya LibreOffice, yang semua itu bebas
  • Di sekolah & kampus: GNU/Linux, LibreOffice, GIMP, Inkscape, Scilab, gEDA, KiCAD, FreeCAD, Blender, Kdenlive, GNS3 yang semua itu bebas
  • Di kantor Anda: GNU/Linux, Iceweasel, Icedove (“Thunderbird”), LibreOffice, Telegram, Scribus, QuantumGIS, FreeCAD yang semua itu bebas

[bebas berarti boleh digandakan, diubah, didistribusikan, dan tanpa batas pemakaian]

Anda perlu tahu kalau vendor-vendor perangkat lunak tidak bebas memanfaatkan sektor pendidikan untuk menanam ketergantungan permanen bagi siswa-siswi kita yang akhirnya bagi seluruh masyarakat. Ini rencana yang jahat. Inilah sebabnya kenapa GNU/Linux seperti tercegat masuk ke masyarakat, karena sektor pendidikan ikut andil dalam mendukung rencana jahat ini yang seharusnya mereka tolak dengan tegas. Sekali lagi kaidah pertama di atas muncul: kebanyakan orang pada sektor pendidikan dan lainnya tidak bisa membedakan mana free mana nonfree software.

Mengajarkan perangkat lunak tidak bebas sama dengan melawan tujuan pendidikan itu sendiri: mengubur kemandirian (sebab tidak boleh mengubah program) dan mematikan solidaritas sosial (sebab tidak boleh berbagi). Praktik pengajarannya pun bisa kita lihat sering kalinya terjebak dalam pelanggaran lisensi, yang dipaksakan oleh nonfree software itu sendiri, yang pada gilirannya sama dengan mengajarkan pelanggaran janji kepada siswa. Lihat pentingnya membedakan mana free mana nonfree sedari awal. Tanpa itu, keputusan-keputusan yang kita ambil merugikan diri-diri kita sendiri.

Jual-Beli Program

Cara lain membedakan free dari nonfree software ialah apakah software itu boleh diperjualbelikan atau tidak. Bila boleh, maka itu free software. Bila tidak boleh, itulah nonfree software: pengguna tidak punya kontrol atas program, termasuk tidak punya hak jual-beli. Perangkat lunak bebas disebut bebas karena penggunanya bebas: kebebasan ketiga dan keempat itu termasuk kebebasan jual-beli program.

Perbandingannya, dengan contoh, jual-beli salinan Microsoft Windows itu dilarang dan pengguna diharuskan setuju untuk tidak berbagi. Menyetujui lisensi Windows (memasangnya) sama dengan berjanji untuk tidak berbagi dengan orang lain. Berarti, hampir semua kegiatan instal ulang Windows di masyarakat jatuh pada pelanggaran lisensi. Kegiatan berbagi software dan memperjualbelikannya itu baik, merupakan tolong-menolong dengan orang lain, tetapi Anda dilarang menolong orang lain apabila software itu tidak bebas. Lagi-lagi ini karena masyarakat mengira Windows (yang nonfree) itu free, padahal sebenarnya nonfree. Lihat betapa pentingnya membedakan mana free dan mana nonfree. Maka ini sama dengan nonfree lain seperti MS Office, IDM, MATLAB, Photoshop, dan lain-lain: memperjualbelikan salinannya & versi perubahannya adalah tidak boleh dan hak Anda untuk menolong orang lain sudah ditiadakan. Ini artinya program tersebut tidak menghormati kebebasan Anda (hak kontrol Anda).

Sebaliknya, jual-beli tiap-tiap free software adalah boleh dan diizinkan. Tiap-tiap lisensi free software, seperti GNU GPL di atas, mengizinkan distribusi salinan & versi perubahan, itu artinya mengizinkan jual-beli. Maka semua free software tanpa pengecualian adalah boleh diperjualbelikan. Oleh karena itulah, seharusnya praktik jual-beli salinan Windows & nonfree software di masyarakat itu diganti semuanya dengan jual-beli GNU/Linux dan free software.

Kode Sumber

Bagi programer, cara mudah mengenali suatu nonfree software ialah tiap-tiap program yang tidak memberi hak akses atas kode sumber untuk penggunanya. Maka otomatis Windows, MS Office, MATLAB, Photoshop adalah tidak bebas: karena walaupun Anda membelinya, Anda tidak menerima hak akses atas kode sumbernya. Intinya Anda tidak bisa mendapatkan kode sumber program. Akibatnya, cara kerja program tidak bisa Anda ketahui dan tidak bisa Anda ubah; baik maupun buruknya, Anda sukai maupun tidak, sedikit maupun banyaknya.

Hak akses atas kode sumber berarti minimal pengguna diberi hak mengakses kode sumber program di tempat lain (di internet misalnya); berbayar maupun gratis, jauh maupun dekat. Bukan berarti pengembang harus mendatangi satu per satu rumah pengguna menyerahkan salinan kode sumber.

Adapun memegang kode sumber semata juga tidak dapat menunaikan hak pengguna: kode sumber itu harus berlisensi bebas (seperti GNU GPL) atau terletak di Public Domain supaya menjadi bebas. Semata-mata kode sumber tanpa lisensi bebas justru menjadikannya nonfree software (maka hati-hatilah dengan istilah “open source”). Ciri kode sumber yang bebas ialah seperti kode sumber GNU, ambil contoh GNU coreutils, di tiap-tiap berkas kode sumber pada baris pertamanya selalu ada pernyataan lisensi bebas + di dalam paket selalu ada berkas berisi teks lisensinya. Pastikan kedua kriteria itu ada untuk menilai suatu paket software itu free.

Lebih Mudah Mengenali

Pemula akan jauh lebih mudah lagi mengenali perangkat lunak bebas dengan memakai sistem operasi 100% bebas (disebut “Libre Distro”). Contoh terbaik yang saya tahu dan saya pakai sendiri ialah Trisquel GNU/Linux.¬†Dengan melihat Trisquel maka orang awam mudah mengidentifikasi free software tanpa perlu meneliti lisensinya satu per satu. Unduh secara gratis di https://www.trisquel.info dan gunakan di PC dan laptop Anda. Tiap-tiap program yang Anda saksikan di dalam Trisquel itu adalah perangkat lunak bebas, tidak ada satu pun yang tidak bebas di dalamnya, dan pasti dihapus oleh pengembang apabila ditemukan. Oleh karena itu bisa dipercaya. Tidak ada distro GNU/Linux lain yang untuk pemula yang 100% bebas yang sebaik Trisquel pada hari ini.

Malware dan Perusakan

Malicious software (“malware”) adalah perangkat lunak mencelakakan. Malware mencakup virus, ransomware, trojan horse, spyware, adware, backdoor, dan DRM. Malware adalah program komputer yang dibuat dengan niat mencelakakan, merugikan, menzalimi pengguna. Satu kaidah lain yang perlu orang ketahui adalah:

perangkat lunak tidak bebas itu sering kalinya malware

mayoritas malware itu adalah perangkat lunak tidak bebas

Apa contohnya? Telah lama terbukti bahwa Microsoft Windows, Apple Mac OS X dan iOS, Adobe Creative Suite (termasuk Photoshop), dan Amazon Swindle adalah malware. Lebih terperincinya, pengembang dengan sengaja menanam backdoor dan spyware (dan di beberapa kasus, trojan horse yang mampu menghapus data) di dalam software yang mereka publikasikan ke pengguna. Windows 8 misalnya, telah menyadap enkripsi hard disk dan tiap-tiap aktivitas pribadi pengguna sejak awal. Bagaimana pula bila Anda tahu Windows telah ditanami backdoor sejak 1999?

Kenapa bisa seperti itu? Kenapa mereka bisa serusak itu? Jawabannya kembali ke kaidah pertama: karena pengguna tidak punya kontrol sama sekali atas program pada komputernya sendiri, maka pengembang berkuasa tanpa batas atas perkomputeran pengguna. Kekuasaan ini tidak adil dan ketidakadilan inilah yang menggoda mereka untuk berbuat ketidakadilan-ketidakadilan lain tersebut: malware. Apabila Anda menerima nonfree software, Anda berserah diri kepada pengembang dan tidak punya daya.

Bagaimana dengan free software? Perangkat lunak bebas berarti program 100% diketahui dan dikendalikan oleh pengguna. Tiap-tiap kesalahan program bisa diketahui, tiap-tiap aktivitas program yang tidak disukai bisa dihentikan, tiap-tiap kekurangan bisa diperbaiki oleh pengguna hanya kalau software itu free. Dengan demikian adalah wajar apabila tidak ada malware di sistem operasi GNU/Linux, di sistem operasi bebas lain, dan di tiap-tiap free software secara umum. Apabila ada, maka cepat atau lambat, tiap-tiap pengguna baik individu maupun kolektif mampu menghapusnya & menyebar perbaikan kepada pengguna lain. Inilah bukti penting hak pengguna yang hanya ditunaikan oleh free software yang sengaja dihilangkan oleh nonfree software.

Apabila Windows tidak aman, itu bukan salah pengguna, apalagi salah komunitas free software, melainkan itu salah pengembangnya yang tidak menunaikan hak penggunanya. Sama juga dengan nonfree software lainnya.

Istilah yang Perlu Diakhiri

Istilah jahat seperti “pembajakan software” atau “software asli” bertujuan sama dengan perangkat lunak tidak bebas: memecah belah masyarakat (dengan melarang berbagi program) dan membuatnya tidak berdaya (dengan melarang mengubah program). Kejahatannya ialah karena ia lebih jahat: ia mengkriminalkan orang yang membantu orang lain dengan menyamakannya dengan perampok kapal & pembunuh yang merampas harta. Istilah seperti ini menipu akal sehat Anda sehingga berpikir tidak jernih: mestinya istilahnya “menggandakan software” kalau perbuatannya memang menggandakan software, bukan “pembajakan”. Maka istilah-istilah propaganda Microsoft dkk. seperti “pembajakan”, “bajakan”, “dibajak”, “ori dan tidak ori”, “counterfeit”, “asli dan palsu” harus diakhiri. Hendaknya Anda tidak ikut berpartisipasi menyebarkan fitnah propaganda ini.

Apa hubungannya dengan pembahasan ini? Hubungannya jelas: free software tidak pernah menuduh penggunanya “pembajak”, yang menuduh seperti itu hanyalah nonfree software dan para pengembangnya. Apabila ada software mempromosikan dirinya “larang & berantas penggandaan software”, maka Anda harus curiga kalau itu nonfree. Free software menunaikan hak & menganjurkan tiap-tiap pengguna untuk menggandakan software.

Penutup

Membedakan antara free dan nonfree software itu perlu. Sering kalinya pekerjaan ini sulit, dan butuh penanganan ahli (lihat FSF Directory Wiki). Terkadang ini mudah dengan adanya distro GNU/Linux semacam Trisquel: pengguna cukup percaya saja dan tidak usah meneliti sendiri. Bagaimanapun, tiap-tiap pengguna komputer berhak mengetahui dan perlu membedakan antara keduanya. Semoga artikel cilik ini mencerahkan dan memberi Anda pengantar untuk terus mempelajari perangkat lunak bebas. Selamat belajar!

Pranala Lanjutan

Buat Anda yang mau belajar lebih lanjut, Anda bisa membaca sumber-sumber berikut. Tanda ID berarti berbahasa Indonesia, tanda EN berbahasa Inggris.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Visual Studio Code Itu Nonfree

Bismillahirrahmanirrahim.

Mayoritas software di dunia ini tidak bebas (nonfree) tapi mayoritas orang mengira software itu bebas (free). Mayoritas orang juga belum mengerti bedanya kode sumber (source code) dengan kode biner (binary code), dua wujud software. Satu kasus terbaru ialah Visual Studio Code yang dirilis oleh Microsoft (lihat reputasinya di FSF dan Techrights) itu nonfree software bukan seperti yang diiklankan di situsnya sebagai free software (mereka istilahkan “open source”). Ini penipuan. Bila Anda unduh VS Code dari situs itu dalam bentuk kode biner (.exe, .deb, .rpm, dsb.) maka Anda unduh nonfree software bukan free software. Jika Anda merasa Anda unduh free software, Anda telah ditipu. Anda hendaknya tidak menggunakannya dan berhati-hati lebih banyak kepadanya. Yang bisa Anda gunakan ialah Visual Studio Code versi kode sumber yang diletakkan di GitHub yang tidak diiklankan di situsnya tersebut. Versi kode sumbernya inilah yang free yang berlisensi MIT.

Bukti

Buktinya termaktub pada 2 lisensi berbeda yang mencakup 2 bentuk: kode biner dan sumbernya. Kode binernya berlisensi nonfree, bisa Anda baca di sini. Adapun kode sumbernya berlisensi free, lisensi MIT, bisa Anda dapatkan di sini.

Bukti bahwa versi kode biner VS Code itu nonfree bisa Anda baca di lisensinya tadi itu di bagian 5. Scope of License. Teks penghapusan hak-hak penggunanya sangat mirip atau sama saja dengan lisensi Windows. Alias, nonfree.

—mulai kutipan—

You may not
  • work around any technical limitations in the software;
  • reverse engineer, decompile or disassemble the software, or otherwise attempt to derive the source code for the software, except and to the extent required by third party licensing terms governing use of certain open source components that may be included in the software;
  • remove, minimize, block or modify any notices of Microsoft or its suppliers in the software;
  • use the software in any way that is against the law;
  • share, publish, rent or lease the software, or provide the software as a stand-alone offering for others to use.

—selesai kutipan—

Tanda teks tebal dari saya.

Privasi?

Tidak ada privasi pada nonfree software. Umumnya orang menyangka software itu free, yaitu taat tunduk patuh kepada pengguna dan orang kira software tidak bisa menyadap informasi pengguna untuk diserahkan ke perusahaan & pemerintahan negara lain. Kalau seperti itu sangkaan Anda, salah, apabila software itu nonfree, benar hanya apabila software itu free. Bacalah Privacy Policy dari VS Code yang nonfree itu dan bersiaplah untuk tidak menyetujuinya. Baca Microsoft bermasalah serius dengan privasi pengguna di Wiki PRIVA.

Solusi

Sebenarnya solusinya sangat mudah: selalu waspadai Microsoft dan perusahaan nonfree sepertinya, selalu puaslah dengan free software yang sudah ada. Apalagi free software yang sudah lama diakui free dan bagus. Bersyukur dengan yang sudah ada dan sabar. Sudah ada Geany, Emacs dan Vim, Eclipse dan Netbeans, bahkan Qt Creator, KDevelop, dan GNOME Builder. Kenapa Anda harus pakai nonfree software? Ditipu pula?

Solusi kedua kalau memang Anda mau pakai VS Code, jangan ambil versi kode binernya dari Microsoft (yang dipromosikan itu), tapi ambil kode binernya yang dibangun dari kode sumber bebasnya. Namanya VSCodium. VSCodium ini dibuat oleh komunitas. Usaha pembersihan ini bagus sekali dan patut kita hargai. Saya masih menunggu apabila ada keterangan dari komunitas perangkat lunak bebas yang menyatakan sebaliknya.

Untuk pihak pengembang VS Code, hendaknya Anda cabut pernyataan “Free, Open Source” di halaman situs unduhan Anda dan tolong jangan menipu pengguna. Sebutkan dengan tegas kalau VS Code Anda itu proprietary software. Atau, sebutkan dengan tegas adanya 2 bentuk (biner dan sumber) sementara yang biner nonfree dan yang sumber yang free. Jangan sesatkan pengguna yang mau unduh perangkat lunak bebas kepada perangkat lunak tidak bebas. Kalau Anda berniat menyebar versi bebas, cabut versi tidak bebas, dan publikasikan hanya versi bebas di situs Anda itu. Mintalah maaf kepada khalayak dan terangkan kalau Anda salah dan Anda menipu mereka.

Semoga ini menyelamatkan dan mencerahkan.

Bacaan Lanjutan


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Tidak Ada “Pembajakan Software” Itu

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya selalu menegaskan bahwa tidak ada yang namanya “pembajakan software” itu di banyak pengajaran online saya di Teknoplasma. Selain itu, saya telah menulis di wiki Notabug saya dengan judul Tidak Benarnya “Memberantas Pembajakan”. Di Restava ini saya juga sudah sering menyinggung mengenai ini, terutama di artikel Jangan Tuding “Pembajak”.¬† Artikel ini saya tulis untuk menegaskan setegas mungkin bahwa istilah “pembajakan” itu bohong.

Istilah “pembajakan software” disebarkan oleh vendor proprietary software terutama Microsoft dan BSA, bukan dari komunitas free software, bukan juga dari komunitas open source, bukan dari komunitas GNU/Linux. Istilah ini dipropagandakan untuk merombak moral kita supaya menilai penggandaan software (istilah kita: sedekah, gotong-royong) adalah kejahatan yang harus dikriminalkan dan dihukum berat. Di mana saja istilah ini diucap, di situ selalu ada permusuhan dan orang yang merasa dihina.

Tujuan akhir istilah “pembajakan” adalah mempersamakan moral antara tindakan menggandakan software (yaitu membantu orang lain) dengan tindakan merampok kapal (yaitu membunuh dan mencuri). Tanpa Anda sadari, kalau Anda terpengaruh istilah ini, Anda akan menilai setiap orang yang menggandakan software itu kriminil. Itulah propagandanya. Itu yang mereka maukan. Dan itu batil, karena orang yang menggandakan software tidak mencuri barang (si software yang disalin tidak hilang), juga tidak membunuh orang (tidak ada yang terbunuh). Sebab propaganda ini adalah mereka vendor-vendor itu mau memaksakan prinsip dasar proprietary kepada kita bahwa pengembang software seharusnya boleh mengambil hak-hak dan wewenang milik pengguna yang bukan haknya (salah satunya: menggandakan software). Apabila Anda menerima propaganda ini, maka sadar atau tidak, Anda pasti akan memberantas free software dan GNU/Linux dan komunitasnya. Istilah yang benar untuk menyebut tindakan menggandakan software adalah ‘penggandaan software’, bukan ‘pembajakan’!

Dengan rasa persaudaraan dan sepenuh hormat, saya mengajak Anda sekalian untuk tidak menerima istilah ini dan mengusirnya. Ubahlah kebiasaan menyebut “software bajakan, kamu melakukan pembajakan” dengan sebutan yang betul “software yang digandakan, kamu melakukan penggandaan”. Bila penggandaan itu merupakan pelanggaran lisensi, maka melanggar lisensi itu salah, dan sebutannya ‘pelanggaran lisensi’ bukan ‘pembajakan’. Ajak teman Anda untuk mengusir istilah jahat ini dari masyarakat kita. Tolong bantu saya ajarkan penjelasan ini ke sekitar Anda.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.