Tidak Ada “Pembajakan Software” Itu

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya selalu menegaskan bahwa tidak ada yang namanya “pembajakan software” itu di banyak pengajaran online saya di Teknoplasma. Selain itu, saya telah menulis di wiki Notabug saya dengan judul Tidak Benarnya “Memberantas Pembajakan”. Di Restava ini saya juga sudah sering menyinggung mengenai ini, terutama di artikel Jangan Tuding “Pembajak”.  Artikel ini saya tulis untuk menegaskan setegas mungkin bahwa istilah “pembajakan” itu bohong.

Istilah “pembajakan software” disebarkan oleh vendor proprietary software terutama Microsoft dan BSA, bukan dari komunitas free software, bukan juga dari komunitas open source, bukan dari komunitas GNU/Linux. Istilah ini dipropagandakan untuk merombak moral kita supaya menilai penggandaan software (istilah kita: sedekah, gotong-royong) adalah kejahatan yang harus dikriminalkan dan dihukum berat. Di mana saja istilah ini diucap, di situ selalu ada permusuhan dan orang yang merasa dihina.

Tujuan akhir istilah “pembajakan” adalah mempersamakan moral antara tindakan menggandakan software (yaitu membantu orang lain) dengan tindakan merampok kapal (yaitu membunuh dan mencuri). Tanpa Anda sadari, kalau Anda terpengaruh istilah ini, Anda akan menilai setiap orang yang menggandakan software itu kriminil. Itulah propagandanya. Itu yang mereka maukan. Dan itu batil, karena orang yang menggandakan software tidak mencuri barang (si software yang disalin tidak hilang), juga tidak membunuh orang (tidak ada yang terbunuh). Sebab propaganda ini adalah mereka vendor-vendor itu mau memaksakan prinsip dasar proprietary kepada kita bahwa pengembang software seharusnya boleh mengambil hak-hak dan wewenang milik pengguna yang bukan haknya (salah satunya: menggandakan software). Apabila Anda menerima propaganda ini, maka sadar atau tidak, Anda pasti akan memberantas free software dan GNU/Linux dan komunitasnya. Istilah yang benar untuk menyebut tindakan menggandakan software adalah ‘penggandaan software’, bukan ‘pembajakan’!

Dengan rasa persaudaraan dan sepenuh hormat, saya mengajak Anda sekalian untuk tidak menerima istilah ini dan mengusirnya. Ubahlah kebiasaan menyebut “software bajakan, kamu melakukan pembajakan” dengan sebutan yang betul “software yang digandakan, kamu melakukan penggandaan”. Bila penggandaan itu merupakan pelanggaran lisensi, maka melanggar lisensi itu salah, dan sebutannya ‘pelanggaran lisensi’ bukan ‘pembajakan’. Ajak teman Anda untuk mengusir istilah jahat ini dari masyarakat kita. Tolong bantu saya ajarkan penjelasan ini ke sekitar Anda.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Iklan

Tidak Hanya Driver, Tetapi Juga Firmware

Bismillahirrahmanirrahim.

Artikel ini adalah cuplikan singkat dari paper yang sedang saya tulis yang rencananya mau saya publikasikan di malsasa.gitlab.io.

Ketika Anda berbicara mengenai GNU/Linux dan perangkat VGA, jangan hanya bicarakan driver, tetapi bicarakan juga firmware. Misalnya merek NVIDIA GeForce, jangan terpaku pada disediakannya driver yang free software, tetapi pastikan firmware perangkat itu free software juga. Percuma saja driver-nya free, tetapi firmware-nya nonfree (proprietary), perangkat itu akan cacat dioperasikan di GNU/Linux. Cacat ini salahnya pembuat perangkat itu, bukan salah GNU/Linux, karena si pembuat perangkat sengaja tidak menyerahkan programnya sepenuhnya kepada Anda. Bila Anda meyakini orang yang membeli barang berhak kuasa (wewenang) sepenuhnya atas barang, maka dalam hal VGA, dua-duanya (driver dan firmware) harus free yaitu diserahkan source code-nya sepenuhnya kepada pembeli. Kalau tidak, berarti si pembuat perangkat VGA sengaja menjual barang cacat kepada Anda.

Kemudian, Anda hendaknya tidak terburu-buru menyalahkan pengembang GNU/Linux apabila perangkat VGA beroperasi secara cacat. Periksa dulu apakah si pembuat perangkat VGA sudah menunaikan hak pembelinya, atau tidak. Menunaikan hak pembeli itu berarti menyerahkan program-programnya (driver dan firmware) secara sempurna dalam bentuk source code dan hak-haknya kepada pengguna. Kalau tidak, dan ini yang selama ini selalu terjadi, maka itu jelas salahnya si pembuat perangkat dan Anda harus meminta hak Anda darinya. Jangan meminta hak Anda dari komunitas GNU/Linux yang tidak mengambilnya dari Anda.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Pakailah LibreOffice di Semua OS

Bismillahirrahmanirrahim.

Penggunaan format dokumen Microsoft Office (MSO) seperti .docx merugikan kita pengguna free software. Langkanya jumlah pengguna mahir LibreOffice itu akibat MSO. Dengan memakai MSO Anda memperkecil komunitas free software, dengan mendukung format dokumennya (docx xlsx pptx) Anda mematikan LibreOffice. Mempromosikan formatnya berarti memaksa orang lain untuk beli MSO + Windows, karena dokumennya hanya bisa dibuka di MSO, dan MSO hanya untuk Windows. Ini merugikan komunitas. Sebaliknya, LibreOffice free software bisa dipasang di Windows dan GNU/Linux, dokumennya (odt ods odp) bisa dibuka di semua OS. Maka stop MSO, stop formatnya, minta dosen Anda beralih ke LibreOffice. Pasanglah LibreOffice di Windows dan GNU/Linux. Unduh LibreOffice gratis di https://libreoffice.org/download.


Artikel ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Upgrading di Ubuntu Artful

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari ini 16 September 2017 saya lakukan apt-get upgrade lagi di Artful saya. Ini makan data 160MB dengan kecepatan rata-rata 300KB/s dari Kambing UI dengan total unduhan 195 biji paket. Sebab upgrade ialah GNOME 3.26 baru rilis kemarin sementara saya sedang menulis artikel GNOME Tweaks 3.25.92 di Ubuntubuzz. Baru bisa nulis malam ini, ternyata 3.26 telah tersedia. Alhamdulillah.

Perhatikan angka 3.26

Artikel ini berlisensi CC BY-SA 3.0.