Upgrade KDE Plasma di Neon OS

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebab saya instal KNotes di Neon 5.10.3 dengan versi KDE Plasma yang sama dengan OS-nya, Neon saya broken fatal sampai tidak bisa mengeksekusi binary semua program KDE (termasuk display manager, Spectacle, bahkan file manager). Neon saya blank screen ketika login. Masalah ini persis seperti sebelumnya jadi saya tahu obatnya cukup sudo apt-get upgrade. Masalahnya, unduhannya mencapai 300MB lebih. Masalah terselesaikan malam ini 21 Juli 2017 setelah sudo apt-get upgrade rampung dan Neon saya sembuh. Kecepatan unduhan sekitar 200-300KB/s memakai @wifi.id dan rampung dalam kisaran waktu 20 menit.

Catatan I: pada upgrade ini Plasma saya masihlah 5.10.3 padahal hari ini sudah dirilis 5.10.4 di repositori Neon User Edition yang saya pakai.

Catatan II: barulah setelah upgrade ini saya melihat versi 5.10.4 tersedia di repo.

Upgrade KDE Plasma Desktop ke 5.9 di GNU/Linux

Bismillahirrahmahirrahim.

Malam ini saya melakukan sudo apt-get upgrade dan sudo apt-get dist-upgrade di sistem operasi Neon 5.8. Kedua upgrade ini memakan bandwidth sekitar 500MB (400MB + 100MB) dan selesai dalam waktu 15 menit. Hasil upgrade sangat baik dan tidak ada error bahkan menghilangkan crash pada KOrganizer yang sempat terjadi malam ini. KDE Plasma saya di Neon ini termutakhirkan ke versi 5.9.1 sekarang, lebih baru satu point dari Plasma 5.9 yang saya ulas Selasa kemarin. Neon adalah sistem operasi GNU/Linux turunan Ubuntu yang dibuat oleh Proyek KDE sebagai showcase setiap ada rilis KDE Plasma terbaru. Baca lebih lanjut

Artikel KDE Setelah Satu Tahun

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya baru saja menerbitkan seri kelima panduan KDE saya. Satu hal yang saya pelajari dari hal ini, adalah kepenulisan itu harus mengutamakan kualitas. Bukan sekadar selesai tulisannya lalu diterbitkan sesegera mungkin. Tulisan harus di-mong (Jawa: pekerjaan merawat bayi) dengan sebaik mungkin walau harus menghabiskan banyak waktu. Saya menulis artikel itu di Texmaker mulai 1 Januari 2014 dan tidak selesai pada 1 Januari 2015. Baru diterbitkan pada 26 Agustus 2015 ini. Sebuah waktu yang panjang untuk satu artikel blog. Saya juga mempelajari bahwa kehidupan kepenulisan tidak akan pernah mulus. Selalu muncul rintangan dan inilah yang membuat saya harus makan satu tahun untuk menyelesaikan tulisan tersebut. Maka pelajaran untuk saya supaya mengantisipasi rintangan-rintangan itu mulai sekarang. Jika Anda juga penulis, perhatikanlah lebih hati-hati lagi tulisan Anda. Kembangkan indra Anda supaya lahir tulisan-tulisan yang memang berkualitas. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Audio Bookmark: Fitur Terbaik Amarok untuk Ta’lim

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya menggunakan Amarok hanya untuk rekaman-rekaman ta’lim (kajian agama). Durasi rekaman bervariasi sekali. Namun, biasanya rekaman berkisar antara 1 jam sampai 3 jam per MP3. Karena di dalam kajian sering sekali ditemukan faedah-faedah penting, maka tepat di saat faedah itu dibacakan, saya bisa menandainya dan memberinya label pada progress bar audionya. Ini dilakukan dengan Audio Bookmark. Setelah itu, saya bisa membuka Bookmark Manager dan melakukan search terhadap seluruh bookmark yang saya buat di seluruh audio di dalam Amarok. Sangat enak, bukan? Saya telah mencari beberapa audio player serupa semisal Audacious, Banshee, Rhythmbox, dan lain-lain. Hanya Amarok dan Banshee yang punya fitur Audio Bookmark (wajar saja karena semua audio player asalnya dibuat untuk musik, bukan ta’lim), tetapi milik Amaroklah yang terbaik untuk belajar. Ya, karena kita bisa membuka dan membaca kembali langsung ke menit:detik tertentu, tidak harus mengulang audio dari awal. Walhamdulillah.

Manhaj

libreoffice-impress42 libreoffice-impress43

Fiqh

Audio Bookmark sangatlah berguna untuk kajian-kajian fiqh. Ya, karena di sini banyak sekali faedah yang mesti ditandai. Misalnya saja penyebutan hukum-hukum, atau dalil-dalil, atau qawa’id, atau faedah lainnya.

libreoffice-impress44

libreoffice-impress46 libreoffice-impress45

Kumpulan Skrinsot KDE 5 Plasma Desktop

Bismillahirrahmanirrahim.

Kumpulan skrinsot ini saya ambil dengan menjalankan Neon*) pada Virtualbox. ISO Neon saya mirror dari situs KDE ke server saya. Untuk membuat posting KDE, tentu saja skrinsotnya tidak boleh sedikit. KDE 5 ini cantik, walau memakai KDE 5 di Neon ini saya tidak sepuas ketika memakai KDE 4.1x.

*) Ternyata, Neon ini berbasis Ubuntu.

snapshot14

snapshot20

snapshot25

snapshot26

snapshot3

snapshot4

snapshot7

snapshot8

snapshot10

Yang paling menarik dari KDE 5 adalah Network Manager baru.

snapshot11

snapshot13

snapshot29

snapshot30

snapshot31

snapshot32

snapshot35

snapshot37

KTorrent, Aplikasi BitTorrent Client di Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Bisa dibilang, saya terlalu jarang menggunakan layanan BitTorrent. Saya selalu mengunduh pakai jalur HTTP biasa. Tentu dengan uGet, Multiget, dan XDMAN. Terakhir kali menggunakan layanan BitTorrent, seingat saya ketika menggunakan Windows di warnet dengan uTorrent. Itu pun terasa tidak memuaskan (kecepatannya) sehingga saya meninggalkannya. Saya hanya gunakan BitTorrent untuk mengunduh ISO Linux. Saya mengunduh itu untuk usaha jual CD/DVD Linux. Kenapa saya kembali kepada BitTorrent? Karena ada testimoni pengguna BitTorrent sendiri yang menyatakan unduhan ISO dengan torrent itu lebih cepat selesai dan selalu bisa di-resume kalau putus. Inilah 2 alasan saya ingin kembali. Lalu, satu-satunya nama yang tergambar di benak mengenai BitTorrent client hanyalah KTorrent. Ya, karena saya pengguna KDE dan saya kurang suka Transmission. Memang, saya cenderung menyukai aplikasi KDE karena tampilannya yang elegan. Berikut ini kumpulan skrinsot pengalaman unduh saya dengan KTorrent. 

ngite-keduapuluhsatu78

ngite-keduapuluhsatu82

Saya sengaja mengambil banyak skrinsot KTorrent untuk ISO yang sama untuk membeberkan fitur-fiturnya kepada Anda. Saya suka aplikasi yang fiturnya banyak, tampilannya mewah, dan pengaturannya luas. Seperti KTorrent.

ngite-keduapuluhsatu84

ngite-keduapuluhsatu88
Dengan ini, saya jadi tahu prinsip “seed” dan “seeders” di dalam layanan BitTorrent

Kalau tidak mencoba sendiri, saya tidak akan mengerti BitTorrent.

ngite-keduapuluhsatu90
Dengan ini, saya jadi mengerti prinsip “chunks” di dalam layanan BitTorrent

Sejak dulu, saya tidak pernah mengerti apa itu tracker di dalam protokol BitTorrent karena tidak pernah mencoba (sampai berhasil).

ngite-keduapuluhsatu91
Dengan ini, saya jadi mengenal prinsip “tracker” di dalam layanan BitTorrent