Itu Salah Nonfree Software, Bukan Komunitas GNU/Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Pernah menyangka jumlah software untuk GNU/Linux “terlalu sedikit“? Pernah menyalahkan komunitas free software karenanya? Sangkaan tersebut salah alamat karena yang salah adalah nonfree software dan pengembangnya, bukan komunitas. Salahkan nonfree software, jangan salahkan komunitas free software. Tulisan ini menjabarkan fakta apa adanya dan berusaha mencegah Anda menyalahkan orang yang tak bersalah. Tulisan ini adalah lanjutan artikel berantai Nonfree Software Merugikan dan Apa Pentingnya Source Code. Baca lebih lanjut

Iklan

Cara Bertanya yang Baik

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Ini adalah aturan bertanya yang berlaku universal di semua forum GNU/Linux:

  1. Sebutkan versi distro GNU/Linux Anda (misal: “Ubuntu 16.04 32 bit”).
  2. Sebutkan versi program Anda (misal: “GIMP 2.8 dan Inkscape 0.92.1”).
  3. Detailkan kronologi kejadian (misal: “saya lakukan V kemudian W kemudian Y dan akhirnya Z”).
  4. Salin lengkap keseluruhan pesan error (misal: kirim foto layar Anda).
  5. Bandingkan hasil yang diharapkan dengan hasil yang terjadi (misal: “mestinya terjadi X tetapi malah Y”).
  6. Hormati waktu orang lain (misal: pertanyaan tidak lengkap itu merugikan waktu forum).
  7. Jangan pakai UPPERCASE karena ini tidak sopan (misal: “PERTANYAAN SAYA BEGINI BEGINI”).
  8. Jangan tanya untuk tanya karena ini merugikan waktu forum (misal: “ada yang pernah X di forum ini?”).
  9. Jangan memerintah karena ini tidak sopan (misal: “kalian semua selesaikan masalah saya segera”).
  10. Jangan mengeluh karena ini tidak sopan (misal: “ah jelek sekali ini, ah kurang sekali itu”).
  11. Jangan memaki karena ini kurang ajar (misal “dasar komunitas kalian begini begini begini”).
  12. Jangan marah karena ini menghilangkan kehormatan Anda (misal: meladeni tukang debat).

Tulisan bertopik tata krama forum ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/. Sebarkanlah seluas mungkin tanpa mengubah isinya maupun lisensinya.

FSM Bukan Perang Merek

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Setiap sosialisasi free software (termasuk migrasi ke GNU/Linux) bukanlah perang merek. Kami komunitas yang menyosialisasikan Free Software Movement (FSM) bukan “salesman” tetapi kami menjelaskan software freedom kepada masyarakat. Kami berpihak kepada masyarakat luas (termasuk pemerintahan), kami tidak memojokkan masyarakat sebagai kriminal, dan kami tidak menuduh “pembajak” kepada pengguna yang melanggar lisensi software. Kami komunitas free software memandang nonfree software sebagai masalah sosial dan pemikiran di baliknya ialah sumber kriminalitas sistematis-otomatis. Software yang nonfree tidak patut digunakan oleh masyarakat dan pemerintahan sama sekali karena merugikan mereka. Dan kami memandang semua pengguna termasuk pemerintahan berhak menolak nonfree software secara total dan penolakan ini bukan fanatisisme.

Tugas kami jelas yaitu mengedukasi pengguna bahwa mereka yang menggunakan nonfree software sedang ditindas dan dirugikan secara massal, sehingga kami menjelaskan masalahnya dan menawarkan solusinya, yaitu free software.

Salah satu kegiatan kami yaitu membantu migrasi pengguna Windows ke GNU/Linux, bukan karena merek atau harga, tetapi karena Windows adalah nonfree, software yang memusnahkan kebebasan pengguna secara massal dan bahkan menyeret pengguna ke penjara. Kami juga membantu migrasi dari Microsoft Office ke LibreOffice, dari OOXML ke ODF; dari Adobe Photoshop ke GIMP; dari CorelDRAW ke Inkscape; dari nonfree software ke free software. Free Software Movement (FSM) ini semua dilakukan bukan karena perang merek, bukan karena harga (gratis vs berbayar), tetapi karena kami hendak menolong semua pihak bebas dari masalah sosial bernama nonfree software.

Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons CC BY-ND 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.

Ketidakberdayaan Pengguna Nonfree Software

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

FSF tidak pernah berhenti mengingatkan masyarakat internasional bahwa proprietary software membuat pengguna tidak berdaya. Proprietary software mengikat semua pengguna kepada satu pengembang tunggal tanpa pilihan, oleh karena itu diistilahkan, tidak berdaya (Inggris: helpless). Sementara kegagalan sosialisasi GNU/Linux pada umumnya berputar pada kegagalan komunikasi, disebabkan oleh gagalnya ketidakberdayaan pengguna ini dimengerti oleh masyarakat. Kegagalan pemahaman itu disebabkan utamanya karena pembicaranya sengaja tidak menjelaskan software freedom. Maka untuk menolak kegagalan itu memang perlu ada tulisan yang berani memperlihatkan contoh-contoh ketidakberdayaan pengguna disebabkan oleh proprietary software. Perlu diingat bahwa proprietary software disebut juga nonfree software, bahwa seringnya proprietary software itu adalah malware, dan bahwa semua virus itu adalah proprietary software. Baca lebih lanjut

Ketidaksempurnaan Itu Bukanlah Penindasan

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Tulisan ini menegur orang yang punya salah paham yaitu memosisikan aktivis free software seolah-olah sebagai penindas atau kriminal dengan dalih ketidaksempurnaan sang aktivis. Tulisan ini hendak meluruskan kesalahpahaman itu dengan cara menjabarkan contoh-contohnya, apa sumber masalahnya, dan apa solusinya. Tulisan ini terinspirasi dari tulisan FSF di situs Proyek GNU dengan judul Imperfection is not the same as oppression (“Ketidaksempurnaan itu tidak sama dengan penindasan”). Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak. Baca lebih lanjut

Mengapa Mereka Berperilaku Kasar Ketika Berkomunikasi?

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Pernahkah Anda menerima email dari seseorang yang berbahasa kasar atau arogan terhadap Anda? Ini bisa juga terjadi pada selain email, yakni media komunikasi lain seperti pesan singkat atau media sosial. Apakah Anda pernah mempertanyakan kenapa mereka berperilaku kasar ketika berkomunikasi? Jawabannya karena mereka ingin menyembunyikan kelemahan dirinya sendiri.

Orang yang sadar dirinya punya kelemahan, cenderung memilih satu dari dua jalan. Jalan pertama adalah kejujuran, mungkin dia nyatakan tegas dirinya lemah (atau, tidak tahu); mungkin juga dia akan diam karena sadar dirinya lemah (atau, tidak tahu). Jalan kedua adalah arogansi, berbahasa dan berperilaku kasar untuk menyembunyikan kelemahannya sendiri. Di antara bentuk arogansi ini adalah menuduh orang tanpa bukti, mengucapkan kata-kata kasar, memakai kosakata sok ngeboss terhadap orang lain, tidak minta maaf ketika bersalah, menyerang kepada orang yang mengingatkannya secara benar, mudah merendahkan orang lain tanpa dasar, dan yang seperti itu.

Cenderung orang yang menempuh jalan kedua ini mengira dengan berperilaku kasar mereka akan tampak lebih pintar, lebih bijaksana, lebih “keren”, lebih “familiar”, di tengah orang lain. Sayang, perkiraan ini tidak benar dan jalan kedua ini benar-benar jalan yang jelek yang tidak bisa diterima siapa pun. Coba perhatikan email-email yang Anda terima dari orang seperti ini, Anda akan melihat dirinya sangat patut dikasihani. Dengan arogansinya dia bukannya menutup kekurangannya, tetapi justru membuka itu ke khalayak dan melukai pihak-pihak lain yang membaca ucapannya.

Kabar yang mengejutkan bisa kita saksikan bersama ketika email-email mereka kita telusuri. Kita akan melihat bahwa sebagian dari mereka ternyata berusia sangat muda. Ini makin jelas menampakkan bahwa orang yang berbahasa arogan ketika berkomunikasi melakukannya cenderung karena ingin menyembunyikan kekurangannya. Karena dia takut diketahui dirinya masih muda, dia berusaha bertingkah “meniru” orang tua yang bijaksana, tetapi sering kali dia keliru dalam peniruannya dan jatuh dalam arogansi (ya, karena dia masih sangat muda). Sungguh banyak rekan-rekan kita dan bahkan senior kita yang jadi korban orang semacam ini.

Yang kita bisa lakukan adalah bersabar atas mereka dalam batas yang wajar. Bagi kita yang memiliki jabatan administrator suatu komunitas, kita punya tugas mengarahkan mereka agar bisa berkomunikasi dengan baik, dan apabila sampai taraf tertentu kerusuhan yang ditimbulkannya tidak dapat lagi ditoleransi kita terpaksa mengeluarkan mereka dari forum. Bagi kita yang anggota komunitas non-administrator, kita hanya bisa melakukan banning (pemblokiran) apabila kemungkinan terburuknya itu terjadi pada kita.

Bagi Anda yang merasa terkena kritik dalam tulisan ini, mari kita kembali ke awal, kita belajar sama-sama bagaimana metode komunikasi yang baik. Saya mengerti tidak semua dari orang yang arogan itu meniatkan arogansinya sendiri, sebagian mereka hanya antara tidak bisa berkomunikasi atau ikut-ikutan belaka. Apabila Anda mau berubah, tetapi Anda sungkan mengatakannya, datanglah empat mata kapan saja.

Memperkuat Sumber Daya Manusia di Bidang GNU/Linux Desktop

Bismillahirrahmanirrahim.

Di dalam sosialisasi GNU/Linux di mana saja, hal yang sering kurang (walau seringnya tidak disadari) adalah sumber daya manusia di bidang desktop. Saya tidak bicara bidang server, yang tidak pernah menjadi bidang saya, yang mereka telah menang dalam permainan mereka sendiri. Penguasaan salah satu perangkat lunak desktop perlu penyempurnaan di kalangan komunitas free software di Indonesia. Ya, dimulai dari pertanyaan sederhana: perangkat lunak desktop apa yang paling Anda kuasai saat ini di GNU/Linux? Apabila jawabannya adalah semacam web browser (Mozilla Firefox) atau justru tidak sama sekali, maka benarlah, penguasaan salah satu perangkat lunak desktop di GNU/Linux itu harus kita rintis sekarang juga. Tulisan ini hanya berbicara pada batasan perangkat lunak desktop yang berantarmuka grafis yang semisal Gedit (bukan semisal Vim). Baca lebih lanjut