Mengapa Jangan Microsoft Office

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini mewakili rekan-rekan yang berniat baik mencegah direkomendasikannya Microsoft Office & format dokumennya namun sulit menjelaskan alasannya. Keinginan rekan-rekan itu ialah merekomendasikan LibreOffice & format merdeka OpenDocument Format namun terhalang oleh macam-macam alasan nonfree software. Tulisan ini menjelaskan alasan-alasan merekomendasikan LibreOffice sebagai free software pengganti Microsoft Office, dan merekomendasikan format dokumen ODF (.odt, .ods, .odp) sebagai ganti format dokumen Microsoft (.docx, .xlsx, .pptx). Bagi rekan-rekan yang merekomendasikan LibreOffice, terus lakukanlah perbuatan terpuji itu! Baca lebih lanjut

Iklan

Perbandingan yang Tidak Adil

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya menyorot perbandingan yang dilakukan sebagian orang. Perbandingan yang mereka lakukan antara LibreOffice dan Microsoft Office. Yang di dalam perbandingannya LibreOffice diperlihatkan sebagai software murahan, rendahan, jelek, tidak berguna, dan hal hina lainnya. Yang di luar perbandingan itu si pembanding menggunakan dan/atau menganjurkan penggunaan Microsoft Office bajakan serta software bajakan lainnya. Yang secara kebiasaan umum sudah dikenal kalau orang macam itu adalah mayoritas. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Eksternal

  1. LibreOffice itu murahan. Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office (mahal) yang bajakan (murah). Bajakan itu murahan.
  2. LibreOffice itu rendahan. Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office (terhormat) yang bajakan (rendahan).
  3. LibreOffice itu jelek (fiturnya kalah, tampilannya kalah).  Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office 2007/2010/2013 (fitur bagus, tampilan bagus) bajakan (jelek).
  4. LibreOffice itu tidak berguna (dituduh sulit digunakan). Komentar: tidak adil, si pembanding menghabiskan waktu dan/atau biaya (kursus) yang besar baru kemudian menyatakan Microsoft Office mudah & berguna sedangkan si pembanding tidak menghabiskan waktu dan/atau biaya (kursus) untuk LibreOffice tetapi menuduh LibreOffice sulit dan tidak berguna.

Internal

  1. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau menghargai kerja keras pembuatan filter dokumen oleh Tim Pengembang LibreOffice sedangkan ketika memakai DOCX di Microsoft Office 2007/2010/2013 dia tidak membayar lisensi Microsoft Office.
  2. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau membandingkan harga lisensi software antara LibreOffice dan Microsoft Office.
  3. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau berusaha menggunakan Open Document Format dan/atau tidak menyosialisasikannya sementara dia sendiri terus menerus mengampanyekan OOXML (DOC/XLS/PPT) sadar atau tidak sadar.
  4. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak punya kesadaran untuk meninggalkan software bajakan kemudian memiliki usaha untuk menggunakan software dan format dokumen alternatif. Kalau dia niat betul meninggalkan bajakan, tidak ada alasan untuk tidak bisa. Dia hidup sudah di zaman teknologi informasi.
  5. LibreOffice itu jelek (dari segi tampilan). Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mengetahui pertimbangan developer mengenai UI/UX semisal yang terjadi di salah satu blog developer. UI LibreOffice dipertahankan seperti sekarang karena developer memberikan yang terbaik sesuai kemampuan mereka untuk pengguna. Kalau diubah, pengguna yang sudah ada akan kebingungan (sedangkan pengguna yang baru tidak pasti datangnya) serta seluruh tutorial yang ada akan hangus karena perubahan.
  6. LibreOffice miskin (dari segi tutorial). Komentar: tidak adil. Si pembanding tidak pernah melihat dokumentasi resmi http://www.libreoffice.org/get-help/documentation dan/atau tidak pernah melihat wiki https://wiki.documentfoundation.org/Main_Page dan/atau tidak pernah menekan tombol F1.

Saran dari saya, jika seseorang di Indonesia hendak mengkritik LibreOffice, hendaknya berikan keadilan. Berikan kedudukan yang layak untuk software legal di atas software bajakan. Format dokumen ODF hendaknya disosialisasikan secara sukarela lebih dari OOXML. Karena ODF itu wasilah supaya orang beralih dari yang ilegal ke yang legal. Terserah seseorang sudah mampu konsisten atau masih menggunakan bajakan. Hendaknya bandingkan dengan adil.

Pentingnya Menulis Tutorial

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebenarnya sudah banyak saya tulis artikel bertopik ini. Namun belum pernah yang berjudul begini. Saya akan sampaikan kenapa saya anggap sosialisasi GNU/Linux* di Indonesia sangat haus akan tutorial. Kenapa saya menganggap tutorial adalah kebutuhan primer.

  1. Sebelum menyampaikan, sang penyampai harus menguasai apa yang disampaikan.
  2. Sebelum menyampaikan, sang penyampai harus menguasai orang-orang yang hendak menerimanya.
  3. Sebelum sosialisasi, sang penyampai harus menguasai aplikasi desktop.
  4. Sebelum sosialisasi, sang penyampai harus menguasai ilmu banding plaftorm.
  5. Jika sang penyampai tidak ada, harus ada pengganti di sisi orang yang menerima, tidak lain adalah tutorial.

Penjelasan: poin pertama: tidak ada sosialisasi tanpa ilmu (internal: lisensi, fundamental FOSS, GNU, Linux, userspace applications); poin kedua: kondisi real & psikologi orang yang menerima sosialisasi; poin ketiga: kegagalan sosialisasi terjadi karena sang penyampai tidak benar-benar menguasai LibreOffice atau GIMP atau Inkscape atau program desktop lain bahkan tidak ditemukan penyampai yang menguasainya secara konsisten; poin keempat: konsekuensi poin ketiga adalah kegagalan sang penyampai menerjemahkan platform asal (Windows) kepada platform tujuan (Linux); poin kelima: sosialisasi tidak boleh berhenti pada jangka pendek.

Penting: dibutuhkan orang yang menguasai aplikasi desktop GNU/Linux -> masyarakat umum paling membutuhkan office suite -> dibutuhkan orang yang menguasai Microsoft Office -> dibutuhkan penerjemahan Microsoft Office ke LibreOffice -> dibutuhkan orang yang bisa menerjemahkan setiap kebutuhan Word ke Writer, Excel ke Calc, PowerPoint ke Impress, dan seterusnya -> dibutuhkan penulisan setiap kebutuhan & penerjemahan dalam tutorial -> dibutuhkan distribusi tutorial secara langsung kepada orang yang menerima/membutuhkan sosialisasi.

Penting II: dibutuhkan pemahaman terhadap kondisi orang yang diajak serta pemahaman terhadap psikologinya. Misalnya, tidak mungkin memaksa internet orang yang memang tidak punya, atau memaksakan penjelasan kelas universitas untuk anak SMP.

Kesimpulan: orang yang menguasai objek sosialisasi (aplikasi desktop terutama LibreOffice) lebih dibutuhkan daripada orang yang mengajak. Orang yang menguasai dan menulis lebih dibutuhkan lagi. Orang seperti itu langka. Maka mulai kuasai, mulai menulis. Menulis tutorial itu penting.

Artikel terkait: berikut beberapa artikel yang pernah saya tulis dalam topik menulis: Kenapa Menulis Tentang Linux dan Ubuntu, The Quieter You Become, Pentingnya Sebuah Tutorial, Indonesia Transisi, Sosialisasi Linux, Bagaimana Cara Menulis Artikel, Membudayakan Menulis, Menulis Mencatat, Mari LibreOffice.


*) Jika disebut GNU/Linux maka sudah dimaklumi yang dimaukan termasuk segala FOSS bahkan BSD, karena FOSS menggantikan software bajakan di Indonesia yang jadi target sosialisasi-sosialisasi FOSS itu sendiri. Otomatis penyebutan GNU/Linux di sini terbatas pada desktop saja.

Interaksi dengan Macro di Libreoffice Impress

Bismillahirrahmanirrahim.

Screenshot from 2015-10-16 09:32:04

Hari ini pertama kalinya saya berhasil menjalankan satu macro (makro) di Libreoffice Impress. Juga pertama kalinya mengenal BASIC serta makro itu sendiri. Sebelumnya saya tidak menemukan satu pun tutorial yang sederhana untuk Impress. Tidak pernah sebelumnya saya memakainya di Microsoft Office. Ini cikal bakal “kejutan” yang nanti akan saya usahakan. Semoga ini bermanfaat.

Terlalu Banyak Bertanya

Bismillahirrahmanirrahim.

Bertanya boleh tetapi terlalu banyak bertanya itu jelek. Yang saya soroti di sini bukanlah pertanyaan ala newbie ketika baru mengenal Linux tetapi pertanyaan mengenai tools yang mesti dipakai untuk produksi di desktop. Saya bicara pada lingkup aplikasi desktop untuk perkantoran dan desain grafis. Peringatan, saya tidak mau berbicara dengan orang yang gak nyambung.

Perkantoran


Ketertarikan paling mendasar di sini adalah menghindari Microsoft Office. Jadi, ketika bertanya, newbie akan menanyakan mengenai Libreoffice atau WPS Office. Yang tersedia di Linux lengkapnya adalah Libreoffice, Apache OpenOffice, Calligra Office, WPS Office, dan SoftMaker FreeOffice.

Yang jadi masalah adalah ketika newbie terlalu banyak bertanya. Mana yang lebih enak, Libreoffice atau WPS Office? X atau Y? Enak di situ enak bagi siapa dulu? Lebih spesifik lagi, newbie akan bertanya fitur ini dan itu di suatu program. Hal yang saya soroti ketika newbie tidak mencoba sama sekali. Kemudian, newbie tidak menggunakan salah satunya dengan serius dalam jangka waktu tahunan. Mereka hanya nyuwil tithik-tithik (jack of all trades, master of none). Mereka hanya main-main. Apa yang mau diraih dengan itu?

Newbie yang baik itu newbie yang tidak terlalu banyak tanya. Tentukan salah satu pilihan, lalu be a master dengannya. Diam selama beberapa tahun untuk menguasai salah satu komponen (misalnya Libreoffice Writer) lalu muncul ke komunitas membawa buku panduan. Bukannya terlalu banyak tanya tapi ujungnya nggak bisa apa-apa dan pertanyaannya cuma jadi sampah maya di forumnya.

Desain Grafis


Ketertarikan paling mendasar di sini adalah menghindari Photoshop dan kawan-kawan. Jadi, newbie akan menanyakan mengenai GIMP dan Inkscape. Adapun yang tersedia di Linux antara lain GIMP, Inkscape, Scribus, MyPaint, Krita, Pinta, Blender, OpenShot, Kdenlive, Pitivi, Synfig, dan seterusnya.

Yang jadi masalah adalah ketika newbie terlalu banyak bertanya. Pertanyaan mana yang lebih enak selalu muncul. Pertanyaan populer kenapa GIMP tidak sehebat Photoshop selalu terlihat. Pertanyaan membakar mengapa Linux tidak punya Photoshop juga. Hal yang jadi sorotan di sini adalah ketika newbie tidak mencoba sama sekali. Mencoba pun, hanya nyuwil tithik-tithik seperti di atas. Tidak mau menjadi penguasa di salah satu tool. Tidak mau mendalami.

Berbeda dengan hal eksak, hal seni termasuk desain grafis membutuhkan penanganan yang khusus. Di dunia eksak, termasuk bash, kita selalu punya manpages. Semua masalah bisa diselesaikan dengan man. Namun di dunia seni, tidak ada manpages. Seseorang harus memiliki konsep sebelum tool. Konsep sebelum teknik. Teknik mengikuti konsep. Lalu newbie yang lugu menganggap desain grafis sehebat desainer Photoshop bisa dicapai dengan sebatas menjadi pengguna GIMP. Salah. Desainer Photoshop setidaknya memiliki 3 hal penting yakni satu: konsep yang bagus, dua: teknik tingkat tinggi, tiga: tool yang memang menjadi standar yaitu Photoshop. Lalu bagaimana dengan newbie di Linux? Punya apa? Maka, terlalu banyak bertanya hanya merusak tidak memperbaiki.

Newbie yang baik itu newbie yang tidak banyak tanya. Tidak berdebat. Apalagi di bidang yang dia belum punya pengalaman. Belajar desain grafis berarti belajar konsep. Anda belajar teknik dan penguasaan tool sesudahnya. Ketika di Linux Anda harus menggunakan GIMP, Anda kuasai dulu sebelum GIMP konsep desain (entah Anda memakai aliran apa) lalu tekniknya lalu baru Anda belajar GIMP. Anda tidak bisa melakukan itu kecuali Anda belajar dari orang sebelum Anda, yaitu orang Photoshop dan semisalnya. Belajar GIMP duluan sebelum konsep memang bisa, tapi tidak bakal sebagus yang saya sebut sebelumnya. Lebih baik pilih salah satu, lalu buat karya yang bagus (tentu yang tidak melanggar syariat) sebanyak mungkin. Diam selama beberapa tahun. Lalu kembalilah ke komunitas membawa karya-karya yang lebih baik dari binaan Photoshop dan kawan-kawan. Referensi desain grafis masalah konsep bisa Anda baca di sini, di sini, di sini, dan di sini.

Saya ngomong desain grafis di sini, bukan ngomong sistem manajemen paket biasanya. Seni bukan hal eksak. Nggak perlu ada yang mengatakan GIMP dan Photoshop cuma alat.

Penutup


Semua yang saya katakan adalah pengalaman pribadi saya. Anda tidak saya paksa untuk mengikutinya. Jika Anda berhasil dengan mengikuti ini, semua keberhasilan milik Anda. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat.