Pakailah LibreOffice di Semua OS

Bismillahirrahmanirrahim.

Penggunaan format dokumen Microsoft Office (MSO) seperti .docx merugikan kita pengguna free software. Langkanya jumlah pengguna mahir LibreOffice itu akibat MSO. Dengan memakai MSO Anda memperkecil komunitas free software, dengan mendukung format dokumennya (docx xlsx pptx) Anda mematikan LibreOffice. Mempromosikan formatnya berarti memaksa orang lain untuk beli MSO + Windows, karena dokumennya hanya bisa dibuka di MSO, dan MSO hanya untuk Windows. Ini merugikan komunitas. Sebaliknya, LibreOffice free software bisa dipasang di Windows dan GNU/Linux, dokumennya (odt ods odp) bisa dibuka di semua OS. Maka stop MSO, stop formatnya, minta dosen Anda beralih ke LibreOffice. Pasanglah LibreOffice di Windows dan GNU/Linux. Unduh LibreOffice gratis di https://libreoffice.org/download.


Artikel ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Iklan

Mengapa Jangan Microsoft Office

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini mewakili rekan-rekan yang berniat baik mencegah direkomendasikannya Microsoft Office & format dokumennya namun sulit menjelaskan alasannya. Keinginan rekan-rekan itu ialah merekomendasikan LibreOffice & format merdeka OpenDocument Format namun terhalang oleh macam-macam alasan nonfree software. Tulisan ini menjelaskan alasan-alasan merekomendasikan LibreOffice sebagai free software pengganti Microsoft Office, dan merekomendasikan format dokumen ODF (.odt, .ods, .odp) sebagai ganti format dokumen Microsoft (.docx, .xlsx, .pptx). Bagi rekan-rekan yang merekomendasikan LibreOffice, terus lakukanlah perbuatan terpuji itu! Baca lebih lanjut

Perbandingan yang Tidak Adil

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya menyorot perbandingan yang dilakukan sebagian orang. Perbandingan yang mereka lakukan antara LibreOffice dan Microsoft Office. Yang di dalam perbandingannya LibreOffice diperlihatkan sebagai software murahan, rendahan, jelek, tidak berguna, dan hal hina lainnya. Yang di luar perbandingan itu si pembanding menggunakan dan/atau menganjurkan penggunaan Microsoft Office bajakan serta software bajakan lainnya. Yang secara kebiasaan umum sudah dikenal kalau orang macam itu adalah mayoritas. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Eksternal

  1. LibreOffice itu murahan. Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office (mahal) yang bajakan (murah). Bajakan itu murahan.
  2. LibreOffice itu rendahan. Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office (terhormat) yang bajakan (rendahan).
  3. LibreOffice itu jelek (fiturnya kalah, tampilannya kalah).  Komentar: tidak adil, si pembanding sendiri menggunakan Microsoft Office 2007/2010/2013 (fitur bagus, tampilan bagus) bajakan (jelek).
  4. LibreOffice itu tidak berguna (dituduh sulit digunakan). Komentar: tidak adil, si pembanding menghabiskan waktu dan/atau biaya (kursus) yang besar baru kemudian menyatakan Microsoft Office mudah & berguna sedangkan si pembanding tidak menghabiskan waktu dan/atau biaya (kursus) untuk LibreOffice tetapi menuduh LibreOffice sulit dan tidak berguna.

Internal

  1. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau menghargai kerja keras pembuatan filter dokumen oleh Tim Pengembang LibreOffice sedangkan ketika memakai DOCX di Microsoft Office 2007/2010/2013 dia tidak membayar lisensi Microsoft Office.
  2. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau membandingkan harga lisensi software antara LibreOffice dan Microsoft Office.
  3. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mau berusaha menggunakan Open Document Format dan/atau tidak menyosialisasikannya sementara dia sendiri terus menerus mengampanyekan OOXML (DOC/XLS/PPT) sadar atau tidak sadar.
  4. LibreOffice itu tidak kompatibel. Komentar: tidak adil, si pembanding tidak punya kesadaran untuk meninggalkan software bajakan kemudian memiliki usaha untuk menggunakan software dan format dokumen alternatif. Kalau dia niat betul meninggalkan bajakan, tidak ada alasan untuk tidak bisa. Dia hidup sudah di zaman teknologi informasi.
  5. LibreOffice itu jelek (dari segi tampilan). Komentar: tidak adil, si pembanding tidak mengetahui pertimbangan developer mengenai UI/UX semisal yang terjadi di salah satu blog developer. UI LibreOffice dipertahankan seperti sekarang karena developer memberikan yang terbaik sesuai kemampuan mereka untuk pengguna. Kalau diubah, pengguna yang sudah ada akan kebingungan (sedangkan pengguna yang baru tidak pasti datangnya) serta seluruh tutorial yang ada akan hangus karena perubahan.
  6. LibreOffice miskin (dari segi tutorial). Komentar: tidak adil. Si pembanding tidak pernah melihat dokumentasi resmi http://www.libreoffice.org/get-help/documentation dan/atau tidak pernah melihat wiki https://wiki.documentfoundation.org/Main_Page dan/atau tidak pernah menekan tombol F1.

Saran dari saya, jika seseorang di Indonesia hendak mengkritik LibreOffice, hendaknya berikan keadilan. Berikan kedudukan yang layak untuk software legal di atas software bajakan. Format dokumen ODF hendaknya disosialisasikan secara sukarela lebih dari OOXML. Karena ODF itu wasilah supaya orang beralih dari yang ilegal ke yang legal. Terserah seseorang sudah mampu konsisten atau masih menggunakan bajakan. Hendaknya bandingkan dengan adil.

Pentingnya Menulis Tutorial

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebenarnya sudah banyak saya tulis artikel bertopik ini. Namun belum pernah yang berjudul begini. Saya akan sampaikan kenapa saya anggap sosialisasi GNU/Linux* di Indonesia sangat haus akan tutorial. Kenapa saya menganggap tutorial adalah kebutuhan primer.

  1. Sebelum menyampaikan, sang penyampai harus menguasai apa yang disampaikan.
  2. Sebelum menyampaikan, sang penyampai harus menguasai orang-orang yang hendak menerimanya.
  3. Sebelum sosialisasi, sang penyampai harus menguasai aplikasi desktop.
  4. Sebelum sosialisasi, sang penyampai harus menguasai ilmu banding plaftorm.
  5. Jika sang penyampai tidak ada, harus ada pengganti di sisi orang yang menerima, tidak lain adalah tutorial.

Penjelasan: poin pertama: tidak ada sosialisasi tanpa ilmu (internal: lisensi, fundamental FOSS, GNU, Linux, userspace applications); poin kedua: kondisi real & psikologi orang yang menerima sosialisasi; poin ketiga: kegagalan sosialisasi terjadi karena sang penyampai tidak benar-benar menguasai LibreOffice atau GIMP atau Inkscape atau program desktop lain bahkan tidak ditemukan penyampai yang menguasainya secara konsisten; poin keempat: konsekuensi poin ketiga adalah kegagalan sang penyampai menerjemahkan platform asal (Windows) kepada platform tujuan (Linux); poin kelima: sosialisasi tidak boleh berhenti pada jangka pendek.

Penting: dibutuhkan orang yang menguasai aplikasi desktop GNU/Linux -> masyarakat umum paling membutuhkan office suite -> dibutuhkan orang yang menguasai Microsoft Office -> dibutuhkan penerjemahan Microsoft Office ke LibreOffice -> dibutuhkan orang yang bisa menerjemahkan setiap kebutuhan Word ke Writer, Excel ke Calc, PowerPoint ke Impress, dan seterusnya -> dibutuhkan penulisan setiap kebutuhan & penerjemahan dalam tutorial -> dibutuhkan distribusi tutorial secara langsung kepada orang yang menerima/membutuhkan sosialisasi.

Penting II: dibutuhkan pemahaman terhadap kondisi orang yang diajak serta pemahaman terhadap psikologinya. Misalnya, tidak mungkin memaksa internet orang yang memang tidak punya, atau memaksakan penjelasan kelas universitas untuk anak SMP.

Kesimpulan: orang yang menguasai objek sosialisasi (aplikasi desktop terutama LibreOffice) lebih dibutuhkan daripada orang yang mengajak. Orang yang menguasai dan menulis lebih dibutuhkan lagi. Orang seperti itu langka. Maka mulai kuasai, mulai menulis. Menulis tutorial itu penting.

Artikel terkait: berikut beberapa artikel yang pernah saya tulis dalam topik menulis: Kenapa Menulis Tentang Linux dan Ubuntu, The Quieter You Become, Pentingnya Sebuah Tutorial, Indonesia Transisi, Sosialisasi Linux, Bagaimana Cara Menulis Artikel, Membudayakan Menulis, Menulis Mencatat, Mari LibreOffice.


*) Jika disebut GNU/Linux maka sudah dimaklumi yang dimaukan termasuk segala FOSS bahkan BSD, karena FOSS menggantikan software bajakan di Indonesia yang jadi target sosialisasi-sosialisasi FOSS itu sendiri. Otomatis penyebutan GNU/Linux di sini terbatas pada desktop saja.

Interaksi dengan Macro di Libreoffice Impress

Bismillahirrahmanirrahim.

Screenshot from 2015-10-16 09:32:04

Hari ini pertama kalinya saya berhasil menjalankan satu macro (makro) di Libreoffice Impress. Juga pertama kalinya mengenal BASIC serta makro itu sendiri. Sebelumnya saya tidak menemukan satu pun tutorial yang sederhana untuk Impress. Tidak pernah sebelumnya saya memakainya di Microsoft Office. Ini cikal bakal “kejutan” yang nanti akan saya usahakan. Semoga ini bermanfaat.