Mengapa GNU/Linux Tidak Perlu Antivirus?

Bismillahirrahmanirrahim.

GNU/Linux tidak perlu antivirus sebab kontrol penuh atas GNU/Linux dipegang oleh pengguna. Windows “perlu” antivirus karena sebaliknya, kontrol penuh atas Windows dipegang bukan oleh pengguna, tetapi oleh pengembangnya dan pihak-pihak lainnya. Penjelasan singkatnya sebagai berikut. Tulisan ini menjawab pengguna GNU/Linux pemula mengenai ketidakperluan memasang antivirus di GNU/Linux.

Artikel ini lanjutan dari rangkaian Mengapa GNU/Linux Aman, Mengapa GNU/Linux Kebal Malware, dan Mencegah Ransomware Pakai GNU/Linux. Baca lebih lanjut

Free Software Boleh Dijual

Bismillahirrahmanirrahim.

Free software (perangkat lunak merdeka) boleh dijual. Definisi free software ialah software yang menunaikan hak pengguna, termasuk hak menjual software. Setiap pengguna berhak mendistribusikan free software dengan menarik bayaran (contoh: jasa instal ulang GNU/Linux berbayar) dan inilah yang disebut menjual. Jika pengguna mau, free software juga boleh dibagikan gratis (tanpa menarik bayaran) karena setiap free software menunaikan 2 hak, hak berbagi + hak menjual software. Berlawanan dengannya, software yang melarang penjualan itu nonfree software namanya (proprietary software) dan bukan free software. Maka bedakanlah free software dari nonfree software agar Anda tidak dirugikan. Bacalah referensi resmi FSF Selling Free Software is OK.


Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.

Mengapa Nonfree Software Merugikan?

Bismillahirrahmanirrahim.

Ini artikel singkat mencontohkan kejahatan berbahaya nonfree software yang jarang diketahui pengguna awam. Intinya pengguna adalah korban.

1) Janji Tidak Berbagi

Di dalam lisensi setiap nonfree software selalu ada perjanjian untuk tidak berbagi dengan orang lain. Menginstal suatu nonfree software berarti Anda berjanji secara hukum untuk tidak berbagi dengan semua orang (termasuk saudara, keluarga, tetangga, dan teman Anda). Berjanji demikian termasuk pula tidak menjual software ke orang lain. Menggunakan nonfree software merugikan kehidupan sosial.

Sudahkah Anda menyadarinya? Contoh terjelas dalam masalah ini adalah lisensi Windows 10.

2) Janji Tidak Memperbaiki

Di dalam lisensi setiap nonfree software selalu ada perjanjian untuk tidak memperbaiki keadaan. Menginstal nonfree software berarti berjanji secara hukum untuk tidak mengubah software sama sekali, walaupun Anda sangat membutuhkannya. Jika pengembang menancapkan batasan waktu, batasan fitur, memaksa aktivasi, memaksa upgrade, Anda berjanji tidak akan mengubah batasan/keharusan itu. Jika pengembang memaksa Anda menjalankan software hanya di satu merek sistem operasi (misal: Windows), maka Anda berjanji tidak akan mengubah keadaan itu, walaupun Anda membutuhkannya di sistem operasi lain (misal: GNU/Linux). Menggunakan nonfree software merugikan kehidupan pribadi Anda sendiri.

Sudahkah Anda menyadarinya? Contoh terjelas dalam hal ini juga lisensi Windows 10.

3) Menyerah untuk Dianiaya

Jenis kedua nonfree software yang berciri tidak punya lisensi, yaitu malware & ransomware, memaksa Anda tanpa izin untuk dianiaya. Semua serangan publik virus, worm, trojan, ransomware, drm, jail, dan lain sebagainya berciri seperti ini. Kenyataannya, sering kali nonfree software itu malware. Maka pemikiran di balik nonfree software adalah pemikiran aniaya, pemikiran menguasai orang lain secara tidak adil. Software yang nonfree itu sendiri adalah software aniaya.

Sudahkah Anda menyadarinya? Contoh terjelas dalam hal ini adalah kasus ransomware[1][2][3].

Catatan penulis: setelah membaca lisensinya & faktanya, apakah Anda sekarang merasa tertipu menyepakati lisensi nonfree software? Jika iya, itulah kejahatannya. Jika tidak merasa, lihat lagi poin 3.


Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.

Mengapa GNU/Linux Kebal Malware?

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Saya percaya keingintahuan masyarakat tentang alasan keamanan GNU/Linux terhadap malware harus memperoleh jawaban yang sederhana dan jelas. Saya berusaha menyarikan sisi-sisi terpenting yang memang sebabnya GNU/Linux kebal malware, kebal ransomware, dibandingkan sistem operasi Microsoft Windows. Tulisan ini hanyalah ringkasan yang tidak menyertakan seluruh alasan teknis. Semoga ini menjawab kebutuhan masyarakat. Baca lebih lanjut

Mencegah Kerugian Akibat Ransomware

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Target tulisan ini adalah mencegah kerugian akibat ransomware di masyarakat dan pemerintahan Indonesia dengan sarana free software dan GNU/Linux. Ringkasnya penggunalah yang harus berbenah secepatnya karena pengembang Windows maupun ransomware tidak mau berbenah. Mereka tidak melepas produknya sebagai free software, yaitu software yang menghormati kebebasan pengguna dan masyarakat, dan itu sebabnya pengguna dirugikan. Tulisan ini untuk para pengguna Windows yang sudah siap mencegah ransomware.

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bertopik ransomware lainnya yaitu Menyoal Ransomware 2016, Solusi Ransomware 2016, Ransomware Bohongan 2017, Menyoal Ransomware 2017 & Solusinya, dan Kenapa Anda Baru Sadar Sekarang. Baca lebih lanjut

Ransomware Mei 2017, Kenapa Anda Baru Sadar Sekarang?

Bismillahirrahmanirrahim.

Di Mei 2017 ini ramailah forum-forum GNU/Linux di Indonesia akan kasus ransomware. Saya setidaknya telah menulis bahaya ransomware di 2016 dan saya ulangi di Januari 2017. Pertanyaannya kenapa banyak orang baru sadar sekarang? Di antara jawabannya karena tidak tahu sumber masalahnya adalah nonfree software (proprietary software). Ransomware adalah nonfree software dan oleh karena itu dia mencelakakan pengguna, tidak adil terhadap pengguna, dan terbukti menyandera data pengguna. Kasusnya sama saja dengan nonfree software lain yaitu pengembang ransomware menancapkan kekuasaan mutlak atas penggunanya dan pengguna tidak berdaya. Tulisan ini meringkas tulisan-tulisan sebelumnya demi menyadarkan pembaca betapa berbahayanya nonfree software. Baca lebih lanjut

Mengapa Jangan Microsoft Office

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini mewakili rekan-rekan yang berniat baik mencegah direkomendasikannya Microsoft Office & format dokumennya namun sulit menjelaskan alasannya. Keinginan rekan-rekan itu ialah merekomendasikan LibreOffice & format merdeka OpenDocument Format namun terhalang oleh macam-macam alasan nonfree software. Tulisan ini menjelaskan alasan-alasan merekomendasikan LibreOffice sebagai free software pengganti Microsoft Office, dan merekomendasikan format dokumen ODF (.odt, .ods, .odp) sebagai ganti format dokumen Microsoft (.docx, .xlsx, .pptx). Bagi rekan-rekan yang merekomendasikan LibreOffice, terus lakukanlah perbuatan terpuji itu! Baca lebih lanjut