Tolong Hentikan Format Dokumen DOCX

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Surat saya ini saya tujukan untuk para guru dan dosen serta pemegang keputusan di mana saja di Indonesia yang saya hormati:

Masalah DOCX:

  • Microsoft Office memaksa pengguna membeli dan melarang peng-copy-an programnya.
  • DOCX memaksa pengguna membeli Microsoft Office, dan Microsoft Office memaksa pengguna untuk membeli Windows.
  • Guru yang mewajibkan siswa mengumpulkan dokumen dalam format Microsoft Word DOCX secara tidak sadar mengakibatkan pemaksaan tersebut di atas dan mendiskriminasi pengguna free software.
  • Para pengguna yang sudah dipaksa (siswa, pegawai) berarti harus melanggar janjinya dahulu (melanggar lisensi, perbuatan melanggar hukum) untuk bisa memakai Microsoft Office dan Windows, itu berlawanan dengan tujuan pendidikan dan mematikan kemandirian.

Solusi ODT:

  • LibreOffice tidak memaksa pengguna membeli dan membolehkan peng-copy-an programnya.
  • ODT tidak memaksa pengguna membeli Microsoft Office, dan LibreOffice tidak memaksa pengguna untuk membeli GNU/Linux.
  • Guru yang mewajibkan siswa mengumpulkan dokumen dalam format LibreOffice Writer ODT tidak mengakibatkan pemaksaan, dan justru memberi solusi massal-nasional jangka panjang.
  • Para pengguna tidak dipaksa berarti tidak melanggar janji (tidak melanggar hukum) dan mereka tidak berketergantungan kepada Microsoft/pihak lain. Ini mencocoki kemandirian dan keadilan.

Mana yang lebih baik:

  • LibreOffice lebih baik. ODT lebih baik.
  • Microsoft Office tidak baik. DOCX tidak baik.

Surat ini saya sarikan berdasarkan fakta lapangan yang sudah terjadi bertahun-tahun di sekolah-sekolah, kampus, perkantoran, dan instansi pemerintahan mana saja di mana ada MS Windows dan MS Office.

Kesimpulan:

Maka saya minta tolong kepada semua guru, dosen, pengajar, pegawai, manajer dan pemerintah di mana saja di Indonesia untuk hentikan DOCX dan Microsoft Office. Jangan save as .docx, tapi lakukan save as .odt. Gunakan ODT dan LibreOffice di semua komputer di seluruh Indonesia baik sistem operasinya Windows, GNU/Linux, maupun macOS. Menganjurkan DOCX membawa kepada proprietary software, dan mengajarkan proprietary adalah mematikan kemandirian, berlawanan dengan tujuan pendidikan. Saya sangat berharap Anda mempertimbangkan surat permintaan saya ini. Terima kasih.

Doa saya semoga barakah Allah bersama Anda semua,

Wassalamu’alaykum,

Ade Malsasa Akbar


Tulisan ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0.

Iklan

Pakailah LibreOffice di Semua OS

Bismillahirrahmanirrahim.

Penggunaan format dokumen Microsoft Office (MSO) seperti .docx merugikan kita pengguna free software. Langkanya jumlah pengguna mahir LibreOffice itu akibat MSO. Dengan memakai MSO Anda memperkecil komunitas free software, dengan mendukung format dokumennya (docx xlsx pptx) Anda mematikan LibreOffice. Mempromosikan formatnya berarti memaksa orang lain untuk beli MSO + Windows, karena dokumennya hanya bisa dibuka di MSO, dan MSO hanya untuk Windows. Ini merugikan komunitas. Sebaliknya, LibreOffice free software bisa dipasang di Windows dan GNU/Linux, dokumennya (odt ods odp) bisa dibuka di semua OS. Maka stop MSO, stop formatnya, minta dosen Anda beralih ke LibreOffice. Pasanglah LibreOffice di Windows dan GNU/Linux. Unduh LibreOffice gratis di https://libreoffice.org/download.


Artikel ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Awas Penipuan: Mereka Ingin Samakan Free Software dan Proprietary

Bismillahirrahmanirrahim.

Ketahuilah bahwa free software berbeda dari proprietary. Free adalah lawan proprietary, berkebalikan total. Free berarti menunaikan hak pengguna, proprietary berarti sebaliknya. Proprietary itu masalah dan bukan solusi, sementara free software solusinya. Ini ringkasan perbedaan antara proprietary dan free software yang tidak mungkin disamakan selama-lamanya:

Maunya mereka “sama saja free dan proprietary software itu, jangan bedakan!”. Ini propaganda. Apa maunya mereka pencinta proprietary memaksa Anda samakan proprietary dengan free software? Mau mereka ialah keuntungan pribadi yang merugikan Anda secara massal, keuntungan itu ialah kontrol total atas kehidupan perkomputeran & pribadi Anda. Ini power yang tidak seharusnya dipegang siapa pun. Dan inilah propaganda proprietary software namanya.

Ini penipuan!

Awas tertipu orang-orang yang mempropagandakan proprietary. Free software tidak sama dengan proprietary, free software lawan proprietary, tidak sama free software yang menunaikan hak pengguna dengan proprietary yang sengaja sebaliknya. Free software selalu lebih baik daripada proprietary, karena dia menunaikan hak Anda. Jangan mau ditipu, jangan mau disimpangkan!


Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.

Tenangkan Masyarakat, Terangkan GNU/Linux Aman

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Kita sebagai warga komunitas free software Indonesia punya tugas menenangkan masyarakat Indonesia manakala ada isu-isu malware menyerang. Tenangkan semua orang awam, beritakan GNU/Linux aman. Tenangkan masyarakat yang gelisah bahwa GNU/Linux itu aman dan tidak sendirian, sebab ada BSD yang juga aman sepertinya. Tenangkan masyarakat dengan jujur bahwa free software aman dan –sebaliknya– sumber ketidakamanan ialah proprietary software. Jelaskan dengan jujur tanpa iri-dengki bahwa GNU/Linux memang aman, dan Windows itulah yang tidak aman. Bagaimana menjelaskannya? Artikel singkat ini meringkasnya untuk Anda. Sebarkan dan jelaskan kepada masyarakat!

Tulisan ini menyertai artikel lain setopik Mengapa GNU/Linux Aman, Mengapa GNU/Linux Kebal Malware, Solusi Ransomware 2017, dan GNU/Linux Tidak Butuh Antivirus.

Baca lebih lanjut

Ilusi Proprietary

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Proprietary software adalah masalah sosial. Saya meyakini itu tanpa keraguan dengan bukti nyatanya ransomware. Namun sebelum ransomware pun, saya telah yakin sebab saya mengalaminya, proprietary selalu menciptakan masalah sosial. Dan ilusi proprietary software yang saya ajukan di sini ialah ketidaksadaran pengguna menyalahkan orang yang tidak bersalah. Semoga tulisan ini mencerahkan orang banyak.

Tulisan ini satu serial dengan Nonfree Software Merugikan, Bukan Salah GNU/Linux, Free Software & Keputusan, Takhayul Proprietary, dan Berantas Ransomware 2017. Baca lebih lanjut

Mengapa GNU/Linux Tidak Perlu Antivirus?

Bismillahirrahmanirrahim.

GNU/Linux tidak perlu antivirus sebab kontrol penuh atas GNU/Linux dipegang oleh pengguna. Windows “perlu” antivirus karena sebaliknya, kontrol penuh atas Windows dipegang bukan oleh pengguna, tetapi oleh pengembangnya dan pihak-pihak lainnya. Penjelasan singkatnya sebagai berikut. Tulisan ini menjawab pengguna GNU/Linux pemula mengenai ketidakperluan memasang antivirus di GNU/Linux.

Artikel ini lanjutan dari rangkaian Mengapa GNU/Linux Aman, Mengapa GNU/Linux Kebal Malware, dan Mencegah Ransomware Pakai GNU/Linux. Baca lebih lanjut

Free Software Boleh Dijual

Bismillahirrahmanirrahim.

Free software (perangkat lunak merdeka) boleh dijual. Definisi free software ialah software yang menunaikan hak pengguna, termasuk hak menjual software. Setiap pengguna berhak mendistribusikan free software dengan menarik bayaran (contoh: jasa instal ulang GNU/Linux berbayar) dan inilah yang disebut menjual. Jika pengguna mau, free software juga boleh dibagikan gratis (tanpa menarik bayaran) karena setiap free software menunaikan 2 hak, hak berbagi + hak menjual software. Berlawanan dengannya, software yang melarang penjualan itu nonfree software namanya (proprietary software) dan bukan free software. Maka bedakanlah free software dari nonfree software agar Anda tidak dirugikan. Bacalah referensi resmi FSF Selling Free Software is OK.


Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.