Catatan Instal Ubuntu 14.04 di Mesin UEFI

Bismillahirrahmanirrahim.

Artikel ini disempurnakan pada 21 Oktober 2014.

Awalnya saya dapat pesanan satu DVD Ubuntu 14.04 64 bit. Lalu saya diminta datang ke kantor untuk menginstalkan. Ketika instalasi, saya masih menggunakan teknik lama BIOS. Ujung-ujungnya, Ubuntu gagal booting dengan komputer hanya mem-boot opsi terakhir booting yakni Ethernet. Bagaimana caranya saya berhasil menginstal Ubuntu di mesin UEFI? Seumur hidup saya tidak pernah melakukannya. Berikut ini catatan saya. Semoga bermanfaat.

Spesifikasi Mesin

  1. PC builtup merek HP.
  2. Prosesor quad core (entah merek apa).
  3. RAM 8 GB.
  4. Total HDD: 500 GB.

Terkejutlah orang desa seperti saya melihat spesifikasi PC macam ini. Walau saya tahu rekan-rekan komunitas pun biasa mengerjakan server di spesifikasi lebih tinggi. Jika saya punya, saya ingin instal Slackware dan Archlinux ke dalamnya. Saya pun ingin melakukan virtualisasi sebanyak mungkin distro bersamaan. Semoga Allah memberi saya jalan.

Skema Rencana Instalasi

  1. /: 400 GB.
  2. swap: 16 GB (bukan saya yang atur).
  3. Partisi kosong: 100 – 16 GB.
  4. /boot: 200 MB (wajib dibikin gara-gara UEFI).

Ketika saya gagal, bapak yang memanggil saya itu memanggil bagian TI (sayang saya tak tanyakan namanya). Beliaulah yang membantu menginstal (walau skema beliau juga gagal (ya, karena UEFI dan Ubuntu)). Beliau bagian TI ini pengguna Debian, seorang otodidak juga. Beliau telah sangat terbiasa menginstal Debian server via CLI. Dan beliau tampak sedikit asing dengan Ubiquity (sesuatu yang lumrah sekali). Beliau membaca dulu bari per baris setiap satu halaman Ubiquity dibuka, tidak langsung klik begitu saja, kehati-hatian khas pengguna berpengalaman. Hal yang demikian menarik bagi saya (tentu, psikologi manusia).

Langkah Pertama Saya

Tentu saja saya kirim SMS pertanyaan kepada seluruh kontak pengguna Linux di hape saya. Saya dapat banyak sekali jawaban dari semua orang dalam waktu singkat. Di antaranya Pak Ali Kusnadi, Kang Nurbawono Auliajati, Kang Sudoers (mantan admin FUI), Kang Selamet, Kang Ahmad Syatibi Syaiful, dan lain-lain. Namun keberhasilan saya baru muncul setelah mengikuti saran Akang Rizqi Arijono. Saran beliau adalah pembuatan partisi /boot/efi yang saya turut dengan /boot saja. Seperti yang Anda lihat, komunitas Linux kita sangatlah bisa diandalkan. Bahkan dalam keadaan genting sekalipun. Terima kasih, semuanya!

Langkah Kedua Saya

Berikut inilah garis besar metode instalasi Ubuntu di mesin UEFI.

  1. Bunuh UEFI, hidupkan Legacy BIOS.
  2. Bunuh Secure Boot.
  3. Buat dulu partisi /boot terpisah sebesar 200 MB dari dalam Ubiquity.
  4. Format partisi itu dengan pilihan EFI BOOT, bukan EXT bukan juga filesystem lain.
  5. Buat partisi / seperti biasanya.

Jika kurang jelas, silakan cari di internet tutorial lain yang bergambar.

Hasilnya

Ubuntu pun berhasil diinstal dengan sukses. Komputer bisa booting ke Ubuntu dan Ubuntu bisa digunakan dengan normal. Saya pun menyadari yang namanya komputer kantor sudah selayaknya tidak multiboot, hanya sebatas singleboot saja untuk seluruh komputer.

Kendala-Kendala

  1. Mesin satu ini baru bisa membuka CD tray jika OS yang mengaksesnya secara langsung, baik secara livesession atau preinstalled. Jadi, saya harus menggunakan liveusb untuk sekadar membuka tray. Saya harus lakukan karena instalasi gagal dan CD harus dimasukkan kembali. Alhamdulillah, untung saya bawa bootable flash disk saya.
  2. Gagal instal karena saya tidak tahu metode instalasi Ubuntu untuk UEFI.
  3. Saya tidak tahu tombol apa yang harus dipencet untuk masuk ke BIOS (baca: UEFI). Sekelebat lalu, saya ingat merek HP = tombol F10. Ternyata benar, itu cara masuk BIOS-nya. Walau bapak bagian TI bisa masuk menggunakan ESC juga.
  4. Saya tidak bisa mengakses internet ketika itu.

Penutup

Ceritanya panjang, ini terjadi pada 16 Oktober 2014 lalu. Tulisan ini akhirnya disempurnakan setelah ditulis ringkas pertama kali pada 18 Oktober 2014. Alhamdulillah sangat menyenangkan. Saya tidak menyesal bahwasanya saya tidak mengambil satu pun skrinsot (foto kagak mungkin karena saya tidak punya alatnya). Saya dedikasikan tulisan ini untuk seutuhnya teks. Sementara tulis intinya dulu saja. Semoga nanti sisanya bisa dituliskan.

Iklan