Dampak Buruk Pembajakan Software Adalah Hilangnya Lapangan Kerja

Bismillahirrahmanirrahim.

Dampak buruk pembajakan software adalah hilangnya lapangan kerja. Kita sering mendengar orang mengeluhkan susah cari kerja. Jika mau ditelusuri, sebenarnya sebabnya banyak. Salah satunya pembajakan software. Windows, Microsoft Office, Photoshop, CorelDRAW, Transtool, SmadAV Pro, semua software komersial dibajak di sini. Biar mudah dimengerti, ingat bahwa pembuatan software itu juga lapangan pekerjaan. Jika software (baca: produk) dibajak, maka dari mana mereka mendapat nafkah? Di situlah kejahatan pembajakan software membawa dampak yang sangat buruk. Apa? Hilangnya lapangan pekerjaan. Ya, orang-orang akhirnya mengeluh susah cari kerja.

Dampak Lain

Tentu dampak buruk pembajakan software tidak hanya itu. Yang lainnya seperti:

  1. Hukum penggunaan software-nya. Pembajakan adalah pencurian, itu jelas. Lalu bagaimana hukumnya menggunakan software seperti itu? Apalagi jika diri sendiri yang melakukannya (crack, patch, serial number)? Jika dipakai bekerja, apakah pekerjaannya barokah?
  2. Keluh kesah. Satu hal yang aneh jika orang mengeluhkan susah cari kerja sementara dia sendiri membajak software yang total harganya saja sudah semahal kredit rumah (Windows + Microsoft Office Pro + AutoCAD + Photoshop + CorelDRAW = 116 juta rupiah). Wajar saja kalau sejak dini pembajakan sudah dilakukan massal.
  3. Masalah moral. Jika software yang berharga sangat mahal saja dibajak secara massal, turun temurun, tanpa rasa bersalah, maka hasilnya adalah sikap moral yang seenaknya sendiri. Moral yang menghancurkan bisnis orang lain tanpa merasa bersalah sengaja atupun tidak. Moral merugikan orang lain dan hilang sopan santun. Moral suka mengejek tanpa mau terlibat. Moral mudah marah jika diingatkan ketika bersalah. Moral yang tidak adil tapi merasa adil. Moral jelek yang juga massal dan turun temurun. Sebagian lain, moral manja yang tidak mau susah tapi suka menyusahkan. Moral memang cenderung diabaikan dewasa ini (karena orang anggap penggunaan software tidak butuh moral), namun nyatanya butuh.
  4. Masalah sosial. Jika moral sudah terkena, maka sosial pasti ikut kena. Kena apa? Kena masalah “ketidaksadaran kolektif” dalam hal merugikan orang lain. Mayoritas pemakai software bajakan di Indonesia tidak tahu dirinya sedang membajak. Yang mereka tahu mereka memakai komputer. Namun oknum tertentu secara turun temurun “mengajari” membajak software sehingga secara kolektif orang tidak sadar sedang membajak software seharga ratusan juta rupiah. Telah saya jelaskan di tulisan sebelumnya.
  5. Adanya pengangguran. Jika software dibajak, maka bagaimana lulusan ilmu software (semisal informatika atau sistem informasi) bisa dapat kerja? Lha wong ilmu mereka itu ilmu produksi software? Lalu bagaimana dengan perusahaan Indonesia yang sedang membuat software (macam SmadAV)? Orang Indonesia sendiri yang membuat, orang Indonesia pula yang membajak, tapi mengeluh kalau susah cari kerja. Betul, kenyataan di lapangan memang tidak sesederhana ini tetapi setidaknya ini gambaran umumnya.

Catatan

  • Tadinya saya mau memberi judul umum seperti “Apa Jeleknya Pembajakan” namun saya pikir lebih baik to the point saja menyebut hilangnya lapangan kerja pada judulnya.
  • Harga software asli yang diambil ditentukan dengan ukuran orang Indonesia sendiri yakni suka yang terbaru, terlengkap, atau terhebat (embel-embel Pro, Business, Ultimate). Jadi saya gampang aja carinya tinggal lihat yang termahal harganya.
  • Semoga tulisan ini bermanfaat.

Referensi

Kenapa Menulis Tentang Linux dan Ubuntu?

Bismillahirrahmanirrahim.

  1. Bagaimana perasaan kamu melihat saudara-saudaramu memakai software bajakan sementara mereka tidak tahu itu software bajakan?
  2. Sebutkan OS yang open source, gratis, memenuhi semua kebutuhan sehari-hari, punya komunitas besar, selain Linux. Ada?
  3. Bagaimana cara kamu memahamkan Linux ke saudara-saudaramu sementara ada 700 lebih distro saat ini, tanpa memilihkan salah satu saja? Coba terangkan caranya kalau kamu bisa.

Tulisan ini adalah jawaban saya dari percakapan dengan D Azka Abdillah. Terima kasih, Kang.

Solusi Pemasaran Linux di Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini bertugas merangkum solusi-solusi yang sudah dikerjakan rekan-rekan komunitas semuanya.

Masalah Utama


Linux asing. Itulah masalah kita yang sebenarnya. Bacalah artikel Linux, Ya dan Tidak sebelumnya dan kesampingkan semua poin selain poin 1. Maka sementara kita terima bahwa permasalahan pertama kita adalah masyarakat tidak mengenal Linux. Baca lebih lanjut

Linux, Ya dan Tidak

Bismillahirrahmanirrahim.

Mengapa Orang Menggunakan Linux?

  1. Mencari yang halal.
  2. Mencari keamanan (dari virus dan malware).
  3. Mencari keunikan (beda dari yang lain).
  4. Mencari keindahan (desktop yang menarik).
  5. Mencari kestabilan (desktop yang stabil).

Mengapa Orang Tidak menggunakan Linux?

  1. Linux asing (tidak dikenal).
  2. Linux sulit (kurva belajar).
  3. Linux makan waktu (karena kurva belajar).
  4. Linux tidak kompatibel (masalah hardware).
  5. Linux miskin (masalah aplikasi proprietary komersial).