Membuat Agregator Blog GNU/Linux Internasional

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada Kamis, 11 Januari 2018 ini, kembali satu kali lagi saya membuat agregator (website yang mengumpulkan artikel website lain) alias “planet mini” seperti dulu. Kali ini alamatnya http://buaya.cloudaccess.host dengan nama GNU Maksimum diletakkan di CloudAccess.net (saya berterima kasih!). Tulisan Restava kali ini adalah pengganti artikel lama yang masih menggunakan penamaan “Linux” yang sekarang saya koreksi jadi “GNU/Linux”.

Tampilan situs GNU Maksimum

Plugin

  1. FeedWordPress (lagi-lagi)
  2. Tidak perlu Feedwordpress Advanced Filter!
  3. Advanced Excerpt
  4. Saya atur update agregasi 24 jam sekali, batas isi per posting 30 karakter

Tema

  1. Simplent Theme
  2. Jangan gunakan Twenty Seventeen, Twenty Sixteen, sampai Twenty Ten

Server & Domain

  1. Cloudaccess.net = seperti wordpress.com tapi self-hosted dan bisa instal plugin+tema
  2. subdomain gratis .cloudaccess.host = masih keren dibanding .tk, .co.cc, .ga
  3. Akun gratis berlaku selamanya, 500MB, 1GB RAM, 1 CPU, aktivasi ulang 30 hari sekali
  4. Tidak butuh credit card, paypal, atau pembayaran lainnya
  5. Tidak butuh aktivasi lewat hape
  6. Proses pembuatan instan (hanya perlu email) dan bisa menerima akun email ProtonMail
  7. Alamat pendaftaran https://www.cloudaccess.net/wordpress/free-hosting.html

Untuk saat ini saya menilai CloudAccess.net sebagai hosting gratis terbaik di antara semua layanan hosting yang ada.

Yang Diagregat

Saya sudah lama ingin membuat “planet” pribadi saya sendiri yang mengumpulkan berita/artikel/informasi terbaru dari FSF, LibreOffice, Proyek KDE, Proyek GNOME, forum-forum GNU/Linux dan free software. Keinginan ini sudah lama saya simpan bahkan sebelum saya membuat Buaya Agregator GNU/Linux Indonesia sebelumnya. Maksud saya, saya tidak mau yang seperti Google Reader atau CommaFeed yang hanya bisa dibaca oleh saya, saya maunya seperti Planet, yang berbentuk website yang bisa dibaca semua orang. Saat ini, situs yang saya agregat antara lain:

  • FSF (News dan Blog)
  • LibreOffice dan The Document Foundation (Blog dan Planet)
  • Planet Debian
  • Planet GNOME
  • Planet KDE
  • KDE News (dot.kde.org)
  • Parabola GNU/Linux Recent Packages
  • UbuntuBuzz
  • Linuxku.com

Tentulah UbuntuBuzz dan Linuxku.com saya agregat karena saya ingin merekam tulisan-tulisan saya di sana.

Rencana?

Saya tidak punya waktu. Namun, saya punya keinginan, yaitu, mengonversikan mailing list ke RSS feed, supaya saya bisa agregat di situs GNU Maksimum. Mailing list yang mau saya agregat jelas sekali:

  • Punya FSF: gnu-linux-libre dan directory-discuss
  • Punya Parabola GNU/Linux: lupa namanya, pokoknya milis pem-blacklist-an proprietary software
  • Punya Trisquel GNU/Linux: Trisquel-user yang saya langgan lewat email

Artikel ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Iklan

Internetan wifi.id Seamless dengan DNSCrypt di GNU/Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Untuk berinternet di wifi.id Seamless dengan memakai pelindung DNSCrypt di GNU/Linux, matikan dulu servis dnscrypt-proxy sebelum tersambung ke hotspot @wifi.id, kemudian berinternetlah (misalnya, kunjungi http://www.gnu.org), akhirnya setelah tersambung nyalakan kembali servis dnscrypt-proxy. Saya menggunakan Trisquel GNU/Linux dan segalanya lancar.


Artikel ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Tolong Hentikan Format Dokumen DOCX

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Surat saya ini saya tujukan untuk para guru dan dosen serta pemegang keputusan di mana saja di Indonesia yang saya hormati:

Masalah DOCX:

  • Microsoft Office memaksa pengguna membeli dan melarang peng-copy-an programnya.
  • DOCX memaksa pengguna membeli Microsoft Office, dan Microsoft Office memaksa pengguna untuk membeli Windows.
  • Guru yang mewajibkan siswa mengumpulkan dokumen dalam format Microsoft Word DOCX secara tidak sadar mengakibatkan pemaksaan tersebut di atas dan mendiskriminasi pengguna free software.
  • Para pengguna yang sudah dipaksa (siswa, pegawai) berarti harus melanggar janjinya dahulu (melanggar lisensi, perbuatan melanggar hukum) untuk bisa memakai Microsoft Office dan Windows, itu berlawanan dengan tujuan pendidikan dan mematikan kemandirian.

Solusi ODT:

  • LibreOffice tidak memaksa pengguna membeli dan membolehkan peng-copy-an programnya.
  • ODT tidak memaksa pengguna membeli Microsoft Office, dan LibreOffice tidak memaksa pengguna untuk membeli GNU/Linux.
  • Guru yang mewajibkan siswa mengumpulkan dokumen dalam format LibreOffice Writer ODT tidak mengakibatkan pemaksaan, dan justru memberi solusi massal-nasional jangka panjang.
  • Para pengguna tidak dipaksa berarti tidak melanggar janji (tidak melanggar hukum) dan mereka tidak berketergantungan kepada Microsoft/pihak lain. Ini mencocoki kemandirian dan keadilan.

Mana yang lebih baik:

  • LibreOffice lebih baik. ODT lebih baik.
  • Microsoft Office tidak baik. DOCX tidak baik.

Surat ini saya sarikan berdasarkan fakta lapangan yang sudah terjadi bertahun-tahun di sekolah-sekolah, kampus, perkantoran, dan instansi pemerintahan mana saja di mana ada MS Windows dan MS Office.

Kesimpulan:

Maka saya minta tolong kepada semua guru, dosen, pengajar, pegawai, manajer dan pemerintah di mana saja di Indonesia untuk hentikan DOCX dan Microsoft Office. Jangan save as .docx, tapi lakukan save as .odt. Gunakan ODT dan LibreOffice di semua komputer di seluruh Indonesia baik sistem operasinya Windows, GNU/Linux, maupun macOS. Menganjurkan DOCX membawa kepada proprietary software, dan mengajarkan proprietary adalah mematikan kemandirian, berlawanan dengan tujuan pendidikan. Saya sangat berharap Anda mempertimbangkan surat permintaan saya ini. Terima kasih.

Doa saya semoga barakah Allah bersama Anda semua,

Wassalamu’alaykum,

Ade Malsasa Akbar


Tulisan ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0.

Awas Penipuan: Mereka Ingin Samakan Free Software dan Proprietary

Bismillahirrahmanirrahim.

Ketahuilah bahwa free software berbeda dari proprietary. Free adalah lawan proprietary, berkebalikan total. Free berarti menunaikan hak pengguna, proprietary berarti sebaliknya. Proprietary itu masalah dan bukan solusi, sementara free software solusinya. Ini ringkasan perbedaan antara proprietary dan free software yang tidak mungkin disamakan selama-lamanya:

Maunya mereka “sama saja free dan proprietary software itu, jangan bedakan!”. Ini propaganda. Apa maunya mereka pencinta proprietary memaksa Anda samakan proprietary dengan free software? Mau mereka ialah keuntungan pribadi yang merugikan Anda secara massal, keuntungan itu ialah kontrol total atas kehidupan perkomputeran & pribadi Anda. Ini power yang tidak seharusnya dipegang siapa pun. Dan inilah propaganda proprietary software namanya.

Ini penipuan!

Awas tertipu orang-orang yang mempropagandakan proprietary. Free software tidak sama dengan proprietary, free software lawan proprietary, tidak sama free software yang menunaikan hak pengguna dengan proprietary yang sengaja sebaliknya. Free software selalu lebih baik daripada proprietary, karena dia menunaikan hak Anda. Jangan mau ditipu, jangan mau disimpangkan!


Tulisan bertopik software freedom ini berlisensi Creative Commons Attribution-NoDerivs 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/.

Tenangkan Masyarakat, Terangkan GNU/Linux Aman

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Kita sebagai warga komunitas free software Indonesia punya tugas menenangkan masyarakat Indonesia manakala ada isu-isu malware menyerang. Tenangkan semua orang awam, beritakan GNU/Linux aman. Tenangkan masyarakat yang gelisah bahwa GNU/Linux itu aman dan tidak sendirian, sebab ada BSD yang juga aman sepertinya. Tenangkan masyarakat dengan jujur bahwa free software aman dan –sebaliknya– sumber ketidakamanan ialah proprietary software. Jelaskan dengan jujur tanpa iri-dengki bahwa GNU/Linux memang aman, dan Windows itulah yang tidak aman. Bagaimana menjelaskannya? Artikel singkat ini meringkasnya untuk Anda. Sebarkan dan jelaskan kepada masyarakat!

Tulisan ini menyertai artikel lain setopik Mengapa GNU/Linux Aman, Mengapa GNU/Linux Kebal Malware, Solusi Ransomware 2017, dan GNU/Linux Tidak Butuh Antivirus.

Baca lebih lanjut

Jalankan Eksekutabel GUI dari Distro Lain Lewat Chroot

Bismillahirrahmanirrahim.

Gambaran masalahnya saya tidak punya LibreOffice di Neon OS tetapi punyanya di Ubuntu OS pada laptop yang sama (dualboot). Saya sedang login di Neon OS. Bisakah saya jalankan eksekutabel LibreOffice punya Ubuntu pada Neon OS saya? Ternyata jawabannya bisa dan saya senang sekali. Artinya saya tidak usah instal LibreOffice (baca: hemat kuota ratusan MB) di Neon. Syaratnya, saya cukup melakukan chroot dari Neon terhadap partisi Ubuntu.

Catatan

Program chroot di dalam OS kita ini berasal dari GNU bukan Linux. OS ini GNU namanya. Silakan baca man chroot.

Resep

  1. Neon aktif, Ubuntu nonaktif, keduanya ada di laptop yang sama
  2. Mount dulu /proc, /tmp, dan /dev/null dari partisi Neon ke partisi Ubuntu
  3. Chroot /bin/bash dari partisi Neon ke partisi Ubuntu
  4. Di dalam chroot (artinya dalam tubuh Ubuntu) tetapkan DISPLAY=:0.0
  5. Di dalam OS aktif (artinya dalam tubuh Neon) tetapkan xhost +
  6. Di dalam chroot berubahlah jadi user biasa
  7. Di dalam chroot panggil lowriter

Perintah

  1. sudo mount -o bind /proc /media/master/yakkety/proc/
  2. sudo mount -o bind /tmp /media/master/yakkety/tmp
  3. sudo mount -o bind /dev/null /media/master/yakkety/dev/null
  4. sudo chroot /media/master/yakkety/ /bin/bash
  5. su master
  6. (lakukan di dalam chroot) export DISPLAY=:0.0
  7. (lakukan di dalam Neon) xhost +
  8. (lakukan di dalam chroot) lowriter

Hasil

Perhatikan di kiri Konsole saya chroot ke dalam partisi Ubuntu, kemudian di dalam chroot itu sebagai user biasa (master) saya jalankan lowriter. Hasilnya di kanan jendela LibreOffice Writer muncul dengan atribut Ubuntu (bukan atribut KDE, menunjukkan berhasilnya). Gambarannya ialah seperti meremot robot kecil ke dalam kapal tenggelam untuk menyetirnya ke permukaan laut. Alhamdulillah, berarti program-program lain pun akan bisa!

Referensi


Tulisan bertopik GNU ini berlisensi CC BY-SA 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/.