Melihat Masalah Hardware Lebih Jelas dari Kasus NVIDIA

Bismillahirrahmanirrahim.

Para pembeli NVIDIA GeForce itu adalah korban. Ketika mereka memakai sistem operasi GNU/Linux, barulah mereka merasakan sakitnya, hanya saja mereka belum paham. Masalah apakah ini? Inilah masalah hardware yang tidak menunaikan hak penggunanya, yaitu tidak menyerahkan kode sumber dari firmware dan drivernya, sehingga pengguna rugi. Kebanyakan pengguna NVIDIA salah paham sehingga menyerang para pengembang GNU/Linux (termasuk pengembang X11, Nouveau, sampai Sway sekalipun) karena mereka kira yang menzalimi itu para pengembang GNU/Linux tersebut. Mereka menilai dengan cara menilai mereka yang belum berdasarkan bukti bahwa pengembang GNU/Linux tidak menunaikan hak mereka untuk menjalankan hardware (NVIDIA itu tadi). Saudara sekalian, ini salah paham, yang tidak menunaikan hak pengguna itu bukan para pengembang GNU/Linux, tetapi pihak NVIDIA. Bila Anda menuntut, Anda harus menuntut NVIDIA, sebab NVIDIA yang tidak menunaikan hak Anda dan bukan pengembang GNU/Linux. Anda membeli hardware itu dari NVIDIA, bukan dari pengembang GNU/Linux, maka tanggung jawabnya ada di NVIDIA bukan di GNU/Linux. Teruskanlah membaca sampai akhir tulisan ini.

Dituduh Secara Batil Itu Tidak Enak

Saya bisa memberi Anda contoh dari seorang pengembang Sway (program komputer) yang merasa dizalimi oleh para pengguna NVIDIA yang dengan keras menuntut dirinya menunaikan hak yang bukan tanggung jawab dia. Tuntutan ini salah alamat. Dia mengungkapkan keberatan yang sangat keras atas tuntutan itu bahkan dia mengutuk NVIDIA di dalam tulisannya. URL tulisannya pun sudah mengungkapkan kutukan tersebut.

Kenapa? Kenapa seperti itu?

Karena dituduh secara batil itu tidak enak. Anda semua dan saya juga tidak mau dituduh secara batil. Tuduhannya seperti tadi, si pengembang Sway ini dituduh secara salah yaitu tidak menunaikan hak-hak pengguna NVIDIA. Para pembeli NVIDIA tersebut memaksa si pengembang Sway bekerja keras untuk mereka, tanpa memberinya uang sepeser pun (padahal dia berhak menerimanya), tapi penuntut itu memberi NVIDIA uang yang banyak sekali dengan membeli produknya (yang melanggar hak mereka). Jelas saja dia marah sekali dituduh seperti itu dalam keadaan dia salah satu orang yang paling getol berupaya membantu para pengguna NVIDIA di seluruh dunia dan Sway yang dia buat adalah bukti nyatanya. Tentu Anda dan saya juga tidak mau dituduh bersalah apalagi dituntut untuk barang yang kita tidak menjualnya bahkan kita tidak pernah kenal para pembeli tersebut.

Bagaimana orang bisa salah tuduh?

Jawabannya ada di dalam kutukan si pengembang Sway itu. Dialah orang yang paling tahu bahwa pelaku kejahatannya itu pihak NVIDIA. Seharusnya, NVIDIA menunaikan hak-hak pembeli kartu vga-nya dengan memberi mereka kode sumber lengkap dari firmware dan drivernya. Sepatutnya, dan mereka benar-benar mampu, NVIDIA bekerja sama dengan pihak pengembang kernel Linux, X11, Mesa, dan juga Sway, sebagaimana Intel* dan AMD* juga bekerja sama. Karena NVIDIA tidak melakukannya bahkan bersikeras menentang itu semua sejak dulu sampai sekarang, akhirnya para pembeli vga yang tidak tahu apa-apa tidak bisa menemukan siapa yang salah ketika VGA mereka tidak berfungsi. Yang paling dekat yang bisa mereka salahkan ialah pengembang GNU/Linux. Kebanyakan orang memang dengan entengnya menyalahkan pihak GNU/Linux dalam masalah ini padahal seharusnya NVIDIA yang disalahkan. Demikian terjadinya salah tuduh.

Dari satu korban ke korban yang lain

Anda sudah lihat tulisan si pengembang Sway di atas? Apa itu? Itulah kutukan seseorang yang menjadi korban. Korban yang satu ini adalah akibat dari adanya korban pertama, yaitu para pembeli NVIDIA. Asal muasalnya adalah dari kesalahan pihak NVIDIA yang mem-proprietary-kan (me-nonfree-kan) firmware dan driver-nya. Kalau memang vga itu sudah dibeli oleh pembeli ya sudah seharusnya Anda tunaikan seluruh softwarenya, wahai NVIDIA. Perbuatan Anda telah menjatuhkan para pembeli Anda sebagai korban, yang mereka putus asa, kemudian mereka menjatuhkan pihak lain yang tidak bersalah (seperti pengembang GNU/Linux dan Sway) sebagai korban berikutnya. Saya harap semua orang waspada terhadap NVIDIA mulai hari ini juga.

Tahukah Anda tentang hardware?

Saya hendak membantu para pengguna NVIDIA untuk mencermati masalah ini dengan benar dan tenang sehingga tercapai solusi. Saya juga ingin membantu semua orang yang jujur ingin menggunakan Free Software dan GNU/Linux untuk menemukan hardware terbaik yang menunaikan hak penggunanya. Untuk itu, kita semuanya harus tahu hal-hal mendasar tentang hardware.

  • Ada yang namanya hardware, ada yang namanya sistem operasi (OS), ada firmware, dan ada driver.
  • Ada pabrik hardware (yang menjual), ada pembeli hardware (Anda, pembeli), ada pengembang sistem operasi (misalnya pengembang GNU/Linux).
  • Contoh hardware itu di antaranya video graphic adapter (VGA), wireless lan (WLAN), printer, dan scanner.
  • Hardware diperoleh dengan cara dibeli dari pabriknya.
  • Hardware berfungsi pada komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi.
  • Tiap-tiap hardware tidak bisa beroperasi tanpa firmware dan driver.
  • Tiap-tiap pabrik hardware seharusnya menyerahkan hardware disertai firmware dan driver pada setiap pembeli.
  • Hardware yang kurang salah satu firmwarenya atau drivernya tidak bisa dikendalikan oleh sistem operasi alias tidak berfungsi.
  • Kenyataannya: mayoritas hardware di muka bumi hanya dijual hardware-nya, tetapi firmware dan/atau drivernya tidak diserahkan kepada pembeli.

Tahukah Anda tentang firmware dan driver?

Driver doang tidak cukup. Untuk bisa berfungsi, VGA juga perlu firmware. Demikian juga semua hardware lainnya. Jangan tertipu dengan promosi “driver kami sudah free software” karena Anda harus pastikan firmware-nya juga free software. Keduanya adalah hak pengguna. Secara garis besar dapat Anda pahami driver itu software yang beroperasi di dalam OS, sedangkan firmware beroperasi di dalam hardware.

Faktanya, memang, banyak vendor hardware memberi penggunanya firmware maupun driver tetapi dalam bentuk blob dan binary code. Bentuk source code tidak pernah diberikan ke pengguna. Anda bisa temukan blobs dan binaries itu di repositori ‘nonfree’ milik Debian, di repositori ‘restricted’ milik Ubuntu, di ‘AUR’ milik Arch, di ‘non-oss’ milik openSUSE, dan di lain-lain. Apakah ini menunaikan hak pengguna? Apakah dengan ini masalah selesai? Pertama, terhadap proyek-proyek distro tersebut kita berprasangka baik karena mereka sudah berupaya menolong kita semua. Hanya saja, faktanya juga, ini tidak menyelesaikan masalah (tidak menunaikan hak Anda) dan membikin masalah baru (karena software macam itu tetap tidak bisa diubah dan dilarang dipelajari). Kebanyakan hardware tetap tidak berfungsi dan cacat dengan blobs dan binaries tersebut.

Apa yang seharusnya terjadi? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Yang seharusnya terjadi: Anda beli NVIDIA GeForce maka pihak NVIDIA memberi Anda kode sumber firmware dan driver yang bebas bagi Anda. Maka vga itu berfungsi di GNU/Linux secara sempurna.

Yang sesungguhnya terjadi: Anda beli NVIDIA GeFore tetapi pihak NVIDIA tidak memberi Anda kode sumber firmware dan tidak pula kode sumber driver untuk Anda. Maka vga itu gagal fungsi di GNU/Linux.

Lihat bedanya. Seharusnya jelas sekarang yang tidak bertanggung jawab di sini adalah pihak NVIDIA. Maka pihak GNU/Linux tidak ada hubungannya sama sekali jadi tidak bisa kita salahkan, Saudara-saudara.

Bagaimana contoh cacatnya?

Langsung saja Anda lihat sendiri:

  • Daya baterai laptop cepat habis
  • Penampilan layar monitor buruk atau tidak sesuai yang seharusnya
  • Screen tearing, glitch, atau apalah istilahnya yang seharusnya tidak terjadi
  • X11, Wayland, Sway, atau program apalah itu menjadi tidak berfungsi padahal seharusnya berfungsi
  • Pengguna tidak bisa mengendalikan fitur dari VGA yang sudah dibelinya sendiri, seperti, nyala kipas dan kecepatan prosesnya padahal seharusnya bisa

Sebabnya hanya satu yaitu karena si NVIDIA belum menunaikan hak si pembeli vga tersebut. Tidak ada hubungannya dengan GNU/Linux sebab segala hardware bisa beroperasi di GNU/Linux dengan syarat ada firmware dan ada drivernya.

Kerja Sama

Yang dimaksud kerja sama adalah kerja sama antara pihak pembuat hardware (seperti NVIDIA) dengan pihak pengembang software (seperti proyek GNU/Linux, proyek X11, dan proyek Mesa, dan juga Sway). Pada dunia software, yang namanya kerja sama itu unik sekali. Lebih mudah daripada di dunia nyata. Yaitu bisa dilakukan dengan cara-cara berikut:

  • NVIDIA membuka seluruh spesifikasi hardware yang dibutuhkan oleh tiap-tiap pengembang software
  • NVIDIA ikut mengembangkan software yang disebutkan di atas (Intel dan AMD sudah melakukan itu*)
  • NVIDIA memberi izin dan tidak mencegah pihak lain untuk membuat software yang berkaitan dengan produk hardwarenya (Intel dan AMD melakukan itu*)

Yang jadi masalah NVIDIA tidak melakukannya sama sekali. Maka walaupun Anda beli semua vga NVIDIA sekalipun, semuanya adalah cacat, karena Anda tidak diberi hak Anda dan juga Anda dilarang bahkan dicegah untuk membuatnya sendiri. Lihatlah artikel si pengembang Sway di atas. Itulah sebabnya saya sebut di kalimat pertama “Pengguna NVIDIA adalah korban”.

Pelajaran yang dipetik

Pelajarannya sama seperti peribahasa komunitas free software: bahwa tiap-tiap software yang dipublikasikan seharusnya bebas. Bila tidak bebas, maka software itu menzalimi penggunanya. Lihatlah kasus di atas. Persis itu dengan peribahasa ini.

Pelajaran berikutnya adalah Anda harus waspada mayoritas hardware di bumi ini tidak menunaikan hak penggunanya. Mayoritas hardware tidak memberi Anda firmware dan driver yang seharusnya Anda terima. Itu kecurangan besar yang merugikan Anda penggunanya. Bayangkan saja Anda beli sepeda motor, tetapi tidak menerima kuncinya dan tidak boleh membuatnya sendiri, ya itu sepeda motor tidak berfungsi, tentu Anda marah. Sama juga hardware, Anda terima barangnya saja, tapi “kuncinya” yaitu kode sumber dari firmware dan driver tidak, ya hardware Anda tidak bekerja. Pahami ini baik-baik dan selalu waspada.

Jangan menganggap hardware yang menunaikan hak pengguna itu sama dengan hardware yang tidak. Tidak sama hardware yang menzalimi pengguna dengan yang adil.

Mencari hardware yang bebas

Kabar gembiranya, ada hardware yang menunaikan hak penggunanya. Hardware yang bebas di sini maksudnya bebas dari nonfree software dan 100% kompatibel dengan sistem operasi free software. Hardware yang bebas tidak seperti NVIDIA, dia bisa beroperasi sempurna pada GNU/Linux bahkan tanpa instal program tambahan. Jangan merasa kaget. Anda sendiri punya hardware semacam itu yang namanya USB Flash Disk. Itu contoh hardware yang bebas karena firmware dan hardware sudah ditunaikan untuk Anda. Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan VGA, WLAN, printer, scanner, dan lainnya? Kabar gembira untuk Anda, sekarang kita bisa mencari informasi hardware yang bebas di https://h-node.org. Sebelum beli hardware, cari dulu di h-node agar Anda tidak ditipu.

Contoh hardware yang dijamin menunaikan hak pengguna

Sudah ada sertifikasi yang menjamin laptop dan hardware tertentu sepenuhnya menunaikan hak pengguna. Sertifikasi itu namanya Respects Your Freedom (RYF) yang diasuh oleh Free Software Foundation (FSF). FSF adalah organisasi yang mengasuh h-node.org di atas. Di antara laptop yang telah disertifikasi sebagai RYF adalah Lenovo ThinkPad X200 yang dijual oleh toko Technoethical, Minifree, Vikings, dan Libiquity. Di antara WLAN yang disertifikasi RYF adalah TPE-N150USB dari ThinkPenguin. Semua ini terjamin 100% beroperasi di GNU/Linux dengan free software dan tidak akan menyeret Anda kepada nonfree software. Inilah hardware paling baik di dunia saat ini yang bisa saya rekomendasikan untuk semua orang.

Solusi untuk kita semua

  • Pertama, bersabarlah dengan hardware yang telah Anda punyai sekarang dengan GNU/Linux dan free software yang ada.
  • Kedua, selalu waspada dan pastikan informasi yang benar setiap hendak membeli laptop baru atau hardware baru. Jangan terpaku pada spesifikasi teknis saja, lebih perlu diperhatikan hak Anda itu ditunaikan apa tidak.
  • Ketiga, berpikirlah dengan tenang dan jangan mudah menuntut pihak lain di bidang komputer apalagi yang tidak bersalah.

Catatan

Kendati saya menyebutkan Intel* dan AMD* di atas, perlu diketahui, saya menyebutkan demikian berdasarkan artikel pengembang Sway tersebut. Di luar itu, sebenarnya Intel dan AMD tidak kalah bermasalahnya dengan NVIDIA dalam perkara hardware. Lihatlah kecaman dan peringatan di situs Libreboot Project. Tidak kalah bermasalah lagi Broadcom yang juga dikutuk dalam tulisan dia dan pernah saya singgung berulang kali di Restava ini. Saudara sekalian, saya harap Anda bisa lebih menghargai pentingnya sertifikasi RYF dan proyek-proyek semisalnya. Saya harap Anda lebih menghargai pentingnya https://h-node.org dan hardware yang bebas bagi para pembelinya.

Ayo bantu saya sadarkan teman Anda

Bantulah saya memahamkan perkara ini kepada teman-teman Anda. Kita perlu memberikan pengertian agar informasi yang mereka terima itu benar dan keputusan yang diambil tidak salah alamat. Jangan sampai ada salah tuduh lagi. Jangan sampai ada korban lagi. Bila Anda pengguna NVIDIA, di antara hal yang bisa Anda lakukan sebagai pembeli tentu menulis surat ke NVIDIA untuk meminta hak Anda. Itu hak Anda dan hanya NVIDIA yang punya tanggung jawab menunaikannya. Kami komunitas GNU/Linux tidak bertanggung jawab atasnya. Tolong bantu saya sebarkan kesadaran ini ke orang lain. Terima kasih.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Iklan

Mengunduh Fedora Silverblue

Bismillahirrahmanirrahim.

https://torrent.fedoraproject.org

https://torrent.fedoraproject.org/torrents/Fedora-Silverblue-ostree-x86_64-29.torrent

Akhir-akhir ini saya tertarik dengan “OSTree” dan ingin tahu distro GNU/Linux yang memakainya. Ternyata, distro yang paling maju dalam penerapan OSTree ini adalah Fedora Silverblue (varian Silverblue dari distro Fedora). Kalau Anda baca situsnya, Anda akan berhadapan dengan istilah asing seperti “OSTree”, “immutable”, “Flatpak”, “tanpa manajer paket”, dan seterusnya. Sederhana saja: Silverblue itu distro GNU/Linux yang dipisahkan antara ruang sistemnya (tak bisa diubah/”immutable”) dan ruang aplikasinya (bisa diubah). Untuk membuat pemisahan itu maka teknologi yang bernama “OSTree” tadi dipakai. Mengenai hal-hal lain seperti “rpm-ostree” dan selanjutnya tidak saya bahas di sini.

Distro-distro lainnya tidak seperti ini dan belum mengarah ke sini* sama sekali. Tujuannya, nanti, kita memutakhirkan segala macam aplikasi maupun sistem itu secara aman dan tidak seperti pada distro normalnya: setiap upgrade bisa di-undo (dikembalikan seperti semula) dan rusaknya aplikasi tidak akan pernah merusak sistem (sebab sudah dipisah ruangnya). Menarik, bukan?

Lalu apa hubungannya dengan “tanpa manajer paket”? Hubungannya dekat. Bandingkan saja dengan Ubuntu yang menginstal aplikasinya pakai manajer paket “APT”, Fedora original pakai “DNF”, CentOS pakai “YUM”, dan seterusnya. Normalnya, setiap distro punya manajer paket dan software diantarkan ke pengguna secara terpaketkan (yaitu memakai aturan manajer paket). Fedora Silverblue tidak begitu. Silverblue hanya memakai Flatpak: metode distribusi software modern yang berlaku untuk segala distro.

Jadi singkatnya, Fedora Silverblue ini sebuah GNU/Linux dengan sistem berkas OSTree dan manajemen software Flatpak. Tentu ini menarik sekali untuk dicoba.

(*) Pada saat yang sama, sebenarnya ada distro lain dengan kombinasi OSTree + Flatpak yang bernama EndlessOS. Perbedaannya ialah antara Separuh-OSTree dengan Sepenuhnya-OSTree (Silverblue dan EndlessOS, berurutan).

Mematuhi Lisensi Nonfree Software Itu Antisosial

Bismillahirrahmanirrahim.

Banyak orang tidak tahu bahwa menepati perjanjian proprietary software itu juga salah, sama salahnya dengan melanggar perjanjian tersebut. Perhatikan baik-baik, melanggar perjanjiannya berarti mengkhianati satu orang, dan itu salah; akan tetapi mematuhi perjanjiannya berarti mengkhianati lebih banyak orang dan itu juga salah. Jangan dikira kebalikan dari melanggar lisensi proprietary software berarti benar, karena, inti lisensi proprietary software itu antisosial. Saya selalu menjelaskan perkara ini dalam banyak kesempatan di sekolah online Teknoplasma dan selalu saya ulangi kembali di beberapa tulisan saya agar semua orang tahu. Semoga dengan tulisan ini saudara-saudara yang masih belum mengerti menjadi mengerti bahwa mematuhi lisensi nonfree software itu sesuatu yang tidak bisa diterima.

Memilih antara Melanggar Janji atau Menolak Semua Orang

Orang-orang yang sudah mengetahui bahwa melanggar perjanjian itu salah telah mengetahui dengan benar. Ya, melanggar janji itu salah. Akan tetapi, berhenti di situ saja kurang, sebab harus Anda bedakan nonfree software dan free software, jangan dipersamakan karena keduanya berbeda. Nonfree itu antisosial, sedangkan free software menunaikan hak pengguna dan masyarakatnya. Maka Anda perlu menganalisis apa inti perjanjiannya dan apa akibat dari mematuhi perjanjian itu, jangan cuma pelanggaran janjinya. Bila Anda sudah bisa mengatakan pelanggaran perjanjian itu salah, maka Anda akan bisa mengatakan penepatan perjanjiannya juga salah, dengan syarat Anda tahu hakikat lisensinya. Baca terus.

Contoh Kasus

Ada banyak orang beralasan memakai Microsoft Office yang dilanggar perjanjiannya (dengan cara menyalin dari orang lain, atau minta diubahkan batasannya) itu salah karena itu melanggar perjanjian yang telah disepakati pengguna itu sendiri. Alasan ini benar. Ya, melanggar perjanjian itu salah. Sekolah dan semua bentuk pendidikan tidak boleh mengajarkan perbuatan ini.

Namun masalah muncul ketika orang yang sama beralasan untuk kasus sebaliknya. Mereka beralasan memakai Microsoft Office, WPS, Photoshop, CorelDRAW, itu tidak salah asalkan pengguna mematuhi perjanjiannya. Alasan ini tidak benar, alasan ini tidak bisa diterima sebab mematuhi perjanjiannya itu juga salah karena nonfree software itu antisosial. Anda hanya bisa mengatakan tidak salah seperti itu jika software itu free. Sekolah dan semua bentuk pendidikan seharusnya tidak boleh juga mengajarkan perbuatan ini.

Tampak pada dua kasus di atas orang yang beralasan seperti itu tidak tahu bedanya nonfree dan free software. Orang tersebut mempersamakan software yang melarang berbagi dengan yang mengizinkan berbagi. Seperti melihat gunung sebagai lembah dan melihat lembah sebagai gunung.

Lisensi

Tahukah Anda lisensi nonfree software? Lisensi, surat kontrak atau surat perjanjian, adalah surat izin yang dikeluarkan oleh pengembang software kepada pengguna software. Tiap-tiap pengguna nonfree software normalnya sudah menandatangani surat itu secara otomatis ketika memasangnya atau menerima komputer berisinya. Nonfree software berarti tidak bebas, atau proprietary, bukan berarti tidak gratis (“berbayar”). Jangan artikan nonfree software itu tidak gratis, tetapi artikan yang benar tidak bebas. Disebut tidak bebas karena sungguh penggunanya tidak bebas, keputusan pengguna dikekang oleh pengembang. Lisensi seperti lisensinya Microsoft Windows mempersyaratkan pengguna untuk tidak berbagi dan tidak mengubah programnya, dua hak mendasar yang menjadi basis aktivitas sosial bermasyarakat bagi setiap orang.

Hakikat Lisensi Nonfree Software

Sebelum melihat perbandingan dua kemungkinan, Anda harus lihat apa inti lisensi nonfree software. Inti dari tiap-tiap lisensi nonfree software itu ucapan janji pengguna yang antisosial: “saya berjanji tidak akan menolong orang lain semuanya demi memperoleh software untuk diri saya sendiri“. Konsekuensi perjanjian ini Anda harus mengatakan “tidak, saya sudah berjanji tidak membantu kamu” ke semua orang yang minta salinan program atau minta versi perubahan program dari Anda (dan kebalikannya, Anda juga tidak boleh minta dari orang lain) padahal Anda sanggup menolongnya. Dengan perjanjian nonfree software, Anda berjanji untuk tidak menolong tetangga, keluarga, saudara, teman, suami atau istri, pelanggan, atasan dan bawahan, guru dan murid, masyarakat dan pemerintah, negara dan bangsa, semua orang kecuali pengembangnya saja. Ini antisosial. Software yang menghentikan Anda dari berbagi adalah antisosial, anti-masyarakat. Ini yang banyak orang tidak tahu dan sering kalinya disebabkan karena tidak mengetahui apa sebenarnya inti lisensi-lisensi tersebut. Kebanyakan mereka hanya berasumsi yang tidak benar yaitu menganggap nonfree itu free software.

Membandingkan Dua Kemungkinan

Sekarang karena Anda sudah tahu apa inti lisensi nonfree software, maka Anda bandingkan dua kemungkinan perilaku pengguna yaitu melanggarnya dan mematuhinya. Akan tampak kebenarannya sebagai berikut:

  • Melanggar perjanjiannya = Anda berbagi software = Anda mengkhianati satu orang yaitu pengembangnya saja = mengkhianati satu orang itu salah
  • Mematuhi perjanjiannya = Anda menolak berbagi = Anda mengkhianati lebih banyak orang yaitu semua orang selain pengembangnya = mengkhianati lebih dari satu orang juga salah

Lihat. Jelas sudah bahwa melanggar perjanjiannya salah, mematuhinya juga salah. Bahkan, Anda bisa melihat lebih jelas bahwa mematuhinya justru lebih besar salahnya karena lebih banyak orang yang disakiti dengannya.

Mengapa Masyarakat Memilih Melanggar?

Sering muncul pertanyaan yang berbunyi “mengapa mayoritas orang memilih untuk melanggar lisensi software?”. Tanpa Anda mengetahui penjelasan seperti di atas, Anda akan sulit menjawabnya. Namun karena Anda sudah tahu sekarang, maka Anda akan mudah sekali menjawabnya: itu karena hati nurani orang-orang sebetulnya paham kalau dua kemungkinannya sama-sama salah, tetapi berbuat salah kepada semua orang lebih jahat daripada berbuat salah kepada satu orang pengembangnya saja, maka mereka memutuskan berbagi saja (terjebak jatuh pada pelanggaran janji). Intinya, Anda paham lebih jelas lagi kalau mematuhi lisensi nonfree software itu lebih salah daripada kesalahan melanggarnya saja. Tidak bisa lagi Anda mengatakan mematuhi lisensi nonfree software itu OK.

Kesalahpahaman Menjadi Jelas

Di antara sebab kekeliruan dalam masalah perjanjian software ini adalah karena kebanyakan orang salah menganggap nonfree software itu free software. Yang benar adalah tidak sama, nonfree software itu nonfree, tidak sama dengan free software. Mengapa orang bisa salah paham? Ya, karena mereka berperilaku terhadap nonfree software (seperti Windows dan Photoshop) dengan membagikan salinan-salinannya baik dengan atau tanpa perubahan baik dengan atau tanpa biaya. Perilaku demikian adalah bukti bahwa orang menganggap nonfree software tersebut free, yaitu bebas untuk dibagikan dan bebas diubah. Ini salah karena nonfree software tersebut tidak bebas, mereka melarang pengguna berbagi dan mengubahnya. Software yang melarang Anda membagikan dan mengubahnya adalah tidak bebas. Kesalahan ini terjadi pada semua sektor perkomputeran di masyarakat kita akibat tidak adanya penjelasan bedanya nonfree dari free software. Maka jelaslah adanya kesalahpahaman umum yaitu gagalnya orang membedakan nonfree dan free software.

Nonfree Software Itu Masalah

Maka jelas bahwa nonfree software itu tidak bisa diterima oleh semua orang karena merupakan masalah sosial serius. Nonfree software itu memecah belah masyarakat (“keep them divided”) dan membuat masyarakat tidak berdaya (“make them helpless”). Pecah belah karena orang tidak boleh berbagi, tidak berdaya karena orang tidak boleh mengubah. Tiap-tiap pengguna nonfree software selalu dalam posisi tidak berdaya. Maka nonfree software itu bukan solusi, tetapi sumber masalah, karena dia antisosial anti-masyarakat. Menepati perjanjiannya membuat Anda antisosial, sedangkan melanggar perjanjiannya membuat Anda bersalah. Tidak ada yang benar. Maka sekarang Anda tahu kalau nonfree software itu bukan kawan Anda.

Solusinya Juga Jelas

Solusinya adalah tidak menerima nonfree software. Jelas sekali.

Anda perlu menolak tiap-tiap nonfree software yang ditawarkan dan tidak menerima perjanjiannya sebelum Anda berjanji. Anda perlu menghapus tiap-tiap nonfree software (seperti Microsoft Office dan Google Chrome) yang Anda gunakan. Di lain pihak, tiap-tiap pengembang nonfree software termasuk pembuat hardware semacam Nvidia harus merilis ulang setiap produk mereka sebagai free software. Jika tidak, mereka mendistribusikan software antisosial yang merugikan masyarakat.

Solusinya tidak berhenti di situ. Kebanyakan orang tidak tahu kalau selain nonfree software, ada free software, satu golongan software yang tidaklah proprietary yang memberi pengguna hak penuh untuk berbagi dan mengubahnya. Tidak seperti nonfree software, tiap-tiap free software bebas digunakan tanpa batas waktu dan tanpa batas bidang apa pun. Maka dengan free software inilah baru Anda bisa berperilaku seperti hidup Anda biasanya yaitu saling berbagi software dengan orang lain. Maka solusinya juga jelas, Anda perlu menggantikan nonfree software yang Anda tolak dengan free software yang ada. Dengan demikian perkomputeran Anda bersih dari software yang antisosial anti-masyarakat.

Maka gunakan sistem operasi GNU/Linux yang free, seperti Trisquel, sebagai ganti sistem operasi Windows yang nonfree. Maka gunakan program LibreOffice dan Inkscape yang free, sebagai ganti program Microsoft Office dan CorelDRAW yang nonfree. Maka ajarkan mahasiswa Anda Scilab yang free, jangan ajarkan MATLAB yang nonfree. Seterusnya Anda bisa lihat rekomendasi free software dari situs The Directory untuk pengguna Windows juga untuk pengguna macOS.

Di dalam meraih jalan keluar ini Anda akan mengalami kesulitan dan hambatan. Anda tidak akan bisa bermigrasi secara sempurna pada awalnya, melainkan pasti ada kekurangan-kekurangan. Misalnya, masih pakai Windows tetapi sudah berupaya memakai LibreOffice tanpa Microsoft Office, itu sudah bagus dan kemajuan besar (dengan tetap berniat beralih ke GNU/Linux mengingat Windows itu spyware permanen). Maka Anda perlu berniat yang kuat untuk beralih dan terus menjaga dan menyempurnakan kebaikan yang sudah Anda dapatkan. Jangan rendahkan teman yang belum sanggup beralih total sebab posisi mereka sedang dizalimi nonfree software, mereka itu korban bukan pelaku kejahatan, maka bantulah dan dukunglah mereka. Teruskanlah berbagi free software dan free OS ke semua orang.

Beruntungnya Pengguna GNU/Linux

Alhamdulillah, dengan pemaparan di atas, seharusnya kini Anda bisa lebih mensyukuri adanya GNU/Linux semacam Trisquel OS, yang memberi penggunanya puluhan ribu free software yang memenuhi semua kebutuhan perkomputeran yang ada di dunia saat ini. Semua software tidak bebas yang Anda temui di Windows sudah ada penggantinya di GNU/Linux. Dengan kata lain, pengguna GNU/Linux secara umum bersih dari perangkat lunak yang antisosial anti-masyarakat, hak-haknya ditunaikan secara sempurna dan mereka tidak dizalimi oleh pengembang mana pun. Ditambah lagi, betapa tenang hidup pengguna GNU/Linux, yang tidak pernah terkena virus atau malware lainnya, dan tidak butuh antivirus. Betapa beruntung. Semoga tulisan pendek ini mencerahkan dan memberi Anda semua jalan keluar.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Beberapa Materi Presentasi GNU/Linux dari Teknoplasma

Bismillahirrahmanirrahim.

Apa itu Teknoplasma? Teknoplasma adalah sekolah GNU/Linux Desktop untuk pemula yang saya adakan di internet. Tidak seperti sekolah umumnya, Teknoplasma bersifat nonformal dan tidak memiliki sertifikat. Anda bisa mengikuti kelas-kelasnya lewat Telegram. Alamat website Teknoplasma https://kursusteknoplasma.wordpress.com.

Apa saja materi pelajaran Teknoplasma? Pada kursus-kursus gratis, yang saya namakan “kursus G”, saya mengajarkan teori dasar Free Software seperti perkenalan GNU/Linux dan Desktop Environment, maupun mengapa software harus free dan bahwa memperjualbelikan free software itu boleh. “Free” dalam free software berarti bebas bukan gratis, terkait dengan hak pengguna bukan harga. Di antara materinya juga adalah perkenalan komunitas GNU/Linux dan bagaimana tata cara bertanya di forum. Pada kursus-kursus inilah materi pelajaran Teknoplasma berupa presentasi. Saat ini ada 30 lebih silabus materi yang bisa diunduh gratis di pusat unduhan.

Apa bentuk materinya? Silabus-silabus materi Teknoplasma berbentuk presentasi. Format dokumennya ODP, format yang lebih baik daripada PPTX. Setiap peserta wajib memegang silabus pada setiap kelas yang diikuti.

Kenapa silabus materinya berupa presentasi? Karena presentasi paling mudah ditulis. Dengan membuat materi presentasi, saya tinggal mengajarkannya dengan cara mengambil gambarnya halaman demi halaman ke Telegram pada setiap sesi pelajaran. LibreOffice Impress adalah program yang saya pakai untuk menulis presentasi, inilah program yang sama fungsinya seperti Microsoft PowerPoint.

Kenapa format presentasinya ODP tidak PPTX? Karena saya ingin semua peserta Teknoplasma menggunakan LibreOffice. LibreOffice adalah program yang sama fungsinya seperti Microsoft Office, tetapi lebih baik, karena LibreOffice merupakan perangkat lunak bebas. Tanpa saya menyediakan format ODP, orang tidak akan memakai LibreOffice, dan tidak akan berpikir untuk memilikinya pada komputer-komputer mereka. Sebaliknya kalau saya menyebarkan PPTX, orang tidak akan tahu kalau format PPTX itu antisosial, maka tentu saya tidak melakukannya dan tidak akan mengajari orang memakainya. Dengan saya memberi mereka ODP, banyak sekali peserta menginstal LibreOffice dan kemudian terus mengikuti kursus dengan LibreOffice pula.

Apa saja materi-materi presentasi yang paling penting dari Teknoplasma? Dari kursus G, yang paling penting tentunya yang paling mendasar mengenai Free Software dan GNU/Linux, lalu yang paling bisa dipraktikkan seperti berkirim email dan contoh pemakaian LibreOffice Calc.

Di situs mana presentasi Teknoplasma pernah disorot? Situs Wiki Pengguna GNU memajang sebagian presentasi saya pada halaman pertamanya.

Kenapa artikel ini dibuat? Karena saya ingin presentasi-presentasi yang saya buat bisa Anda presentasikan di sekolah-sekolah dan di kampus-kampus Anda. Saya ingin presentasi ini dipresentasikan juga di kantor-kantor dan instansi-instansi Anda. Saya ingin Anda menyampaikan presentasi saya ke guru dan dosen Anda. Pendidikan harus mempergunakan free software saja dan tidak berpartisipasi sama sekali dengan nonfree software. Saya ingin presentasi saya bermanfaat untuk semua orang di semua tempat di Indonesia ini. Semoga bermanfaat.

Apa lisensi presentasi Teknoplasma? Semua materi presentasi Teknoplasma berlisensi CC BY-SA 3.0 yang artinya saya izinkan Anda mengubah dan menerjemahkannya dan mendistribusikan salinan-salinannya baik secara gratis maupun komersial dalam bentuk fisik maupun digital dengan syarat Anda mengakui nama pengarang dan tidak mengubah lisensinya. Jadi tidak seperti buku-buku paket sekolah, Anda boleh memfotokopi dan memperjualbelikan buku-buku saya ini karena lisensinya CC BY-SA. Lisensi ini lisensi bebas dan sama dengan lisensinya semua artikel Wikipedia.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Membeli Secara Anonim? Miliki Email Anonim!

Bismillahirrahmanirrahim.

Membeli barang lewat internet itu bisa anonim. Anonim berarti sama seperti di pasar-pasar: Anda tidak menyerahkan atau sesedikit mungkin membiarkan identitas lengkap Anda ke pihak lain. Praktiknya, Anda bisa membuat satu akun tanpa nama asli di toko internet favorit Anda dan mengarahkan setiap pembelian ke alamat asli tetapi tanpa nama lengkap Anda. Praktik ini sudah beberapa kali saya praktikkan dan sukses. Namun malam ini saya menemui masalah (di antaranya juga karena kibor rusak dan kondisi kesehatan) tidak bisa verifikasi karena saya lupa memasukkan tambahan email pada akun anonim saya sebelum saya membeli. Toko internet satu ini tiba-tiba saja mencegat login saya dengan minta verifikasi (ini sudah sering saya rasakan pada toko satu ini, padahal beberapa menit sebelumnya saya masih login) setelah saya berhasil membayar dan saya tidak bisa login karena semua lini login tidak saya punya. Email yang saya pasang di situ adalah email 10 menitan. Dan, kesalahan saya adalah saya belum memasukkan email alternatif ke situ sebelumnya. Jadi kesimpulannya selalulah masukkan email alternatif (yang juga anonim, tentu) ke akun toko internet Anda segera setelah membuat akun. Jaga privasi Anda, perhatikan anonimitas Anda, dan selalu siaga jauh sebelum didahului oleh toko maupun kesalahan pribadi Anda sendiri. Anda yang peduli privasi tentu tidak akan membuat akun Gmail, maka saya rekomendasikan BitMessage Email atau ProtonMail yang bisa diperoleh gratis. Miliki satu akun email anonim yang akan Anda pakai membeli berkali-kali. Adapun kepada toko internet, tolong dukunglah dan prioritaskanlah privasi dan anonimitas pembeli. Semoga catatan ini berguna.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.