Bagaimana Saya Menjelaskan Perangkat Lunak Bebas kepada Orang Awam

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya berkesempatan menerangkan perangkat lunak bebas (free software) langsung di hadapan orang awam pada dua tahun belakangan ini di tempat saya biasa internetan. Sebagaimana saya berupaya menerangkannya di Restava (2016, 2017, 2018, 2019) dan di Beranda (2016) dan juga di Teknoplasma (2017, 2018, 2019), saya jelaskan secara tatap muka apa itu free software dan bahwa pengguna punya hak-hak atas software. Di antara yang saya sampaikan pertama-tama adalah bahwa free software bukanlah perangkat lunak gratis melainkan bebas (kadang, saya sebut merdeka). Orang yang mendengar penjelasan saya dapat menerimanya bahwa maksud saya bukan harga melainkan hak-hak si penggunanya.

Tambah lagi, saya pun berupaya menjelaskan bahwa semua free software boleh dijual dan anggapan tidak boleh dijualnya itu salah. Saya memberikan pengertian bahwa hanyalah perangkat lunak tidak bebas (nonfree, proprietary software) yang tidak boleh dijual oleh penggunanya. Tentu saya memberikan contohnya yaitu Windows dan saya jelaskan pula kalau lisensi Windows menghapuskan hak-hak penggunanya. Saya pun berupaya menegaskan bahwa nonfree itu software yang dikendalikan oleh pengembangnya bukan oleh penggunanya agar orang tersebut tahu ada ketidakadilan di sana. Beda dengan free software, yakni dikendalikan sepenuhnya oleh penggunanya bukan oleh pengembangnya di dalam komputasi penggunanya.

Satu hal yang saya sukai ketika menerangkan ini adalah saat saya mengajak mereka berpikir, bahwa, jual-beli barang seperti sepeda motor itu sifatnya bebas (merdeka) sebab sekali Anda beli maka Anda berhak menjualnya kembali dan tidak ada ceritanya penjualnya memusuhi Anda karena itu. Itu waras. Sebaliknya, menurut Windows dan semisalnya, maka kalau Anda sudah beli Windows maka Anda dilarang memperjualbelikan salinan-salinannya. Kalau Anda menggandakan dan memperjualbelikannya, maka pengembangnya memusuhi Anda. Itu tidak waras. Saya senang ketika mereka bisa memahami itu. Catatan penting: saya tidak mempersamakan antara sepeda motor (benda tangible) dengan software (benda non-tangible).

Satu hal yang juga sangat saya sukai adalah ketika saya berusaha membuka pikiran mereka tentang virus komputer kemudian mereka mengerti. Yakni, bahwa virus itu termasuk nonfree software bukan free software. Mereka bisa menemukan persamaan antara virus, yang pengembangnya mengendalikan penggunanya, dengan Windows, yang melarang pengguna berbagi dan mengubahnya. Oleh karena itu, apa pun yang diputuskan oleh pengembang Windows terhadap kehidupan pengguna mutlak tidak bisa ditolak maupun diubah oleh pengguna. Saya juga tanya, “bukankah virus tidak memberi penggunanya kode sumbernya?” dan biasanya orang jawab “oh iya juga, ya!”. Saya tinggal mengarahkan “karena itulah virus bisa mengendalikan penggunanya dan pengguna tidak berdaya sama sekali”.

Demikian hal-hal yang saya sampaikan. Mereka yang mendengar penjelasan saya tidak ada yang marah. Bahkan saya tanya, “saya jelaskan seperti ini Anda sakit hati atau tidak?”, mereka jawab “tidak sakit hati” sambil senyum. Saya harap catatan ini bermanfaat untuk semua orang terutama yang sedang menyampaikan perangkat lunak merdeka ke masyarakat Indonesia.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

3 respons untuk ‘Bagaimana Saya Menjelaskan Perangkat Lunak Bebas kepada Orang Awam

  1. Bismillah. Maasyaa Allah, cara yang sangat sederhana namun padat makna dari kakak. Saya juga senang karena setelah membaca beberapa tulisan dari kakak dan mengajarkannya kepada teman-teman saya , ada yang bahkan langsung mau diinstalkan GNU/Linux (meski dual boot), ada jg yang mau instal free software seperti InkScape dan GIMP, PSPP, Persepolis Download Manager, Geany, dan software bebas lainnya. Tetap semangat kak dalam mengajarkan free software ke masyarakat Indonesia, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi jasa kakak ini, aamiin

    • Alhamdulillah, hanyalah karena Allah Ta’ala segala kebaikan menjadi sempurna. Saya tidak punya jasa apa pun kepada dunia ini. Alhamdulillah, tolong sampaikan salam saya kepada teman-teman itu, ya Kang Alif.

  2. Bismillahirrohmanirrohiim. Maaf sebelumnya, kak. Mau bertanya, apakah saya boleh membuat desain baju LIbreOffice lalu menjualnya?
    Jika iya, haruskah ada batasan dalam pembuatan baju tersebut?
    haruskah minta izin ke pihak LibreOffice Indonesia atau TDF?
    mohon masukannya kak

Mohon jangan gunakan emotikon:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s