Mereka Cinta Proprietary Software

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Ada satu alasan kenapa sebagian orang selalu berkelit ketika mau tidak mau memasuki pembahasan software freedom, yaitu karena mereka cinta proprietary software. Tindakan yang saya amati dari berbagai macam mereka sering satu jalur, yaitu mereka ajarkan bahwa proprietary dan free software itu sama, tidak ada bedanya, dan jangan dibandingkan antara keduanya. Salah satu penyebab mereka sampai kepada dugaan itu ialah anggapan “gunakan software sesuai kebutuhan“. Dan niat terselubung yang sangat jelek darinya ialah mereka ingin agar komunitas berhenti memperingatkan dan mengedukasi masyarakat bahwa proprietary software adalah masalah sosial. Tulisan ini hendak mengingatkan setiap pengguna GNU/Linux yang jujur dan tulus niatnya yakni mengarah kepada legalitas maupun ke etika dalam bersoftware, dari ancaman sekelompok orang yang ingin memaksakan proprietary software ke masyarakat. Tulisan semacam ini mesti lebih banyak ditulis dan disebarluaskan. Baca lebih lanjut

Lebih Dekat Mengenal GNU

Bismillahirrahmanirrahim.

Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Bila sudah lama Anda menggunakan sistem operasi dengan kernel Linux®, tetapi Anda belum kenal GNU, sudah saatnya sekarang Anda mengenal GNU lebih dekat.

Masalah Persepsi

Dari perjalanan saya berkomunitas, saya mengenali bahwa masalah utama yang menghalangi seseorang mengenal GNU adalah karena dia tidak mengakui GNU sebagai sistem operasi. Ini adalah persepsi, dan persepsi ini bukan tanpa alasan, karena saya temukan juga sebabnya yaitu dia membangun persepsinya hanya berdasar fakta bahwa sampai 1990 GNU tidak memiliki kernel sendiri. Fakta ini ternyata tidak bisa dipakai untuk menolak bahwa GNU adalah sistem operasi. Bagi Anda yang masih memiliki persepsi “GNU bukan sistem operasi karena tidak punya kernel“, mohon hapus dahulu persepsi itu untuk dapat meneruskan membaca artikel ini. Baca lebih lanjut

Mencoba Org Mode di Emacs

Bismillahirrahmanirrahim.

Belum genap satu bulan saya berkenalan dengan Emacs. Saat ini, setelah melihat video perkenalan org-mode, saya pun mencoba org-mode di Emacs. Ternyata, org-mode (organizer mode) ialah fitur yang mampu memproduksi secara otomatis macam-macam dokumen nonplain-text dari ketikan plain-text pengguna, misalnya membuat dokumen LaTeX, PDF, HTML (sekaligus preview), iCalendar (standar format kalender digital, dipakai oleh KOrganizer dan Google Calendar), dan di luar itu, plain-text juga. Dari dokumentasi resmi org-mode http://orgmode.org saya bisa memahami bahwa org-mode secara lengkapnya ialah fasilitas untuk penulisan catatan, diary, presentasi, jadwal, todo list, manajemen, kalender, dan tentu termasuk fitur yang telah saya sebut di atas. Saya termasuk pengguna yang butuh fasilitas organizer serta fitur produksi dokumen LaTeX. Namun saya tidak pernah mikir bahwa dokumen LaTeX bisa dihasilkan tanpa mengetik sintaks source code LaTeX sama sekali seperti org-mode ini (makanya saya sebut, otomatis). Alhasil org-mode ini fasilitas yang luar biasa di GNU Emacs yang patut dikenali oleh saya dan tentunya setiap pengguna GNU/Linux lainnya.

screenshot_20161123_103320

Pada skrinsot Emacs di atas, panel kiri (paling luas) adalah plain-text di dalam org-mode, panel tengah adalah source code LaTeX yang dihasilkan otomatis oleh org-mode, dan panel kiri adalah pratayang PDF dari dokumen LaTeX tersebut. Ya, saya menggunakan ekstensi LaTeX Preview Pane untuk mempratayangkan dokumen LaTeX.

Bila Anda belum pernah mengenal Emacs, terutama yang selama ini hanya mengenal penyunting teks (proprietary) semacam Sublime Text atau Wordpad semata, kini saatnya Anda mengenal Emacs. Coba carilah video-video perkenalan Emacs di internet dan perhatikan dengan saksama. Semoga Anda memperoleh ganti yang lebih baik dengan Emacs.

Perkembangan Pengajaran GNU/Linux kepada Teman Lama Pertemuan 1

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada 22 November 2016 saya mengajarkan kepada seorang teman lama saya:

  • contoh cara menggunakan KOrganizer
  • cara mengunduh iso GNU/Linux: Ubuntu, Fedora, dan Mageia
  • perkenalan OwnCloud hasil deploy saya di akun OpenShift saya
  • perintah instalasi KOrganizer
  • perintah instalasi indicator-multiload

Pertemuan ini adalah saat mengajar yang lama saya nanti-nantikan yang tertunda beberapa tahun. Saya memang terus menunggu dan akhirnya pada hari ini alhamdulillah saya bisa melakukannya, mengawali pengajaran rutin dengan perencanaan terlebih dulu. Saya berharap saya bisa terus mengajarkan GNU/Linux dan free software seperti ini pada pertemuan-pertemuan berikutnya kepadanya.

Kembali Menulis Dokumen LaTeX

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada bulan ini November 2016 saya mulai kembali menulis dokumen LaTeX seperti dahulu ketika saya rajin-rajinnya menulis tutorial Qt Framework dengan LaTeX di blog Malsasa. Bedanya, kali ini saya tidak memakai penyunting teks Gummi maupun Texmaker (favorit saya), tetapi saya memakai Emacs. Setelah melihat berbagai video perkenalan Emacs, saya senang dengan Emacs, dan saya mencobanya untuk LaTeX. Catatan saya, Emacs dengan ekstensi LaTeX Preview Pane hanya bisa bekerja dalam mode X11 dan tidak dalam mode –no-window. Emacs bermode X11 yang saya pakai untuk LaTeX ini memakan ~28MB memori di mesin Ubuntu 16.04 saya. Saya mau menuliskan cara konfigurasinya di UbuntuBuzz dalam waktu dekat.

screenshot-from-2016-11-20-23-49-34