Pentingnya Privasi, Privasi Tidaklah Aneh

Bismillahirrahmanirrahim.

Jumat, 22 Juni 2018.

Privasi itu penting. Privasi dalam transaksi di internet juga penting. Bukanlah aneh orang yang tidak memiliki nomor telepon, tidak punya “WhatsApp”, tidak punya “Facebook”, asalkan dia mau membeli barang Anda. Siang ini saya mengontak seorang penjual di internet dan dia merasa aneh sekali (dia ucapkan “aneh” berulang-ulang) dengan saya yang minta nomor rekening dikirim ke email saya (ProtonMail, bukan Gmail). Transaksi batal dengan ucapan penjual “soalnya Anda aneh”. Saya tidak jadi beli padahal saya perlu barangnya dan hanya dia yang menjual barang tersebut. Kesimpulannya, sang penjual online ini belum sadar pentingnya privasi dan belum bisa menghargai orang lain yang mementingkan privasi pada porsinya. Semoga barang dagangan si penjual laris terjual dan berberkah.

Umumnya penjual online menilai segala-galanya berdasarkan “nilai-nilai konsumen” seperti popularitas, gak umum = gak baek, fitur, kecantikan, kemurahan, dsb., dan karena itulah mereka tidak punya alasan untuk menolak WhatsApp dan Facebook dan sulit menghargai pembeli yang hanya mampu berkomunikasi lewat email. Apabila ada orang pincang mau beli sandal, apakah Anda suruh dia sembuh dulu baru Anda jual kepadanya, atau Anda jual sekemampuan si pincang itu? Kalau Anda bisa menjualnya, kenapa tidak untuk saya? Semoga dengan tulisan ini Anda jadi mengerti.

Bagi keumuman orang, membeli lewat “WhatsApp” atau “Facebook” atau SMS (dengan mengorbankan seluruh privasi) tidak masalah. Ingat bahwa WhatsApp dan Facebook juga adalah proprietary software. Tetapi itu mereka, bukan saya, tidakkah Anda berpikir penolakan Anda akan menyakiti calon pembeli? Apa perlunya menunggu banyak orang sadar privasi dulu baru Anda menjual, padahal saya siap beli sekarang juga? Semoga dengan permisalan ini Anda menjadi paham.

Privasi itu tidak aneh. Saya bisa mengujinya di depan Anda: cobalah berikan semua (ya, semua) akun online Anda username-nya dan password-nya ke saya, berikan juga semua fotokopi tanpa editan surat-surat berharga Anda, biar saya membukanya dan memublikasikan yang ada di dalamnya ke media internet dan media massa. Orang-orang yang melihat publikasi itu bisa memublikasikan balik ke tempat-tempat lain dan termasuk ke Darknet. Kalau jawaban Anda tidak, ya berarti Anda sadar privasi, privasi itu penting buat Anda dan saya. Apa bedanya dengan saya yang tidak punya nomor telepon dan hanya bisa beremail? Semoga dengan mempelajari Anda jadi mengerti.

Maka belajarlah tentang privasi internet. Saya sudah memulai wiki PRIVA yang berbahasa Indonesia untuk Anda semuanya. Dan jika Anda berjual beli di internet, tolong hargailah pembeli yang menjaga privasinya.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Tidak Ada “Pembajakan Software” Itu

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya selalu menegaskan bahwa tidak ada yang namanya “pembajakan software” itu di banyak pengajaran online saya di Teknoplasma. Selain itu, saya telah menulis di wiki Notabug saya dengan judul Tidak Benarnya “Memberantas Pembajakan”. Di Restava ini saya juga sudah sering menyinggung mengenai ini, terutama di artikel Jangan Tuding “Pembajak”.  Artikel ini saya tulis untuk menegaskan setegas mungkin bahwa istilah “pembajakan” itu bohong.

Istilah “pembajakan software” disebarkan oleh vendor proprietary software terutama Microsoft dan BSA, bukan dari komunitas free software, bukan juga dari komunitas open source, bukan dari komunitas GNU/Linux. Istilah ini dipropagandakan untuk merombak moral kita supaya menilai penggandaan software (istilah kita: sedekah, gotong-royong) adalah kejahatan yang harus dikriminalkan dan dihukum berat. Di mana saja istilah ini diucap, di situ selalu ada permusuhan dan orang yang merasa dihina.

Tujuan akhir istilah “pembajakan” adalah mempersamakan moral antara tindakan menggandakan software (yaitu membantu orang lain) dengan tindakan merampok kapal (yaitu membunuh dan mencuri). Tanpa Anda sadari, kalau Anda terpengaruh istilah ini, Anda akan menilai setiap orang yang menggandakan software itu kriminil. Itulah propagandanya. Itu yang mereka maukan. Dan itu batil, karena orang yang menggandakan software tidak mencuri barang (si software yang disalin tidak hilang), juga tidak membunuh orang (tidak ada yang terbunuh). Sebab propaganda ini adalah mereka vendor-vendor itu mau memaksakan prinsip dasar proprietary kepada kita bahwa pengembang software seharusnya boleh mengambil hak-hak dan wewenang milik pengguna yang bukan haknya (salah satunya: menggandakan software). Apabila Anda menerima propaganda ini, maka sadar atau tidak, Anda pasti akan memberantas free software dan GNU/Linux dan komunitasnya. Istilah yang benar untuk menyebut tindakan menggandakan software adalah ‘penggandaan software’, bukan ‘pembajakan’!

Dengan rasa persaudaraan dan sepenuh hormat, saya mengajak Anda sekalian untuk tidak menerima istilah ini dan mengusirnya. Ubahlah kebiasaan menyebut “software bajakan, kamu melakukan pembajakan” dengan sebutan yang betul “software yang digandakan, kamu melakukan penggandaan”. Bila penggandaan itu merupakan pelanggaran lisensi, maka melanggar lisensi itu salah, dan sebutannya ‘pelanggaran lisensi’ bukan ‘pembajakan’. Ajak teman Anda untuk mengusir istilah jahat ini dari masyarakat kita. Tolong bantu saya ajarkan penjelasan ini ke sekitar Anda.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.

Tidak Hanya Driver, Tetapi Juga Firmware

Bismillahirrahmanirrahim.

Artikel ini adalah cuplikan singkat dari paper yang sedang saya tulis yang rencananya mau saya publikasikan di malsasa.gitlab.io.

Ketika Anda berbicara mengenai GNU/Linux dan perangkat VGA, jangan hanya bicarakan driver, tetapi bicarakan juga firmware. Misalnya merek NVIDIA GeForce, jangan terpaku pada disediakannya driver yang free software, tetapi pastikan firmware perangkat itu free software juga. Percuma saja driver-nya free, tetapi firmware-nya nonfree (proprietary), perangkat itu akan cacat dioperasikan di GNU/Linux. Cacat ini salahnya pembuat perangkat itu, bukan salah GNU/Linux, karena si pembuat perangkat sengaja tidak menyerahkan programnya sepenuhnya kepada Anda. Bila Anda meyakini orang yang membeli barang berhak kuasa (wewenang) sepenuhnya atas barang, maka dalam hal VGA, dua-duanya (driver dan firmware) harus free yaitu diserahkan source code-nya sepenuhnya kepada pembeli. Kalau tidak, berarti si pembuat perangkat VGA sengaja menjual barang cacat kepada Anda.

Kemudian, Anda hendaknya tidak terburu-buru menyalahkan pengembang GNU/Linux apabila perangkat VGA beroperasi secara cacat. Periksa dulu apakah si pembuat perangkat VGA sudah menunaikan hak pembelinya, atau tidak. Menunaikan hak pembeli itu berarti menyerahkan program-programnya (driver dan firmware) secara sempurna dalam bentuk source code dan hak-haknya kepada pengguna. Kalau tidak, dan ini yang selama ini selalu terjadi, maka itu jelas salahnya si pembuat perangkat dan Anda harus meminta hak Anda darinya. Jangan meminta hak Anda dari komunitas GNU/Linux yang tidak mengambilnya dari Anda.


Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0.