Sistem Service Pack di Linux, Sebuah Gagasan Baru

Bismillahirrahmanirrahim.

10443115_401523883336228_7950498863626188923_o

Hampir seluruh posting kritik saya terhadap developer Linux mengisyaratkan adanya sistem service pack. Bisa juga disebut bundle (karena mirip Chakra Linux Bundles). Intinya tetap saja single offline installer (bacalah tulisan ini dan itu). Namun seluruh tulisan mengenai itu masih belum konkret. Saya baru saja menuliskan bentuk konkretnya dalam komentar di salah satu tulisanĀ pengguna IGOS Nusantara. Terima kasih untuk Kang rhdsv. Apa service pack? Apa untungnya untuk pengguna? Berikut ini salinannya.

 


Mulai Kutipan


Yang jadi masalah di mana-mana

1) kompatibilitas hardware,
2) sistem manajemen paket.

Seandainya IGN itu punya sistem bundel, maksud saya seperti Windows Service Pack, itu akan menghapus satu dari dua penghalang di atas. Apa itu service pack? Service pack adalah satu paket RPM berisi paket-paket RPM lain yang bertugas menginstal 1 aplikasi lengkap dengan dependensinya untuk 1 versi IGN. Pengguna akhir jadi bisa

1) instal
2) simpan installer
3) berbagi installer sesama pengguna IGN
4) cukup unduh 1 berkas untuk semua dependensi dari 1 tempat untuk memperoleh installer

Keempat poin ini yang seringkali kacau balau di bidang sistem manajemen paket di masyarakat. Baik keluarga Debian atau Red Hat. Itu yang bikin orang ogah Linux. Utamanya pada pengguna baru. Nantinya, kalau sistem ini benar-benar dibikin, masyarakat akan merambah ke nomor 5 ini:

5) muncul DVD service pack berisi banyak aplikasi dan didistribusikan ke sekolah-sekolah atau masyarakat lainnya

Kalau sudah begitu, barulah pengguna bisa menyebut mudah instalasi aplikasi di IGN dan baru dengan itu, mereka akan mau menggunakan secara kolektif (walau harus dualboot dulu). Silakan akang sebagai guru bayangkan, sulit bagi para guru instal aplikasi Linux (Windows aja kadang ada yang gak tahu). Dengan sistem bundel, mereka akan sangat dimudahkan. Just do double click. Karena di Indonesia ini, pengguna tidak pernah butuh OS. Mereka butuh aplikasi. Saya kasih contoh service pack (SP) yang pantas dibikin lebih dulu:

1) SP khusus Wine
2) SP khusus Codec
3) SP khusus GIMP
4) SP khusus Inkscape
5) SP khusus Chrome/browser lain
6) SP khusus driver NVIDIA

Kalau sekiranya sistem add/remove program IGN masih seperti sekarang, saya tidak heran akan susah mengajak orang menggunakan. Cukup dikembalikan ke diri sendiri, apa gampang menginstal aplikasi dalam keadaan internet kosong? Seperti kalimat yang ada tulisan NOL di atas.

Ini hanya pendapat pribadi saya saja, Kang. Overview untuk turut membangun IGN dari ide. Sedikit dari yang paling sedikit. Terima kasih.

NB: kunci dari penciptaan setiap bundel, ada di posting terbaru akang masalah offline package management system di IGN.


Selesai Kutipan


 

Ide service pack ini berlaku tidak hanya untuk distro RPM. Distro turunan Debian semacam Blankon dan Grombyang layak mengimplementasikannya. Semoga bermanfaat.

Iklan

Pertama Kali Menggunakan WIFI.ID

Bismillahirrahmanirrahim.

Sudah lama saya ingin internetan dengan WIFI.ID. Sejak rekan-rekan saya bercerita betapa murah dan cepatnya internetnya WIFI.ID. Ternyata benar, saya dapat kecepatan unduh 300 KB/s hingga 1 MB/s konstan malam ini. Saat ini saya menikmati internet melalui Speedy Inst@n WIFI.ID (bukan Telkomsel atau Flexi). Tarifnya amat sangat murah, 5000 rupiah untuk internetan 24 jam. Rasanya seperti mimpi karena dulu saya membayar 6000 rupiah untuk 2 jam saja. Betapa jauh murahnya. Mudah pula aksesnya. Saya cukup beli vocer di tempat (hanya 5000 rupiah) lalu login ke Captive Portal-nya berdasarkan username dan password yang tertera. Layanan WIFI.ID ini akan sangat memudahkan semua pengguna Linux di Indonesia. Mereka bisa instal aplikasi tanpa hambatan sedikit pun. Seperti biasa, berikut saya tampilkan skrinsot-skrinsot saya. Terima kasih Telkom dan pemerintah.

1. Login


multibootusb15
Masukkan username dan password

Baca lebih lanjut

Kumpulan Skrinsot PCLinuxOS 2014.08 FullMonty

Bismillahirrahmanirrahim.

Kangen Mandriva, kebetulan lihat pranala PCLinuxOS kemarin, kemudian langsung saya unduh. Kebetulan memang saya ingin coba PCLinuxOS sejak dulu. Saya ambil PCLinuxOS FullMonty (versi allinone, paling komplet) berukuran 4 GB. FullMonty itu didirikan dari KDE (versi yang saya pakai adalah 4.13.3). Dan benar saja isinya amat sangat banyak. Berikut ini kumpulan skrinsotnya.

pclinuxos38

Sekilas PCLinuxOS

PCLinuxOS adalah distro turunan Mandrake (kemudian Mandriva) yang ditujukan untuk pemula dan orang awam. Distro ini sudah berisi codec dan Wine prainstal. PCLinuxOS ditujukan untuk pengguna, dan realisasinya nyata. Itu terbukti dengan PCLinuxOS Control Center (PCC), KDE, codec dan Wine tadi, dan bahkan disertakannya sejumlah aplikasi Windows di dalamnya. Distro ini layak dijadikan pelajaran bagi mereka yang sedang meremaster distro di Indonesia.Ā  Baca lebih lanjut

Provokasi

Bismillahirrahmanirrahim.

distributor-logo-ubuntuTulisan ini adalah backup dari folder Provokasi di Ubuntu saya. Folder ini berisi hanya gambar-gambar yang sangat sering saya unggah ketika saya ingin “memprovokasi” orang. Provokasi di sini arahnya tidak negatif, melainkan ajakan yang kuat untuk menggunakan Linux, FOSS, dan software legal. Saya memilih sejumlah skrinsot terbaik di antara yang terbaik dan selalu membagikannya ketika diperlukan. Berikut penjelasan saya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Ricchan Openbox Custom


Ini gambar yang paling sering saya unggah. Skrinsot ini adalah alasan sesungguhnya saya membuat folder khusus Provokasi di Ubuntu. Ini karya anak Indonesia, nama beliau adalah Eko Prawiro Gunadi alias ricchan. Kenapa saya masukkan ini dalam folder Provokasi? Kenapa saya sering mengunggahnya? Dan kenapa ini jadi alasan saya membuat folder tersebut? Simpel, karena antarmuka ini benar-benar keren. Ini adalah Openbox dengan pernak-pernik Conky (kustom) dan lain-lain. Tidak banyak orang mampu mengustomisasi desktop secara low level scripting macam ini. Dan kalaupun ada, belum tentu hasilnya bisa sebagus ini. Tidak ragu lagi saya sering membagikan ini ke mana-mana untuk menarik orang menggunakan Linux. Biarlah mereka tahu, antarmuka Linux itu sesungguhnya futuristik, keren, dan beyond imagination.

test_by_rizal12345-d69h9tt Baca lebih lanjut

Backup Itu Penting Edisi 4

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya punya banyak folder dalam partisi cadangan. Folder-folder tersebut berisi amat sangat banyak folder dan berkas lain. Salah satunya adalah folder 11.10, isinya adalah segala backup dari Ubuntu 11.10 saya yang dulu. Sebenarnya saya sangat suka fitur upload folder milik Adrive (sementara Java saya gagal) dan Box.com (berhasil 100%) karena hasilnya 1:1 dengan mesin saya. Namun, unggahan Box.com tidak mendukung resume. Internet putus, ulang lagi dari awal. Sementara ukuran 11.10 3.6 GB (dan rata-rata folder backup saya sekian lebih ukurannya). Bagaimana mengakalinya? Salah satunya dengan membuat folder itu seisinya menjadi ISO image. Keuntungannya banyak, misalnya ISO tersebut kelak bisa di-mount layaknya CD/HDD dan diambil kembali isi-isinya. Berikut catatan saya membuat ISO dari folder dan mengunggahnya ke Mediafire. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Perintah


  • Bentuk umum:
mkisofs -RD -o nama_iso.iso alamat_folder/
  • Perintah saya:
mkisofs -RD -o 11.10.iso 11.10/

Baca lebih lanjut

Kembali ke Firefox

Bismillahirrahmanirrahim.

Setelah lama menggunakan Chromium (induknya Google Chrome), saya menggunakan kembali Firefox. Kali ini saya unduh tarball-nya versi 33.1.1 dari Mozilla dan memanggilnya sederhana melalui KDE Application Launcher Menu. Saya tidak menginstalnya, hanya saya sematkan di menu saja. Alasan saya menggunakannya hanya ingin tahu kecepatannya saat ini. Ternyata versi 33.1 ini lebih cepat dari versi 22 (versi terinstal saya) baik dari segi rendering maupun performa kerja aplikasinya. Saya cepat berpindah tab, cepat Ctrl+T (Chromium yang sudah berat cache-nya, lambat Ctrl+T-nya), cepat mengakses menu, dan menurut saya lebih ringan. Firefox versi ini setidaknya belum memberatkan sistem saya dengan parah. Saya bisa multitasking dengan aplikasi-aplikasi favorit lain (Quassel, Konsole, Texmaker, dan lain-lain) di RAM 2 GB dengan lancar. Baca lebih lanjut